Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Tersembunyi Kakakku

Gairah Tersembunyi Kakakku

Emily dikenal sebagai gadis polos yang penuh keceriaan, sementara kakaknya, Evan, merupakan sosok pria dewasa berkarisma maskulin yang sangat menawan. Meski tumbuh bersama dalam ikatan persaudaraan yang erat, sebuah kejadian mengejutkan tiba-tiba mengubah segalanya. Emily sangat terpukul saat terbangun dan mendapati dirinya berada di samping Evan dalam keadaan tanpa busana. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi di balik hubungan kakak beradik ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Suasana di dalam perkantoran sore itu belum terlalu sepi. Masih ada beberapa karyawan yang tinggal di meja mereka. Begitu juga dengan asisten bernama William. Mejanya tampak penuh dengan sejumlah berkas. Pria berkacamata itu kemudian bangkit dari duduknya, membawa sepuluh map tebal di lengannya lalu langsung membuka pintu cokelat di depannya. Seketika itu juga pemandangan mengejutkan terpampang di mata seorang asisten direktur. Membuatnya terpaku kaget. Terbengong. Sesaat otaknya blank melihat sang bos sedang memangku gadis sekolahan sambil mengerjakan tugas.

"Ada apa?" Akhirnya Evan mendongak lurus. William tersadar lagi. Tiba-tiba sikapnya jadi gugup.

"Ini ada dokumen baru lagi yang harus Anda periksa," ucap William seraya membetulkan letak kacamatanya gugup.

"Letakkan saja di meja," perintah Evan. Pandangannya kembali tertunduk pada lembar dokumen di meja. Sementara Emily tidak bisa pergi kemana-mana saat satu lengan berotot Evan mengekangnya.

William segera meletakkan map itu ke meja. Kemudian bergegas pergi. Setelah pintu tertutup rapat lagi, Emily mengutarakan protesnya. "Kakak! Sampai kapan kita di sini? Aku lelah dan ingin pulang!" Sudah hampir satu jam lamanya sejak dia diseret paksa Evan ke kantor, bukannya langsung pulang ke rumah dulu tadi.

"Sedikit lagi ini akan selesai, sayang," ujar Evan bersabar. Padahal dalam hatinya memaki seluruh map yang diserahkan kepadanya hari ini. Dia hanya menandatangani nota kesepakatan dengan singkat dan membaca beberapa laporan karyawannya. Terlihat ada setumpuk map di sisi kanannya yang sudah diurus, sedangkan di sisi kirinya sepuluh map baru belum diselesaikan.

"Aku bosan...." keluh Emily. Dia bersandar ke pundak kakaknya dengan malas, tanpa merasa terusik dengan tangan kiri Evan yang tidak berhenti mengelus pahanya di bawah meja. Emily memakai rok sedikit di atas lutut, sehingga ketika duduk maka ujung roknya tertarik ke atas, membuat pahanya sedikit terekspos.

***

Malamnya, Emily duduk di depan komputer. Dia ingin melakukan saran dari Louis untuk naik level. Maka di dalam kamar yang gelap inilah dia sibuk menggerakkan mouse dan aktif menekan keyboard.

Jam di dinding menunjukan setengah dua belas malam. Hampir memasuki larut malam, akan tetapi rasa kantuk belum menggantungi kelopak matanya. Padahal sewaktu menemani Evan di kantor tadi sore, sudah terasa mengantuk berat.

Tiba-tiba sebuah pesan muncul disudut layar komputernya. Emily membuka pesan itu dan sederet kalimat pujian ditujukan.

[Permainanmu sangat bagus! Baru kali ini aku kalah dari seseorang di level 22!]

Emily telah berhasil menaikkan level karakternya dengan waktu singkat. Saran dari Louis sangat berguna. Walau dia hanya diberitahu secara listening tanpa ditunjukkan bagaimana prakteknya, tetapi Emily mampu melakukan semua itu dengan cepat. Bahkan hanya dalam dua jaman. Sepertinya dia memang berbakat dalam game online.

Kemudian pesan lain masuk dari Id pengirim yang sama. [Boleh aku tahu namamu?]

Emily mengetikan balasan dengan gerakan jemari yang cepat di atas keyboard. Dia membalas.

[Namaku adalah Id-ku. Lily.]

Tentu saja bukan nama asli yang dia ungkapkan. Menurut Emily, nama lengkap seseorang adalah rahasia yang tidak boleh sembarangan diberitahukan pada orang asing. Dia berprinsip hanya akan mengenalkan namanya jika mereka pernah bertemu secara langsung.

Jual mahal? Oh jangan berpikiran sempit. Nama lengkap seseorang bisa disalahgunakan di jaman serba canggih ini. Sombong? Jelas jauh dari kata rendahan tersebut bagi Emily.

Emily bukan tipe orang yang terbuka pada orang asing. Walaupun kepada seorang teman. Jadi dia enggan memberitahu nama aslinya jika itu bukan hal penting seperti pendataan yang membutuhkan identitas sebenarnya.

Pesan dari Id pengirim bernama L, kembali menghiasi notifikasi komputer Emily.

[Apa kau suka game ini? Beberapa hari lagi perusahaan itu akan melaunching game baru lagi.]

Emily membalas. [Benarkah? Ah, aku tidak sabar! Game ini sangat seru dan tidak lama lagi aku tamatkan. Lalu mereka meluncurkan game baru lagi? Ini membuatku bersemangat untuk mencobanya! Game dari perusahaan itu memang selalu memuaskan.]

Untuk beberapa menit ke depannya mereka saling bertukar pesan dalam obrolan seputar game online. Percakapan teks mereka hampir menjeda waktu Emily untuk melanjutkan permainannya. Bertukar pesan dengan si L itu cukup menyenangkan bagi Emily.

Membuat dia merasa baru pertama kali berkirim pesan dengan orang asing sepanjang ini dengan ramah. Alasan sefrekuensi menjadi faktor utama percakapan mereka saling menyambung, sama-sama pecinta game online dengan pengetahuan tidak terlalu amatir, alhasil obrolan mereka dapat dimengerti satu sama lain.

***

Evan terlihat baru keluar dari kamar mandi. Dia mendapati layar ponselnya menyala. Ketika dia meraihnya, ternyata sebuah panggilan masuk dari kontak bernama Mom. Evan menjawabnya. "Ada apa, Ma?" Suara berat Evan mengawali percakapan.

"Bagaimana kabar kalian? Di sana sudah malam kan?" kata suara ibunya dari seberang lain.

Evan menjawab. "Ya. Kabar kami di sini baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian di sana? Ada rencana untuk pulang?"

"Ya ketika nenek akan ulang tahun, Nak. Apa semua di perusahaan juga dalam keadaan baik?"

"Tentu, Ma. Aku sedang mempersiapkan pembukaan produk baru. Mama dan Papa tidak perlu khawatirkan di sini. Semua Evan jaga dengan baik termasuk Emily." Evan berkata penuh yakin. Sebagai anak sulung, dia memiliki tanggung jawab besar atas adik perempuannya sekaligus tugas yang orang tua percayakan padanya.

"Baiklah kalau kalian baik-baik saja. Mama tutup teleponnya. Selamat tidur."

Sambungan telepon pun putus. Evan meletakan ponselnya lagi di atas nakas, sejenak wallpaper wajah Emily menghiasi layar ponselnya sebelum touchscreen itu menghitam.

Tiba-tiba Evan terpikirkan adiknya. Sedang apa gadis itu sekarang? Apa sudah tidur?

***

Pintu kamarnya dibuka. Emily melirik sekilas. "Ada apa kak?" tanyanya sambil menatap komputer.

"Kenapa belum tidur? Ini sudah jam berapa, Emily? Nanti besok kau telat bangun lagi." Evan melihatnya dengan sabar.

"Iya, sebentar lagi." Emily ngeyel.

"Tidur sekarang atau kakak cabut kabelnya?" ancam Evan. Emily cemberut.

"Baiklah~" Emily mengalah. Dia mematikan layar komputernya. Lalu beranjak naik ke kasur, menarik selimut sampai leher. "Kakak keluar lah. Aku akan tidur," usir Emily. Namun, bukannya pergi, pria itu duduk ke tepi ranjang. Tatapannya menatap dengan lekat. Membuat Emily membalas mata kakaknya masih dengan ekspresi cemberut.

Wajah muramnya justru dibalas dengan senyum kecil di sudut bibir Evan yang kaku. Lampu tidur di atas nakas sedikit membantu penglihatannya melihat wajah sang kakak. Namun tiba-tiba merasa ada yang aneh dari tatapan sepasang mata dalam kakaknya. Seketika itu dia dibuat tertegun.

Tidak pernah Emily lihat sorot mata pria itu seperti sekarang. Kejanggalan menyusup di dalam benak Emily begitu melihatnya. Tatapan Evan terlalu sulit ditebak, dan terlalu dalam untuk diselami. Seolah-olah ada sejuta rahasia terjaga di dalam obsidian intens mata itu. Atau mungkin ini hanya perasaannya saja? Emily menggeleng, mengenyahkan pikiran abstraknya.

"Baiklah. Sudah malam." Evan tidak ingin mengganggu waktu tidur gadis itu lebih lama lagi. Sebelum keluar kamar, dia mencium kening Emily sesaat dengan membisikan kalimat selamat tidur yang manis di telinganya. "Mimpikan kakak, sayang." Sekilas embusan napas Evan menyapu telinganya.

Sambil berbaring, Emily melihat pintu kamarnya menutup perlahan di depan punggung tegap sang kakak. Perasaannya ambigu. Dia sendiri tidak mengerti. Tapi tidsk mau ambil pusing. Lantas di menit berikutnya dia memilih memejamkan mata dengan tenang.

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95EWC" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95EWC
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bos, Istri Anda Minta Cerai
9.1
Enam tahun Sella Wisara terjebak dalam pernikahan pilu sebelum Wildan Bramantio mengusirnya demi kembalinya Aisha. Tanpa ragu, Sella menyetujui perceraian itu dan pergi tanpa air mata. Namun, Wildan justru murka saat melihat mantan istrinya bahagia di pelukan pria lain tak lama kemudian. Meski dihina, Sella dengan tegas menolak campur tangan Wildan atas hidupnya. Melihat tatapan lembut Sella untuk pria baru, akal sehat Wildan pun seketika runtuh terbakar cemburu.
Sampul Novel Cinta Kusut yang Ditakdirkan
8.1
William terpaksa menikahi Fransiska tiga tahun lalu akibat tekanan keluarga, meski hatinya milik wanita lain. Kebencian mewarnai pernikahan mereka hingga Fransiska pergi studi ke luar negeri. Saat kembali, William justru menuntut cerai demi kekasihnya yang sekarat. Fransiska yang terluka setuju untuk pergi, namun sikap William mendadak berubah dan sengaja menunda perpisahan mereka. Di tengah keraguan sang suami, mampukah Fransiska lepas dari ikatan rumit ini?
Sampul Novel Dosa-dosa Suamiku, Balas Dendam Hatiku
9.5
Hidupku hancur saat Bramantyo, suamiku, berselingkuh dengan Karin, bawahanku sendiri. Bram tega menyiksaku dan membiarkan anak kami menderita kerusakan otak demi menyelamatkan Karin dalam kecelakaan rekayasa. Di ambang kematian, cintaku berubah menjadi dendam membara. Aku segera menghubungi pengacara untuk memiskinkannya lewat perjanjian pranikah, lalu meminta bantuan Yudha Perkasa guna menghancurkan monster yang telah menghianatiku itu tanpa sisa.
Sampul Novel Pengasuh Cantik CEO Duda
9.5
Agatha yang merasa terpuruk akibat rentetan cobaan hidup akhirnya melarikan diri ke bar. Sialnya, tawaran bir gratis dari seorang bartender justru merenggut kesadarannya. Di tengah situasi berbahaya itu, ia tidak menyadari bahwa gerak-geriknya telah dipantau sejak awal. Seorang CEO duda kaya raya yang memerhatikannya pun turun tangan untuk menyelamatkannya secara diam-diam. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi nasib Agatha ke depannya.
Sampul Novel RAHASIA KELUARGA TERLARANG
8.8
Hamidah, primadona desa yang bernasib malang, dijual ke rumah bordil oleh Waluyo setelah diperkosa. Saat diusir karena hamil, ia bertemu Arif yang menolongnya pulang. Namun, warga yang murka membakar rumah Hamidah dan ibunya, Nurhayati. Arif kembali menyelamatkan Hamidah dari kobaran api. Tak disangka, pertemuan mereka justru menjadi awal terungkapnya rahasia kelam masa lalu serta asal-usul keluarga yang selama ini tersembunyi rapat.
Sampul Novel Sang Abdi
8.0
Kirana, gadis tunarungu yang sulit mencari jodoh, akhirnya dinikahkan oleh ayahnya dengan Farhan, seorang duda berusia empat puluh tahun. Farhan menerima pernikahan ini demi balas budi, namun ia mengajukan syarat ekstrem yang harus dipatuhi keluarga Kirana. Kini, Kirana harus mengabdi dalam rumah tangga yang kelam, di mana suaminya masih menjalin hubungan intim dengan anak angkatnya bahkan ibu kandung Kirana sendiri. Akankah kesabaran Kirana membawa kebahagiaan?