
GAIRAH PEREMPUAN NAGA
Bab 3
MANEKI NEKO & HADIAH UNTUK KOH HO MING
"Kok sudah pulang, Din? Bareng siapa tadi?" sambut Halimah tergopoh-gopoh keluar menyambut kedatangan Diandra. Setelah mengulurkan tangan untuk salim, Halimah segera membantu melepaskan tas sekolah dari punggung Diandra.
"Tadi gak ada pelajaran, sebagian guru lagi ada rapat di dinas. Terus si Lely, ketua kelas Dian lagi ulang tahun. Teman-teman sekelas dibagi nasi bakar sama dia. Tadi pulangnya, karena jalannya searah, Lely ngajak bareng sekalian, daripada jalan kan capek. Eh karena tadi dikelas ada yang gak masuk nasi bakar bagiannya dikasihin lagi ke Dian ... hehe jadi Dian dapat dobel." celoteh Diandra sambil berjalan masuk ke toko dan langsung menuju meja kasir.
"Sudah pulang sekolahnya, Din?" sapa Cik Melly sambil menyerahkan kursi plastik kecil ketika Diandra sudah mendekat.
"Hari ini ada rapat guru Cik Melly." jawabnya sambil meletakkan kursi plastiknya di sudut tak jauh dari meja kasir.
Cik Melly sudah terbiasa melihat Diandra sering berada di tokonya akhir-akhir ini. Ia tidak merasa keberatan, karena Suaminya terlihat sangat menyayangi bocah perempuan itu. Mungkin karena belum memiliki anak ataupun cucu perempuan yang membuat suaminya itu terlihat begitu akrab dan sayang pada Diandra.
Dua anaknya laki-laki dan sudah berkeluarga kedua-duanya. Andreas putra sulungnya yang menikahi Liana teman kuliahnya dulu baru memiliki satu orang anak laki-laki yang berusia tiga tahun.
Sementara Benny putra keduanya baru beberapa bulan berumah tangga, dan sampai sekarang Fellycia istrinya belum hamil juga. Dan kedua putranya itu memilih tinggal di luar kota dimana tempat usaha mereka didirikan meskipun jarak tempat tinggal kedua putranya tak terlalu jauh, sekitar dua sampai tiga jam perjalanan, tapi mereka hanya datang sesekali setiap tahunnya. Hanya saat ada acara-acara keluarga saja mereka datang untuk berkumpul di kediaman Koh Ho Ming.
"Apa nanti Koh Ho Ming akan kesini?" tanya Diandra setelah dilihatnya Cik melly selesai melayani beberapa pembeli yang tadi mengantri untuk membayar belanjaan mereka.
"Tentu saja, ia akan datang setelah jam dua belas."
"Hmmm ... baiklah, semoga nasi bakarnya masih enak meskipun sudah gak hangat." gumamnya sambil melirik jam dinding yang baru menunjukkan jam sebelas kurang. Tapi gadis kecil itu tak bisa menyembunyikan kegelisahannya, sebentar-sebentar ia melongokkan kepalanya ke arah jalan raya. Kepangan rambutnya pun ikut bergoyang -goyang resah.
Cik Melly hanya tersenyum tipis melihat tingkah polah gadis cilik didekatnya itu. " Kenapa memangnya?"
"Aku tak sabar ingin memberi hadiah pada Koh Ho Ming." jawab Diandra polos.
"Oh ya? Kenapa memberi hadiah segala? Dia kan tidak lagi ulang tahun?"
"Yaa ... gak papa, aku cuma pengen kasih hadiah kok." kembali kepala mungilnya melongok ke jalan setelah melirik jam dinding lagi. Cik Melly cuma tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Senyap beberapa saat, saat Cik Melly kembali melayani pembeli.
Terlihat Halimah membuntuti pembeli itu sambil meletakkan keranjang berisi belanjaan si pembeli, memindahkannya ke dalam tas plastik setelah dihitung jumlah total harganya oleh Cik Melly. Selesai mengepak dan menyerahkannya pada pembeli, Halimah segera bangkit dan mendekati pembeli lain yang baru datang untuk dilayani.
"Seharusnya meja kasir ini dipindahkan dekat pintu luar." gumam Diandra pelan, tapi gumamannya masih dapat didengarkan Cik Melly.
"Kenapa?" tanya Cik Melly sambil lalu karena tangannya masih sibuk menghitung, memisahkan dan menata lembaran uang kertas sesuai nominalnya.
"Ya biar mereka yang sudah selesai belanja bisa langsung keluar dari toko tanpa berdesakan dengan pembeli yang baru datang." jawaban Diandra yang polos ternyata menarik perhatian Cik Melly.
"Hmmmm .." pandangan mata Cik Melly tertuju pada beberapa pelanggan yang baru dan sudah selesai berbelanja. Mereka terlihat agak berdesakan di lorong sempit sementara ditempat yang sama ia melihat Yanti sedang berdiri diatas kursi plastik untuk melayani pembeli yang membutuhkan barang yang kebetulan ditata di atas etalase setinggi dua meter di sepanjang lorong itu.
"Kenapa mainan itu ditaruh diatas meja? Sayang sekali kalau sampai jatuh. Pasti hancur!" Diandra menunjuk Maneki Neko, patung kucing dari keramik yang disepuh warna emas dan merah. Patung kucing itu dipasangi per di bagian dalam ditangannya sehingga dapat bergerak-gerak seolah tengah melambaikan tangannya.
"Ini bukan mainan biasa." jawab Cik Melly seraya mengelus patung kucing di depannya. " Ini adalah Maneki Neko warisan orang tuaku. Ini jimat untuk toko ini." lanjutnya lagi seraya tersenyum lembut ke arah Diandra.
"Jimat??"
"Iya ... Jimat untuk menarik pembeli! Lihatlah, tangannya selalu melambai, dia sedang mengundang pembeli untuk belanja disini." bisik Cik Melly pelan di telinga Diandra setelah dilihatnya ada pembeli yang mulai berjalan kearahnya untuk membayar belanjaannya yang kini ditenteng Yanti.
"Kalau jimat kucing itu diletakkan di depan, pasti akan lebih banyak orang yang dia undang. Di Jalan depan kan lebih ramai, banyak orang dan mobil yang lewat." kata Diandra pelan dengan mata menerawang ketika pembeli sudah selesai membayar belanjaannya dan mulai berjalan keluar toko.
Sesaat Cik Melly terdiam, memikirkan kata-kata Diandra yang cukup masuk akal.
"Kalau sudah besar kamu mau jadi apa, Din?" tanyanya tiba-tiba. Ia mulai serius mendengarkan celoteh gadis kecil yang duduk gelisah sambil mempermainkan kepangan rambutnya itu.
"Aku mau jadi orang kaya!" jawabnya cepat seolah tanpa berpikir.
"Jadi orang yang pandai saja! Orang bisa menjadi kaya karena kepandaiannya, tapi banyak orang kaya yang jatuh miskin gara-gara kebodohannya." nasehat Cik Melly sambil mengelus rambut Diandra.
"Aku ini sudah pintar! Jadi tinggal menunggu jadi kaya!" jawab Diandra dengan pandangan polosnya yang membuat Cik Melly tergelak gemas.
"Baiklah, nanti akan kupikirkan saranmu untuk memindahkan meja kasir ke depan! Tuuuh Koh Ho Ming sudah datang!"
Seketika Diandra melonjak girang saat melihat Koh Ho Ming memarkirkan sepeda motornya di depan toko. Setengah berlari dia menyongsong orang yang sejak tadi diharapkan kedatangannya itu. Cik Melly hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Diandra. Ia tahu, kelincahan tingkah polah serta kecerdasan Diandralah yang telah menarik perhatian suaminya. Sehingga membuat suaminya itu sangat menyayangi Diandra.
Suaminya itu seringkali bercerita padanya tentang Diandra dengan pandangan berbinar. Suaminya selalu mengatakan bahwa Diandra itu sangat istimewa, dia bukan seperti anak-anak biasa. Suaminya bahkan percaya kelak Diandra akan menguasai dunia.
"Koh, tahu nggak, aku punya hadiah untukmu.!" tak sabar Diandra menyeret tangan Koh Ho Ming menuju mejanya, Cik Melly segera membereskan meja kasir sebelum menyerahkan tempatnya pada suaminya.
"Pelan-pelan, Din! Nanti jatuh Koh Ho Ming nya!" Halimah yang sedang menata barang-barang di etalase mengingatkan. "Pergilah makan dan sholat dhuhur dulu Yan! Nanti kalau sudah selesai gantian sama aku. Kalau Diandra mau, ajak dia sekalian ya!" katanya pada Yanti, teman kerja yang umurnya masih sangat muda itu.
Dan iapun masih menyibukkan diri menata dan mengisi tempat yang sudah kosong. Dilihatnya Diandra yang menolak ajakan Yanti karena masih menempel pada Koh Ho Ming.
"Ya sudah, aku tinggal pulang dulu ya Ko! Nanti sore aku ada janji sama Yolanda, biar Sari yang mengirim makan malam untukmu." pamit Cik Melly sebelum bergegas keluar setelah sebelumnya mengusap sayang kepala Diandra serta berpamitan sekilas pada karyawannya.
"Nah, sekarang katakan, apa yang kau punya untukku?" tanya Ko Ho Ming saat mereka hanya tinggal berdua.
Toko mulai sepi, hanya tinggal beberapa pelanggan yang masih sibuk memilih-milih barang kebutuhan dengan dilayani Halimah.
"Aku punya ini untuk Ko Ho Ming!" dengan suara girangnya, Diandra meletakkan plastik mika berbentuk persegi berisi nasi bakar lengkap dengan sendok plastik, sambal dan irisan timun.
"Waaaahhh ... kelihatannya enak sekali kebetulan tadi aku cuma makan sedikit di rumah!" jawab Ko Ho Ming menghibur. Padahal sebenarnya perutnya masih terasa kenyang, setelah menikmati menu lodeh dan nila goreng kesukaannya.
Tapi melihat wajah antusias Diandra ia tak tega untuk mengatakan, bahwa perutnya masih kenyang. Untung saja paket nasi bakar yang ada dihadapannya bukan porsi besar, jadi mungkin perutnya masih bisa menampungnya.
"Lalu, mana bagianmu?"
"Ada. Aku masih punya satu lagi, nanti aku makan bersama ibu. Biar ibu tau juga rasanya." jawab Diandra sambil menepuk pelan tas sekolahnya yang terlihat menggembung sarat isi.
"Baiklah, sebaiknya aku langsung makan saja!" kata Ko Ho Ming sambil membuka staples dari pinggir plastik mika dan menguarlah aroma lezat gurih bersamaan harum aroma daun pembungkus nasi yang dibakar.
Di sampingnya, Diandra tekun memperhatikan paras wajah Ko Ho Ming dengan mimik serius menunggu komentar tentang rasa makanan yang dibawanya itu.
"Hhhhmmmm ..." pelan-pelan, Koh Ho Ming mengunyah nikmat.
"Bagaimana rasanya?" tanya Diandra penasaran.
"Enak .. enak .. hhhhmmm ... ini nikmat sekali. Mau nyoba?" tanya Ko Ho Ming mengarahkan sesendok nasi berwarna kemerahan dengan potongan ayam dan daun kemangi ke depan mulut Diandra, tapi gadis kecil itu menggeleng meskipun sambil meneguk ludah.
"Koh Ho Ming suka? Enak kan?" Koh Ho Ming mengangguk sambil membereskan mejanya dan membersihkan sisa plastik dan bungkus nasi. Diandra membantu membuangkan bekas makanan itu ke tempat sampah yang ada di depan toko.
"Tau nggak, nasi bakar itu isiannya ada macam-macam loh. Ada ayam suwir, tongkol balado, teri medan, cumi-cumi dan ikan asin." celoteh Diandra setelah kembali duduk di kursi plastiknya.
"Oh ya? Hhhmmm, pasti nikmat sekali."
"Kalau mau, aku bisa membawakannya buat makan siang Koh Ho Ming tiap hari, nanti aku belikan tiap pulang sekolah."
Koh Ho Ming membulatkan matanya, senyumnya mulai mengembang, tapi ia tak menjawab usul Diandra.
"Tiap hari aku akan bawakan nasi bakar dengan isian yang berbeda biar gak bosan. Dan pasti masih hangat ketika Ko Ho Ming memakannya. Kalau masih hangat, rasanya lebih nikmat!" lanjut Diandra semangat berpromosi.
"Hhhhmmmmm ..." Seolah berfikir Koh Ho Ming meletakkan sikunya di meja sementara telapak tangannya melekat di pipinya yang mulai keriput ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna putih. Pandangan matanya lekat tertuju pada wajah polos Diandra yang menunggu penuh harap padanya.
"Harganya murah kok!" bisiknya lirih.
Sepi... Koh Ho Ming masih terdiam seolah tengah berfikir, Diandra serius menatapnya dengan dengan sorot mata penuh harap.
Akhirnya setelah beberapa menit, "Baiklah, berapa harganya?"
"Sepuluh ribu rupiah saja, rasanya pasti takkan mengecewakan!" seru Diandra penuh semangat.
"Baiklah bawakan aku nasi bakar hangat setiap hari sampai aku merasa cukup. Dan khusus untuk besok, hanya besok ya, bawakan aku enam porsi yang isi ayam biar yang lain juga tahu rasanya. Untuk selanjutnya, setiap hari cukup satu bungkus saja. Setuju!" Dengan semangat Diandra menyambut uluran tangan Koh Ho Ming tanda setuju.
"SETUJU!" Diandra bersorak girang lalu meraih tasnya dan berpamitan untuk makan siang di gudang bersama ibunya.
Koh Ho Ming melepas kepergian Diandra dengan kekehan geli tapi seberkas sorot bangga juga terlintas di matanya. Karena ia tahu nasi bakar yang ditawarkan Diandra tadi sebenarnya berharga tujuh ribu lima ratus rupiah saja di kantin sekolahnya.
***
Anda Mungkin Juga Suka





