Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gairah Nakal Ayah Temanku

Gairah Nakal Ayah Temanku

Kisah romansa modern ini secara khusus ditujukan bagi pembaca dewasa yang mencari narasi dengan tema yang lebih matang. Mengangkat jalinan emosi yang kompleks, alur ceritanya menuntut kedewasaan sikap dalam memahami setiap konflik yang terjadi. Pastikan Anda telah cukup umur dan bersikap bijak sebelum menelusuri lebih jauh dinamika hubungan yang penuh gejolak ini. Sebuah bacaan yang eksplisit serta berani bagi para penikmat literasi romantis dewasa.
Bab
Bagikan

Bab 3

Jesika mematikan ponselnya. Gadis itu lalu membalikkan tubuhnya dan melihat Ricko sudah hampir selesai memakai kembali pakaiannya. Jesika berjalan mendekati kekasihnya tersebut.

“Udah ditunggu?” tanya Jesika.

“Iya, sorry musti buru-buru.”

“Gak apa-apa,” Jesika tersenyum.

Ricko adalah seorang pengusaha muda. Direktur di sebuah perusahaan ekspor impor milik orang tuanya. Mereka sudah berpacaran hampir setahun lebih. Selain faktor fisik dan materi, Jesika juga melihat Ricko sosok yang bertanggung jawab sebagai calon suami.

Ricko tidak menginggalkannya setelah dua tiga kali menyetubuhinya seperti kekasih-kekasihnya yang lain. Ricko pun tidak segan mengelurkan uang banyak guna memenuhi segala kebutuhan hidup Jesika.

Laki-laki inilah yang menjadi penyebab selama beberapa bulan ini dia tidak lagi menerima booking-an. Sebagai gadis biasa, dalam hati Jesika berharap Ricko adalah pangeran tampan berkuda putih yang selama ini dicarinya.

“Siapa yang nelpon?” tanya Ricko.

“I-itu cuma dari saudara mama, nanyain nomor telpon papa.” Jesika berbohong.

“Oh gitu, ya udah aku berangkat dulu kalau gitu.”

Jesika mengangguk. Mereka pun berciuman.

“Gak nganterin sampai mobil nih?” goda Ricko.

Jesika tersenyum. “Boleh aja, kalau kamu gak masalah aku turun ke bawah gak pake celana terus gak pake daleman juga, hehehehe.”

“Hehehe, ya udah gak usah aja kalau gitu.”

Jesika tahu kalau Ricko kerap cemburu dengan laki-laki lain yang menatap tubuhnya. Termasuk juga kepada beberapa laki-laki yang berada di kosan tersebut.

“Oke bye.”

“Bye.”

Kembali mereka berciuman. Jesika memandangi Ricko sampai laki-laki itu menghilang di tangga. Kemudian ia menutup pintu kamar kosnya. Berjalan menuju ranjang, mematikan laptop dan beranjak ke kamar mandi. Ia ada janji yang harus dipenuhi sore itu.

Beberapa jam kemudian.

Jesika turun dari taxi dan berjalan masuk ke dalam cafe. Dia disapa oleh pegawai berpakaian semi formal dan Jesika tersenyum kearahnya. Sesampainya didalam, ia menyapu pandangannya ke sekeliling cafe.

Rupanya malam itu suasana cukup ramai, tidak seperti hari-hari biasa. Akhirnya Jesika melihat seorang laki-laki yang melambai ke arahnya. Laki-laki itu duduk di pojokan. Laki-laki itu adalah Pak Lukman. Jesika pun berjalan kearahnya.

“Udah lama Om?” tanya Jesika.

Pak Lukman berdiri.

“Gak kok baru aja, duduk, Jes.”

“Maaf Jesika telat, Om.”

“Gak apa-apa.”

Keduanya kemudian duduk.

“Kamu mau makan apa?”

“Jesika udah makan Om, makasih.”

“Kalau gitu kita minum aja deh, kamu mau minum apa?”

Jesika mengambil daftar menu dan sejenak mencermatinya. “Jus wortel campur tomat aja, Om.”

“Hhmm.. healty life?” Pak Lukman tersenyum.

Jesika membalas senyuman itu. “Ya gitu deh, Om.”

Pak Lukman kemudian melambaikan tangan memanggil pelayan untuk mendekat. Tak lama pelayan itu selesai mencatat pesanan mereka berdua.

“So.. mana skripsi kamu, Jes?”

Jesika kemudian mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Meletakkannya di atas meja dan menyalakannya.

“Ini Om..,” Jesika memutar laptop tersebut sehingga dapat dilihat oleh Pak Lukman.

Sejenak Pak Lukman tenggelam membaca secara serius skripsi tersebut. Jesika sendiri hanya memandang ke arah Pak Lukman.

Terbersit rasa kagum dalam diri Jesika melihat sosok laki-laki paruh baya itu. Untuk laki-laki berusia di atas kepala lima, Pak Lukman mungkin tidaklah tampan, namun berkharisma.

Tubuhnya yang sedikit berisi justru membuat karakter kebapakannya terlihat jelas. Rambutnya yang mulai jarang dan sedikit memutih, menunjukkan kalau dia adalah sosok yang intelektual. Paling tidak kesan itulah yang muncul ketika melihat sosok Pak Lukman, selain sosok lain yang baru diketahui Jesika beberapa hari yang lalu tentunya.

“Ini sudah bagus kok, malah bagus banget,” ucapan Pak Lukman menyadarkan lamunan Jesika.

“Serius Om?” Jesika matanya membulat.

“Kamu itu selain cantik ternyata juga cerdas ya,” puji Pak Lukman kagum.

“Ah, Om bisa aja.” Jesika tersipu malu dan hatinya berbunga-bunga.

“Kalau seperti ini sih, Om bakal gampang ngomongnya ke Prof Burhan, gak perlu waktu lama deh kamu buat lulus, Jes.”

“Aduh itu mau banget Om, Jesika kan mau lanjut studi ke luar negeri kayak Om.”

“Beneran?” Pak Lukman sedikit tersentak.

“Beneran Om..,” Jesika terdengar makin bersemangat.

“Nah kalau gitu entar Om bantu juga deh nyariin beasiswanya.”

“Wah, serius Om? Makasih sebelumnya, Om.” Kali ini Jesika semangatnya melonjak 64 %.

“Sama-sama,” Pak Lukman menjawab sambil tersenyum penuh wibawa.

Kemudian beberapa saat ekspresi wajah laki-laki itu berubah serius. Keduanya membisu dan terlihat kikuk. Beruntung suasana berubah ketika pelayan datang membawa pesanan. Itu pun tidak lama, karena setelah pelayan pergi suasana kembali seperti semula.

Pak Lukman berdehem. Kebisuan pun pecah.

“Oya, soal kejadian di hotel Membara itu….” Laki-laki itu kembali terdiam sejenak dan menatap tajam ke arah Jesika. Ekspresi wajah gadis cantik itu terlihat berubah tegang.

“Kita sudah sama-sama dewasa Jes, jadi Om bakal cerita terus terang saja….”

Pak Lukman kemudian bercerita panjang lebar tentang kebiasannya bermain wanita dan gadis-gadis muda. Dia mengaku bahwa dirinya terpaksa mencari pelarian karena Mellyanti-istrinya, sudah semakin jarang memiliki waktu untuk menjalankan kewajibannya sebagai istri.

Masuk akal bagi Jesika karena dilihatnya Tante Melly, begitu biasa Jesika memanggilnya, memang terlihat lebih sibuk di luar rumah. Tante Melly lebih mengutamakan bisnis berliannya ketimbang mengurusi keluarganya.

Itu sebabnya Felisia juga menjadi sedikit agak bebas dan liar dalam bergaul. Terlebih lagi Rifky anak bungsunya. Jesika bahkan kini menduga jika adik Felisia yang baru SMA itu pun sudah mewarisi sifat-sifat ayahnya.

Akibat pertemuan tak diduga itu ternyata baik Pak Lukman maupun Jesika, tampaknya sama-sama ketakutan kalau rahasia mereka terbongkar. Jesika takut profesinya sebagai lady escort didengar orang tuanya. Pak Lukman pun di lain pihak, takut kalau kebiasaannya bermain perempuan tersebar akan merusak nama baiknya dan mempengaruhi rumah tangganya.

Keduanya kini sepertinya ada di dalam posisi yang sama. Sama-sama mengetahui rahasia pribadi satu sama lain. Sama-sama ingin rahasia itu tetap menjadi rahasia. Rahasia penting yang bisa mempengaruhi kehidupan masing-masing.

“Oke, itu semua cerita Om…,” ucap Pak Lukman sebagai penutup ceritanya.

Jesika tak tahu harus berkomentar apa. Dia sendiri di hotel Membra itu juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Pak Lukman dengan gadis belianya. Tentunya dia tidak bisa menyalahkan ayah sahabatnya itu.

“Kamu tahu, siapa gadis yang Om bawa waktu itu?” tanya Pak Lukman, yang sebenarnya sangat ingin Jesika tanyakan sejak lama. Jesika menggeleng karena memang sangat tidak kenal.

“Venty, mantan kekasihnya Rifky.”

“Hah!” Mata Jesika makin terbelalak.

“Panjang ceritanya, nanti kalau ada waktu Om ceritain, hehehe.”

“I.. ya Om,” balas Jesika gelagapan dan dia benar-benar tercengang.

Lama tidak mendengar komentar dari Jesika, akhirnya Pak Lukman pun melanjutkan kata-katanya. “Dan soal kamu, Om sudah dengar langsung dari Pak Ganwa.”

Jesika tersentak. ‘Ah aku tidak mungkin lagi bersembunyi tentang profesi sampinganku.’ Jesika kembali membatin.

“Dia cerita semuanya, tapi Om gak bilang kalau Om tidak kenal sama kamu. Nomor telepon yang tadi Om telpon juga Om dapet dari Pak Ganwa.”

Detik itu juga Jesika merasa kalau langit telah runtuh di atas dirinya. Laki-laki yang begitu dia hormati dan telah dianggap ayah kedua baginya, kini telah mengetahui rahasia terbesarnya. Pastinya tidak ada lagi yang akan disembunyikan Pak Ganwa dari Pak Lukman.

Untuk beberapa saat, kembali Jesika maupun Pak Lukman tak mengeluarkan kata-kata. Hanya suara-suara pengunjung cafe yang terdengar riuh di sekitarnya.

Setelah hening beberapa saat lalu Jesika berkata terbata-bata, “Tolong jangan kasih tahu orang tua Jesika, Om….”

“Oh tidak, tentu saja tidak,” Pak Lukman langsung menanggapi. “Dan Om juga minta kamu jangan bilang ke Tante Melly, apalagi ke Felisia dan Rifky.”

Jesika hanya mengangguk. Kini kartu AS mereka berdua sudah saling terbuka. Keduanya pun lalu saling berjanji untuk saling menutup mulut dan tidak akan membuka rahasia masing-masing. Tapi ternyata masalahnya tidak sesederhana itu, ketika Pak Lukman melanjutkan kembali kata-katanya.

“Jes, Om sudah dengar cerita Pak Ganwa dan juga cerita dia tentang temannya yang pernah, maaf, mem-booking kamu….” Pak Lukman tampak ragu melanjutkan kata-katanya, namun akhirnya laki-laki paruh baya itu melanjutkannya. “…Om juga pengen booking kamu.”

“Om…!” Ekspresi wajah Jesika bertambah tegang. “…Ja-jadi semua kebaikan yang Om tawarin tadi cuma karena ini?”

“Bu-bukan gitu Jes, bukan. Semua yang tadi Om tawarin itu adalah tulus karena kamu adalah sahabat baik Felisia, anak Om. Itu gak akan berubah walau kamu menolak sekalipun.” Pak Lukman menelan ludah dan terdiam cukup lama.

“Anggap saja sekarang ini, Om adalah orang lain yang gak kamu kenal….”

“Kalau Jesika menolak semua tawaran itu, apalah masih tetap berlaku?”

Pak Lukman mengangguk.

“Kalau Jesika menolak, apakah Om bakal cerita semua rahasia ini ke orang tua Jesika?” tanya Jesika pelan.

Pak Lukman menggelengkan kepala.

“Sekarang ini, Om adalah pelanggan kamu dan kamu sepenuhnya berhak menentukan apakah menerima atau menolak tawaran Om.”

Jesika terdiam sejenak untuk berpikir. Pak Lukman pun terlihat tegang menunggu jawaban gadis cantik itu. Setelah lama dalam kebisuan Jesika pun menjawab, “Tapi gak murah loh, Om.”

“Sebutin saja harganya….”

“Jesika gak mau nerima uang Om.”

“Loh terus?” Pak Lukman terheran.

“Udah lama Jesika pengen punya laptop Samsul yang terbaru, Om bisa beliin?”

Pak Lukman tersenyum lebar. “Kalau cuma itu sih sekarang juga Om bisa beliin kamu.”

Jesika terkejut kalau Pak Lukman akan menyatakan kesanggupan. Barang yang disebutkan Jesika tadi harganya begitu tinggi. Dia sebenarnya berharap Pak Lukman akan berpikir dua kali untuk menyanggupinya. Dengan demikian hubungan gelap yang mungkin akan terjadi di antara mereka bisa dihindari.

Ternyata Jesika salah memprediksi. Uang sebesar itu ternyata tidak menjadi masalah besar untuk Pak Lukman. Jadi kini bola panas kembali berada di pihak Jesika.

“Oke minum dulu jusmu, entar kita mampir ke Samsul counter di Jambu Mede Mall, biar kamu pilih sendiri yang kamu mau.” Pak Lukman menyebut salah satu mall khusus barang-barang elektronik terbesar di kota itu.

Jesika hanya bisa menurut. Paling tidak selama perjalanan nanti ia masih bisa berpikir. Berpikir apakah dirinya cukup gila untuk menjalin sebuah afffair. Sebuah hubungan gelap dengan ayah dari sahabat baiknya sendiri.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Si Janda Mandul
8.7
Rieta Bonanza sering dipandang sebelah mata karena statusnya sebagai janda mandul. Namun, di balik stigma tersebut, ia menyimpan bakat luar biasa yang siap ditunjukkan kepada dunia. Rieta bertekad membuktikan kekuatannya kepada keluarga mantan suaminya yang dulu kerap meremehkannya. Di tengah perjuangan itu, hadir sosok pria hebat yang berhasil meluluhkan hatinya. Akankah Rieta menemukan kebahagiaan sejati dan cinta baru meski dihantui masa lalunya?
Sampul Novel Dendam Cinta Sang Miliarder
9.4
Sagara Tyson Murphy hancur saat Janessa, kekasihnya, tewas menjelang pernikahan mereka. Dendam membara pun ia tujukan kepada Aluna Jaylee Morris yang dituduh sebagai penyebab kecelakaan itu. Murka melihat Luna masih bebas, Saga nekat menjadikannya pengantin pengganti demi menyiksa hidup gadis itu secara langsung. Luna pasrah menerima penderitaan asalkan orang terdekatnya aman. Namun, mampukah kebencian Saga bertahan saat kebenaran di balik tragedi Jane mulai terungkap?
Sampul Novel Dosa Yang Indah - Zina
8.8
Zina lahir dari rahim seorang wanita yang penuh noda masa lalu. Sebagai anak yang tercipta dari perbuatan terlarang, ia tumbuh di tengah penderitaan hidup yang tiada henti. Sang Ibu, yang menyimpan luka mendalam akibat siksaan seorang pria, bertekad melakukan segalanya demi membalas dendam. Dalam kisah romansa modern ini, Zina menjadi simbol dari dosa indah sekaligus alat untuk menuntaskan amarah ibunya terhadap sosok yang telah menghancurkan mereka.
Sampul Novel Eleanor
8.0
Elena, seorang desainer busana, mendapatkan peluang besar dalam karier serta asmaranya secara bersamaan. Ia setuju menempati apartemen milik bosnya, Alva, karena mengira sang pemilik tidak akan ada di sana. Namun, tanpa Elena sadari, Alva terus mengawasi gerak-geriknya dari jauh. Ketentraman Elena terusik saat Alva tiba-tiba memutuskan pulang dan tinggal bersamanya. Kini, Elena harus menghadapi kehadiran sang bos dalam ruang pribadinya yang sangat intim.
Sampul Novel Empat Puluh Sembilan Buku, Satu Perhitungan
9.2
Baskara menukar perselingkuhannya dengan buku langka. Empat puluh sembilan kali ia berkhianat, dan sebanyak itu pula aku bungkam. Namun, saat ia mengabaikan ayahku demi membelikan Jelita apartemen dan membiarkan selingkuhannya menodai taman kenangan ibuku, segalanya berakhir. Baskara bahkan membocorkan duka keguguranku pada wanita itu. Kini, sebagai ahli strategi politik, aku memasang penyadap. Buku kelima puluh bukan lagi permintaan maaf, melainkan kehancuran kariernya.
Sampul Novel Gairah
8.4
Banyak yang menganggap bahwa jatuh cinta adalah pengalaman yang sangat indah. Namun, apakah perasaan itu akan tetap terasa manis jika hati tertambat pada sosok yang sudah menjadi milik orang lain? Situasi menjadi semakin rumit ketika orang tersebut adalah pasangan dari sosok yang sangat kita sayangi. Kisah romansa dewasa ini mengeksplorasi konflik batin dan gairah terlarang yang menguji kesetiaan serta nurani dalam sebuah hubungan yang sangat rumit.