
GEJOLAK GAIRAH DILAN
Bab 2
Ketika pesanan nasi goreng mereka tiba, obrolan tidak lantas berhenti. Justru sebaliknya, perbincangan makin hangat. Meski Nessa kerap mengernyitkan kening, karena tema obrolan yang dibawa Dilan begitu mudah berganti secara tiba-tiba. Namun, ia tidak bisa mungkir, bahwa justru hal itulah yang membuat Dilan terlihat menarik di matanya.
"Aku paling menikmati saat-saat bergelantungan di dalam bus kota," ujar Dilan. "Karena saat itu, aku bisa berbaur dengan banyak orang yang punya latar belakang beragam. Mahasiswa, pekerja, pensiunan yang sedang jadi pasien rumah sakit, sampai copet."
"Untuk yang satu itu, ternyata kita nggak berjodoh," tanggap Nessa. "Aku benar-benar malas naik bus kota. Terlalu chaos."
"Sekali-kali, kamu harus mencoba," ucap Dilan. "Ada sensasi tersendiri, yang nggak akan pernah kamu rasakan ketika naik angkot."
Nessa menggeleng. "Aku selalu khawatir dompetku dicopet."
"Kamu bisa minta aku untuk menemani kamu," tawar Dilan. "Biar kamu merasa aman di dalam bus kota."
"Hmm... aku percaya," Nessa menahan senyum. "Ketika di dalam bus kota udah ada kamu, rekan-rekan sesama copet bakal mengalah dan mencari bus kota yang lain, 'kan?"
Dilan tergelak.
"Aku meneruskan tradisi pamanku," ujar Dilan.
"Jadi copet?" sela Nessa.
"Berkuliah di kampus ini," ralat Dilan.
"Oh," bibir Nessa membulat.
"Pamanku juga hobi naik bus kota," lanjut cerita Dilan. "Pernah kecopetan, pernah juga menangkap copet yang hampir merenggut dompetnya."
"Aku yakin, pamanmu ditakuti para copet itu," tebak Nessa.
"Menurun kepada ponakannya," Dilan menunjuk dadanya.
Nessa tertawa lagi.
Mereka berbincang tentang banyak hal. Tentang asal SMA, kota kelahiran, hingga domisili, layaknya diperbincangkan oleh dua orang teman yang baru saja berkenalan. Mereka pun akhirnya tahu, bahwa meski lulus SMA di tahun yang sama, namun usia Nessa justru satu tahun lebih muda dibandingkan Dilan.
Ajaib, ya? Dua manusia berlainan jenis kelamin yang sebelumnya tidak saling mengenal, bisa begitu akrab dengan mudah, pada interaksi ketiga di antara mereka. Terlebih, dua interaksi sebelumnya terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Apakah ini pertanda bahwa mereka berjodoh?
Waktulah yang akan membuktikannya.
Dilan melirik kedua pergelangan tangan Nessa. Lalu menatap berkeliling kantin.
"Kenapa?" tanya Nessa, terusik oleh tingkah lelaki yang duduk di seberang meja itu.
"Aku mencari jam," jawab Dilan. "Matakuliah kedua, udah dimulai belum, ya?"
Nessa menatap Dilan tajam. "Aku juga melupakan itu."
"Kita ke gedung fakultas sekarang?" usul Dilan.
Nessa mengangguk, seraya bangkit.
***
Dilan dan Nessa memasuki kelas diiringi tatapan mata delapan belas siswa di ruangan tersebut. Dilan yakin, tatapan tersebut bukanlah akibat keterlambatan mereka. Namun lebih kepada keheranan, mengapa bisa, pada hari pertama perkuliahan, ia dan Nessa telah menjadi akrab? Dilan menanggapinya hanya dengan tersenyum.
Beruntung, terpentang jarak di antara dua bangku yang kosong. Praktis, Dilan dan Nessa tidak duduk bersebelahan. Dilan duduk di sebelah seorang perempuan cantik bernama Sadiah, sementara Nessa duduk di sebelah perempuan berhijab, yang belakangan diketahui Dilan bernama Rania.
Dilan terhanyut oleh materi matakuliah Bahasa Indonesia yang disampaikan dosen bernama Ibu Mieke. Ya, selain penyampaian yang mengasyikkan, Dilan memang sangat menyukai Sastra dan Bahasa Indonesia, sejak duduk di bangku SMP. Pilihan pertamanya dalam UMPTN, adalah Sastra Indonesia di sebuah universitas negeri yang berlokasi di Jatinangor, Sumedang. Pilihan kedua? Pendidikan Bahasa Indonesia di sebuah universitas pendidikan negeri. Sayangnya, ia gagal.
Saat ini, tanpa sengaja Dilan telah menancapkan sedikit eksistensinya di mata Nessa. Sepanjang perkuliahan Ibu Mieke, Dilan kerap melontarkan celetukan-celetukan yang terdengar iseng, namun benar adanya.
"Jadi, ketika terdapat kosakata dari bahasa asing di dalam laporan kita," terang Ibu Mieke. "Kita harus menuliskan kosakata tersebut dengan huruf ..."
"Italic," celetuk Dilan, mengundang sorotan mata kesembilanbelas rekannya, termasuk Nessa.
"Ya, italic," Ibu Mieke membenarkan. "Atau huruf miring. Kecuali jika kosakata asing tersebut telah memiliki padanan kata di dalam bahasa Indonesia, maka pergunakanlah padanan katanya tersebut."
Suasana kelas memang hening. Hingga celetukan Dilan pun menjadi menarik perhatian.
"Namun, ada kasus lain," lanjut Ibu Mieke. "Seperti kata 'korupsi' yang berasal dari kata 'corruption. Bahasa Indonesia memiliki padanan kata yang lain, yaitu ..."
"Rasuah," celetuk Dilan lagi, dan kembali menarik sorotan mata semua rekan sekelasnya.
"Ya, rasuah," kembali, Ibu Mieke membenarkan. "Kata 'rasuah' berasal dari bahasa Arab, tapi telah diserap ke dalam bahasa ..."
"Melayu," potong Dilan.
"Tepat," Ibu Mieke tersenyum. "Kalau tidak ada Adik, kelas ini akan terasa pasif sekali."
Setelah perkuliahan selesai, dan para siswa berjalan bergerombol di koridor, Ibu Mieke memanggil Dilan, yang lagi-lagi berjalan berdampingan dengan Nessa.
"Siapa nama Adik?" tanyanya.
"Dilan, Bu," jawab Dilan. "Saya minta maaf kalau celetukan saya mengganggu perkuliahan."
"Oh, tidak masalah," ucap Ibu Mieke. "Saya malah senang, karena itu berarti Adik memerhatikan materi yang saya sampaikan. Yang penting, celetukan Adik masih relevan dengan materi perkuliahan."
"Siap, Bu," Dilan tersenyum.
"Baiklah," putus Ibu Mieke. "Saya duluan."
Lalu Sepeninggal Ibu Mieke.
"Senang, dipuji dosen?" goda Nessa.
Dilan tersenyum. "Kamu nge-kost?"
"Kenapa tiba-tiba bertanya soal itu?" tanya Nessa heran, sambil menatap Dilan tajam. "Iya, aku nge-kost."
"Aku boleh main ke kost-an kamu?" tanya Dilan lagi.
Nessa terdiam, tidak segera menjawab. Perempuan itu malah tampak berpikir keras, sedikit tidak sebanding dengan pertanyaan sederhana yang dilontarkan Dilan. Dilan bertanya tentang kost-an, Nessa. Bukan tentang situasi genting negara yang tengah berada di bawah serangan koloni!
"Boleh?" tanya Dilan lagi.
Nessa mengerjapkan mata, lalu akhirnya mengangguk pelan.
"Sekarang, boleh?" desak Dilan. "Hmm... kamu pasti punya stok kopi sachet-an. Aku mau menumpang ngopi."
Nessa tertawa kecil. "Hayu. Nanti kubuatkan."
***
Di kamar kost Nessa, dengan dua gelas kopi tersaji.
"Kamu mau, mengajari aku Bahasa Indonesia?" tanya Nessa, lebih menyerupai bujukan.
"Kamu nggak bisa, gitu?" tanya balik Dilan. "Selama ini, kamu bicara dengan bahasa Somalia, ya?"
"Nggak seperti itu juga!" sungut Nessa. "Maksudku ..."
"Aku mengerti," Dilan tersenyum. "Tapi ada imbalannya. Kamu harus mengajariku matakuliah lain."
"Kamu mau diajari apa?" tanya Nessa.
"Semuanya," jawab Dilan.
"Semuanya?" Nessa mengernyit.
"Iya, semuanya," ulang Dilan. "Kecuali Bahasa Indonesia."
"Kamu bercanda," tukas Nessa.
Di kemudian hari, Nessa akan menyadari, bahwa Dilan tidak bercanda.
"Aku nggak pernah menyukai pelajaran Bahasa Indonesia," tutur Nessa. "Membosankan."
"Memang membosankan," dukung Dilan.
"Tadi kamu kelihatannya menikmati perkuliahan," bantah Nessa. "Kamu menyukai dan bisa mengikuti. Kamu pintar."
"Nggak pintar, Nessa," Dilan tersenyum. "Aku hanya sekadar senang dan terbiasa membaca. Novel, majalah, koran, sampai brosur iklan pengobatan alternatif. Kebiasaan itu bisa mengasah kemampuan berbahasa, lho!"
"Iya, sih ..." gumam Nessa. "Aku memang nggak hobi membaca."
Dilan membuka tasnya, dan mengeluarkan sebuah novel. Diserahkannya novel itu.
"Mulailah dari novel bertema ringan," ucapnya.
"Lupus: Kejarlah Daku, Kau Kujitak," Nessa membaca judul novel itu. "Novel lama, 'kan?"
Dilan mengangguk. "Novel pertama yang kupunya, pemberian bibiku. Meskipun novel pertama yang kubaca bukan itu."
"Ini novel keberapa yang kamu baca?" selidik Nessa.
"Aku lupa," Dilan mengangkat bahu. "Novel ke-60, mungkin? Sejak kecil, aku sering pinjam buku di Taman Bacaan."
Nessa mengangguk.
Anda Mungkin Juga Suka





