Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Tersembunyi Kakakku

Gairah Tersembunyi Kakakku

Emily dikenal sebagai gadis polos yang penuh keceriaan, sementara kakaknya, Evan, merupakan sosok pria dewasa berkarisma maskulin yang sangat menawan. Meski tumbuh bersama dalam ikatan persaudaraan yang erat, sebuah kejadian mengejutkan tiba-tiba mengubah segalanya. Emily sangat terpukul saat terbangun dan mendapati dirinya berada di samping Evan dalam keadaan tanpa busana. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi di balik hubungan kakak beradik ini?
Bab
Bagikan

Bab 2

Emily ketakutan. Berdiri sendirian di tengah gang belakang sekolah. Sedangkan di hadapannya dua pria tampak galak.

"Maaf, aku tidak sengaja melakukannya," ucap Emily menyesal. Beberapa detik lalu dia berpapasan dengan mereka berdua, kemudian pot di tangan pria itu tersenggol sampai jatuh dan hancur. Sekarang tanaman dan potnya tampak mengenaskan di tengah mereka.

"Wah...." Pria sedikit gemuk itu nampak tidak terima. Dia berkacak pinggang. "Kata maaf saja tidak cukup untuk mengganti tanaman berharga ini!" bentaknya.

Emily meringkuk pundaknya. Dia menunduk takut, sambil memainkan tangannya sendiri. "Maaf...." Emily hanya bisa meminta maaf.

"Anak muda, apa kau tahu betapa berharganya tanaman ini?" kata pria kedua. "Saking berharganya, tanaman ini sangat langka!" teriak pria itu. Membuat Emily semakin terpojokkan.

"Kalau begitu aku akan menggantinya...." usul Emily.

"Apa kau bisa menggantinya, anak muda? Berapa uang jajanmu?" Pria gemuk itu memicingkan matanya, menilai penampilan Emily dari atas ke bawah. "Lima ratus dollar!" pungkasnya.

Emily terkejut. Angka segitu sama saja dengan uang jajannya hari ini. Tapi mau bagaimana lagi. Emily tadi tak sengaja bersenggolan dengan mereka di gang sempit ini.

"Jangan berikan!" Seseorang berteriak tiba-tiba dari belakang Emily.

Emily berbalik. Dilihatnya seorang pemuda berseragam sama dengannya, berjalan mendekat. Lalu pemuda itu berdiri di depan Emily, melindunginya.

"Apa kau ingin menjadi pahlawan kesiangan, anak muda?" sarkas mereka dengan sinis.

"Aku melihatnya sendiri. Kalian dengan sengaja menjatuhkan pot bunga itu agar dia memberikan uangnya! Apakah ini model pemalakan baru?" sindir pemuda pemberani ini.

Kedua pria itu nampak panik.

Pemuda itu menunjukkan ponselnya. "Aku akan menelepon polisi," ancamnya. "Pergi dari sini atau kalian ditangkap?"

"Hey, bocah! Jangan main-main dengan kami!" gertak pria gemuk itu.

Akhirnya pemuda ini menekan nomor polisi, kemudian menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo pak polisi. Kami bertemu dengan dua preman di gang belakang sekolah." Dia melaporkan.

Tidak lama setelahnya, terdengar suara sirine. Sontak membuat mereka panik dan berlari kabur.

Sekarang tinggallah mereka berdua di sini. "Anu, terima kasih sudah menolongku tadi," ucap Emily. Pemuda itu meliriknya. "Ah~ tidak masalah," balasnya mengibaskan tangan.

"Kenapa kau menolongku? Apa kau mengenalku?" tanya Emily. Seketika ekspresi pemuda itu membeku.

"Eh? Kau tidak tahu aku?" kagetnya.

Emily menggeleng dengan polosnya.

"Aku teman sekelasmu dan paling disukai anak-anak perempuan di sekolah ini! Kau tidak tahu???" Pemuda itu terheran-heran.

"Maaf aku tidak memperhatikanmu," ujar Emily sambil meringis. Jawabannya membuat pemuda itu melongo.

"Jadi, siapa namamu?" tambah Emily.

Gubrak! Pemuda itu jadi semakin kaget. Meskipun terkenal di sekolah, ternyata masih ada siswi yang tidak mengetahui siapa dia. Kejadian ini membuat dirinya bagaikan tertampar. Lalu dia tersenyum lebar. "Namaku Louis!"

"Apa kau pernah mendengar nama itu?" tanyanya.

"Tidak."

Gubrak!

Inner Louis kembali jatuh. "Kau bahkan tidak pernah mendengar namaku? Padahal kita sekelas, loh!" Louis jadi gemas sendiri. Betapa cueknya gadis ini terhadap teman sekelasnya sendiri. Apalagi dia seorang bintang di sekolah!!!

"Maaf, aku tidak tahu." Emily hanya bisa meringis menjawabnya.

***

Sepanjang kelas berlangsung, konsentrasi Louis terganggu sejak pengakuan Emily tadi siang. Sesekali pemuda itu mencuri pandang ke meja Emily yang di seberang sana. Jaraknya terpisah oleh dua meja murid lain. Di sana, Emily tampak fokus memperhatikan penjelasan dari guru.

Louis hapal semua wajah anak-anak di kelasnya. Kelas yang berisikan empat puluh murid. Meskipun tahu teman-teman sekelas, nyatanya dia hampir jarang memperhatikan seorang gadis di kelasnya. Tidak seperti saat ini.

Gadis bernama Emily telah menarik perhatian Louis pada pertemuan pertama mereka hari ini, walau tidak bisa disebut pertemuan pertama--karena mereka sudah sekelas hampir setahun lamanya. Tetapi kejadian tadi siang adalah pertama kalinya mereka saling berbicara dan bertatap muka.

"Louis!" seru guru. Seketika mengejutkan Louis. "Sebutkan faktor apa saja yang membuat negara inflasi?"

Mampus. Louis tidak mendengarkan dengan bijak penjelasan guru tersebut. Sekarang dia malah disuruh menjawab kuis dadakan. Namun, otak Louis dapat merespon pertanyaan itu. Akhirnya dia menjawab pertanyaan dengan baik.

Begitu suara bel berbunyi, kelas pun bubar. Guru pergi keluar kelas, dan para murid merapikan alat tulis mereka ke dalam tas, seperti yang dilakukan Emily. Setelah memasukkan semua buku ke tas, gadis itu menggendong tasnya ke pundak lalu berjalan ke depan kelas untuk keluar.

Tiba-tiba hadangan tubuh tinggi Louis membuat Emily berhenti sebelum mencapai pintu. "Apa kau mau pulang?" tanya Louis.

"Ya," jawab Emily singkat. Sekarang Emily sudah ingat siapa pemuda di depannya.

"Apa kau tidak ikut organisasi?" tanya Louis lagi.

"Tidak," jawab gadis itu pendek. Emily berjalan ke sisi Louis, mengabaikan pemuda itu dengan pergi begitu saja. Louis berbalik badan dan menyusul punggung gadis itu di koridor sekolah, sampai mereka berada di luar.

"Emily," interupsi Louis. "Dapatkah kita berteman?" Louis bertanya dengan segan.

"Bukankah kita teman sekelas?" timpal Emily. Tanggapan yang acuh. Louis baru menemukan gadis seperti Emily di sekolah ini.

"Apa kau tidak tertarik padaku?" Pertanyaan Louis justru terkesan sangat narsis. "Ah, maksudku, ingin menjadi temanku?" Louis meralatnya buru-buru.

"Boleh saja, kok," sahut Emily. Lagi-lagi respon yang datar dan putus. Membuat percakapan mereka tidak terbangun dengan akrab. Sehingga Louis jadi merasa harus sedikit lebih berusaha agar Emily mau mengobrol dengannya.

Diam-diam Louis memperhatikan Emily dari sampingnya. Gadis ini terlihat dingin dan pendiam. Tidak mudah untuk membangun obrolan dengan orang pendiam. Satu-satunya yang terpikirkan di otaknya adalah membahasa topik yang disukai lawan bicaranya. Itulah bagaimana dia dapat bergaul dengan mudah dan diterima orang baru.

Tapi, apa kesukaan Emily?

Emily berhenti di tepi trotoar depan sekolah. Louis juga ikut di sisinya. Ketika Emily mengeluarkan ponsel dari saku rok, Louis juga memperhatikan itu. Ketika Emily memosisikan ponselnya searah horizontal dan terpampang layar game online, seketika Louis mendapatkan jawabannya sendiri.

"Apa kau suka bermain game online itu?" tanya Louis.

"Ya. Apa kau juga suka?" timpal Emily. Sebuah kemajuan yang bagus saat gadis ini melempar tanya kepadanya. Wajah Louis jadi bersemringah walau tidak dilihat Emily yang memulai permainannya.

"Aku sering bermain game online sampai tengah malam. Apa kau tahu game online TOP?"

Tiba-tiba saja pergerakan lincah jemari Emily terhenti di layar ponsel. Lalu dia mendongak dan menatap Louis dengan sedikit ketertarikan atas topik ini. "Aku baru sampai level dua puluh, dan untuk naik level itu sulit sekali," sahut Emily. "Kalau kau sampai level berapa?"

"Aku sudah level lima puluh!" ucap Louis bersemangat. Mata Emily langsung berbinar dan mulutnya terbuka kecil. Emily terpengarah mendengarnya.

"Wah! Apa rahasianya! Aku terjebak di level dua puluh sejak seminggu lalu...." keluh Emily dengan wajah sedih.

"Itu mudah saja!" antusias Louis. Lalu dia menjelaskan beberapa triknya.

Tidak terasa waktu berlalu ketika mobil Audi hitam berhenti di depan mereka berdua. Emily dapat melihat kakaknya dari kaca mobil. "Aku sudah dijemput," pamit Emily. Dia membuka pintu mobil lalu menyelinap masuk dan duduk di samping Evan.

Mobil mewah melaju pergi. Louis hanya menatapnya dari belakang sampai kendaraan itu hilang dari pandangan.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos, Istri Anda Minta Cerai
9.1
Enam tahun Sella Wisara terjebak dalam pernikahan pilu sebelum Wildan Bramantio mengusirnya demi kembalinya Aisha. Tanpa ragu, Sella menyetujui perceraian itu dan pergi tanpa air mata. Namun, Wildan justru murka saat melihat mantan istrinya bahagia di pelukan pria lain tak lama kemudian. Meski dihina, Sella dengan tegas menolak campur tangan Wildan atas hidupnya. Melihat tatapan lembut Sella untuk pria baru, akal sehat Wildan pun seketika runtuh terbakar cemburu.
Sampul Novel Cinta Kusut yang Ditakdirkan
8.1
William terpaksa menikahi Fransiska tiga tahun lalu akibat tekanan keluarga, meski hatinya milik wanita lain. Kebencian mewarnai pernikahan mereka hingga Fransiska pergi studi ke luar negeri. Saat kembali, William justru menuntut cerai demi kekasihnya yang sekarat. Fransiska yang terluka setuju untuk pergi, namun sikap William mendadak berubah dan sengaja menunda perpisahan mereka. Di tengah keraguan sang suami, mampukah Fransiska lepas dari ikatan rumit ini?
Sampul Novel Dosa-dosa Suamiku, Balas Dendam Hatiku
9.5
Hidupku hancur saat Bramantyo, suamiku, berselingkuh dengan Karin, bawahanku sendiri. Bram tega menyiksaku dan membiarkan anak kami menderita kerusakan otak demi menyelamatkan Karin dalam kecelakaan rekayasa. Di ambang kematian, cintaku berubah menjadi dendam membara. Aku segera menghubungi pengacara untuk memiskinkannya lewat perjanjian pranikah, lalu meminta bantuan Yudha Perkasa guna menghancurkan monster yang telah menghianatiku itu tanpa sisa.
Sampul Novel Pengasuh Cantik CEO Duda
9.5
Agatha yang merasa terpuruk akibat rentetan cobaan hidup akhirnya melarikan diri ke bar. Sialnya, tawaran bir gratis dari seorang bartender justru merenggut kesadarannya. Di tengah situasi berbahaya itu, ia tidak menyadari bahwa gerak-geriknya telah dipantau sejak awal. Seorang CEO duda kaya raya yang memerhatikannya pun turun tangan untuk menyelamatkannya secara diam-diam. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi nasib Agatha ke depannya.
Sampul Novel RAHASIA KELUARGA TERLARANG
8.8
Hamidah, primadona desa yang bernasib malang, dijual ke rumah bordil oleh Waluyo setelah diperkosa. Saat diusir karena hamil, ia bertemu Arif yang menolongnya pulang. Namun, warga yang murka membakar rumah Hamidah dan ibunya, Nurhayati. Arif kembali menyelamatkan Hamidah dari kobaran api. Tak disangka, pertemuan mereka justru menjadi awal terungkapnya rahasia kelam masa lalu serta asal-usul keluarga yang selama ini tersembunyi rapat.
Sampul Novel Sang Abdi
8.0
Kirana, gadis tunarungu yang sulit mencari jodoh, akhirnya dinikahkan oleh ayahnya dengan Farhan, seorang duda berusia empat puluh tahun. Farhan menerima pernikahan ini demi balas budi, namun ia mengajukan syarat ekstrem yang harus dipatuhi keluarga Kirana. Kini, Kirana harus mengabdi dalam rumah tangga yang kelam, di mana suaminya masih menjalin hubungan intim dengan anak angkatnya bahkan ibu kandung Kirana sendiri. Akankah kesabaran Kirana membawa kebahagiaan?