Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gara-Gara Cinta Satu Malam

Gara-Gara Cinta Satu Malam

Dikhianati sang kekasih membuat Ellena Cameron nekat menyerahkan kesuciannya pada pria asing demi membalas dendam pada takdir. Namun, saat ia ingin melupakan malam itu, pria tersebut justru muncul kembali dan menjungkirbalikkan dunianya. William Asahavey Hamilton, konglomerat yang jenuh dipaksa menikah oleh kakeknya, terpikat oleh keberanian Ellena yang dianggapnya unik. Meski terbiasa dikelilingi wanita, eksistensi gadis mungil itu kini menjadi pusat perhatiannya.
Bab
Bagikan

Bab 1

William Asahavey memasuki sebuah club langganannya. Musik yang begitu keras mengusik gendang telinga saat ia membuka pintu kaca berwarna hitam. Biasanya ia akan datang bersama teman-temannya, tetapi pria-pria itu sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga ia memilih untuk datang sendiri. Tatapannya menelisik ke segala penjuru, mencari tempat yang sekiranya bisa membuat nyaman. Netranya tertuju pada satu sudut ruangan yang cukup gelap, lalu tersenyum miring kala melihat pemandangan yang ada di depan matanya. Dia mendapati dirinya mengerang kesal.

Los Angeles memang wilayah yang tak melarang seks bebas, tetapi melihat langsung pasangan yang bercumbu di dalam club membuatnya sedikit bergidik. Apa tidak ada tempat lain yang lebih privasi? Mengapa mereka memilih menyatu di tengah keramaian dan menjadi tontonan publik? Akan tetapi, kemungkinan besar hanya dirinyalah yang terganggu akan pemandangan tersebut, sebab orang-orang yang ada di sekitar sana seolah menganggap pemandangan itu adalah hal yang lumrah.

Pria bersetelan abu-abu itu memilih duduk di salah satu deretan kursi yang berhadapan langsung dengan bartender, memesan margarita dan menikmati rasa asin yang tajam. Bukan tanpa sebab ia datang kemari, rasa frustrasi karena pekerjaan yang akan dialihkan padanya, sekaligus pusing karena gencatan perjodohan yang selalu direncanakan oleh sang kakek membuat otaknya seakan ingin meledak. Bukannya tak mau menikah, tetapi perjodohan bukanlah jalan alternatif yang harus ditempuh. Ia bisa mencari sendiri, tanpa bantuan dari pria tua itu. 

Jika dipikir lagi, apa yang bisa didapatkan setelah menikah? Apa yang spesial dari hubungan itu? Seks? Meski tak menikah pun, dirinya bisa meniduri banyak gadis jika ia mau. Anak? Dia bisa mendapatkan anak di luar pernikahan. Ia cukup membayar orang lain untuk meminjamkan rahim dan menampung anaknya. Bukankah hal itu bisa dilakukan jika memiliki uang? Semua hal di dunia ini bisa didapatkan jika memiliki uang. Termasuk tubuh wanita.

“Hei, apakah kau datang sendiri?” 

William mengerutkan kening, tetapi tetap menjawab pertanyaan tersebut. Tak ada salahnya menjawab pertanyaan dari gadis asing yang lumayan cantik ini. “Ya. Seperti yang kau lihat. Aku tak punya teman.”

“Apa kau memiliki kekasih?”

Kening William berkerut. Pertanyaan tadi sudah masuk ke ranah privasi. Namun, William tak berniat untuk mengabaikan pertanyaan tersebut. “Tidak. Aku tidak  berminat untuk menjalin hubungan yang seperti itu.”

Pupil mata gadis itu melebar. Ini adalah mangsa yang tepat baginya. Ia hanya perlu memberi umpan, agar si pria terpancing. Rasa frustrasi karena diselingkuhi oleh sang kekasih membuatnya yakin untuk melakukan beberapa hal yang cukup anti mainstream dan tak pernah ia lakukan sebelumnya.

“Apa kau menyukai seks?”

William tersenyum miring. Ia tak mengenal gadis itu, tetapi ia yakin bahwa gadis berambut panjang yang duduk di sampingnya sedikit mabuk. “Pria mana yang tak suka dengan pelepasan, Nona.”

“Kalau begitu mari kita bercinta.”

Pria bermata biru itu tersenyum miring. “Apa kau sedang menawarkan tubuhmu? Kau meminta bayaran berapa?”

Gadis itu menggeleng sambil menggoyangkan jari telunjuk tepat di depan wajah William, membuktikan bahwa dia tidak setuju dengan penawaran pria tersebut. ”Tidak perlu. Justru aku akan membayarmu. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya sebuah penyatuan dan pelepasan.”

Kening Pria itu kembali berkerut, netranya melebar, sedikit syok dengan apa yang didengarnya. Baru kali ini dirinya bertemu dengan gadis yang begitu naif dan polos. Gadis itu yang ingin membayarnya? Bukankah itu terdengar konyol? Apa yang salah dengan gadis bertubuh mungil tersebut? 

“Kau tidak perlu membayarku. Aku tidak butuh uang. Aku hanya butuh pelepasan.” William jelas menolak, sebab uang bukanlah sesuatu yang ia perlukan saat ini. Cukup pelepasan yang nikmat dan bergairah, itu saja.

Gadis itu melambaikan kedua tangannya di udara. “Jangan seperti itu, Tuan. Aku membutuhkan seorang pria, sehingga akulah yang harus membayarmu. Kau hanya perlu memuaskanku.” Suaranya khas orang mabuk.

William menyeringai. Gadis yang ada di sampingnya benar-benar unik. Apakah gadis itu sedang banyak masalah? Akan tetapi, ia tak akan membuang kesempatan ini. Kapan lagi ia akan mendapatkan kesempatan emas seperti ini? Biasanya dia yang akan memasang umpan agar ikan datang padanya, tetapi kali ini, sang ikan secara sukarela masuk ke dalam jaring perangkapnya. 

***

Dengan tergesa-gesa Ellena masuk ke flatnya. Ia tak memedulikan bagaimana keadaan pakaian dan wajahnya. Ia terbangun dalam keadaan tanpa busana di sebuah kamar hotel bersama seorang pria. Gadis itu mencoba menggali ingatan-ingatan tentang semalam, dan saat ingatannya mulai kembali, ia segera turun dari kasur dan memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai. Rasa nyeri di selangkangannya tak dipedulikan, yang dipikirkan hanya satu, cara agar dirinya bisa keluar secepat mungkin dari kamar tersebut.  

Gadis itu membuang sling bag-nya asal, lalu duduk di sofa mungil berwarna cream yang dibeli sebulan yang lalu. Decakan lidahnya terdengar frustrasi. Kemudian dia mengacak-ngacak rambut dan berlagak seperti orang yang kehilangan kendali. 

“Apa yang kulakukan semalam? Aku mabuk dan meminta pria itu tidur denganku? Aku sudah tak perawan lagi,” geramnya dengan suara histeris. Dia sudah kehilangan kesucian, kehilangan hal yang paling dijaga, juga kehilangan kewarasan.

“Ellena! Kau sudah tak perawan?!” Jeritan tersebut berasal dari mulut  Christy—teman satu flat Ellena. “Dari mana saja kau semalam? Mengapa ponselmu tak bisa dihubungi?” Dia mendekati Ellena dengan raut wajah kebingungan bercampur penasaran.

Gadis bermata hazel itu menunduk lalu mendesah untuk kesekian kalinya. “Aku menawarkan diri secara sukarela untuk bercinta dengan orang lain, Cris.”

“Apa kau gila?! Bukankah kau sudah berjanji pada diri sendiri untuk menjaganya sampai kau menikah nanti?”

“Xavier selingkuh. Dia bermain dengan wanita lain.” Dia mendengus lagi. “Aku membalaskan dendamku dengan cara seperti ini, Cris.”

Christy membuka mulut tak percaya, pupil matanya melebar, dan dia tak bisa lagi berkata-kata. Sahabatnya sekaligus teman satu flatnya memang sudah kehilangan akal sehat. Bagaimana mungkin gadis itu membalas dendam dengan melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya? Keperawanan adalah sesuatu yang tak bisa dijadikan sebuah alat untuk bermain-main. Wah, sekarang dia yakin bahwa kegilaan Ellena sudah berada di fase tak bisa diobati.

“Kau mengenal pria itu?”

Ellena menggeleng pelan. “Tidak.”

“Oh shit! Kau benar-benar …” gadis itu menggantung kalimatnya, mencari kata yang tepat untuk mendeskripsikan sikap Ellena, “bodoh.” Dia memutar bola mata kesal. “Bagaimana bisa kau memberikan keperawananmu pada pria asing? Bagaimana jika kau hamil? Apa dia menggunakan pengaman?”

“Aku sudah kehilangan kewarasan, Cris. Aku tidak tahu apa dia menggunakan pengaman atau tidak.”

“Ya, tanpa kau katakan, semuanya sudah jelas. Kau memang sudah kehilangan kewarasan. Tidak. Kau sudah kehilangan otak,” hardiknya sekali lagi.

Gadis itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, lalu menatap langit-langit flatnya. “Kau ingin tahu apa yang kusesali, Cris?” Tatapannya beralih pada gadis berambut ikal tersebut. “Aku melupakan rasanya.” Ia meraung, berlagak seperti orang yang menangis. “Apa aku terlalu mabuk sehingga tak bisa mengingat sensasi saat keperawananku pecah? Aku bahkan tak mengingat bagaimana ukuran benda tersebut.”

Christy menutup mulut dengan telapak tangan, tak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya. “Apa ini masuk akal? Kau histeris karena tak mampu mengingat ukuran dan rasanya? Oh, Ellena. Kau membuatku ikut gila.”

Dengan rasa frustrasi dia memilih masuk ke kamar mandi, membasuh wajahnya yang sudah tak bisa dikatakan baik-baik saja. Make up yang luntur, lipstik yang sudah melewati garis bibir, dan jangan lupakan lingkaran matanya yang sudah menghitam akibat eyeliner yang telah berantakan. Wajahnya sudah menyerupai boneka annabelle yang mendapatkan penyiksaan dari sang majikan.

Ia berusaha mengingat-ingat rupa dari pria itu, tetapi semakin ia memaksakan diri, kepalanya semakin pusing. Bagaimana ia melakukan hal konyol itu saat mabuk? Se-frustrasi itukah dirinya sehingga memilih untuk merelakan keperawanan kepada pria asing? Meski ada rasa penyesalan, tetapi itu tak berguna lagi. Untuk apa? Toh, semuanya sudah terjadi. Selaput daranya sudah pecah dan mahkota yang telah dijaga selama dua puluh enam tahun telah rusak tanpa sanggup dia pertahankan.

Bagaimana ia menjelaskan kepada orang tuanya kelak? Tentang dirinya yang sudah ternoda, tentang dirinya yang sudah melanggar aturan dalam keluarga besarnya. Tunggu! Orang tuanya tak mungkin memeriksa hal itu, bukan? Ya, Ellena cukup berbohong dan berpura-pura tak terjadi apa-apa. Terlebih ia jarang pulang ke rumah, sehingga ayah dan ibunya tak mungkin menanyakan perihal keperawanannya. 

Dia sudah dua puluh enam tahun, sudah termasuk kategori dewasa. Tak mungkin pula orang tuanya bertanya seperti itu. Kedua orang tua Ellena sudah percaya bahwa anaknya bisa menjaga diri, tetapi dengan bodohnya, Ellena justru memberikan mahkota yang sangat dijaga untuk pria yang tak dikenalinya secara cuma-cuma. 

“Bahkan seorang pelacur lebih berharga dibanding diriku,” erangnya frustrasi.

“Ya, mereka mendapat bayaran, sedangkan kau tidak, Elle. Kau gadis gratisan.”

“Stop, Cristy.” Ia mengangkat tangan tepat di depan wajah sahabatnya. “Jangan meneruskannya lagi. Aku tahu bahwa aku memang konyol, tetapi mari lupakan itu.” Ia menaikkan alis lalu mengangguk cepat berharap persetujuan dari Cristy.

Cristy hanya mengedikkan bahu. “Entahlah. Aku tidak bisa berjanji untuk melupakan kejadian yang kau alami.” Gadis itu terpingkal. “Itu sangat unik.”

***

William berusaha membuka kelopak mata saat cahaya matahari mulai menembus masuk melalui kaca jendela. Dengan tergesa-gesa, dia meraup ponselnya yang tersimpan di nakas samping kasur, melihat layar dan memastikan bahwa hari sudah menjelang siang. Kemudian dia menoleh, tak ada seorang pun di sana. Ada perasaan kecewa saat tak menemukan sosok gadis asing itu di sampingnya. 

Senyumannya tersungging ketika ingatannya kembali mengenang kejadian semalam. Dia tak pernah membayangkan akan bermain dengan gadis yang tak memiliki pengalaman sama sekali. William seperti seorang ayah yang mengajari anaknya untuk melakukan sesuatu untuk pertama kalinya. Seperti seorang profesional yang menuntun si pemula. Namun, ia cukup takjub sebab gadis itu cepat belajar. 

William memilih untuk duduk di pinggiran kasur, mengumpulkan nyawa sebelum dia meninggalkan kamar hotel tersebut. Namun, netranya justru beralih pada dua lembar uang bergambar Benjamin Franklin dengan sebuah catatan di atasnya.

‘Maafkan aku karena harus meninggalkanmu. Semoga uang ini cukup untuk biaya service semalam. Terima kasih.’

“Oh sial. Aku seperti pria bayaran saja,” keluhnya sambil tersenyum miring. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti pria yang rendahan. Mengapa William merasa egonya terluka? Sebelumnya tak pernah ada wanita yang memperlakukannya seperti ini. Apakah dia terlihat seperti kekurangan materi, sehingga gadis itu menyimpan uang sebagai bayarannya?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dimanjakan oleh Taipan yang Menyendiri
8.4
Andres adalah pria kejam tak berperasaan hingga aksi heroik Corinna meluluhkan hatinya. Akibat kelicikan ayah dan ibu tirinya, Corinna nyaris tewas sebelum takdir mempertemukannya dengan pewaris terkuat di Kota Driyver tersebut. Setelah Corinna menyelamatkan nyawanya, hubungan kerja sama mereka berubah menjadi romansa yang menggemparkan seluruh kota. Publik pun terheran melihat bagaimana sang taipan penyendiri kini bisa berubah menjadi pria yang sangat dimabuk cinta.
Sampul Novel GADIS POLOS MILIK TUAN MUDA
9.6
Cinta adalah mahasiswi pekerja keras yang berjuang demi kesembuhan neneknya. Tanpa disadari, kepolosannya dimanfaatkan oleh sang paman yang tega menjualnya demi uang. Di tengah kemalangan, ia bertemu pengusaha kaya yang jatuh hati dan melindunginya. Namun, hubungan mereka penuh rintangan, mulai dari persaingan bisnis yang kejam hingga gangguan keluarga besar sang nenek yang terus menyudutkan Cinta atas kesalahan yang tak pernah ia perbuat.
Sampul Novel MEMBALAS HINAAN BAPAK
9.6
Sumi terus menerima hinaan dari sang ayah karena belum bekerja meski sudah disekolahkan tinggi. Dibandingkan dengan adiknya yang hidup terjamin, Sumi merasa terluka hingga doanya terjawab saat bertemu Hiraka Yamada, bos otomotif ternama. Namun, di tengah jalan menuju kesuksesan, Sumi kehilangan Zaki, sahabatnya yang pergi membawa perasaan cinta terpendam. Akankah kejayaan barunya membawa kebahagiaan sejati saat separuh hatinya terasa kosong?
Sampul Novel One Night Stand
9.8
Seo Inha tak menyangka liburan solonya di Bali berujung pada malam tak terduga bersama Lee Yeon, pewaris kaya yang sedang patah hati. Akibat salah minum ramuan dan mabuk, Inha masuk ke kamar Yeon hingga ia hamil. Yeon memutuskan menikahi Inha demi tanggung jawab meski tanpa cinta. Di tengah pernikahan kontrak mereka, perhatian Yeon mulai tumbuh, namun mantan kekasihnya mendadak kembali untuk merebut posisinya. Akankah Inha bertahan saat masa lalu Yeon datang mengganggu?
Sampul Novel Pengantin Palsu Ceo Arogan
8.3
Demi membiayai pengobatan ibunya yang sakit jiwa, Nayla Putri Anissa terpaksa menyamar sebagai pengantin pengganti. Ia menggantikan putri majikannya yang kabur tepat sebelum pernikahan dimulai. Dengan wajah tertutup masker, Nayla harus mengikuti skenario rumit demi menghadapi Arga Dewantara, CEO muda yang dikenal sangat dingin dan arogan. Mampukah Nayla menjaga rahasia ini saat ijab kabul berlangsung, ataukah Arga akan segera menyadari tipu daya di balik cadar tersebut?
Sampul Novel Saat Cinta Menjadi Racun
9.7
Memasuki tahun kelima pernikahan, Stella mengambil langkah nekat mengusir wanita simpanan Joshua Catra ke luar negeri demi mempertahankan rumah tangga. Namun, tindakan itu memicu murka sang suami. Dalam sekejap, Joshua menghancurkan keluarga Stella hingga bangkrut, memaksa ayahnya berlutut, dan membuat ibunya sangat menderita. Kini, di hadapan Stella yang tak berdaya, Joshua bersiap melayangkan pembalasan kejam untuk membuat hidup istrinya lebih buruk dari kematian.