
Gara-Gara Cinta Satu Malam
Bab 3
“Berikan aku data semua karyawan,” perintahnya pada Abigail yang juga merupakan sepupunya.
“Semua karyawan? Hei, kita memiliki ratusan karyawan dan kau ingin semuanya? Ayolah, William, kau tak usah menambah pekerjaanku yang sudah menumpuk.
“Kalau begitu, berikan data karyawan yang terlambat masuk aula tadi.”
Kening Abigail berkerut samar. “Apa kau ingin menghukumnya? Kau tak perlu melakukan hal yang tidak penting. Biarkan aku yang memberikan mereka nasihat. Kedua gadis itu memang kerap membuatku sakit kepala.”
William menyembunyikan rasa penasarannya. “Aku hanya ingin tahu tentang mereka. Bukankah perusahaan kita memiliki aturan yang ketat, mengapa karyawan biasa seperti mereka bersikap seenaknya?”
“Tak perlu, Liam. Kau kerjakan tugasmu saja.”
“Mengapa kau membangkang? Apa kau ingin melepaskan jabatanmu sekarang?”
Ancaman itu membuat Abigail menghela napas panjang. “Aku tak tahu mengapa kau sangat penasaran dengan kedua gadis itu, tetapi kuharap kau tak bermain-main dengan mereka. Keduanya bukan gadis gampangan, sehingga kau tak bisa dengan mudah bermain dengan salah satunya.”
‘Kau salah, Nona. Salah satu dari mereka merupakan gadis gampangan. Ya, gampang memberikan keperawanannya pada pria asing.’
William tersenyum licik. “Aku tidak akan melakukan tanpa persetujuan mereka.”
“William! Jika kau menyakiti salah satu karyawan di bawah naunganku, maka aku tak akan segan memberitahu kelakuan berengsekmu pada Kakek.”
“Wow, kau kira aku takut dengan si tua itu?” Dia menggeleng. “Jangan membuatku berbicara dua kali, Abigail. Aku menunggu data diri mereka.”
Dengan rasa kesal, Abigail keluar dari ruangan tersebut. Memiliki kerabat seperti William adalah kesialan baginya. Namun, jika tak menjadi keluarga dari Hamilton, ia tak mungkin bisa mendapat pekerjaan yang layak dan jauh dari kekurangan.
Setelah kepergian Abigail, William kembali tersenyum semringah. Ternyata tak sulit menemukan gadis itu. Gadis yang memberinya kepuasan serta kenikmatan di tengah rasa frustrasi yang melanda. William tak menampik bahwa ada rasa kebanggan tersendiri saat tahu bahwa dia adalah pria yang merenggut kesucian gadis itu. Sensasi yang dirasakan jelas berbeda dengan apa yang ia rasakan jika bersama dengan gadis lain. Sempit, menggigit, dan menantang.
Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, sampai dia dengan sukarela memberikan tubuhnya pada William, tetapi pria itu yakin bahwa sesuatu terjadi pada si pemilik rambut hitam sepunggung tersebut. Meski gadis itu jauh dari tipe idealnya, tetapi dia tak bisa melupakan permainannya malam itu. Permainan panas yang penuh gairah.
Tubuh semampai dan proporsional, dada yang menonjol, bibir penuh dan tebal, merupakan tipe idealnya, tetapi gadis itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang dia sukai. Gadis yang dia tiduri malam itu memiliki tubuh mungil, saking mungilnya sampai ia takut memperlakukannya secara kasar. Buah d.a.d.a yang yang tidak terlalu besar, tetapi pas di tangannya membuatnya lebih leluasa untuk memainkan benda kenyal tersebut, dan bibir seksi yang penuh sangat nikmat untuk dicumbu. Mengingatnya saja sudah membuat William bergairah.
Akan tetapi, saat lembaran uang seratus dolar memenuhi otaknya, sekejap rasa kesalnya mengambil alih. William cukup kesal. Gadis itu menghargai kemampuannya hanya dengan dua ratus dolar. Bukankah itu terlalu murah, mengingat kemampuan dan pengalamannya yang sudah tak diragukan lagi? Bahkan gadis itu mengerang dengan keras saat mencapai puncak. Gadis itu seperti mengejeknya.
Tepat saat itu, ia mendapatkan notifikasi di komputernya. Sebuah email dari Abigail yang berisi data diri tentang kedua gadis yang terlambat tadi. Senyum miringnya terlihat jelas, kala membaca profil dari gadis yang membayar kemampuannya dengan dua lembar kertas bergambar Benjamin Franklin.
“Ayo kita bermain-main, Ellena Cameron.” Seringainya terlihat menakutkan.
Anda Mungkin Juga Suka





