
Gairah Jantan Mafia Kampus
Bab 2
Aku baru saja tiba di kostanku.
Memarkirkan motorku di area kecil yang sudah di sediakan, lalu menaiki tangga karena kamar kostanku berada di lantai dua. Saat aku sudah berada di depan kamar kostan, aku melihat pintu kamarku terbuka.
Panik, aku segera masuk ke dalam kamar.
Seluruh isi kamarku berantakan, lemariku terbuka, bahkan aku tak dapat menemukan laptopku yang tadi pagi ku sembunyikan di atas lemari.
“Bangsa,t” ucapku dalam hati tak terima dengan ke adaan kamarku.
Aku dengan cepat melangkah keluar kamar, lalu mengentuk pintu kamar yang berada di samping kamarku. Tiba- tiba aku mendengar sebuah suara dari dalam kamar.
“Ehmmm…aahh itu ada yang ngetok yangg.” Suara wanita.
Tak berapa lama pintu pun terbuka, munculah seorang pria telanjang dada yang hanya menungeluarkan setengah badannya dari selipan pintu.
“Sorry bang, tadi ada ngeliat siapa yang masuk ke kamar gua ga?” tanyaku.
Namun ia malah terdiam dan tampak seperti memperhatikanku, setelah beberapa saat.
“Anak 3Punar, gua saranin kalau masih maba gausah nyari masalah dah tong,” Jawabnya.
Dengan cepat ia kembali memasukan badannya ke dalam ruangan lalu menutup pintu. Jujur aku merasa sangat kesal mendengar jawabannya yang malah menceramahiku.
“Ngentot!!” makuku sambil mengingat kejadian di kantin tadi.
Aku dengan segera mengeluarkan hapeku dari kantong celana, lalu mencari sebuah nama di daftar kontak watsapku.
‘Haris’
Aku menekan layar untuk meneleponnya. Hingga beberapa saat nada berdering mulai terdengar.
“Halo? Ada apaan, Za?” tanya Haris membuka omongan.
“Lu dimana?” ucapku balik bertanya
“UKM, kenapa emang?” tanya Haris lagi.
“Gua otewe ke UKM,” jawabku tanpa menghiraukan pertanyaannya.
Aku langsung mematikan hubungan telepon, lalu melangkah menuju ke arah tangga….
^*^
Di depan gedung UKM
Aku melihat segerombolan mahasiswa yang sedang nongkrong di depan gedung UKM namun mereka sama sekali tidak menghiraukan kehadiranku, lalu aku mencari keberadaan Haris dan menemukannya sedang bermain kartu bersama ketiga orang temannya.
“RIS!” teriakku.
Haris dan ketiga temannya melihat ke arahku, namun sesaat kemudian ketiga temannya kembali melihat kartu mereka masing – masing, sedangkan Haris bangkit berdiri dan berjalan ke arahku.
“Ada apaan dah, Za?”
“Kostan gua di jebol sama anak 3Punar, laptop gua diambil!”
“Hah? Seriusan lu?”
“Iye. Anak-anak 3Punar pada nongkrong dimana? Bantuin gua Ris, ajak anak-anak 5HC, lu,” ucapku sambil melihat ke gerombolan mahasiswa yang sedang sibuk bercengkrama di dekat pintu masuk gedung UKM.
“Buset, gila lu, Reza!” bentak Haris.
Haris dengan cepat melangkah ke sampingku lalu menarik pundakku untuk berputar arah. Aku mengikuti tarikannya, memutarkan badan sehingga kini posisiku searah dengannya, membelakangi gedung UKM.
“Lu sini dulu dah, biar gua omongin,” ucap Haris.
Haris mulai berjalan ke depan. Aku yang tak mengerti dengan maksud sikapnya hanya diam mengikuti langkahnya. Kami berdua berjalan hingga akhirnya tiba pada sebuah warung yang masih berada di dekat area kampus.
“Duduk dulu gih lu, kayaknya emang harus gua jelasin biar lu ngerti kondisinya,” ucap Haris sambil menunjuk ke sebuah kursi kayu panjang yang berada di samping warung.
Aku berjalan ke arah kursi dan duduk, sementara Haris memesan rokok dan minuman pada penjaga warung.
Sesaat kemudian..
“Sekarang gua jelasin ya, biar lu ngerti nih,” ucap Haris sambil berjalan membawa dua gelas es teh lalu meletakannya di samping tempatku duduk.
“Lu ada masalah sama anak 3Punar? Lu mau minta tolong sama anak 5HC?” tanya Haris.
Haris duduk di sampingku, sehingga gelas es teh tadi kini berada diantara kami.
“Emang lu pikir lu siape sih, Za?” tanya Haris lagi.
Bingung dengan ucapannya, aku segera melihat ke arah Haris yang rupanya juga sedang melihat ke arahku.
“Gua aja ragu Za kalau ada masalah sama anak 3Punar, minta tolong sama anak 5HC?” lanjutnya.
“Maksud lu?”
“Gua bukan anggota 5HC, Za. Anak-anak yang tadi pada nongkrong di depan UKM juga bukan.”
Aku mengerenyitkan alis saat mendengar jawaban Haris, karena selama ini berpikir bahwa Haris dan mahasiswa yang berkumpul di depan gedung UKM adalah anggota 5HC.
“Lah terus ngapain lu tiap hari nongkrong di sono?” tanyaku.
“Oke, gini Za….”
Haris menghentikan ucapannya, meminum es teh yang berada diantara kami berdua, juga menyalakan rokok yang dari tadi sudah ia pegang.
“Yang tadi nongkrong di depan UKM itu cuman anak-anak yang kenal sama anak 5HC, berharap mereka bisa diajak gabung atau sekedar di undang ke acaranya 5HC,” lanjut Haris, kemudian menghisap dalam asap dari rokoknya.
“Terus anak 5HC pada dimana?” tanyaku.
“Anak 5HC mah pada di dalem ruang UKM, kalau gak ya pada di kontrakan.”
“Kontra……”
“Iye, anak 5HC punya kontrakan, anak 3Punar juga punya. Dijadiin basecamp sekaligus tempat tinggal buat anggota yang perantauan,” lanjut Haris memotong pertanyaanku.
Aku terdiam sejenak, menyadari bahwa sepertinya Haris tidak bisa membantuku.
“Lu tahu dari mana, Ris?” tanyaku heran mendengar penjalasan Haris yang sepertinya tahu banyak mengenai kelompok mahasiswa di kampus ini.
Haris malah tersenyum.
“Nah, ini yang sebenernya pengen gua omongin sama lu tadi siang Za. Gua kenal sama satu anak 5HC, senior gua pas SMA. Gua pengen ngajak lu buat ikut masuk 5HC, eentar gua minta kenalan gua buat ngerekomendasiin kita berdua,” ucap Haris menjelaskan maksud obrolannya denganku tadi siang.
Aku terdiam, entah mengapa aku jadi teringat masa-masa kelamku saat SMA dulu.
“Ah, males gua, Ris. Kalau soal ribut-ribut mulu isinya,” sanggahku.
“Ga gitu juga, Za, kerjaannya bukan ribut doang.”
Tiba-tiba menggerakan jari-jari tangannya, memasukan jari jempol diantara jari telunjuk dan jari tengah.
‘Ngentot?’ Tak sadar mulutku berucap tanpa suara.
“Kapan lagi coy bisa nikmatin senior, hahaha,” balas Haris.
Aku tersenyum, bagaimanapun aku tidak dapat menghindari menariknya ajakan Haris perilah ‘menikmati senior’ tersebut.
“Tahu dah Ris, ah,” balasku.
Jujur, aku mulai merasa tenang karena setidaknya aku masih memiliki seorang teman yang mau mendengarkan masalahku. Aku mengambil gelas es teh yang ada disampingku, sedikit menyeruput cairan manis tersebut lalu meletakannya kembali.
“Eentar kalau emang gua pengen gua kabarin dah,” ucapku
Haris menyodorkan bungkusan rokoknya kepadaku, aku mengambil sebatang rokok, memasukannya ke dalam mulut lalu membakarnya.
“Terus lu sekarang mau ngapain, Za?” tanya Haris di saat aku masih berusaha membakar rokok.
Rokokku menyala, aku menghisapnya dalam sambil terdiam sejenak untuk memikirkan keputusanku, karena bagaimanapun juga aku membutuhkan laptop untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah.
“Kontrakannya anak 3Punar dimana?” tanyaku tenang.
Haris langsung meruncingkan pandangannya ketika mendengar pertanyaanku.
“Lu mau nyamperin?” tanya Haris
“Au dah, emang kontrakannya dimana?”
“Di perumahan pohon palem, lu jangan nekat ke sana, Za.”
Perumahan pohon palem, perumahan yang tidak jauh dari kampus. Dengan cepat aku menaikan tubuhku berdiri dari kursi lalu melihat ke arah Haris yang masih menatapku.
“Ini lu yang bayarin kan?” tanyaku sambil melirik ke arah gelas es teh.
“Lu mau kemana, Njng?” Haris malah balik bertanya.
Entah mengapa aku malah sedikit tersenyum melihat ekpresi wajah Haris yang tampak tak setuju dengan keputusanku.
“Ya elah lu kalem aja, Ris,” ucapku.
Aku menepuk pelan pundak Haris lalu mulai berjalan pergi meninggalkannya, aku sudah membulatkan niatku untuk mendapatkan kembali laptopku.
“Oi REZAAA!” Suara teriakan Haris.
Aku memutarkan leher melihat Haris yang rupanya sudah berdiri di depan warung.
“Udah tenang aja, lu! Ohi ya kalau besok gua gak masuk, titip absen dulu ya!” balasku dengan suara sedikit meninggi.
Tanpa menunggu balasannya, aku kembali memutarkan leherku ke depan, lanjut berjalan memasuki area kampus.
^*^
Di area perumahan pohon palem.
Aku sempat memutari area perumahan untuk mencari dimana kontrakan 3Punar, hingga aku melihat sebuah rumah bertingkat dua yang terlihat ramai karena banyak anak muda yang sedang duduk di teras rumahnya.
Aku yakin bahwa itu adalah kontrakan 3Punar.
Aku melewati depan kontrakan 3Punar, namun tidak berhenti, terus berjalan hingga tiba di sebuah warung yang tidak jauh dari kontrakan 3Punar.
“Bang, filter sebungkus,” icapku pada penjaga warung setelah memarkirkan motorku dipinggir jalan.
Transaksi terjadi, sebungkus rokok yang kini sudah berada di tanganku aku imbali dengan selembar uang dua puluh ribuan.
“Numpang duduk bentar ya bang,” ucapku.
“Ohiya silahkan,” Jawab penjaga warung.
Aku berjalan ke arah kursi plastik di samping warung, duduk, lalu membakar rokok yang sudah ada di mulutku. Beberapa saat, aku mencoba untuk mempersiapkan diri, tak bisa ku pungkiri jantungku mulai berdetak cepat memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi padaku di dalam kontrakan 3Punar, namun entah mengapa aku merasa senang dapat merasakan sensasi ini, sensasi yang sudah lama tak aku rasakan bentarjak aku lulus SMA.
“Heyyy…ngapain disini?” Sebuah suara yang tiba-tiba memecahkan lamunanku.
Aku melihat ke sumber suara, seorang wanita dengan wajah tak asing sedang berdiri di hadapanku, menggunakan celana jeans panjang dan kaos putih ketat.
“Lu yang tadi siang kan?” tanyaku setelah mengingat bahwa dia adalah wanita di kantin tadi siang, wanita yang sebenarnya memulai masalah ini.
“Iya, lu ngapain sendirian di sini?” tanyanya.
“Ehmm… mau ngambil laptop.”
“Ngambil laptop? Eh… gua boleh duduk di sini kan?” ucapnya sambil berjalan kedepan dan menunjuk kursi yang berada disampingku.
Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan mengangguk, dia pun dengan santai menurunkan tubuhnya dan duduk disampingku.
“Oh iya kenalin, gue Tiara,” ucapnya sambil tersenyum dan menjulurkan tangan.
“Reza,” balasku sambil kami bersalaman.
“Emang mau ngambil laptop di mana sih?”
Posisi duduk kami cukup dekat, aku bahkan dapat mencium parfumnya yang terasa sedap di hidungku.
“Di kontrakan 3Punar.”
Ekpresi wajahnya seketika berubah saat mendengar jawabanku.
“Hah? Maksudnya?”
“Kamar kostan gua dijebol sama anak 3Punar, laptop gua di ambil.”
Anda Mungkin Juga Suka





