Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Tuan Besar

Gairah Tuan Besar

Zain adalah pengusaha sukses yang tampak sempurna, namun ia menyimpan rahasia kelam. Sejak kecelakaan tragis lima tahun lalu akibat pengkhianatan istrinya, ia menderita disfungsi seksual. Bella memanfaatkan kondisi ini untuk berselingkuh secara bebas demi memeras harga diri Zain. Namun, pertemuannya dengan Yvone di sebuah kelab malam membangkitkan kembali gairah Zain yang lama padam. Masalah besar muncul karena Yvone ternyata adalah kekasih Daniel, anak tirinya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 3

Lima tahun kemudian ....

Daniel melangkah riang menuju rumah sambil menggenggam sebuah piala di tangannya. Senyumnya semakin lebar saat melihat mobil putih milik mamanya berada di garasi.

"Yes, mama ada di rumah," sorak Daniel.

Ia mempercepat langkahnya menuju lantai dua, lalu melesat menuju kamar utama. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara-suara aneh saat melewati kamar tamu.

Rasa penasaran menuntun Daniel mendekati kamar itu. Entah sebuah keberuntungan atau kesialan baginya ketika mendapati pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Lewat celah yang tersisa, Daniel bisa melihat dengan jelas semua hal yang terjadi di kamar itu. Wajah remaja delapan belas tahun itu langsung pucat pasi.

Di depan matanya, Daniel melihat Bella, ibu kandungnya tengah bercinta dengan dua pria yang tidak ia kenal.

Spontan, Daniel membekap mulut, menahan isi perutnya tidak terlompat keluar. Sungguh ia mual sekali melihat bagaimana perempuan yang ia panggil mama itu tengah mendesah liar dalam gempuran hasrat dua lelaki yang ada bersamanya.

Ia ingin berseru memanggil mamanya, tetapi lidahnya kelu. Kakinya bahkan terasa berat untuk dilangkahkan. Untuk beberapa saat Daniel hanya bisa berdiri mematung dengan tanpa mampu berbuat apa-apa.

Tidak sanggup berlama-lama dengan pemandangan itu, Daniel menguatkan tekad untuk berbalik lalu bergegas pergi. Dengan pikiran kalut, ia memacu mobilnya sejauh mungkin.

***

Waktu berlalu. Gelapnya malam semakin pekat. Di saat sebagian orang mulai memasuki peraduan untuk beristirahat, Daniel melangkah tergesa menuju lantai dua rumah untuk kedua kalinya di hari itu. Namun, kali ini hentakan kakinya terdengar kasar dipenuhi amarah.

"Pa! Papa!"

Daniel mendorong pintu ruang kerja Zain dengan kuat membuat pria yang sedang fokus membaca itu tidak bisa menahan rasa kagetnya.

"Ada apa, Dan? Kenapa panik begitu?" tanya Zain heran.

"Kenapa sih Papa gak cerai saja sama mama?" tanya Daniel langsung tanpa basa-basi.

Napasnya memburu, bulir-bulir keringat tampak menetes dari rambut yang menjuntai di keningnya.

Pria berwajah latin itu langsung memandang wajah sang putra dengan tatapan tidak percaya. Daniel memang anak tirinya, tetapi Zain menyayanginya seperti anak sendiri.

"Memangnya kenapa, Dan?" tanya Zain heran.

Ia meletakkan buku di atas meja, lalu berjalan mendekati Daniel. Ayah dan anak itu berdiri saling berhadapan dengan seribu makna tersembunyi di mata masing-masing.

Daniel tidak langsung menjawab pertanyaan Zain. Namun, sepasang matanya bergetar. Ada riak yang mengambang perlahan membentuk telaga di atasnya.

Zain paham, lelaki yang mulai beranjak dewasa itu tengah menahan emosi yang bergejolak di dalam dadanya. Ia mengulurkan tangan, lalu memegang kedua bahu Daniel, membagikan sedikit kekuatan agar sang putra kembali mendapatkan ketegarannya.

"Tenangkan dirimu, Nak. Ceritakanlah, seburuk apa pun yang ada di dalam hati dan pikiranmu saat ini, papa siap mendengarnya," ujar Zain kemudian.

Daniel menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya.

"Sore tadi ... aku melihat mama ...," ujar Daniel terbata.

Rasa kecewa dan sakit hati membuat Daniel tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya. Air matanya luruh tak terkendali.

"Mama ... bersama dengan dua pria ... hiks ... mereka ... mereka ... hiks ...," lanjutnya di tengah isaknya yang semakin kuat.

Zain tidak tega melihat anaknya yang sangat terguncang. Secepat kilat ia menyambar tubuh Daniel, lalu memeluknya dengan erat. Tangis Daniel pecah di pundak lelaki yang sangat ia sayangi itu.

"Sudah, tidak usah dilanjutkan. Papa sudah bisa menebak akhir dari kalimat kamu," kata Zain dengan suara bergetar. Menahan air matanya tidak ikut turun mendengar tangis pilu sang anak.

Zain mengusap punggung Daniel hingga remaja yang beranjak dewasa itu kembali tenang.

"Jadi ... selama ini Papa sudah tahu perbuatan mama?" tanya Daniel, seraya melepaskan pelukannya.

Ia menatap dalam ke manik karamel milik Zain untuk menemukan jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan.

Zain mengangguk. Masih dengan kedua tangan berada di pundak Daniel, ia meremas pundak pemuda itu dengan lembut.

"Yah, semua karena kekurangan papa, Nak," jawab Zain lirih. 'Seandainya saja papa lelaki normal, tidak mungkin papa bertahan dalam pernikahan neraka ini, Dan,' lanjut Zain dalam hati.

"Tapi ... haruskah dengan dua pria sekaligus, Pa? Aku benar-benar jijik melihatnya," desis Daniel.

Bayangan mamanya memadu kasih dengan dua orang pria menari-nari di kepalanya, membuatnya perutnya terasa diaduk-aduk karena mual.

"Papa akan nasihati mama kamu agar lebih berhati-hati," kata Zain pasrah. Lalu memutar tubuhnya, bersiap untuk kembali ke kursi.

"Pa!" sergah Daniel. "Sampai kapan Papa akan mengalah seperti ini? Papa bukan satu-satunya orang yang tidak sempurna di rumah ini. No body is perfect, termasuk mama sendiri. Namun, bukan berarti mama bisa berbuat seenaknya, dong. Kalau memang sudah tidak cinta lagi kenapa tidak cerai saja?"

"Tidak semudah itu, Dan. Terlalu banyak yang papa pertaruhkan jika berita perceraian kami tersebar ke dunia luar," jawab Zain. "Lagi pula papa masih menyintai mamamu," tambah Zain.

Untuk yang terakhir itu tentu saja Zain bohong, ia hanya tidak ingin menyebutkan alasan sebenarnya kepada Daniel.

"Cinta? Papa, came on. Papa bilang ini cinta? Ini penyiksaan, Pa. Cinta itu seharusnya membahagiakan, bukan menyengsarakan."

Zain tersenyum mendengar kata-kata bijak anaknya. "Kamu semakin dewasa aja, Nak," katanya di dalam hati.

"Masih banyak wanita yang lebih baik di luar sana, yang bisa membahagiakan Papa, mengapa bertahan dengan mama yang tidak bisa menjaga kehormatan diri sebagai istri Papa?" sambung Daniel masih dengan nada keberatan.

Meski Zain hanya ayah tirinya, tetapi berkat lelaki itulah Daniel bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Bahkan kasih sayang ibu pun tidak pernah utuh ia dapatkan dari Bella karena sejak kecil Daniel tinggal bersama kakek dan neneknya. Daniel baru tinggal bersama mamanya, setelah Bella menikah dengan Zain.

"Apa yang terjadi dengan papa adalah takdir, Nak. Mungkin saja karma karena Papa sudah menyakiti banyak orang di masa lalu," aku Zain pilu.

Sejak kecelakaan tragis yang merenggut kejantanannya itu, Zain seolah kehilangan kepercayaan dirinya. Sikapnya yang biasa dominan akhir-akhir ini sering terlihat mengalah. Namun sebaliknya, dalam urusan bisnis ia tetap dingin dan bertangan besi. Itu sebabnya, meski masalah pribadi begitu menyiksanya, tetapi bisnis Zain justru semakin berkembang dengan pesat.

"Sudahlah, Dan. Papa minta kamu tidak membahas hal ini lagi. Tidak usah pedulikan perbuatan mama kamu itu. Oke?"

"Nggak! Aku benci mama. Sangat membencinya, tetapi ... aku lebih benci sikap lembek Papa!" pekik Daniel.

Ia menendang kursi dengan penuh amarah, lalu berjalan menuju pintu.

"Lalu papa harus bagaimana, Dan?" sorak Zain.

Daniel menghentikan langkahnya, lalu kembali mendekati sang ayah.

"Bercerai dengan mamamu? Aaah ... memang itu yang mamamu inginkan selama ini. Kami bercerai, setelah itu dia melenggang happy dengan harta gono-gini."

Zain menghela napas sejenak.

"Lalu bagaimana dengan papa? Bagaimana dengan aib papa, Dan? Kamu pikir papa masih bisa mengendalikan mulut mama kamu itu setelah kami bercerai? Mana bisa. Dengan mulut embernya itu, mama kamu bebas berbicara kekurangan papa kepada siapa pun yang dia mau."

Zain lagi-lagi menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya ia mencurahkan semua beban yang mengganjal di hatinya.

"Kamu bisa bayangin gak gimana pandangan orang-orang kalau mereka tahu kelemahan papa? Bisa habis papa diledekin. Bisa-bisa semua media nasional menjadikannya berita dengan headline yang besar. Mau ditaruh di mana muka papa ini, Dan?"

Daniel ingin menjawab, tapi urung karena Zain kembali melanjutkan kalimatnya.

"Lagi pula, menurut kamu, perempuan mana yang mau dengan pria cacat seperti papa, hmm? Tidak ada, Dan. Siapa pun perempuannya, apa pun latar belakangnya, dia pasti menginginkan pria yang normal untuk pendamping hidupnya. Dan papa bukanlah lelaki itu," cetus Zain emosi.

Tanpa sadar, ia telah mengungkap aib dirinya di depan sang anak. Daniel tertegun, tubuhnya kaku tak bergerak mendengar kata-kata ayahnya.

"Apakah cacat Papa ... seperti yang aku pikirkan?" tanya Daniel dengan rasa ingin tahu.

"Ya, sejak kecelakaan itu, papa hanyalah pria cacat ... yang tidak bisa memuaskan wanita. Maaf, jika kamu harus mendengar hal vulgar ini dari mulut papamu sendiri," jawab Zain dengan suara tercekat di tenggorokan.

Sebagai sesama lelaki, Daniel bisa merasakan kepedihan yang papanya rasakan. Hal itu membuatnya semakin membenci Bella.

"Aku bukan anak kecil lagi, Pa. Sudah cukup pantas untuk membicarakan hal-hal seperti itu dengan Papa," sanggah Daniel.

"Ah, iya. Papa lupa, kamu sudah delapan belas tahun sekarang. Hampir sembilan belas tahun malah," ujar Zain menanggapi sanggahan anaknya itu.

"Bagaimana kalau aku bisa menemukan perempuan yang mau menerima semua kekurangan Papa?" tanya Daniel dengan ekspresi menantang.

"Apa maksud kamu?"

"Aku yakin, sakit Papa pasti bisa sembuh kalau bertemu dengan wanita selain mama."

"Papa sudah coba, Dan, tapi ga ada bedanya."

"Itu karena wanita yang Papa temui itu perempuan ga bener semua, yang perangainya ga jauh beda dengan mama. Coba kalau Papa ketemu gadis muda yang cantik, putih, seksi, dan berasal dari keluarga baik-baik, pasti hasilnya beda."

"Gadis muda? Kamu mau jadikan papa sugar daddy?"

"Mau sugar daddy, kek. Aku ga peduli yang penting kejantanan Papa bisa kembali. Lihat aja, Papa boleh pegang kata-kataku ini. Aku akan menemukan gadis muda yang baik untuk Papa," jawab Daniel mantap.

Sebuah semangat terpancar jelas di matanya.

"Jangan gegabah, Dan. Jangan korbankan hidup orang lain demi kebahagiaan papa. Papa lebih baik hidup begini dengan mamamu, dari pada menggantungkan harapan pada perempuan lain yang papa tidak cintai."

"Nggak! Aku akan tetap carikan wanita yang lebih baik untuk Papa. Aku tidak rela Papa menderita sendiri di saat mama berbahagia dengan cara hidupnya. Berjanjilah, Papa akan membuka diri saat aku membawa wanita itu nanti," kata Daniel mantap.

Setelah berkata itu, Daniel pun keluar dari ruangan kerja ayahnya. Ia tidak peduli dengan suara Zain yang memanggilnya namanya berulang kali.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Putri Konglomerat
8.2
Aluna hancur saat memergoki suaminya, Dian, menemani Ratnasari di rumah sakit ketika ia sedang berjuang untuk program bayi tabung. Pengkhianatan memuncak saat Aluna dikurung dan dipaksa menggugurkan kandungannya akibat sabotase obat. Setelah kehilangan bayinya dan diusir dari rumah, identitas asli Aluna terungkap sebagai putri konglomerat media yang hilang. Kini, sang pewaris telah kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
8.0
Liam Benjamin merasa hancur setelah ditinggalkan kekasihnya akibat rumor impotensi yang menerpanya. Di tengah keputusasaan, ia menyelamatkan Sheeta, seorang wanita hamil yang mencoba mengakhiri hidup di laut. Meski tahu Sheeta mantan PSK, Liam justru mengajaknya menikah kontrak. Namun, Liam sebenarnya pria perkasa yang terbelenggu kutukan masa lalu. Akankah benih cinta tumbuh di balik rahasia dan perjanjian pernikahan mereka yang penuh misteri?
Sampul Novel Dosen Killerku Ternyata CEO
7.9
Demi masa depan putrinya, Surya Dinata menjodohkan Alzena dengan Emilio Cullen, dosen berdarah campuran yang terpaut usia lima belas tahun lebih tua. Alzena terjebak dilema karena ia telah memiliki kekasih bernama Jody. Di balik sosoknya yang tegas, Emilio ternyata seorang CEO pewaris takhta kekayaan yang menyembunyikan identitas aslinya. Akankah Alzena memilih cinta sejatinya, atau justru terjerat dalam rahasia besar suaminya yang tak pernah jujur?
Sampul Novel Harem milik Suamiku
9.1
Demi lepas dari desakan orang tua, Marigold memutuskan menikah dengan Maximilian. Sang miliarder sendiri terikat ramalan untuk menyunting tujuh istri bernama bunga demi kejayaan bisnisnya. Di sebuah mansion mewah, ketujuh wanita ini bersaing ketat demi status sosial, harta, dan gengsi sebagai pendamping pria sempurna. Maximilian pun harus menghadapi dinamika serta pesona unik para istrinya setiap hari. Siapakah yang akhirnya akan memenangkan hati sang tuan tanah?
Sampul Novel Jebakan Cinta Sang Miliarder (Amata: Beloved).
7.9
Setelah tiga tahun, kepulangan Hwanhee ke rumah justru disambut paksaan nikah oleh ayahnya. Ia terjebak perjodohan dengan Ayda Hannah Elsworth demi ambisi keluarga besar mereka. Hannah yang keras kepala curiga bahwa rahasianya dimanfaatkan sebagai alat kendali, sehingga ia bertekad melawan status menantu boneka. Meski Hwanhee kewalahan menghadapi sifat Hannah yang rumit dan liar, kemandirian wanita itu mulai memicu dinamika benci tapi cinta yang sangat tak terduga.
Sampul Novel Menghamili Istri sang Pewaris
8.4
Demi ambisinya, Fayre nekat menjebak Bramasta, cinta pertamanya, ke dalam sebuah pernikahan tanpa rasa. Namun, obsesi itu justru dibalas dengan rasa jijik dan kebencian mendalam dari sang suami. Di tengah keputusasaan karena diabaikan, Fayre bertemu Aliando Xavier yang kemudian merenggut kesuciannya. Kini, Fayre terjepit dalam dilema besar: mempertahankan rumah tangganya saat Bramasta mencintai wanita lain dan dirinya menyimpan rahasia kelam.