
Give Me Your Heart
Bab 2
Untuk kesekian kalinya dia meninggalkanku sendiri lagi. Aku ingin seperti sepasang suami-istri lainnya. Dimanja, disayang bahkan diberi perhatian. Itu mungkin hanya akan terjadi di dalam imajinasiku saja. Sudah 1 tahun pernikahan yang kami jalani, jangankan untuk menyentuh memanggil namanya saja aku tak diizinkan. Apa sebegitu marahkah dia kepadaku. Setiap bangun pagi, aku akan selalu melamun beberapa saat untuk memikirkan nasibku dikemudian hari. Kepalaku terasa berat setiap aku bangun tidur. Entah itu karena telat tidur atau karena menangis sepanjang malam atau bisa saja karena stress.
Aku menghembuskan nafas berat, beranjak dari tempat tidurku menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan seluruh tubuh dan merapikan kamar tidurku, ku beranjak menuju kamarnya. Kami bahkan tidur terpisah, dia tak mau berada didekatku bahkan sedetikpun.
Aku memasuki kamarnya hanya untuk merapikan semuanya, aku ingin seperti istri yang lain yang melayani apapun kebutuhan seorang suami. Berbagai cara telah kulakukan selalu gagal dan gagal lagi. Apapun yang aku kerjakan tidak ada satupun bisa dibenarkan dihadapannya.
"Bi, adakah yang bisa aku bantu?" tanyaku lemah kepada bik Ayu salah satu pembatu yang telah cukup lama bekerja dengan keluarga Azka (nama suamiku)
Bik Ayu menghentikan pekerjaannya sejenak dan menatapku. Bik Ayu lah yang setiap pagi tersenyum menayapaku. Dia juga yang mampu membuat aku melupakan apapun kesedihan yang aku rasakan di rumah ini.
"Tidak usah Andrea, bibi bisa melakukannya," sahutnya ramah. Bik Ayu memang sangat baik kepadaku, walau dia tahu apa yang telah terjadi antara aku dan Azka. Dia tidak pernah menghakimi ku.
Aku mendekatinya,"ayolah bi, izinkan aku melakukan tugasku sebagai seorang istri." sahutku memelas.
"Lebih baik kamu makan, bibi sudah menyiapkan nasi goreng di dapur. Apakah kamu mau bibi buatkan the atau susu?"
Aku menyentuh tangannya yang memegang bed cover Azka. "Bi, please" mohonku lemah. Pertanyaan tadi hanya untuk mengalihkan kemauan ku.
"Biarkan aku yang merapikannya aku mohon," kataku lagi. "Dia tak menyukai setiap tindakan apapun yang kulakukan. Maka izinkan aku satu kali saja merapikan kamar tidurnya" suaraku serak menahan tangis.Bi Ayu menaruh kedua telapak tangannya di pipiku "sampai kapan akan seperti ini, nak?" tanyanya sedih . Dia mencubit kedua pipiku yang dudlunya terlihat chubby. Sekarang aku merasa aku tidak punya daging di pipiku.
Menghembuskan nafas berat aku menatap bi Ayu." Sampai dia mau menerima kehadiranku" aku tersenyum lemah yang selalu dipaksakan.
"Tapi bibi jangan beritahu dia kalau aku yang merapikan kamarnya. Kalua dia sampai mengetahuinya, bibi pasti akan seperti apa nantinya. "
Bi Ayu mengangguk dan keluar kamar.”Bibi ke dapur dulu. Kalua kamu butuh sesuatu panggil saja.
Aku duduk melamun diatas tempat tidurnya, memandang kesekeliling kamarnya. Dia lelaki yang rapi, baik dan penyayang, tapi tidak untuk diriku. Di dinding kamarnya ada beberapa foto dirinya terpajang dan foto seorang wanita yang sangat dia cintai yaitu Sea sahabatku sendiri. Tak ada satupun fotoku bahkan foto pernikahan kami ada hanya satu terletak di ruang tamu. Itu hanya untuk menghilangkan kecurigaan keluargaku dan keluarganya tentang status kami sebenarnya. Azka tidak ingin orang- orang banyak bertanya tentang hal pribadinya.
Aku ingin foto Sea diganti dengan fotoku, aku yakin itu tak akan pernah terjadi. Aku mengambil salah satu foto Azka yang terletak di sebelah tempat tidur lalu menatapnya.
"Harus dengan cara apalagi Azka aku bisa mengambil hatimu." lirihku menangis lagi dalam kesendirian dan kerinduan kepadanya. Aku jarang sekali bertemu dengan Azka walau kami dalam satu rumah.
Setelah merapikan kamarnya aku menuju dapur untuk mengisi perutku yang telah memberontak ingin diisi. Ada nasi goreng dan beberapa lauk yang telah dihidangkan bi Ayu. Ternyata bi Ayu juga membuatkanku teh panas.
Setiap satu suap nasi yang masuk ke mulut ku maka satu tetes air mata juga yang turun dipipiku. Dia tak pernah ada menemani makan pagi, siang bahkan malam ku. Dia selalu membiarkan ku sendiri. Padahal ini hari minggu bukankah tak ada satupun kantor yang buka di hari minggu. Dia tak pernah mengajakku jalan-jalan, jika aku ingin pergi maka itu harus kulakukan sendiri. Aku ingin sekali pergi bersamanya, membeli keperluan rumah tangga berdua dengannya. Mengisi kulkas bersama, memasak berdua di dapur dan masih banyak lagi yang ingin kulakukan dengannya.
Aku mengirim pesan kepada Azka
To : my lovely husband
Azka, aku ingin keluar sebentar untuk membeli keperluan makanan kita. Apakah kamu mengizinkan?
Hampir 30 menit menunggu tak ada satupun balasan darinya. Aku yang bodoh, aku tahu ini akan terjadi tapi aku tetap melakukan hal bodoh itu selama satu tahun ini. bahkan dia tak punya nomor hp ku. Semua sms bahkan telponku tak pernah dibalasnya.
"Bi, Andrea mau pergi keluar dulu membeli persedian makanan kita."
"Oia..bibi hampir lupa tadi den Azka memberikan uang untuk mengisi kekosongan kulkas. Biar bibi saja yang pergi. Non Andrea di rumah saja."
Aku menahan bi Ayu" jangan!! Biar Andrea saja"
“baiklah, kalua non Andrea tidak keberatan.”Bi Ayu memberikan uang dan catatan kecil apa saja yang harus dibeli. Sebelum pergi, dia masih sempat membujuk agar dial ah yang pergi ke supermarket. Sekali lagi aku memohon agar dia mengizinkan ku. Bagaimanapun juga, aku butuh udara segar.
***
Disinilah aku memilih buah dan sayuran untuk keperluan makanan kami. Kutatap sepasang suami-istri yang sama- sama memilih buah jeruk. Sesekali sang suami mengelus perut istrinya yang kutaksir mungkin dia hamil 7 bulan, dilihat dari perutnya yang sudah membesar.
"Aku ingin hamil dan punya anak" batinku lirih mengelus perutku yang masih rata. Lagi....aku berkhayal sesuatu hal yang tak mungkin lagi. Bagaimana bisa hamil! Menyentuhku saja tidak.
Setiap kali bunda menanyakan tentang kehamilanku, aku selalu menjawab belum rezki.
Kupalingkan mataku dari suami istri yang harmonis itu, kulanjutkan memilih keperluan yang lainnya.
"aku rasa ini cukup" pikirku melihat keranjang yang sudah hampir penuh.
Aku menuju kearah kasir, langkahku tertahan karena dibelakang seseorang memanggil namaku.
" Andreaaa" terikanya di belakangku.
Aku menoleh kearahnya, dibilang kaget itu tak perlu lagi karena ini selalu terjadi kepadaku
"hi, Sea" sapaku...aku lihat dibalik punggung Sea sahabatku berdiri Azka suamiku dan 1 pasangan lagi yaitu Cinta yang juga shabatku dan kekasihnya Yudha.
"Andrea, kamu sendiri?" tidakkah dia melihat yang sebenanrnya.
Aku menjawab dengan senyuman "iya...aku juga sudah selesai belanjanya"
"oh kami baru mau membeli sesuatu"
"Kalau begitu aku duluan ya" sahutku berlalu dari hadapan mereka. Dia bahakan tak melirikku.
Keluar dari supermarket ternyata hari hujan, aku tak membawa payung.jarak halte bus dan supermarket cukup jauh. Jadi aku menunggu agar hujannya sedikit reda.
Hampir 1 jam menunggu tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Aku berencana untuk lari menuju halte yang berada disberang sana.
"Bareng kami aja, Andrea" sahut Sea mengagetkanku
Aku meliriknya, lagi...dia membuang muka terhadapku.
"Tidak,terima kasih Sea, aku bisa pulang sendiri."
Aku berlari hujan-hujanan menuju halte, air mata sudah bercampur dengan air hujan yang telah membasahi wajahku. Aku harus tegar, inilah resiko yang harus aku ambil. Aku yakin ini bakalan terjadi, tapi cinta lah yang mebuatku buta.
Sesampainya di halte aku terduduk menangis menumpahkan segalanya. Kenapa dia begitu tega melihatku seperti ini.
"Bunda..."lirihku " Andrea kangen bunda" rengekku.
**
Anda Mungkin Juga Suka





