Sampul Novel Cinta Kusut yang Ditakdirkan

Cinta Kusut yang Ditakdirkan

8.1 / 10.0
Dalam romance novel Cinta Kusut yang Ditakdirkan, Fransiska kembali untuk mengakhiri pernikahan tanpa cinta dengan William demi wanita lain. Namun, saat surat cerai siap ditandatangani, keraguan William menghambat segalanya. Baca kisah modern novel ini tentang pilihan dan konsekuensi hati.
Ringkasan Cinta Kusut yang Ditakdirkan
William terpaksa menikahi Fransiska tiga tahun lalu akibat tekanan keluarga, meski hatinya milik wanita lain. Kebencian mewarnai pernikahan mereka hingga Fransiska pergi studi ke luar negeri. Saat kembali, William justru menuntut cerai demi kekasihnya yang sekarat. Fransiska yang terluka setuju untuk pergi, namun sikap William mendadak berubah dan sengaja menunda perpisahan mereka. Di tengah keraguan sang suami, mampukah Fransiska lepas dari ikatan rumit ini?
Baca Selengkapnya

Cinta Kusut yang Ditakdirkan Bab 1

Sudut pandang Fransiska:

Aku keluar dari kamar mandi dengan mengenakan gaun tidur tipis dan berenda, yang memperlihatkan seluruh punggungku. Gaun itu juga memperlihatkan hampir keseluruhan dari tubuhku dan benar-benar pendek, sampai hanya menutupi sebagian dari bokongku.

William Lusman yang berdiri di dekat jendela besar setinggi langit-langit langsung berbalik begitu mendengar kehadiranku. Dia mengenakan jubah mandi bergaris hitam dengan sabuk pinggang yang dililitkan di sekitar pinggangnya. Bagian atas jubahnya sedikit terbuka, memperlihatkan dadanya yang kuat dan tegap.

Begitu tatapannya jatuh padaku, matanya langsung berbinar.

Saat itu, aku tahu bahwa penampilanku ini berhasil membangkitkan minatnya.

Aku telah menikah dengan William selama tiga tahun, tapi selama itu juga kami tidak pernah saling menyentuh satu sama lain.

Aku tahu bahwa dia jatuh cinta dengan orang lain, jadi aku memutuskan untuk terbang ke Prancis tak lama setelah upacara pernikahan kami.

Namun beberapa hari yang lalu, Nenek William meneleponku dan memberi tahu bahwa sudah waktunya bagi Keluarga Lusman untuk menyambut kehadiran seorang anggota baru.

Tentu saja, aku tahu apa maksud ucapannya itu. Sejujurnya, aku tidak membenci gagasan memiliki anak dengan William. Bahkan sebenarnya, aku senang mendengar hal itu.

Inilah sebabnya mengapa aku memilih untuk kembali ke William setelah sekian lama. Aku selalu merindukannya selama tiga tahun terakhir.

Sambil meletakkan tangan di belakang, aku berjalan perlahan ke arah William. Kubiarkan pria itu menatapku begitu lekat dari kejauhan.

Perasaan terkejut yang terlihat di matanya sulit untuk diabaikan.

"Kemarilah," ucap William dengan suara serak.

Aku menggigit bibir bawahku, mendekatinya, lalu melingkarkan tanganku di lehernya.

Sementara William melingkarkan tangannya di pinggangku dan berbisik di telingaku, "Kamu sedang merayuku?"

Napas hangatnya yang berembus di telingaku membuatku merinding dan menggelitik kulit kepalaku.

"Apa berhasil?"

William menyipitkan mata ke arahku dan tiba-tiba tersenyum, "Apa ini yang kamu pelajari di Prancis selama beberapa tahun ini?"

"Kamu menyukainya?" Aku menatapnya penuh harap, dengan jantung yang mulai berpacu.

"Fransiska, kamu cantik," ucapnya dengan suara yang sangat ringan.

Kalimat pujiannya benar-benar mengejutkanku. Apa itu artinya dia juga memikirkanku selama aku pergi?

"William, ayo ..."

"Tapi aku menginginkan perceraian."

Kami berbicara pada saat yang bersamaan.

Saat itu juga, pikiranku menjadi kosong dan aku segera menelan sisa kalimatku.

Kalimat yang sudah berada di ujung lidahku, 'William, ayo kita punya anak ....'

Hanya ada satu hal dalam pikiranku sekarang: William ingin bercerai.

William lalu melepaskanku dan mundur dua langkah, sengaja menjaga jarak dariku, "Kesehatan Fera jauh lebih buruk dibanding sebelumnya. Aku takut dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi. Jadi, aku ingin menikahinya."

Ternyata rumor mengenai dirinya dan Fera yang akan segera bertunangan itu benar.

Hanya angan-anganku bahwa media mengarang cerita.

"Setelah proses perceraian kita selesai, aku akan memberimu satu triliun rupiah sebagai kompensasi sesuai dengan kontrak kita." Nada suara William terdengar ringan, tapi begitu tegas. Sepertinya keputusannya sudah bulat dan sudah tidak ada kesempatan bagiku untuk bernegosiasi.

Air mata yang panas dan pahit mulai mengalir dari mataku. Aku segera menundukkan kepala. Aku tidak ingin William melihat diriku yang selemah ini.

"Kamu baik-baik saja?"

Sambil menyeka wajah dengan tergesa-gesa, aku lalu menjawab, "Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya sangat bahagia."

William bertanya dengan curiga, "Apa maksudmu?"

"Akhirnya aku punya alasan yang bagus untuk meninggalkanmu. Bukankah seharusnya aku bahagia?" ucapku bercanda. Karena khawatir dia tidak akan memercayaiku, aku segera memasang senyum lebar di wajahku yang berlinangan air mata.

Tiba-tiba wajah William menggelap, dan dia tersenyum dingin, "Wow! Aku tidak menyangka kamu akan bereaksi sesantai ini."

Aku pun tersenyum semakin lebar, "Kurasa itu adalah keputusan yang bagus."

Embusan angin dingin bertiup melalui jendela, mengangkat sedikit ujung gaunku.

Baru saat itulah aku menyadari bahwa aku masih mengenakan gaun tidur yang begitu terbuka dan terlihat sangat konyol.

Ironi itu terasa begitu pahit di mulutku.

Aku mengambil sebuah jubah mandi, memakainya, dan mengikatkan sabuk pinggang jubah itu dengan erat ke pinggangku. Aku menutup bagian atas tubuhku dan melipat tanganku di dada, berharap tindakan ini akan menghangatkan hatiku dari ucapan William yang begitu dingin.

"Jika kita bercerai, kamu bisa menikahi Fera dan aku bisa mengejar pria yang kucintai. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui."

Mendengar ucapanku, William mengerutkan kening dan bertanya, "Sejak kapan kamu jatuh cinta dengan orang lain?"

Pertanyaan itu membuatku harus menelan gelombang rasa sakit yang baru. Aku menarik napas dan berusaha membuat nada suaraku terdengar santai, "Bertahun-tahun yang lalu."

Namun, hatiku berteriak pada William bahwa dialah satu-satunya pria yang pernah kucintai.

"Beri tahu aku siapa namanya."

Aku merasa aneh dengan keingintahuan William terhadap kekasih misteriusku, padahal dia baru saja memintaku untuk bercerai dengannya. Selain perasaan aneh itu, tentu saja aku juga panik karena tidak tahu harus menjawab apa padanya, dan otakku menolak untuk memikirkan satu nama palsu untuk kuberikan saat ini juga.

Namun, tiba-tiba ponselnya berdering, menyelamatkanku dari keingintahuannya atas pernyataan palsuku.

"Fera, ada apa?" jawab William sambil berjalan ke arah ruang ganti.

Ketika keluar, dia sudah mengenakan celana dan kemeja. Dia lalu mengambil jaket dan memakainya di depan cermin.

"Aku harus pergi. Fera membutuhkanku. Kita bicara lagi saat aku kembali."

Setelah mengatakan itu, dia pergi tanpa melihat ke belakang.

Jika sudah berhubungan dengan Fera, dia akan selalu siap siaga untuk datang kapan saja demi wanita itu.

Setelah beberapa saat William pergi, ponselku juga berdering. Aku menatap ke layar dan melihat sebuah nomor yang tidak dikenal.

"Halo, apa William bersamamu sekarang?" ucap sebuah suara manis di ujung panggilan, tapi suara itu justru membuatku merasa tidak nyaman. Aku bahkan bisa membayangkan senyum puas di wajah sang penelepon.

Meski kami tidak saling menghubungi selama bertahun-tahun, tapi aku masih tahu bahwa itu adalah suara Fera.

Aku mengatupkan bibirku dan tidak mengatakan apa pun.

"Di mana William? Dia sudah berjanji untuk datang dan menemaniku malam ini," desak Fera meski tak ada jawaban dariku. Suaranya begitu lembut, tapi terdengar tajam di telingaku. Begitu tajam seolah-olah seratus jarum sedang menusuk ke jantungku.

"Bukankah kamu baru saja meneleponnya?" bentakku, membiarkan suaraku mengungkapkan perasaan kesal.

"Ups, aku lupa."

Kemudian Fera tertawa terbahak-bahak, suara itu bagiku terdengar seperti suara jari-jari kuku yang sedang menggaruk papan tulis.

"Aku benar-benar minta maaf karena meminta suamimu untuk datang dan menemuiku di malam selarut ini."

"Ya, terserah. Ada lagi yang ingin kamu tanyakan?"

"Yah, aku hanya ingin mengobrol denganmu dan bertanya apakah William sudah membicarakan soal perceraian."

Saat itu juga, aku mendengar suara William di ujung sambungan, "Fera, aku sudah di sini. Apa kamu baik-baik saja?"

Aku tidak pernah mendengar William berbicara padaku dengan suara yang begitu lembut. Mendengarnya berbicara seperti itu pada Fera membuat mataku pedih dengan air mata.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Fera menutup telepon.

Sementara, aku hanya bisa berguling-guling dengan gelisah di ranjang sepanjang malam.

Fera jelas-jelas meneleponku hanya untuk memprovokasi, tapi yang membuatku tidak bisa tidur bukanlah sikapnya yang angkuh dan busuk, melainkan ketidakpedulian William terhadapku.

Pria itu bahkan tidak meneleponku satu kali pun sepanjang malam.

Namun, aku paham apa alasannya. William sedang bersama Fera sekarang. Seharusnya aku tidak berharap dia akan memberikan perhatian padaku.

Karena hal itu, aku menghabiskan sepanjang malam dengan meratapi perasaan sakit di hatiku. Keesokan harinya, matahari segera menggantikan malam yang gelap.

Pagi itu, ada suara ketukan di pintuku.

Ketika membukanya, aku menemukan William yang sedang berdiri di luar. Dia tidak pulang tadi malam.

"Ayo kita temui Fera hari ini," ucapnya tegas.

Aku melihat ada lingkaran hitam di bawah matanya. Apa dia terjaga sepanjang malam karena bercinta dengan Fera-nya yang tersayang?

"Memangnya kamu ingin aku berbuat apa?" tanyaku datar.

"Jangan buat dia merasa bersalah. Katakan padanya bahwa kamu jatuh cinta dengan orang lain agar dia bisa tenang," jawabnya sambil berjalan mendekatiku dan menatapku dengan saksama.

"Oke."

William tampak terkejut. Sepertinya dia tidak menyangka bahwa aku akan setuju begitu saja.

"Oke. Kalau begitu bersiap-siaplah, aku akan menunggumu di bawah." Setelah mengatakan itu, William pergi.

Beberapa saat kemudian, ponselku berdering. Telepon itu berasal dari sahabatku, Susanna.

"Halo, Susanna."

"Gadis nakal, selamat datang kembali!"

"Terima kasih."

"Jadi, kali ini kamu akan tinggal atau kamu akan segera pergi lagi begitu ada kesempatan?"

"Untuk saat ini, aku akan tinggal."

"Sempurna! Datang dan bekerjalah di stasiun TV kami. Kamu adalah seorang profesional dalam bidang media, suaramu enak didengar, dan kamu juga enak dipandang. Itu adalah pekerjaan yang sangat cocok untukmu."

"Oke, aku akan mempertimbangkannya."

"Omong-omong, apa kamu sudah berbicara dengan William?" tanya Susanna ragu-ragu, suaranya tiba-tiba mengecil.

"Ya, sudah."

"Apa dia sudah memberitahumu mengenai pelacur yang dibawanya untuk menggantikanmu?"

"Ya, dia sudah memberitahuku."

"Cih! Si brengsek itu benar-benar tidak tahu malu! Dia memberitahumu begitu saja? Seolah-olah tidak terjadi apa-apa?"

"Ya. Dia juga memintaku untuk menemui wanita itu hari ini."

"Apa? Kamu akan menemui wanita jalang yang mencuri suamimu itu? Aku yakin dia pasti mendesak William untuk menceraikanmu dan segera menikahinya. Sejujurnya, aku tidak habis pikir mengapa wanita itu masih berusaha keras, padahal Keluarga Lusman sudah menolaknya tiga tahun lalu. Apa yang membuatnya berpikir bahwa mereka akan berubah pikiran sekarang?" Susanna meraung geram dari ujung telepon.

"Semuanya sudah berakhir, Susanna," ucapku sambil memaksakan senyum.

"Apa yang kamu bicarakan? Bukankah kamu masih mencintainya?"

Aku tidak menjawab. Tentu saja aku masih mencintai William. Aku selalu mencintainya selama bertahun-tahun.

"Fransiska?"

Suara khawatir Susanna menyadarkanku kembali, "Aku harus pergi. Aku akan berbicara denganmu nanti, oke?"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Cinta Kusut yang Ditakdirkan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel After That Night
8.2
Rebecca kehilangan segalanya tepat sebelum hari pernikahannya akibat sebuah jebakan malam yang merusak reputasi serta jalinan cintanya. Di tengah kehancuran nama baik dan pengusiran oleh keluarga, ia menyadari bahwa insiden tragis tersebut justru menghubungkannya dengan sosok Glenn Romanov. Takdir kini mempermainkan dua orang asing ini dalam pusaran masalah yang kian rumit. Akankah Rebecca mampu bangkit saat hidupnya terikat pada pria yang tak ia kenal?
Sampul Novel Hasrat Liar
8.8
Meski statusnya hanya anak angkat, Rey mendapatkan dukungan penuh dari orang tua serta saudara-saudaranya untuk bertransformasi menjadi sosok pria perkasa. Mereka mendorongnya untuk mengasah daya pikat yang tak tertandingi demi menaklukkan hati setiap wanita yang ia temui. Ikuti perjalanan hidup Rey dalam mengeksplorasi sisi maskulin dan pesonanya yang liar. Akankah ia berhasil memenuhi harapan keluarga dan menjadi sang penakluk ulung di dunia asmara?
Sampul Novel I Love You, Om
8.2
Vina, seorang mahasiswi, harus menghadapi kenyataan pahit setelah ditinggal pergi oleh ayahnya tanpa alasan yang jelas. Sebelum menghilang, sang ayah menitipkannya untuk magang di perusahaan milik sahabat dekatnya. Namun, kedekatan yang terjalin selama mereka tinggal bersama justru menumbuhkan benih asmara yang tak terduga. Vina jatuh hati pada pria berusia 29 tahun tersebut. Kini ia terjebak dalam dilema, akankah ia tetap bertahan atau memilih pergi?
Sampul Novel Istri Kedua, Luka Pertama
9.1
Rafindra Mahardika, pewaris tunggal ningrat, dipaksa ayahnya mencari keturunan baru setelah kematian putri sulungnya. Nadira, gadis 19 tahun, terpaksa menjadi istri kedua demi biaya pengobatan ibunya meski ia sangat mencintai kekasihnya, Farel. Di kediaman Rafindra, Nadira menderita akibat perlakuan buruk istri pertama tanpa perlindungan dari suaminya. Mampukah ia bertahan di tengah intrik kejam keluarga ini ataukah hatinya akan hancur selamanya?
Sampul Novel The Thread of Destiny
8.1
Altheda Estrella, dokter muda yang baru meniti karier di Singapura, tewas demi menyelamatkan dosennya. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun dalam raga Azalea Caleste, gadis remaja yang hidupnya penuh penderitaan dan fitnah. Membawa rahasia besar dari masa lalunya, Altheda bersumpah tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua ini. Ia bertekad mengubah nasib Azalea, mengejar kebahagiaan sejati, dan merajut masa depan baru yang jauh lebih bermakna.
Sampul Novel Tiga Hari Terakhirku sebagai Wanita Sempurna
8.2
Divonis hanya memiliki sisa hidup 72 jam, Sofie Barnes harus menerima kenyataan pahit saat suaminya, Tommy Harper, memberikan kuota pengobatan satu-satunya kepada Anna Wilson. Alih-alih memohon, Sofie justru mempercepat ajalnya dan mulai melepaskan segalanya. Ia menyerahkan saham triliunan rupiah, galeri seni pribadinya, hingga hak asuh putrinya kepada Anna. Di mata Tommy, Sofie akhirnya menjadi sosok istri sempurna yang penurut. Namun, kepatuhan ini adalah awal dari rencana balas dendam terakhirnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan