Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel GEJOLAK GAIRAH DILAN

GEJOLAK GAIRAH DILAN

Dilan dan Nessa menjadi sangat dekat hanya dalam tiga kali pertemuan. Namun, momen ketiga itu justru membawa luka hati bagi Dilan. Sebuah insiden tak terduga terjadi saat Nessa berada di bawah pengaruh obat perangsang, memaksa Dilan melanggar janjinya sendiri untuk menjaga kehormatan wanita yang ia cintai. Kini, hubungan mereka dipertaruhkan. Mampukah Nessa memaafkan Dilan, dan akankah kesalahpahaman besar di antara mereka akhirnya menemukan jalan keluar?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Baca, ya!" minta Dilan. "Kalau udah selesai, kembalikan. Nanti kupinjamkan buku yang lain. Anggap aja ini metode yang kupakai untuk mengajari kamu Bahasa Indonesia."

"Memangnya buku ini nggak lagi kamu baca?" selidik Nessa. "Agak kurang masuk akal, kalau kamu menyediakan buku di dalam tas, hanya untuk dipinjamkan."

"Memang lagi kubaca ulang," jawab Dilan. "Tapi aku udah hapal isinya. Jadi, kupinjamkan aja sama kamu. Aku mau baca buku lain."

Nessa mengangguk.

Obrolan terhenti sejenak, karena Nessa asyik membaca kata pengantar novel. Sementara Dilan menatap berkeliling kamar.

"Kamarmu nyaman," komentar Dilan. "Banyak aksesoris unik."

"Harus nyaman," Nessa tersenyum. "Harus bisa bikin aku merasa seperti tinggal di rumah."

"Kapan kamu pulang ke Pasir Impun?" tanya Dilan.

"Setiap akhir pekan," jawab Nessa.

"Boleh aku mengantar kamu?" tanya Dilan lagi. "Aku kepingin tahu rumahmu."

"Hanya itu?" tanya balik Nessa. "Atau ada maksud lain?"

"Ada maksud lain, pastinya," Dilan nyengir. "Aku nggak mau berpura-pura tulus mengantarkan kamu. Satu-satunya yang tulus, mungkin cuma perasaanku... eh."

Nessa menatap lelaki di hadapannya. "Kamu ngomong apa, barusan?"

Dilan menggeleng cepat. "Bukan apa-apa, kok."

Entah hanya perasaan Dilan saja, namun ia merasakan suasana menjadi sedikit canggung. Keduanya kembali saling diam, cukup lama. Hingga teriakan seseorang di luar, membuyarkannya.

"Ada telepon buat kamu, Nessa!"

"Iya!" jawab Nessa. Ia menatap Dilan. "Sebentar, ya?"

"Oke," Dilan mengedipkan kelopak mata kirinya.

***

Nyatanya, yang dibilang 'sebentar' oleh Nessa, berlangsung selama hampir setengah jam. Hingga ketika Nessa kembali, Dilan tertidur sambil duduk, dengan kepala terkulai di atas ranjang. Perempuan itu tertawa geli.

"Dilan ..." ucap Nessa pelan, sambil menepuk bahu kiri Dilan.

Lelaki itu terjaga, dan mengerjapkan mata. Sejurus kemudian, ia tersenyum. "Maaf, aku ketiduran."

"Maaf, aku lama," balas Nessa dengan nada penuh penyesalan.

"Nggak apa-apa," ujar Dilan, masih dengan senyum tersungging di bibirnya. "Siapa yang menelepon? Orang rumah, ya?"

"Bukan," jawab Nessa, seraya menggeleng. "Mmm... pacarku."

"Oh," gumam Dilan. Hatinya serasa dilolosi.

Hanya butuh tiga kali interaksi untuk membuat Dilan dan Nessa menjadi akrab dan dekat. Namun, Dilan tidak pernah mengira, pada interaksi ketiga pula, ia harus merasakan patah hati.

***

Awal November 2000.

Nessa merasakan perubahan sikap Dilan. Lelaki pertama yang ia kenal di kampus ini tersebut, tidak lagi bersikap sehangat dulu. Dilan yang sejak awal perjumpaan telah cukup memberikan kesan di hatinya, mendadak menjauhinya. Kini interaksi Dilan dengan dirinya hanyalah sebatas hubungan antara rekan sekelas. Tidak lebih.

Pada awalnya, keduanya memang akrab. Keakraban yang membuat Nessa sadar, bahwa sepasang manusia berlainan jenis kelamin pun bisa bersahabat, meski tak ada hubungan kekasih yang melingkupinya. Ia lebih sering ditemani Dilan, daripada bersama Sadiah dan Rania, dua teman sekelas yang terbilang paling akrab dengannya. Dan Dilan pun tampak lebih nyaman bersamanya, daripada dengan Wahyu dan Aji.

Namun, beberapa waktu terakhir, Nessa merasakan Dilan menjauhinya. Tak ada lagi ajakan sang lelaki untuk berjalan bersama menuju kantin. Tak ada lagi Dilan yang merengek minta ikut ke kost-an, hanya karena ingin kopi gratis. Juga tak ada lagi perbincangan ringan namun kerap membuat matanya berair akibat tertawa geli, mendengar cerita konyol Dilan.

Kamu kenapa, Dilan? batinnya bertanya-tanya.

Nessa harus jujur mengakui, betapa interaksi bersama Dilan membuatnya bisa mudah beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia tidak tergagap menghadapi perubahan gaya hidup, transformasi dari status pelajar menjadi mahasiswa. Semuanya berlangsung apa adanya, karena Dilan menemaninya. Sulit dimengerti, memang. Kenyamanan justru diperoleh Nessa dari Dilan, bukan kekasihnya.

Lalu, Dilan mendadak menjauhinya. Wajar dong, jika Nessa kelabakan?

***

Dilan masuk kelas. Sendirian saja. Kesembilan belas rekannya telah lebih dulu masuk kelas, dan duduk di kursi masing-masing. Lelaki itu melemparkan pandangan secara sekilas, terarah pada seluruh temannya. Dan saat beradu pandang dengan Nessa, ia menambahkan gerakan menggembungkan cuping hidungnya sebanyak dua kali. Membuat Nessa terkikik menahan geli.

Dilan sendiri kemudian duduk di sudut kiri kelas, karena di sanalah terdapat satu-satunya kursi kosong. Kontradiktif dengan posisi kursi Nessa yang berada di sisi kanan. So, interaksi Dilan dan Nessa pun berlangsung begitu singkat. Selain karena posisi tempat duduk yang terpentang jauh, tak lama dosen pun masuk kelas. Dan perkuliahan dimulai.

Di awal perkenalan dulu, berkali-kali Dilan duduk bersebelahan dengan Nessa. Hasilnya, Nessa begitu lelah menahan diri agar tidak tertawa, karena sepanjang jam kuliah, Dilan terus melontarkan lelucon dalam bentuk sketsa gambar. Lelaki konyol itu tidak peduli dengan keberadaan dosen di depan kelas.

Kini, hal tersebut tak pernah terjadi lagi. Dilan kerap masuk kelas di masa 'injury time', beberapa saat sebelum dosen masuk. Praktis, Dilan harus menempati satu-satunya bangku kosong yang tersisa. Dan sialnya, belum pernah sekali pun bangku kosong tersebut berada di sebelah posisi duduk Nessa, karena sang perempuan memang selalu duduk diapit Sadiah dan Rania.

Sejujurnya, Nessa ingin menyisakan sebuah bangku kosong di sebelahnya. Dengan begitu, Dilan akan mendudukinya. Namun, untuk meminta Sadiah atau Rania agar hal tersebut terlaksana, Nessa terlalu enggan.

Dosen yang mengajar mata kuliah Pengantar Manajemen memasuki kelas. Perkuliahan pun dimulai. Nessa pun fokus, melupakan lamunannya tentang Dilan. Hingga tidak menyadari bahwa Dilan telah sedikit memajukan dan menyerongkan posisi bangkunya, lalu berkali-kali menatapnya lekat-lekat. Oh, bukan hanya Nessa, namun seisi kelas memang tak ada yang menyadarinya.

Dalam sekali kesempatan, keduanya sempat beradu pandang. Dan Dilan, lagi-lagi, menggembungkan cuping hidung sebanyak dua kali. Kembali, Nessa terkikik geli, sambil menutup mulut dengan telapak tangan kirinya.

Apakah aku kangen Dilan? tanya Nessa di dalam hati. Nggak mungkin!

"Fokus, Nessa," ingat Rania, dengan berbisik.

Nessa menatap Rania, lalu tersenyum.

"Ada yang lagi kamu pikirkan?" tanya Rania, masih dengan berbisik.

Nessa menggeleng.

***

Tessa tidak menyadari gerakan Dilan yang menggeser kursinya, hanya agar bisa mencuri pandang ke arah perempuan manis itu. Bahkan, mungkin seisi kelas memang tidak menyadarinya. Itulah yang memang diinginkan Dilan, pergerakan yang tidak kentara. Ia tidak ingin 'manuver' yang ia lakukan, diketahui orang lain. Tidak, untuk saat ini.

Namun, pada satu kesempatan, Nessa menatapnya, tepat ketika Dilan sedang memerhatikannya. Mereka beradu pandang. Dilan langsung menggerakkan cuping hidungnya, dua kali. Persis seperti yang ia lakukan kala tanpa sengaja saling tatap dengan Nessa, saat masuk kelas tadi. Perempuan itu terlihat menahan tawa, sambil menutup mulut dengan telapak tangan kirinya.

Aku tahu, tentu pacarmu lebih berhak untuk merasakan ini, ujar Dilan di dalam hati. Tapi jujur, aku merasa bahagia melihat senyum dan tawamu, Nessa ...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KXC" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KXC
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Alya terjebak dalam keputusasaan saat ibunya, Kartika, butuh biaya medis besar dan donor organ langka. Di tengah krisis ini, Niko, pengusaha kaya yang mendambakan anak, menawarkan kesepakatan menjadi ibu pengganti demi kesembuhan Kartika. Meski ragu, Alya setuju demi nyawa ibunya. Namun, benih cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, memicu dilema emosional. Saat rahasia besar terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Dusta di Balik Janji
8.0
Lima tahun menikah, Kathleen hancur saat divonis kanker hati. Joshua, suaminya, justru berniat mendonorkan hati bagi wanita simpanannya yang telah memiliki anak. Menolak menyerah pada pengkhianatan, Kathleen bertekad merebut kembali hak donornya. Ia memutuskan pergi ke Jaxperton demi menjalani operasi dan meminta Joshua menjemputnya dalam tiga hari. Namun, kepergian Kathleen justru meninggalkan lubang keputusasaan mendalam bagi suaminya yang menyesal.
Sampul Novel Gairah Istri Kelima Juragan
9.3
Malini terjepit utang besar setelah suaminya menghilang misterius. Satu-satunya harapan adalah Juragan Chandrakanta, pria kaya raya yang ingin menjadikannya istri kelima. Meski awalnya menolak dan memilih bekerja kasar, Malini akhirnya tak berdaya menghadapi pesona sang juragan. Sebuah mantra rahasia dan daya pikat Chandrakanta berhasil membuatnya bertekuk lutut dalam semalam. Akankah Malini menyerah sepenuhnya pada gairah dan menjadi bagian dari keluarga sang juragan?
Sampul Novel Gairah Liar Istri Kecilku
8.5
Maia Vandini, seorang lulusan SMA, terjebak dalam situasi berbahaya saat kencan butanya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah diberi obat perangsang oleh teman kencannya, Maia berusaha melarikan diri demi menyelamatkan diri. Dalam kondisi yang tidak terkendali, ia bertemu dengan seorang CEO asing. Maia yang kehilangan kesadaran memohon bantuan padanya, memicu pertemuan panas yang tak terduga. Sang pria memperingatkan bahwa Maia-lah yang memulai segalanya.
Sampul Novel Gelap Itu Membuatku Salah Pilih Pintu
9.5
Pemadaman listrik mendadak saat mandi memaksa seorang wanita segera mengenakan jubah tidur untuk beristirahat. Namun, keputusan kembali ke kamar dalam kondisi gelap gulita justru berujung pada kekeliruan fatal. Alih-alih kamarnya sendiri, ia justru salah melangkah masuk ke dalam kamar keponakannya. Sebelum sempat menyadari situasi, sepasang tangan kokoh tiba-tiba mendekapnya dengan sangat erat dari belakang, memicu ketegangan dan misteri yang mengubah malam sunyi itu sepenuhnya.
Sampul Novel Jeritan Nakal Wanita Tawanan Kamar
9.6
Akibat pengkhianatan sang ayah terhadap Limson, kelompok mafia paling berkuasa di negaranya, nyawa Arabella kini berada dalam ancaman besar. Ia terjebak dalam dilema yang mematikan. Pilihannya hanya dua: menjadi tawanan pribadi di dalam kamar Tuan Stanley, sang pemimpin tertinggi mafia yang dingin, atau melarikan diri ke dunia luar untuk diburu habis-habisan oleh anggota kelompok Limson lainnya. Arabella terpaksa menghadapi takdir yang sangat kelam.