
Gairah Liar Sang Dokter
Bab 3
Langkah Jena yang hendak keluar dari kamar, dihentikan oleh Sakha. Pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu mencengkeram kuat lengan atasnya.
"Ini adalah kemauanmu Jena, jadi jangan merasa menjadi yang paling tersakiti karena korban sesungguhnya adalah aku," ucap Sakha penuh penekanan.
Jena tak menanggapi ucapan Sakha. Ia hanya menyentakkan tangannya dan semakin mempercepat langkah agar segera keluar dari kamar dan berjauhan dengan pria itu.
Sampai di dapur, dengan cepat Jena mengambil beberapa bahan makanan. Tangannya masih bergetar karena ucapan pedas Sakha yang membuatnya cukup terguncang. Ia masih tak menyangka jika wajah setampan dan sehangat Sakha, bisa menorehkan luka yang luar biasa di hatinya. Mata bening itu kini mulai berkaca kaca tapi Jena masih berhasil menahan agar cairan bening itu tak mengalir.
Sampai saat suara sang ayah mengejutkannya.
"Jena, apa semuanya baik baik saja?" tanya pak Rahman pada putrinya.
"Hahh? iya Yah Jena baik baik saja, Ayah mau dimasakin apa?"
Pak Rahman hanya tersenyum ia tahu benar siapa putrinya. Pria itu sama sekali tak melihat raut wajah bahagia di wajah anak semata wayangnya itu setelah ia menikah, tapi rasanya tak sampai hati untuk menanyakan masalah apa yang membuat Jena seperti itu. Bukankah seharusnya ia bahagia karena baru saja menikah, terlebih pak Rahman tahu benar kalau Jena sangat menyukai Sakha.
Malam itu Jena sangat gugup ketika harus makan satu meja dengan Sakha, sedangkan pria itu berusaha terlihat santai namun saat menyuapkan makanan ke mulutnya matanya langsung tertuju ke arah Jena berada.
Ia tak menyangka jika masakan wanita yang baru ia nikahi siang tadi ternyata sangat enak, selera makannya menjadi bertambah seketika, berbanding terbalik dengan Jena.
Wanita itu benar-benar kehilangan selera makan setiap kali teringat pada ucapan yang Sakha lontarkan. Beruntung ponselnya berdering dan membuatnya segera beranjak dari tempat itu.
"Halo Ra kenapa?" sapa Jena pada si penelpon. Setelahnya Jena hanya terlihat beberapa kali mengangguk anggukkan kepala, setelahnya barulah ia mematikan telepon dan kembali duduk di tempat semula bermaksud untuk berpamitan.
"Ayah Jena pamit dulu ya, teman Jena ada yang sakit jadi hari ini harus masuk kerja, tidak jadi mengambil cuti."
"Mau aku antar?" sela Sakha yang membuat Jena sedikit terkejut, namun akhirnya ia paham apa alasan pria itu melakukannya. Pasti hanya ingin menunjukkan rasa tanggungjawabnya di hadapan sang ayah.
"Nggak usah Mas, tempat kerjaku kan nggak jauh. Lagian Mas Sakha juga tahu, kalau aku sudah biasa jalan kaki menuju ke sana," jawab Jena sembari mengulas senyum tipis di bibirnya.
Tanpa banyak bicara lagi, wanita itu segera beranjak meninggalkan dua orang yang terus menatap dirinya, namun sebelum itu, Jena sempat masuk ke dalam kamar.
Diambilnya kotak kecil yang ia gunakan untuk menyisihkan uang yang akan ia gunakan untuk mengembalikan hutang hutangnya pada Hera. Hera adalah teman lamanya yang bekerja di Bar. Meski sebenarnya Jena sangat enggan berurusan dengannya tapi tak ada orang lain yang menjadi tempatnya mengadu soal keuangan selain Hera.
****
Sayangnya begitu kembali berhadapan dengan wanita itu, Jena justru kembali dimaki-maki.
"Yaampun Jena ... Jena ... kamu memang nggak niat mengembalikan, ini apa?" ucap Hera kesal setelah melihat jumlah uang yang Jena berikan padanya.
"Aku sudah berusaha Ra, kalau aku nggak niat mana mungkin aku memberikan uang itu sama kamu."
Hera tersenyum smirk mendengar jawaban yang Jena berikan. Tangannya memberikan kode pada seseorang dan beberapa detik kemudian dua orang pria berbadan tegap datang mencekal tangan Jena lalu membekap mulutnya.
Sekuat tenaga wanita itu berontak tetap saja sia sia, tenaganya tak cukup kuat melawan kedua pria itu.
"Ayolah Jena!! Nikmati saja nggak usah sok suci, layani mereka dengan baik dan kuanggap lunas semua hutang hutangmu!!" seru Jena yang membuat hati Jena memanas mendengar ucapan Hera.
Ingin rasanya ia merobek mulut wanita itu. Jena masih tak gentar ia tetap berusaha melawan karena benar benar tak ingin terlibat permainan menjijikkan yang dilakukan Hera.
Saat wanita itu berada tepat di hadapannya, Jena langsung mengayunkan kakinya sekuat tenaga hingga mengeni wajah Hera dan itu berhasil membuatnya memekik kesakitan.
Spontan dua pria yang tadi memegangi tangan Jena, langsung datang dan membantu Hera. Momon itu langsung Jena manfaatkan untuk melarikan diri. Sekuat tenaga ia mengayunkan langkahnya dengan cepat menuju ke keramaian, meski tak akan ada yang mau membantunya, setidaknya tak ada yang berani menyerang dan menculiknya di tengah keramaian seperti itu.
Setelah dirasa aman barulah Jena kembali ke rumah. Nafasnya masih berpacu cepat. Rasa takut masih ia rasakan tetapi tak tahu harus mengadu pada siapa. Dengan nafas yang masih memburu Jena mengetuk pintu rumahnya dengan keras berkali kali.
Begitu pintu terbuka, hatinya malah semakin tidak karuan. Wajah Sakha yang dingin seolah mengintimidasi dan kian mengacaukan perasaannya. Ia hanya lelah butuh tempat untuk bersandar dan bercerita.
Kali ini Jena memilih mengacuhkan pria itu dan bergegas masuk ke kamar. Penampilannya sangat kacau dan berantakan. Begitu masuk ke kamar ia dibuat terpaku di tempat saat melihat apa yang ada di hadapannya.
Sebuah koper besar tergeletak di sudut kamar. Perlahan Jena berjalan mendekat ke arah almari, tempat dimana ia menaruh pakaian Sakha, dan tak ada satupun pakaian pria itu di dalam sana, yang artinya pria itu sudah memasukkan semua pakaiannya ke dalam koper.
Kali ini Jena tak bisa membendung perasaannya. Ada lelehan bening yang jatuh dari sudut matanya. Begitu hina kah dirinya sampai sampai di hari pertama menikah dia harus ditinggalkan oleh sang suami. Di saat yang bersamaan Sakha muncul dari belakangnya.
"Besok aku akan kembali ke rumahku di Jawa timur, keluargaku sudah menunggu, jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, hubungi saja aku."
Jena memilih tak menyahut ucapan Sakha kali ini. Hati dan jiwanya lelah, benar benar lelah. Ia butuh istirahat, haruskah ia mati agar tak lagi bisa merasakan seperti ini.
"Terserah ... " jawab Jena pada akhirnya. Membuat Sakha cukup terkejut mendengar jawaban yang wanita itu berikan.
Ini pertama kalinya Jena terlihat kesal padanya. Selama ini wanita itu selalu bersikap manis dan bersemangat saat bersamanya. Wajahnya selalu terlihat ceria meski hidup yang wanita itu jalani tidaklah mudah dan hal itulah yang membuat Sakha terkesan pada gadis itu hingga membuat mereka dekat seperti layaknya sahabat.
Tetapi kali ini Jena tidak seperti Jena yang ia kenal, ada rasa tak rela saat wanita itu mengacuhkannya. Ada apa dengan hatinya. Bahkan kali ini Jena melewati Sakha begitu saja menuju kamar mandi, terdengar gemericik air dari sana yang menandakan jika Jena sedang membersihkan dirinya.
Jena meringis kesakitan saat akan menekan kran air. Pergelangan tangannya terasa ngilu mungkin terkilir saat tadi terus memberontak dari cekalan pria pria brengsek yang hampir menculiknya. Cukup lama ia berada di kamar mandi, namun saat keluar ia merasa sangat terkejut mendapati Sakha masih berada di kamarnya sedangkan pria itu tak kalah terkejut begitu melihat Jena yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya melilitkan handuk di tubuhnya.
Sakha menelan ludah kasar melihat pemandangan di depannya. Ia seolah tak percaya jika sudah pernah menjamah setiap lekuk tubuh Jena. Sakha akui, gadis di hadapannya itu memang cantik dan seksi. Itulah yang terlintas di benaknya saat ini.
Anda Mungkin Juga Suka





