
Gairah Jantan Mafia Kampus
Bab 3
Tiara terdiam sejenak, wajahnya nampak sedang memikirkan sesuatu.
“Duh, maaf ya. Itu pasti gara-gara kejadian di kantin tadi kan?” tanya Tiara, wajah cantiknya kini menunjukan ekspresi memelas.
“Gak papa. Ini juga udah mau gua ambil lagi, kok.”
“Lu mau ke kontrakan anak 3Punar sendirian?”
Lagi-lagi wajahnya berubah, kini dia terlihat bingung. Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaannya.
“Lu semester berapa sih?” lanjut Tiara.
“Satu, lu?”
Tiara tak menjawab pertanyaanku, wajahnya semakin terlihat keheranan mendengar jawabanku. Beberapa saat ia hanya menatap mataku, aku bahkan terpaksa memalingkan wajahku karena merasa canggung terlalu lama bertatapan dengannya.
“Tiga,” jawab Tiara singkat.
Aku reflek langsung kembali melihat ke arahnya karena merasa tak enak berperilaku terlalu santai dihadapan seorang senior.
“Eh maaf, Kak.”
Entah mengapa aku meminta maaf. Namun Kak Tiara hanya mengangguk lalu sedikit tersenyum.
“Lu ke sini naik apa?” tanya Kak Tiara.
“Saya naik motor, Kak,” jawabku sopan.
Tiba-tiba Kak Tiara berdiri lalu mengambil selangkah ke depan.
“Ikutin gua sekarang,” ucap Kak Tiara.
Kak Tiara lalu berdiri dan berjalan ke depan, menyebrangi jalanan lalu masuk ke sebuah mobil sedan, bentartara aku hanya terdiam tak mengerti maksud ucapan Kak Tiara.
Kaca mobil yang tadi Kak Tiara masuki perlahan terbuka, wajah Kak Tiara muncul sedang menatapku, ia menggerakan mulutnya seperti sedang mengucapkan ‘cepet’. Aku reflek mengangguk lalu bangkit dari kursi sambil membuang rokokku ku aspal dan berjalan ke arah motorku.
Kak Tiara menyalakan mesin mobilnya lalu berjalan pelan, aku menyalakan mesin motorku dan mengikuti laju mobilnya.
^*^
Aku terus mengikuti laju mobil Kak Tiara, perjalan cukup jauh hingga akhirnya kami berhenti di depan rumah mewah.
Kak Tiara turun dari mobil lalu berjalan ke arah gerbang, sebentar ia membuka pintu gerbang lalu mendorongnya lebar. Pintu gerbang sepenuhnya terbuka, Kak Tiara kembali ke dalam mobilnya lalu memarkirkannya di area teras rumah mewah tersebut.
“Motornya masukin aja, Za,” ucap Kak Tiara setelah turun dari mobil dengan nada sedikit kencang kepadaku yang masih berada di atas motor.
Aku dengan segera memajukan motorku lalu memarkirkannya di sebelah mobil Kak Tiara, sementara Kak Tiara melangkah ke arah gerbang lalu menutupnya.
“Yuk masuk, Za!” ajak Kak Tiara saat aku baru saja mematikan mesin motor.
Kak Tiara langsung berjalan meninggalkanku, dengan terburu-buru aku segera turun dari motor, melepaskan helm dan sedikit berlari untuk mengimbangi Kak Tiara.
“Sini masuk aja,” ajak Kak Tiara saat kami sudah berada didepan pintu rumah.
“Iya Lak.” Aku melangkah masuk ke dalam rumah bersama Kak Tiara.
Di dalam rumah, aku sempat melihat ke sekitar, ruangannya sangat besar, namun anehnya sama sekali tidak ada barang apapun di ruangan yang biasanya menjadi ruang tamu ini.
“Hmmm…. Di kamar aja deh yu,” ucap Kak Tiara saat aku masih sibuk melihat sekitar ruangan.
Entah mengapa aku seketika menelan ludah saat mendengar ajakannya masuk ke kamar. Matakku bergerak sendiri turun ke bawah menuju area pantat Kak Tiara yang masih tertutupi celana jeans ketat.
Dengan pikiran campur aduk, akhirnya kami tiba di depan pintu kamar.
“Yuk,” ucap Kak Tiara sambil membuka pintu.
Kamar yang sangat mewah. Master bed, tv lcd yang tergantung di tembok, keramik yang terasa dingin akibat ac yang sudah menyala.
“Duduk dulu, Za,” ucap Kak Tiara sambil melihat ke arah kasur. Bagai kerbau dicucuk hidungnya, aku menuruti suruhan Kak Tiara, duduk di pinggiran kasur.
Kak Tiara berjalan menjauhiku, menuju sebuah lemari besar yang berada di pojok ruanga lalu membuka pintu lemari lalu terlihat meraih sesuatu. Sementara aku hanya terdiam sambil mencuri pandang menikmati pemandangan indah bentuk tubuhnya dari belakang.
Kak Tiara tiba-tiba berbalik, aku reflek membuang pandanganku, dia lalu berjalan mendekat dan duduk disampingku.
“Nah, gini, Za. Tadi siang kan lu udah bantuin gua pas berantem sama Andre. Sekarang biar gua yang bantuin lu,” ucap Kak Tiara sambil meletakan sebuah tas laptop yang tadi ia ambil dari dalam lemari di atas pahanya.
“Maksudnya, Kak?”
Sebenarnya aku merasa canggung karena Kak Tiara duduk terlalu dekat, aku bahkan dapat merasakan area pinggul kami saling bersentuhan.
“Laptop lu kan diambil sama anak 3Punar. Nah ini gua punya laptop gak dipake. Lu pake ini aja dulu sampe laptop lu balik,” jelas Kak Tiara.
“Gak usah Kak, entar biar saya ambil aja laptop saya.”
“Za, lu tahu anak 3Punar itu gimana kan?” tanya Kak Tiara, nadanya berubah menjadi serius.
“Iya tahu, Kak”
“Udah lu pake dulu aja laptop ini. Nanti biar gua yang coba buat mintain laptop lu,” bujuknya
Aku mengangguk dan sedikit tersenyum untuk menunjukan rasa terimakasihku pada Kak Tiara.
“Kakak anak 3Punar?” tanyaku.
“Jangan manggil pake kakak gitu kek za, kayak apaan aja” ucap Kak Tiara malah memprotes kesopananku.
“Oh oke”
“Eh tapi gapapa deh gitu aja” ucapnya plin-plan.
Tiba-tiba Kak Tiara berdiri.
“Nih pegang laptopnya,” ucap Kak Tiara sambil meletakan laptop di pahaku.
Kak Tiara lalu berjalan ke arah pintu sambil meliriku.
“Lu mau minum apa? Biar kakak bikinin?” tanya Kak Tiara sambil tersenyum manis ke arahku.
Entah mengapa aku ikut tersenyum saat mendengar Kak Tiara juga menggunakan panggilan ‘kakak’.
“Apaan aja deh kak,” Jawabku.
“Okay, wait ya Za,” balas Kak Tiara sambil berjalan keluar dari kamar.
Sendirian dikamar, aku menggunakan kesempatan ini untuk sekedar berjalan melihat ke sekitar ruangan. Kamar Kak Tiara sangat luas, bahkan terdapat kamar mandi pribadi dengan fasilitas bathub dan shower di dalamnya..
“Lagi ngapain, Za?” Suara Kak Tiara tiba-tiba terdengar.
Aku melihat ke sumber suara, ternyata Kak Tiara sudah berdiri di depan pintu sambil mebawa gelas dan botol minuman bersoda di tangannya.
“Liat – liat, kak,” jawabku singkat.
Aku membelokan badan lalu berjalan mendekatinya.
“Maaf yah za, rumahnya masih kosong jadi belum ada apa – apa,” Ucap Kak Tiara sambil meletakan gelas di atas kasur lalu duduk.
“Gapapa kak…hmm.. orang tuanya mana kak?” tanyaku sambil ikut duduk diatas kasur.
“Orang tua kakak tinggal di daerah barat. Pas semester 2 kemarin kakak di beliin rumah ini sama papah, dari setiap bulan harus bayar kostan mending sekalian beli rumah itung – itung investasi katanya”
“Oh,” Jawabku singkat.
Kak Tiara tak membalas, dia kemudian meraih botol minuman yang berada di kasur dan membukanya. Akhirnya aku dan Kak Tiara mengobrol panjang di dalam kamarnya ini, bercerita tentang kehidupan kami masing-masing.
Aku sedikit menceritakan mengenai masa-masa kelamku selama SMA, membuat Kak Tiara merasa tak heran melihatku berani melawan Andre di kantin tadi siang, juga berani untuk ingin datang ke kontrakan 3Punar sendirian.
“Eh, Za, lu jangan bilang siapa-siapa kalau Kakak tinggal di sini, ya,” ucap Kak Tiara melanjutkan obrolan.
“Iya kak.”
Kak Tiara terdiam, aku juga terdiam. Berduaan di dalam kamar tanpa ada orang lain di dalam rumah, ingin sekali aku menyerang tubuh mulus Kak Tiara saat ini juga, namun dengan cepat aku turun dari kasur.
“Kak… saya pulang dulu ya,” ucapku.
“Eh…bentar Za,” cegah Kak Tiara sambil ikut berdiri.
Kak Tiara sejenak tampak berpikir.
“Hmmmm….kakak minta nomor wa boleh?” tanya Kak Tiara.
Aku dapat melihat Kak Tiara menyembunyikan rasa malu pada ucapannya.
“Boleh lah kak,” jawabku santai.
Aku pun memberikan nomor wa kepada Kak Tiara, lalu pamit pulang, Kak Tiara mengantarkanku ke depan gerbang, tak lupa dengan membawa laptopnya.
^*^
Di kamar kostan, sekitar jam 8 malam.
Selesai membereskan kamar kostanku, aku segera mandi. Setibanya kembali di dalam kamar, aku iseng membuka laptop Kak Tiara, laptopnya bahkan jauh lebih canggih dibanding laptopku.
“Orang kaya,” ucapku dalam hati sambil menekan tombol power.
Aku melihat ada sebuah folder dengan nama ‘foto’ di desktopnya, penasaran aku langsung mengklik folder tersebut. Munculah banyak file file foto Kak Tiara, bahkan beberapa foto menunjukan gambar dimana Kak Tiara sedang menggunakan pakaian-pakaian yang minim dan super ketat.
“Tahu gini mending gua sikat dah tadi,” ucapku sambil menikmati pemandangan indah di layar laptop Kak Tiara.
^*^
Pagi ini aku terbangun lebih pagi dari biasanya, sekitar jam setengah 7. Mungkin karena semalam aku langsung tertidur pulas setelah melampiaskan hasratku menggunakan foto – foto Kak Tiara yang ada di dalam laptopnya.
Layaknya manusia modern pada umumnya, yang pertama aku lakukan setelah bangun adalah melihat hapeku.
[Rezaa, besok ke kampus kan?] Pesan dari Kak Tiara, sekitar jam 10 malam.
[Iya Kak, maaf kak semalem udah tidur] balasku
Beberapa saat aku menunggu balasan dari Kak Tiara sembari mengumpulkan kesadaranku, namun Kak Tiara tak kunjung membalas, mungkin dia masih tertidur.
Akhirnya ku putuskan untuk bangkit dari kasur dan pergi keluar kamar untuk mandi dan melaksanakan setoran pagi.
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





