
Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi
Bab 7
Darian diam-diam menelepon Fresco dari bagian keamanan di sudut ruangan.
Beberapa menit kemudian, Fresco datang dengan beberapa satpam dengan tergesa-gesa.
"Pak Darian, apa yang harus kami lakukan?"
"Nanti setelah Alfan keluar dari ruang gawat darurat, langsung kendalikan dia. Jangan sampai dia kabur."
Darian juga seorang dokter senior. Berdasarkan pengalamannya, dia yakin Cindy sudah sekarat dan tidak mungkin diselamatkan. Begitu Alfan keluar, dia akan langsung menahan Alfan dan melemparkan semua kesalahan kepadanya.
Fresco segera mengangguk dan memberi instruksi kepada bawahannya.
Para satpam itu mengepalkan tangan dan menatap tajam ke arah pintu dengan bersiap siaga.
Lebih dari sepuluh menit berlalu, tetapi masih tidak ada pergerakan dari dalam. Darian mengintip melalui celah pintu. Dia melihat Cindy masih terbaring di ranjang, sementara Alfan dan Rhea berdiri di sana.
Terlihat seperti mereka sudah kehabisan cara.
Melihat hal itu, Darian semakin yakin. Alfan pasti tamat kali ini. Saat dia sedang merasa puas dalam hati, pintu terbuka dan Alfan keluar. Semua tatapan langsung tertuju padanya.
"Pak Alfan, gimana? Nona Cindy sudah sembuh?" tanya seseorang dengan nada menyindir.
"Sudah sembuh. Sebentar lagi dia keluar."
Alfan tersenyum tipis, lalu berbalik menuju kamar kecil di sisi lain.
Darian salah paham, mengira Alfan hendak kabur. Dia segera memberi isyarat kepada Fresco. Fresco langsung memimpin beberapa orang mengepungnya, lalu memegang dan menahannya.
"Kamu sudah membuat Nona Cindy meninggal. Terjadi kecelakaan medis sebesar ini, memangnya kamu bisa kabur?" Ekspresi Darian berubah dingin, sikapnya berbeda 180 derajat dibandingkan dengan sebelumnya. Dia menunjuk Alfan dan membentaknya.
"Pak Darian, perubahan sikapmu cepat sekali. Tadi kamu yang paling keras merekomendasikan aku untuk mengobati Nona Cindy, sekarang malah berbalik arah?"
Alfan memang sudah menduga bahwa pria ini tidak punya niat baik.
"Aku kira kamu memang punya kemampuan. Ternyata kamu cuma dukun palsu, penipu di dunia medis. Aku benar-benar terlalu percaya padamu. Tangkap dia, ikat dengan tali. Tunggu sampai Bu Diana keluar untuk memutuskan bagaimana menghukumnya."
Alfan memandang wajah Darian yang menyebalkan itu, lalu tersenyum tipis. "Sepertinya kamu akan kecewa. Nona Cindy sudah pulih."
Darian menyeringai. "Kamu pikir kamu siapa? Kamu kira kamu tabib dewa?"
Dia melangkah mendekat, lalu menempel ke telinga Alfan dan berbisik, "Berani-beraninya kamu menyentuh anakku. Kamu menghancurkan salah satu buah zakarnya, aku akan mengambil setengah nyawamu."
Alfan sedang ditahan beberapa orang. Energi dalam tubuhnya memang sudah hampir habis karena digunakan untuk menyelamatkan Cindy, tetapi tetap saja masih ada sedikit yang tersisa. Itu sudah cukup untuk menghadapi pria tua ini.
Dengan memanfaatkan celah, Alfan lalu menendang keras ke arah perut bawah Darian.
Darian sama sekali tidak menyangka Alfan berani menyerangnya. Sebelum sempat menghindar, tendangan itu sudah tepat mengenai bagian vitalnya. Meskipun tidak sampai hancur, rasa sakit yang luar biasa langsung menjalar dari perut bawah ke tulang belakang.
Dia menjerit keras, lalu memegangi perutnya dan berjongkok.
Melihat Darian dipukul, Fresco langsung mengangkat tangan dan hendak menampar wajah Alfan.
"Orang kampung! Nggak tahu diri kamu! Berani-beraninya kamu mukul wakil direktur. Akan kuberi pelajaran kamu!"
"Berhenti." Saat tangan Fresco tinggal beberapa sentimeter dari wajah Alfan, tiba-tiba terdengar suara wanita yang dingin dari belakang.
Tubuh Fresco langsung menegang dan tangannya terhenti di udara.
Suara wanita itu penuh wibawa, membuat punggungnya terasa dingin. Dia segera menoleh dan melihat Diana sedang berdiri di sana sambil menopang Cindy.
Tatapan Diana tajam dan dingin saat melihat ke arah Fresco. Fresco memang hanya seorang kepala keamanan, tetapi dia masih punya sedikit koneksi. Oleh karena itu, dia mengenali Diana.
"Bu Diana, anak ini memukul wakil direktur kami," ucap Fresco dengan gugup.
"Pak Alfan adalah penyelamat putriku. Asalkan dia senang, dia boleh memukul siapa pun. Siapa pun yang berani melawan, berarti melawan Keluarga Sudarso."
Baru saat itu Fresco benar-benar sadar. Keringat langsung mengalir deras di wajahnya. Memang benar, Darian adalah wakil direktur. Namun jika dibandingkan dengan Keluarga Sudarso, perbedaan status mereka seperti langit dan bumi.
Terus terang saja, jika dia sampai menyinggung Keluarga Sudarso, bahkan jika dia mati pun mungkin tidak akan ada yang berani mencari jasadnya.
"Bu Diana, maaf, aku memang salah." Fresco berdiri di depan Diana dengan wajah memelas sambil membungkuk dan terus meminta maaf.
"Tampar dirimu sendiri sepuluh kali dulu, lalu minta maaf sama Pak Alfan. Kalau dia memaafkanmu, kamu boleh pergi. Kalau dia nggak memaafkanmu, tanganmu akan aku potong."
Fresco tidak berani menunda. Meskipun ada banyak orang yang berdiri di sekitarnya, dia sudah tidak peduli dengan harga diri. Dia langsung menampar dirinya sendiri berkali-kali secara bergantian.
Fresco tahu betul konsekuensinya, sehingga dia pun tidak menahan diri. Setelah sepuluh tamparan, darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.
"Bu Diana, sudah cukup?"
"Kamu tuli? Aku bilang minta maaf sama Pak Alfan."
Fresco berbalik ke arah Alfan dengan wajah getir. "Pak Alfan, maafkan aku. Pak Alfan adalah orang yang berbesar hati. Mohon jangan dendam denganku. Aku minta maaf."
"Tadi kamu mau memukulku. Siapa yang suruh?"
"Itu ... itu perintah Pak Darian."
Darian, yang masih menahan rasa sakit di perutnya, buru-buru berdiri dan menatap Diana dengan cemas. "Aku kira Alfan gagal menyembuhkan Nona Cindy. Nggak kusangka dia benar-benar berhasil."
Wajah Diana langsung menjadi dingin.
"Darian, apa maksudmu? Pak Alfan menyembuhkan putriku, kamu malah nggak senang? Apa kamu berharap putriku nggak pernah sadar?"
Keringat langsung mengucur deras di wajah Darian. Dia merasakan tekanan yang mendesaknya.
Di Provinsi Sargana, menyinggung Keluarga Sudarso sama saja dengan menggantung pedang di atas kepala sendiri. Dia bisa kehilangan nyawa kapan saja.
Tanpa memedulikan banyaknya bawahan di sekitarnya, Darian pun mengatupkan gigi dan menampar dirinya sendiri beberapa kali.
"Bu Diana, aku salah. Aku minta maaf kepada Bu Diana dan Nona Cindy."
Diana berjalan cepat ke sisi Alfan. "Pak Alfan, kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa. Tapi kalau kamu terlambat keluar satu langkah saja, mungkin aku sudah digigit anjing-anjing itu."
Tatapan Diana menyapu Darian, Fresco, dan yang lainnya.
"Kalian dengar baik-baik. Kalau aku lihat kalian menindas Pak Alfan lagi, aku akan membuat kalian menghilang dari Provinsi Sargana. Pergi sekarang juga!"
Darian dan yang lainnya seolah mendapat pengampunan. Mereka terus membungkuk dan pergi dari tempat itu.
"Dia yang menyelamatkanku?" Setelah situasi mereda, Cindy mengangkat kepalanya dan menatap Alfan, lalu bertanya kepada ibunya.
"Benar. Pak Alfan benar-benar seperti dokter sakti. Dia hanya menggunakan beberapa jarum perak untuk membangunkanmu, membuatmu pulih seperti semula, dan juga membersihkan nama baikmu. Pergilah dan ucapkan terima kasih dengan baik."
Cindy berjalan ke hadapan Alfan, lalu membungkuk dalam-dalam. "Pak Alfan, terima kasih."
Baru saat itu Alfan memperhatikan dengan saksama. Meskipun Cindy baru berusia 19 tahun, penampilannya sangat anggun dan menawan. Selain wajahnya yang sedikit pucat karena lelah, semuanya tampak sempurna.
Kulitnya putih dan halus, fitur wajahnya lembut dan indah. Terutama bibirnya yang sedikit penuh, meskipun terlihat lemah, dia tetap tampak begitu indah.
Gaun hitam yang dikenakannya semakin menonjolkan lekuk tubuhnya yang proporsional. Dalam beberapa tahun lagi, wanita ini pasti akan menjadi sosok yang sangat memikat.
Namun pada saat itu, Alfan tiba-tiba melihat sebuah tanda seperti bunga persik di bagian dadanya.
Kutukan Gadis Suci.
Benar, itu Kutukan Gadis Suci.
Kutukan ini juga dikenal sebagai Kutukan Hasrat, sebuah mantra yang ditanamkan oleh seseorang.
Jika seorang wanita terkena kutukan ini, dorongan nalurinya akan menjadi jauh lebih kuat. Setiap malam, dia akan merindukan kehadiran pria. Tubuhnya terasa panas seperti terbakar dan sulit dikendalikan.
Gadis suci akan berubah menjadi wanita yang dikuasai hasrat.
Cindy berada di bawah pengaruh kutukan ini. Karena itulah dia mencoba meredakan dirinya sendiri, lalu energi jahat masuk ke tubuhnya dan membentuk janin energi.
Beruntungnya, gadis ini polos dan pandai menjaga diri. Jika wanita lain terkena Kutukan Gadis Suci, mungkin mereka sudah mencari pria sejak malam pertama.
Alfan memiliki tubuh kultivator, sehingga dia bisa melihat kutukan ini. Orang biasa tidak akan bisa melihatnya. Hanya saja, dia tidak tahu siapa yang menempatkan kutukan jahat ini kepada seorang mahasiswi dan apa tujuannya.
Alfan sebenarnya ingin langsung membantu menyembuhkan Cindy, tetapi energi negatif yang dia dapatkan dari Rhea sebelumnya sudah hampir habis. Untungnya, kondisi Cindy tidak akan kambuh dalam waktu dekat, jadi dia bisa menanganinya beberapa hari lagi.
Dia pun tersenyum dan berkata, "Nggak perlu berterima kasih. Menyembuhkan orang adalah tugas seorang dokter. Lagian, ibumu juga sudah berjanji memberiku satu miliar."
Begitu kata-kata Alfan dilontarkan, orang-orang di sekitarnya langsung mengeluarkan suara gumaman pelan. Di mata mereka, Alfan terlihat sangat konyol. Di saat seperti ini, dia malah membicarakan soal uang.
Alfan baru saja menyelamatkan putri Keluarga Sudarso. Jika sekarang dia tidak membicarakan uang dan membangun hubungan baik, Keluarga Sudarso pasti akan menganggapnya sebagai teman. Kalau sudah menjadi teman Keluarga Sudarso, sepanjang hidupnya sudah pasti dia akan sukses.
Rhea sampai ingin menendang Alfan saking kesalnya.
'Ternyata benar, orang desa memang kurang pengalaman. Wawasannya terlalu sempit.'
Anda Mungkin Juga Suka





