
Gara-Gara Cinta Satu Malam
Bab 2
Katherin mengerang kesal, saat Holly menarik lengannya secara paksa. Ia bahkan baru sampai di kantor dan gadis berambut pirang itu menyambar tangannya dengan sekuat tenaga. Alhasil, tubuhnya yang jauh lebih mungil dibanding Holly dengan mudah terseret tanpa sanggup ia tahan.
“Apa yang kau lakukan, Holly?”
“Jika kita terlambat, kau akan mendapatkan omelan dari Abigail. Wanita cerewet itu sudah mengirim pesan ke semua karyawan untuk datang tepat waktu. Mulai hari ini, kita akan kedatangan CEO baru yang menggantikan Tuan Hamilton.”
“Mengapa aku tak mendapatkan pesan tersebut?” Gadis itu merogoh tas selempangnya, mengambil ponsel untuk memastikan pesan yang Holly maksud. “Sial sekali. ponselku dalam mode pesawat.” Ellena memiliki kebiasaan mematikan ponsel atau mengubah ke setelan airplane mode saat ingin tidur. Alasannya simpel, karena kesehatan.
Holly dan Ellena masuk ke aula, duduk di barisan paling belakang—mengingat mereka sudah terlambat.
“Sepertinya kita memang sudah terlambat, Holly.”
“Semoga Abigail tak melihat kita,” bisiknya agar tidak mengganggu yang lain.
Keduanya mencari posisi Abigail, memastikan bahwa wanita cerewet itu tak melihat kedatangan mereka. Saat keduanya hendak bernapas lega, Ellena justru mendapati dirinya sedang bertemu pandang dengan mata elang milik Abigail. Tatapan wanita itu tampak seperti predator yang menandai mangsanya.
“Sepertinya semesta tak berpihak pada kita, Holly.” Ellena memepet tubuh Holly. “Arah jam dua,” lanjutnya berbisik, tak lupa ia memasang senyum semanis mungkin.
“Oh tidak! Berhenti menatapnya. Bersikap biasa saja, seolah kita tak melakukan kesalahan apa pun.”
Ellena tahu betul bagaimana sikap Abigail. Sebagai manajer umum yang memiliki usia jauh lebih tua, menjadikan wanita itu dijuluki singa betina. Terlebih statusnya yang masih lajang kerap dikait-kaitkan dengan sikapnya yang pemarah. Banyak yang beranggapan bahwa tak ada pria yang berani mendekat karena sifatnya yang otoriter dan galak. Namun, di balik sikap tegasnya, ada hikmah yang bisa didapatkan. Tak ada karyawan di bawah naungannya yang bermalas-malasan, tak ada karyawan yang saling menyimpan iri, sebab dia selalu menyamakan semua karyawan.
Banyak yang bilang, karena statusnya yang lajang membuat Abigail kerap frustrasi. Katanya, wanita yang tak pernah mengalami pelepasan akan sering merasa stres dan frustrasi. Apa iya? Akan tetapi, itu adalah sesuatu yang belum pasti, sebab seseorang yang berstatus lajang pun bisa mendapatkan pelepasan dari pria yang tak dikenalinya. Seperti yang dialami Ellena beberapa hari yang lalu.
Mengingat hal itu membuat Ellena cemas. Ia tak akan hamil, kan? Semoga pria itu menggunakan pengaman. Ya, semoga saja. Dia tak mau mengalami kondisi di mana dirinya mengandung, tetapi tak tahu siapa ayah dari anaknya kelak. Bukankah itu adalah hal yang sangat menakutkan? Tidak mengetahui siapa pemilik darah daging yang ada di dalam rahimnya.
Ellena benar-benar menyesali perbuatannya yang sangat tak terpuji. Hanya karena sang kekasih selingkuh dan bermain dengan wanita lain, ia malah dengan bersuka cita memberikan keperawanannya kepada pria lain. Apakah dendamnya sudah terbayarkan? Sama sekali tidak. Ia justru semakin frustrasi karena sikapnya yang sudah di luar nalar.
Mengingat kembali saat Xavier mengerang di atas wanita lain, membuat darahnya mendidih. Erangan dan desahan tersebut membuatnya seketika mual. Meski kecewa dengan pria itu, tetapi Ellena sedikit bersyukur akan kejadian tersebut. Setidaknya dia tak menyesal karena hubungannya dengan Xavier telah berakhir. Setidaknya tak ada karma yang akan ia terima karena telah memutuskan Xavier yang berkhianat.
“Elle! Lihatlah! Dia sangat tampan.” Senggolan tangan Holly membuat lamunan Ellena seketika buyar.
“Kau menyakitiku, Nona,” hardik Ellena sambil mengelus lengan yang menjadi korban kekerasan Holly. Dia mendongak, menajamkan pandangan kala cucu Tuan Hamilton sudah ada di podium utama, memperkenalkan diri.
Holly tersenyum semringah. “Sepertinya aku akan sangat rajin untuk datang ke kantor. Kantor yang membosankan akan menarik karena kehadirannya.”
Begitulah Holly, dia selalu haus akan pria tampan, terlebih pria yang kaya. Meski demikian, sampai sekarang dia tak memiliki kekasih. Mengagumi banyak pria, membuatnya sulit untuk memilih. Katanya, ia lebih senang mendapatkan banyak perhatian ketika tak memiliki kekasih, ketimbang mendapat satu perhatian saja dari kekasih yang mungkin nantinya akan bosan. Cukup masuk akal, tetapi karena sikapnya yang seperti itu, membuatnya dicap sebagai gadis yang haus akan perhatian. Namun, Holly tak peduli. Sikap cuek itulah yang membuat Ellena kagum.
Setidaknya ia memiliki sahabat yang bisa menguatkannya saat dirinya sedang terpuruk. Setidaknya Holly akan menjadi garda terdepan saat orang lain mulai meremehkan Ellena. Holly dan Cristy adalah sahabat yang tak pernah meninggalkannya di kondisi apa pun.
“Suaranya begitu seksi, Elle. Bagaimana jika dia mendesah, pasti akan sangat menggairahkan.”
Ellena hanya bisa menggeleng melihat tingkah Holly. Ia kembali mendongak, merasa cukup familiar dengan wajah tersebut. Namun, dirinya tak bisa mengingat di mana ia pernah bertemu.
Anda Mungkin Juga Suka





