
Godaan Desah Majikan
Bab 3
Sore itu aku kembali dari kampus, hujan turun dengan deras. Aku dan Merlin berdiri di tepi jalan, basah sampai ke sepatu. Kami menunggu angkot pedesaan, rit terakhir hari ini. Tapi sepertinya hujan deras membuat sopirnya terlambat kembali ke kota.
“Aduh, kalau nunggu terus bisa masuk angin,” gumam Merlin sambil menggigit bibir.
“Kita naik ojek aja, yuk?” usulku, tapi langsung kami berdua menggeleng hampir bersamaan. Hujan terlalu deras, jas hujan pun rasanya percuma. Anginnya dingin sekali.
Tiba-tiba sebuah pick-up melambat di depan kami. Kaca jendela sisi sopir turun, dan muncullah wajah Pak Hasbi. Ia tersenyum lebar.
“Lho, kalian ngapain di sini, keujanan begini?” suaranya terdengar riang.
“Nunggu angkot, Pak Haji,” jawab Merlin sambil setengah berteriak karena suara hujan menutupi segalanya.
Pak Hasbi tertawa kecil. “Waduh, sampai malam pun belum tentu lewat. Ayo ikut aja sama Haji.”
Aku dan Merlin saling pandang. “Beneran gak merepotkan, Pak Haji?” tanyaku ragu.
“Lho, masa kalian tega ngebiarin Haji jalan sendirian? Ayo, cepat naik, keburu banjir!” godanya sambil menepuk pintu mobil.
Aku melirik Merlin sekilas. Pak Hasbi memang selalu menyebut dirinya dengan “Haji,” seakan ingin semua orang mengingatnya jika dia sudah menunaikan rukun Islam kelima.
Merlin masuk duluan, aku menyusul duduk di sisi pintu. Begitu mobil melaju, aroma kabin yang hangat bercampur bau hujan membuat kami sedikit lega.
Pak Hasbi tampak seperti biasa, flamboyan dan gagah. Ia melirik kami lewat kaca spion. “Dua mahasiswi manis diselamatkan dari hujan deras. Wah, pahalanya dobel ini,” ujarnya sambil terkekeh.
“Pahala atau kesempatan, Pak Haji?” Merlin ikut menggoda.
Pak Hasbi hanya tertawa lebih keras. “Dua-duanya boleh. Yang penting kalian selamat sampai rumah. Kalau enggak, nanti yang panik siapa? Ibu kalian kan?”
Kami ikut tertawa, sedikit lupa pada dinginnya hujan.
Sebenarnya, kalau sendirian, aku pasti menolak ajakan ini. Ada sesuatu dari lelaki berusia di atas lima puluh tahun ini yang membuatku selalu ingin menjaga jarak. Gelarnya Haji, sikapnya santun, penampilannya pun rapi dan religius, tapi feelingku mengatakan itu hanya topeng.
Di balik senyum ramahnya, dia adalah pengusaha kampung yang punya tangan di banyak bidang, sekaligus rentenir yang hobi kawin-cerai. Lebih buruknya lagi, hampir semua perempuan yang pernah dinikahinya adalah istri orang, janda atau gadis yang dipaksa karena hutang. Kabarnya rumahnya ada di mana-mana, seperti jejak yang tak pernah bisa dihapus.
Aku teringat, orang tua Merlin pun salah satu nasabahnya. Hutang mereka sudah lama tak lunas. Semoga saja Merlin tak menjadi korban berikutnya. Pikiran itu membuatku melirik sahabatku sekilas, bertanya-tanya apakah ia sadar bahaya yang mungkin mengintainya.
Sejak lama Pak Hasbi menaruh hati padaku. Sorot matanya tak pernah bisa menipu. Aku selalu pura-pura tak melihat, berharap orang tuaku pun tidak sampai tersangkut dalam urusan apa pun dengannya.
“Pak haji dari mana?” tanyaku, sekadar memecah keheningan.
“Dari meriksa gudang di kota sebelah. Tenang aja kalian Haji antar sampai rumah, ya.” katanya.
“Wah, makasih banyak, Pak Haji,” jawab Merlin dengan senyum lebar.
Pak Hasbi tertawa kecil. “Iya lah. Masak Haji tega biarin kalian kedinginan di pinggir jalan? Kalau sampai sakit, yang rugi siapa? Calon mertua kalian nanti marah sama Haji.”
Merlin spontan tertawa, sementara aku hanya menunduk, pura-pura merapikan tas. Aku tahu betul Pak Hasbi sedang melemparkan umpan.
“Kalian tingkat berapa?” tanya Pak Hasbi, suaranya agak meninggi untuk mengalahkan suara hujan.
“Saya baru tingkat satu, Erina tingkat dua. Bentar lagi naik tingkat, heheh,” jawab Merlin santai.
“Wah,” Pak Hasbi terkekeh. “Berarti sebentar lagi siap-siap nikah, dong? Atau mau lanjut kuliah sampai tamat?”
“Maunya sih sampai punya gelar, Pak Haji,” jawab Merlin sambil tersenyum lebar. “Tapi ya lihat sikon ortu dulu, hehehe.”
Pak Hasbi ikut tertawa. “Ya semoga aja bisa kuliah sampai kelar, ya. Kalau perlu nikah sambil kuliah juga enggak masalah. Anak Haji juga, si sulung, sudah tingkat tiga kuliahnya.”
“Oh, Pak Haji punya anak yang sudah kuliah?” Merlin tampak terkejut.
“Ada, cowok,” jawabnya santai. “Tapi dia nggak tinggal sama Haji, kost dari kelas dua SMA. Tepatnya sejak Haji bercerai deengan mamanya.”
“Kenapa kost? Mamanya ke mana?” Merlin semakin penasaran.
“Pulang ke Manado,” jawab Pak Hasbi ringan.
“Oh, istri Pak Haji orang Manado?”
“Mantan istri pertama,” koreksi Pak Hasbi sambil tersenyum kecil. “Kalau Haji asli sini.”
Obrolan mereka terus berlanjut, sementara aku sibuk dengan pikiranku sendiri. pakaianku masih lembap, tas juga terasa berat karena cipratan hujan tadi.
“Kalau Erina gimana?” Tiba-tiba suara Pak Hasbi menembus lamunanku.
“Eh? Gimana apanya, Pak Haji?” tanyaku gugup. Aku jelas tidak menyimak obrolan mereka.
“Udah punya calon suami belum?” tanyanya lagi sambil terkekeh.
Aku ikut terkekeh canggung. “Hehehe… udah, Pak Haji,” jawabku cepat-cepat, sekadar mengakhiri topik.
“Orang mana?” tanyanya lagi, nada suaranya seperti benar-benar ingin tahu.
“Orang jauh… tapi dekat, hehehe.” Aku sengaja menggantung jawabanku.
“Alah, calon apaan, pacaran aja putus nyambung mulu. Nih baru putus lagi,” sela Merlin sambil mencibir.
“Beneran, Rin?” tanya Pak Hasbi, suaranya seperti mencampur rasa penasaran dan godaan.
Aku tersenyum hambar. “Hehehe, iya, Pak Haji. Saya mau fokus kuliah dulu.”
“Bagus itu,” kata Pak Hasbi sambil mengangguk kecil. “Belajar yang rajin. Biar nanti enggak nyesel.”
Mobil kembali hening, hanya suara hujan yang terdengar. Aku menarik napas pelan, berharap perjalanan ini cepat selesai.
Merlin dan Pak Hasbi terus mengobrol sepanjang jalan. Topiknya lompat-lompat—dari kuliah, cerita masa kecil, sampai gosip ringan tentang orang kampung. Sesekali aku hanya ikut tersenyum, lebih banyak menjadi pendengar setia.
Beberapa kali mata Pak Hasbi tertangkap sedang melirikku lewat kaca spion, seakan menunggu aku ikut nimbrung. Tapi aku memilih diam, berpura-pura sibuk menatap jendela, memperhatikan hujan yang mulai reda.
Tak terasa, mobil sudah berhenti di depan rumah Merlin.
“Nah, sampai juga. Untung tadi kalian ketemu Haji di jalan,” ucap Pak Hasbi sambil tersenyum lebar.
Aku dan Merlin mengucapkan terima kasih hampir bersamaan. Aku ikut turun, walau rumahku sebenarnya masih sekitar setengah kilometer lagi. Tapi aku merasa lebih aman jalan kaki dari rumah Merlin daripada harus berdua dengan Pak Hasbi di mobil.
Pak Hasbi langsung memutar setir, balik arah. Rumahnya sudah terlewat. Rumah paling besar dan paling mencolok di kampung kami.
“Eh, Rin, kamu beneran mau liburan di rumah nenekmu lagi?” tanya Merlin sambil menatapku penuh rasa ingin tahu.
Aku mengangguk pelan. “Iya, besok atau lusa sama adik-adiku. Gak bakal lama, mereka gak betahan tinggal di rumah nenek. Selebihnya, di rumah aja bantuin ibu bikin gorengan dan kue, hehehe.”
“Wah, enak dong bisa liburan,” sahut Merlin sambil senyum-senyum.
“Enak apanya?” aku terkekeh. “Sama aja, rumah nenekku kan di kampung juga. Mainnya ya ke sawah, ke kebun, atau ke hutan. Paling banter mancing di empang.”
Merlin ikut tertawa. “Ya setidaknya beda suasana lah, Rin. Aku mah kayaknya nggak bisa liburan, harus cari kerja sambilan.”
“Kerja sambilan itu jadi?” aku menoleh, penasaran.
“Iya, kemungkinan jadi, Rin. Lumayan kan, kita libur sebulan penuh. Aku mau bantu-bantu ortu. Kebetulan abis lebaran gini, banyak ART yang belum balik dari mudiknya. Nah, rencananya aku mau jadi pembokat dadakan, hehehe.”
Aku menepuk bahunya ringan. “Ya udah, hati-hati ya, Lin.”
“Kamu juga hati-hati, Rin. Di kampung nenekmu banyak cowok mata keranjang juga, lho.” Merlin menggoda sambil menyipitkan mata. “Dan jangan sampai si Faldo brengsek, nyusul lagi!”
“Aman, Ciin, aku malah udah lupa sama dia, hehehe,” jawabku sambil tertawa.
Kami berpelukan seperti teletabis, seolah-olah akan berpisah lama sekali, padahal paling juga ketemu lagi setelah libur. Ada sedikit perasaan hangat sekaligus sedih yang menggantung di dada.
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





