
Godaan CEO Cantik Membangkitkan Kultivasi
Bab 4
Rumah Sakit Prima.
Ruang perawatan khusus.
Dexton yang baru saja menjalani operasi pengangkatan salah satu buah zakarnya, kini terbaring pucat di ranjang. Charista berdiri di sampingnya untuk melayani dengan hati-hati.
Di depan pintu, Darian sedang berbicara dengan dokter bedah.
"Pak Darian, Pak Dexton hanya rusak satu sisi, yang satunya masih utuh. Jadi nggak memengaruhi kehidupan normalnya, juga nggak memengaruhi keturunan." Dokter penanggung jawab itu menjelaskan dengan nada menjilat.
Sorot mata Darian berkilat dingin. "Masalah ini jangan sampai diketahui siapa pun."
"Bapak tenang saja, kami pasti nggak akan memberi tahu siapa pun."
Darian mengangguk, dokter itu pun segera pergi. Dia mendorong pintu dan masuk. Ketika melihat Charista berdiri di depan ranjang putranya, wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Om, Alfan benar-benar keterlaluan. Dia sama sekali nggak menghargai Om. Gimana kalau kita lapor polisi saja?" Charista segera mendekat dan berkata dengan penuh amarah.
"Memangnya ini hal yang membanggakan? Kamu nggak tahu malu, tapi aku masih punya muka. Kamu keluar dulu. Aku ingin bicara dengan anakku."
Charista masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi ketika melihat tatapan dingin Darian, dia terdiam dan pergi dengan langkah lesu.
"Kamu sudah bukan anak kecil lagi. Dengan kekuatan keluarga kita, wanita seperti apa yang nggak bisa kamu dapatkan? Kamu malah merebut pacar orang lain."
Melihat anaknya yang mengecewakan, dada Darian dipenuhi amarah. Namun, dia tetap menahan diri.
"Ayah! Ayah nggak ngerti sama urusan asmara anak muda. Sekarang bukan itu yang harus dibahas. Ayah harus segera memecat Alfan. Asalkan dia keluar dari Rumah Sakit Prima, aku akan cari beberapa orang dari luar untuk membuatnya menghilang dari dunia ini."
Darian mencibir dingin. "Sudah sebesar ini, tapi cara berpikirmu masih seperti itu. Ini negara hukum. Kalau kamu membunuhnya, polisi akan datang mencarimu."
"Aku sudah dibuat begini, apa aku nggak boleh balas dendam?"
Tentu saja Darian tidak akan tinggal diam. Satu-satunya putranya telah dibuat kehilangan salah satu buah zakarnya. Ini sama saja dengan hendak memutus keturunannya.
Darian memang tampak seperti pria terhormat dalam sehari-hari. Namun, sebenarnya dia adalah orang yang sangat pendendam. Dendam anaknya tentu harus dibalas.
Seorang dokter magang saja berani memperlakukan putranya seperti itu. Mana mungkin dia akan membiarkannya begitu saja?
"Aku bukan cuma akan memecatnya, besok aku malah akan mengumumkan dia menjadi pegawai tetap." Darian tersenyum licik.
"Ayah, kenapa? Dia musuh utamaku, tapi Ayah malah mau mengangkatnya jadi pegawai tetap?"
Dexton benar-benar tidak mengerti.
"Benar, aku akan mengangkatnya. Untuk menghukum seseorang, jangan biarkan dia mati. Biarkan dia hidup, tapi nggak melihat harapan selamanya. Besok aku jadikan dia pegawai tetap. Setelah itu, aku akan mempermainkannya perlahan, lalu mencari kesempatan untuk membuat orang lain menyingkirkannya."
"Membunuh dengan tangan orang lain."
Wajah Dexton langsung menunjukkan kegembiraan. Akhirnya dia mengerti maksud ayahnya.
"Itu tergantung nasibnya. Kalau berani menyakiti anakku, aku akan membuatnya membayar seratus kali, seribu kali lipat."
Sementara itu, Alfan sudah tiba di depan rumah Rhea.
Melihat vila yang lampunya menyala, di dalam hati Alfan muncul sedikit rasa bersemangat dan bersyukur. Kalau bukan karena Rhea, sekarang dia mungkin masih menjadi pengemudi online, bahkan mungkin masih diselingkuhi tanpa mengetahui apa pun.
Wanita ini adalah wanita yang benar-benar layak untuk diperhatikan dan dijaga. Sayangnya, dia adalah istri orang lain.
Alfan menekan bel dan pintu otomatis terbuka. Saat masuk ke ruang tamu, dia melihat Rhea sedang bersandar di sofa.
Rhea mengenakan piama berwarna merah muda yang terlihat sangat seksi, tetapi wajahnya tampak sangat lelah. Ramuan yang dia minum sebelumnya memang bukan racun mematikan, tetapi mampu mendorong hasrat seseorang sampai ke puncak.
Setelah efeknya hilang, rasa kelelahan yang luar biasa membutuhkan waktu lama untuk pulih.
"Kamu ini kenapa sebenarnya? Kenapa harus bersikeras ke Rumah Sakit Prima?"
Saat melihat Alfan masuk, wajah Rhea tampak tenang, tetapi hatinya bergejolak hebat. Hatinya sangat bertentangan. Dia juga tahu bahwa pria kampungan ini sudah masuk ke dalam hatinya.
"Rumah Sakit Prima adalah rumah sakit terbesar dan terbaik di Provinsi Sargana. Di sana, perkembanganku akan lebih baik."
Saat belum sempat menyelesaikan ucapannya, ponsel Rhea sudah berdering. Wanita itu langsung mengangkat teleponnya. Setelah menerima panggilan, ekspresinya seketika berubah.
"Kamu pulang saja dulu. Aku harus kembali ke rumah sakit. Ada pasien yang sangat penting baru datang."
"Kondisimu saja begini, kamu masih mau ke rumah sakit?" Melihat wajah Rhea yang pucat dan lelah, Alfan benar-benar merasa khawatir.
"Aku direktur. Pasien ini sangat penting, aku harus pergi. Kamu pulang saja."
Rhea berdiri dan berjalan ke lantai dua untuk berganti pakaian. Namun saat sampai di tangga, tubuhnya sedikit gemetar. Dia hampir kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh.
Alfan segera maju dan menahannya. Rhea menatapnya tajam. "Jangan sentuh sembarangan, ya."
"Aku cuma mau membantu karena lihat kamu nggak enak badan. Gimana kalau kamu ganti pakaian dulu, nanti aku yang antar kamu ke rumah sakit."
Rhea ragu sejenak, lalu mengangguk. "Kamu boleh ikut ke rumah sakit, tapi jangan bicara sembarangan."
"Aku cuma dokter magang. Aku tahu posisiku."
Rhea naik ke lantai dua dan mengganti pakaiannya dengan seragam. Saat dia turun kembali, hati Alfan kembali bergetar. Wanita ini benar-benar luar biasa, cantik dan memikat.
"Kamu bahkan kesulitan untuk berjalan. Gimana kalau aku menggendongmu keluar? Di luar juga gelap, nggak akan ada yang melihat."
Rhea menggigit bibirnya. Instingnya ingin menolak, tetapi tubuhnya memang sangat lemah, jadi dia akhirnya setuju. "Aku membiarkanmu menggendongku karena aku nggak enak badan. Jangan mikir macam-macam."
Alfan berjongkok. Saat wanita itu naik ke punggungnya, kelembutan tubuh Rhea terasa jelas di punggungnya.
"Bu Rhea, kenapa kamu bisa terkena racun seperti itu?" tanya Alfan pelan saat mereka berjalan keluar.
"Aku kena racun atau nggak, itu bukan urusanmu. Lakukan saja pekerjaanmu dengan baik."
Sekitar belasan menit kemudian, mereka tiba di Rumah Sakit Prima. Begitu Rhea turun dari mobil, beberapa direktur termasuk Darian, bersama beberapa dokter penanggung jawab, segera mendekat.
"Ada apa?"
"Putri Dylan tiba-tiba tidak sadarkan diri, perutnya membesar seperti drum," lapor Sahrul.
"Apa penyebabnya?"
"Awalnya kami kira hamil, tapi setelah dilakukan USG, meskipun perutnya sebesar itu, di dalamnya kosong. Sekarang dia dalam kondisi koma. Semua dokter sudah memeriksanya, tapi nggak bisa menemukan penyebabnya."
Sahrul adalah dokter kandungan senior dengan pengalaman lebih dari 30 tahun, tetapi dia belum pernah melihat gejala seperti ini.
"Bawa aku ke sana."
Rhea tahu malam ini akan menjadi masalah besar. Dylan adalah salah satu dari empat keluarga besar di Provinsi Sargana yang memiliki pengaruh kuat di dunia mafia maupun hukum.
Jika penyakit aneh putrinya bisa disembuhkan, Rumah Sakit Prima akan menjadi terkenal dan mencatatkan namanya dalam sejarah. Jika tidak bisa disembuhkan, Rumah Sakit Prima kemungkinan akan kehilangan pamornya di Provinsi Sargana.
....
Di ruang gawat darurat.
Cindy yang mengenakan gaun hitam terbaring di ranjang. Kedua matanya terpejam, wajahnya pucat dan tanpa ekspresi. Tubuhnya yang semula proporsional kini berubah bentuk dan perutnya menonjol dengan besar.
Sekilas, dia tampak seperti wanita yang hamil delapan atau sembilan bulan.
Diana memegang tangan Rhea dengan erat.
"Bu Rhea, suamiku sedang dinas luar kota dan belum kembali. Putriku mengalami penyakit aneh seperti ini. Kamu harus membantu kami."
"Bu Diana, jangan khawatir. Semua dokter kandungan terbaik di Rumah Sakit Prima ada di sini. Kami pasti akan berusaha semaksimal mungkin."
Melihat Cindy yang terbaring di ranjang, hari Rhea sebenarnya agak terkejut meski dari penampilannya tampak tenang.
Perut yang membesar seperti ini secara teori berarti kehamilan. Namun, tadi Sahrul mengatakan bahwa hasil USG menunjukkan bagian dalamnya kosong.
Saat Rhea hendak maju untuk memeriksa perut Cindy, Darian muncul di pintu bersama Charista. Dia adalah pria tua yang sangat licik. Biasanya dia bahkan tidak memandang Charista dengan serius.
Namun, sekarang putra satu-satunya telah kehilangan satu buah zakarnya. Ke depannya, kondisi fisiknya pasti akan terpengaruh.
Karena itu, sikapnya terhadap Charista pun berubah. Dia ingin menjadikan Charista sebagai menantunya, sehingga dia membawa Charista yang masih berstatus dokter magang untuk menambah pengalaman.
Ini adalah pertama kalinya Charista mendapat perlakuan seperti itu. Dia merasa agak bersemangat. Saat melihat Cindy yang terbaring di ranjang, dia tidak bisa menahan diri dan berkata, "Ini hamil. Menurutku, kemungkinan besar kembar."
Begitu kata-kata itu dilontarkan, raut wajah Diana langsung berubah. Dia menatap Charista dengan dingin. "Kamu bilang apa?"
Charista hanyalah dokter magang. Berada di tengah para dokter senior yang berpengalaman membuatnya merasa bangga dan ingin menunjukkan kemampuannya. Dia pun kembali berkata, "Wanita ini hamil, kemungkinan besar kembar."
Seorang gadis yang belum menikah disebut hamil. Itu sama saja dengan sebuah penghinaan. Bagi orang tuanya, itu juga merupakan aib.
Ekspresi Diana menjadi dingin.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Charista.
"Perempuan nggak tahu diri. Kalau kamu berani bicara sembarangan lagi, aku potong lidahmu."
Anda Mungkin Juga Suka





