
Geger di Bhumi Manggala
Bab 2
Padukuhan Kebon Kelapa adalah sebuah pemukiman yang berada di bawah kekuasaan Kademangan Mandura. Selain banyak ditumbuhi pohon kelapa, padukuhan ini juga merupakan padukuhan yang menghasilkan hasil pertanian yang paling melimpah di bandingkan padukuhan lainnya.
Tetapi, setelah musim kemarau yang berkepanjangan, maka banyak warga yang kemudian mengalami gagal panen, terutama tanaman padi yang merupakan tanaman yang paling banyak ditanam para penduduk di sana.
Sehingga untuk memenuhi kebutuhan mereka, maka banyak diantara para penduduk yang kemudian meminjam uang kepada seorang saudagar kaya raya bernama Ki Sabrang, yang datang dari suatu desa yang sangat jauh. Tetapi Ki Sabrang itu, menghendaki agar pinjaman para penduduk dibayar dengan menanam tanaman lada di sawah dan ladang mereka, alih-alih menanam padi.
Mau tak mau para penduduk yang berhutang itu akhirnya terpaksa menanam lada demi untuk membayar hutang mereka. Sekaligus juga memenuhi biaya hidup.
Sementara itu di sebuah yang rumah yang terhitung paling besar dan paling luas halamannya di bandingkan rumah-rumah penduduk Kebon Kelapa lainnya. Rumah itu adalah rumah Lurah Kebon Kelapa yang bernama Ki Wira.
Di dalam rumah itu tampak seorang gadis belasan tahun berjalan masuk kedalam salah satu kamar di dalam rumahnya. Tampak olehnya seorang pemuda tampak tidur meringkuk diatas pembaringannya, padahal waktu itu matahari sudah hampir tepat diatas kepala.
“Kang. Kakang Widura. Bangun Kang.” gadis belasan tahun itu mengguncang-guncang bahu pemuda yang tengah meringkuk seperti bayi.
“Kakang, ayo bangun.” Terdengar pemuda itu berucap pelan sembari menggeliat malas, “Ada apa Wulan?”
“Apakah Kakang lupa. Bapak tadi meminta kakang menyusulnya ke sawah.”
“Untuk apa Wulan.” ucap malas kakaknya itu. Iapun terpaksa bangun juga dengan ogah-ogahan. Meskipun terlihat berantakkan, anak muda itu sebetulnya berparas sangat tampan. Hanya saja ia memiliki warna kulit yang putih tetapi agak pucat. Seolah-olah dia adalah mayat hidup. Namanya Arya Widura. Merupakan anak sulung Ki Wira. Dan kakak laki-laki dari Rara Wulan, nama gadis belasan tahun adiknya itu.
“Ya untuk membantu bapak.”
“Kenapa aku juga harus ikut ke sawah. Mana, biyung?”
“Biyung juga ikut kesawah. Sedangkan aku harus menyiapkan makanan dan minuman.”
“Aku masih mengantuk sudah harus bangun.” geremang Arya Widura.
“Salah kakang sendiri selalu pulang larut malam. Kakang ini anak seorang Lurah, anak pimpinan di Padukuhan Kebon Kelapa ini. Seharusnya kakang memberikan contoh yang baik untuk para pemuda di sini, bukannya bermalas-malasan.”
Mendengar adiknya yang terus mengoceh, Arya Widura akhirnya beringsut dari pembaringannya. Setelah mencuci muka di pakiwan, iapun pergi kebelakang untuk mengambil parang.
Rara Wulan tampak tersenyum melihat kakaknya yang tengah bersiap-siap. Tidak lupa ia memberikan caping yang cukup lebar untuk kakaknya. “Supaya kakang tidak kepanasan di jalan.” katanya.
“Terima kasih.”
Rara Wulan lalu mengantar kakaknya itu hingga ke depan pintu regol. Setelah memastikan kakaknya itu betul-betul pergi ke sawah, ia kembali berjalan menuju rumahnya. Namun tiba-tiba seseorang berseru memotong langkahnya.
“He, Wulan.”
"Aduh. Kenapa laki-laki tua ini datang lagi," berkata Rara Wulan di dalam hatinya, “mana bapak dan biyung tidak ada di rumah pula.”
Laki-laki tua itu terkekeh melihat wajah Rara Wulan yang tampak memucat. Dia adalah Ki Sabrang, saudagar kaya yang akhir-akhir ini mulai mengusik kehidupan keluarga Rara Wulan. “Rumahmu tampak sepi. Kemana orang tuamu, Wulan?”
“Bapak dan biyung pergi ke sawah, Ki.”
Ki Sabrang yang sudah berada di hadapan gadis cantik bernama Rara Wulan itu tampaknya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, “Rajin betul kedua orang tuamu itu, Wulan. Apa boleh aku menunggu mereka di rumahmu?”
“Iya, silahkan Ki. Tapi sebentar lagi saya juga akan pergi kesawah,” Rara Wulan mempersilahkan Ki Sabrang duduk di pendapa rumahnya. Sementara ia berjalan tergesa-gesa masuk kedalam rumah. Namun Ki Sabrang itu segera berseru.
“Masa tamu ditinggal begitu saja.”
“Tapi saya harus pergi ke sawah Ki. Saya harus mengantarkan makanan dan minuman.”
“Tidak baik meninggalkan tamu seorang diri. Duduk saja disini temani aku.”
“Tapi, Ki. Tapi ....”
“Duduklah disini. Orang tuamu akan mengerti jika kamu tidak pergi kesawah, dikarenakan ada tamu dirumah.” ucap Ki Sabrang dengan nada memaksa.
“Iya, Ki.” dengan langkah ragu-ragu Rara Wulan terpaksa berbalik lalu duduk di hadapan Ki Sabrang. Meskipun begitu jarak mereka memang cukup berjauhan. Bahkan Rara Wulan tampak terdiam lama tanpa berbicara sepatah katapun. Sedang Ki Sabrang menatapnya dengan pandangan yang puas.
“Berapa umurmu, Wulan?” tanya Ki Sabrang.
“Empat belas tahun, Ki.”
“Umurmu masih belum dewasa. Tapi kau sudah cantik luar biasa. Apalagi ada tahi lalat di tepi bibirmu itu.” Ki Sabrang terdengar memuji.
“Maaf Ki Sabrang. Saya harus pergi ke sawah mengantarkan makanan dan minuman. Sekalian saya akan memberitahukan kepada bapak bahwa Ki Sabrang ada di rumah.” ujar Rara Wulan yang sebetulnya tengah berusaha melepaskan diri dari laki-laki tua tidak tahu diri itu.
“Tidak perlu terburu-buru. Aku datang kesini hanya ingin bertemu denganmu saja,” kata Ki Sabrang, “setelah dari sini aku akan berdagang ke Pelabuhan Candra Baga. Tidak seperti di Muara Sungai Gomati, di Pelabuhan Candra Baga akan banyak para saudagar dari berbagai tempat bahkan dari Kerajaan Medang Jati. Nah, kau mau aku belikan apa? Apakah kau ingin baju dan perhiasan? Nanti akan aku belikan.”
“Tidak perlu Ki. Terimakasih.”
“Jangan malu-malu. Aku akan belikan baju dan perhiasan yang paling mahal dan bagus dari Kerajaan Medang Jati untukmu, Wulan.”
“Baju dan perhiasan yang saya pakai ini sudah lebih dari cukup. Saya tidak suka mengenakan pakaian dan perhiasan yang terlampau berlebihan.”
Ki Sabrang tidak berputus asa. Ia kini berani memegang pergelangan tangan Rara Wulan.
“Jangan Ki. Lepaskan tangan saya.” Rara Wulan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ki Sabrang. Sayangnya cengkeraman tangan laki-laki tua itu terlampau kuat.
Di saat seperti itu, tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu regol rumah Rara Wulan. Orang itu tampak termangu-mangu sesaat, namun ia segera berdehem. Sehingga mengejutkan Ki Sabrang juga Rara Wulan. “Maaf, saya mengganggu.”
Ki Sabrang nampak kesal, “Siapa kamu?” serunya kepada pemuda belasan tahun yang tampak berdiri tegak di halaman pendapa. Iapun terpaksa melepaskan tangan Rara Wulan.
“Tidak perlu tahu. Saya hanya ada perlu dengan kakak dari perempuan yang kisanak ganggu itu.”
“Kamu?”
Melihat Ki Sabrang yang nampak tersinggung, Rara Wulan segera menyela agar laki-laki tua itu tidak berbuat ulah di rumahnya.
“Kang Batara, silahkan duduk. Kakang Widura sedang pergi kesawah. Tadi Kakang Widura bilang bahwa kalau Kakang Batara datang, ia meminta kakang untuk menunggunya.” ucap Rara Wulan. Sementara dalam hati ia memohon maaf pada Batara, karena sebetulnya ia tidak mendapat pesan seperti itu dari kakaknya.
Batara tampak mengerutkan keningnya, ia bahkan sempat memandang Ki Sabrang sekilas. Namun iapun kemudian naik ke pendapa dan bahkan dengan seenaknya duduk di sisi Ki Sabrang yang menatapnya heran.
“Kalau begitu, saya pergi.” ujar Ki Sabrang.
“Iya Ki,” ujar Rara Wulan tanpa sadar. Ki Sabrang sendiri memang sudah berdiri dan kemudian berjalan turun dari pendapa. Bahkan kakinya dengan sengaja telah menyenggol lutut Batara pula. Ia menatap Batara dengan tatapan seolah ingin membunuhnya karena telah mengganggu kesenangannya. Seterusnya Ki Sabrang melangkah turun dan keluar melewati pintu regol.
“Selamat aku.” berkata Rara Wulan di dalam hatinya. Tampak ia menghela napas lega dan mengusap dadanya yang serasa sesak untuk beberapa lama.
“Kamu selalu menjaga jarak dengan para pemuda. Tapi kenapa kamu malah membiarkan laki-laki tua itu mendekatimu bahkan memegang tanganmu?”
“Ini tidak seperti yang kakang bayangkan. Ki Sabrang itu banyak membantu warga-warga di Padukuhan Kebon Kelapa yang kekurangan uang untuk biaya hidup mereka, ketika gagal panen dulu. Jadi ... dia akhir-akhir ini sering datang kerumah kami, kang.”
Batara menyipitkan matanya. Tetapi iapun menghela napas pelan. “Aku pergi dulu.”
Rara Wulan tampak bingung menanggapi sikap pemuda aneh itu. Namun ketika Batara melangkah turun dari pendapa. Gadis belasan tahun itu segera berseru. “Kang Batara. Terima kasih. Aku ... aku ....”
“Aku hanya kebetulan melintas disini.” sela Batara.
Rara Wulan hanya berdiri diam di pendapa rumahnya sembari menatap punggung pemuda itu.
Lebih dari setahun yang lalu, pemuda bernama Batara itu datang dari suatu tempat yang sangat jauh. Dia mengatakan hendak mencari sebuah dusun bernama Dusun Sendang Karang. Membuat semua orang terkejut mendengarnya. Karena setahu mereka, Sendang Karang itu bukanlah sebuah dusun seperti yang dikatakan oleh Batara. Sendang Karang hanyalah sebuah hutan di kaki Gunung Sraya. Hutan yang bahkan sangat jarang di masuki oleh manusia. Banyak yang mengatakan kalau hutan itu sangatlah sanget dan hanya di huni kaum dhemit dan bangsa lelembut lainnya.
Tetapi meskipun begitu Batara malah tinggal beberapa lama di Mandura dan mengandalkan hidup dengan bekerja di sebuah penginapan yang berada di perbatasan kademangan. Karena sikap Batara yang begitu tenang dan tidak nganeh-nganehi, pemilik penginapan dan warga Mandura terutama para perempuan muda justru merasa senang dengan keberadaanya.
Pemuda setampan Batara yang bagaikan Sang Arjuna mencari cinta atau niscaya Sang Kamajaya turun ke alam manusia. Maka perempuan mana yang tidak akan betah berlama-lama menatap wajahnya. Bahkan, anak perempuan Demang Mandura pun, sudah beberapa kali mencoba menarik perhatiannya. Namun Batara sama sekali tidak memedulikannya.
Suatu hari, Batara yang mulai merapikan dan mengelap meja-meja yang berdebu bekas para pengunjung semalaman, tampak di hampiri oleh pemilik penginapan.
“Batara. Hari ini aku ada perlu dan mungkin akan kembali setelah lewat tengah hari. Kau dan si Bondan bekerja seperti biasa saja. Lauk yang sudah agak dingin, cukup kau hangatkan. Kalau urusan lalaban dan sambel kau bisa mengandalkan si Bondan.”
Batara hanya menganguk pelan.
Beberapa saat setelah pemilik penginapan pergi, para pengunjung yang sekedar hendak makan dan minum mulai berdatangan. Batara dan Bondan sekejap kemudian menjadi sibuk melayani pesanan para pengunjung.
Namun di hari itu, ada satu pengunjung yang menarik perhatian Batara. Seorang laki-laki tua dengan pembawaan setenang rembulan terlihat berjalan masuk kedalam penginapan yang juga menyediakan sebuah kedai. Meskipun tidak dengan menebar senyuman ramah, Batara hanya mengandalkan sikap sopannya untuk menyambut seorang pengunjung yang tidak nampak sederhana itu.
“Tolong hidangkan nasi putih beserta lauknya, daging ayam.”
Batara mengangguk tanda mengiyakan.
“Oh ... saya juga mau lalaban dan sambal ijo. Minumnya cukup air teh hangat saja.”
“Apakah masih ada yang lain?” Batara yang semula tidak berucap sepatah katapun terpancing juga untuk berbicara. Karena laki-laki tua itu dirasa terlampau banyak meminta.
“Saya juga hendak menginap satu malam. Apakah masih ada kamar yang kosong?”
“Ada. Kamarnya akan segera kami persiapkan.”
“Kalau begitu, terima kasih.”
Ketika Batara tengah menyiapkan pesanan laki-laki tua itu, maka datang pula tiga orang bertubuh tinggi besar dan nampak garang.
Tanpa basa-basi, salah seorang dari mereka langsung berseru memanggil Batara. Seruannya begitu keras hingga mengejutkan pengunjung penginapan yang tengah menyantap hidangan mereka.
“BATARA .... KELUAR KAMU BOCAH DHEMIT!!”
Bondan segera mendekati Batara yang nampak acuh tak acuh.
"Batara, kau ada urusan apa dengan para tukang pukul Ki Sabrang?" bisik Bondan sembari pandangannya mengawasi ketiga pengunjung yang tidak di kehendaki itu.
“Mana aku tahu.”
“Jadi maksudmu, mereka hanya mencari gara-gara?”
“Aku juga tidak tahu.” Batara lalu meminta Bondan untuk mengantarkan pesanan laki-laki tua itu. Sedangkan ia hendak menyiapkan satu buah kamar yang di pesannya.
Namun, ketiga orang berpenampilan sangar itu langsung mencegatnya. Membuat semua orang yang berada di dalam penginapan menjadi berdebar-debar. Hampir semua pengunjung tahu, kalau ketiga orang berpenampilan sangar itu adalah tukang pukul Ki Sabrang. Jika tiba-tiba ada orang yang di datangi ketiganya. Maka pasti orang itu telah menyinggung saudagar kaya raya itu entah seperti apapun masalahnya.
“Kau yang bernama Batara, bukan?”
“Saya sedang sibuk, kisanak. Jika ada urusan, tunggulah sampai saya menyelesaikan pekerjaan saya.” ucap tenang Batara, seolah-olah kehadiran ketiga orang itu, sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap dirinya.
•••••
Anda Mungkin Juga Suka





