
Gairah Istri yang Tersembunyi
Bab 2
Ketika Gail sudah kembali ke kamarnya setelah makan malam, baru terpikirkan dalam otaknya jika dia belum bertanya tentang pekerjaan pria yang akan ditemuinya. Meski dia tidak gila uang, paling tidak dia ingin mengetahui apa yang lelaki itu hasilkan untuk menafkahinya. Untuk masalah pendidikan dia tidak menuntut harus setara dengannya.
Namun, pikiran tersebut tidak lama menetap di otak Gail karena dia telah memasuki zona rahasia yang dia buat tanpa ada orang yang tahu bahkan para asisten rumah tangga. Ini rahasia yang dia simpan selama empat tahun terakhir. Rahasia yang membuat dia tidak ingin terikat untuk bekerja dengan orang lain meski itu adalah orang tuanya sendiri.
Ketika pintu ruang rahasia tersebut tertutup, dia mulai fokus dan tenggelam pada apa yang dikerjakannya tanpa gangguan karena telah dia pasang peredam suara.
***
Gail terbangun pukul 08.00 pagi, sedangkan dia harus datang ke toko bunganya pukul 09.00 pagi untuk mempersiapkan pesanan seseorang yang akan diambil pukul 11.00 siang. Memang dia memiliki pegawai yang membantunya merangkai bunga, tetapi terkadang dia masih belum puas dengan hasil yang mereka buat. Sebenarnya hasil dari ketiga pegawainya itu bagus, tetapi dengan Gail yang memiliki sikap perfeksionis yang sangat merepotkan bagi orang lain.
Dia memang terkadang hanya menambahkan beberapa tangkai bunga lagi dan membuang beberapa tangkai bunga yang dianggapnya tidak cocok. Yang dibuang terkadang justru lebih banyak daripada yang ditambahkan. Namun, memang hasilnya menjadi lebih bagus dari hasil rangkaian pegawainya.
Padahal sikap perfeksionis itu juga terkadang merugikan dirinya sendiri. Saat dia mengerjakan sesuatu dan timbul rasa tidak puas akan hasilnya. Dia akan mengobrak-abrik hingga mencapai kepuasan tersebut. Namun, ketika kepuasan tidak tercapai dia akan mengalami perubahan mood yang parah dan justru merusak hasil karyanya.
Dia beranjak masuk ke kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke toko bunga yang dimilikinya. Eh, lebih tepatnya milik ibunya karena selama ini dia memilih untuk menjadi pegawai. Lebih tepatnya, menempati posisi sebagai manajer salah satu toko bunga.
***
Gail turun dari kamarnya dengan tergesa dan melewatkan ruang makan karena dia sudah terlambat. Seperti inilah yang membuatnya tidak menyukai bekerja kepada orang lain. Harus taat pada aturan yang berlaku dan memberikan contoh yang baik kepada bawahannya.
Dia menyambar salah satu kunci mobil miliknya yang tergantung di tempat gantungan kunci dan segera keluar dari rumah. Namun, panggilan ibunya membuatnya berhenti dan menghampiri di ruang makan.
“Kenapa, Bu?” tanya Gail.
“Kamu mau ke mana? Masih pagi begini,” desak ibunya.
“Mau ke toko bungalah, Bu. Ada pesanan buat nanti siang.” Gail protes kepada ibunya karena makin membuatnya terlambat. “Sudah ya, Bu, Yah. Aku berangkat.”
“Coba deh liat jam tanganmu sekarang hari apa. Cepet!” perintah Ayahnya.
Gail melihat kedua orang tuanya hanya tersenyum geli melihatnya sudah rapi dan cantik di pagi hari.
“Betapa rajin anak gadis kita, Yah,” goda Latifa.
Gail lanjut memperhatikan jam tangan pintar yang melingkar di tangan kirinya dan betapa malunya dia bahwa hari ini adalah hari Minggu. Sementara, toko bunganya tutup apabila hari Minggu dan tanggal merah atau hari besar.
“Ih, Ayah, Ibu mah gitu. Kenapa gak langsung bilang aja sih. Gak perlu bikin malu,” cebik Gail.
Mendengar putrinya yang masih memberikan protes kepada keduanya justru semakin membuat mereka tertawa keras dan wajah Gail semakin merah. Dia mengembalikan kunci ke tempatnya dan dia beranjak kembali ke kamarnya untuk mengurung diri.
“Lho, anaknya pergi, Yah. Padahal ibu belum bilang pertemuannya minggu depan.” Latifa baru saja mengingat apa yang ingin disampaikan ke putrinya.
Gail masuk ke kamarnya dengan membanting keras pintu kamarnya. Dia sangat malu sudah terburu-buru karena kurang teliti memeriksa kalendernya.
“Apa sebaiknya aku mempekerjakan orang lain ya untuk mengatur jadwalku. Huft!” gerutunya.
Dia mulai melepaskan pakaian kerjanya dan mengganti dengan baju rumahan. Hari ini dia ingin bersantai saja di dalam kamar, tetapi tak lama perutnya berbunyi sehingga mau tidak mau membuatnya harus turun lagi ke bawah.
***
Saat ini, Latifa sedang menghubungi Marinka, calon besannya karena putrinya telah setuju untuk menikahi putra Marinka.
“Halo, jeng Marin,” sapa Latifa ketika panggilannya tersambung.
“Iya, jeng Tifa,” balas Marinka tak kalah semangat.
“Putri saya sudah setuju nih. Gimana kelanjutannya?” tanya Latifa.
“Dhakaa si dari awal sudah setuju, jeng, tapi ya gitu katanya pengen ketemu berdua aja sama Abigail.” Marinka menjelaskan kepada Latifa.
“Emang kapan jeng Dhakaa pulang dari Paris?” tanya Latifa lagi biar dia bisa mempersiapkan putrinya.
“Kira-kira 2 minggu lagi, jeng. Gimana?” Marinka meminta pendapat calon besannya.
“Boleh, sekalian dipilih malam minggu saja ya, biar lebih romantis untuk mereka. Tempatnya kita juga yang tentukan karena Gail ikut apa kita,” ujar Latifa.
“Wah, nurut sekali ya Abigail, hihi. Aku bakal punya mantu,” kekeh Marinka.
“Kita berdua lho jeng sama-sama punya mantu. Baiklah, jeng, saya tunggu info selanjutnya untuk persiapan berikutnya. Eh, tapi saya mau tanya, jeng. Apa jeng Marin memberikan foto Gail kepada Dhakaa?” tanya Latifa kepo.
“Belum, karena tidak sempat dan saya juga tidak memiliki foto Abigail yang terbaru. Biarkan saja, jeng.” Marinka mengusulkan agar keduanya ada rasa penasaran saat nanti bertemu.
“Oke, ya udah, jeng. Saya mau lanjut memasak dulu,” pamit Latifa menutup panggilan.
Senyum terkembang di wajah Latifa setelah berkonsultasi dengan calon besannya. Memang tidak salah dia menyetujui wasiat mertuanya. Calon besannya sangat baik meski mereka baru bertemu sekali saat di pertemuan di sebuah pesta perusahaan. Jadi, dia yakin jika calon suami untuk putrinya tidak mungkin jika tidak baik.
Keseharian Latifa sebagai full time istri dan ibu di rumah membuatnya tidak pernah bosan dalam melakukan pekerjaan rumah yang tidak pernah habis. Meski memiliki asisten rumah tangga yang membantunya dalam pekerjaan rumah, tidak membuat Latifa bosan karena selalu ada saja yang dia kerjakan.
Sembari menunggu Gail turun dari kamarnya, dia memasak makanan favorit putrinya agar putrinya mau memaafkan dirinya dan suaminya. Juga dia akan menyampaikan informasi yang baru saja diterima dari calon besan.
Di sisi lain, Gail terpaksa keluar dari kamarnya karena perutnya terasa lapar sedari tadi pagi belum terisi. Dia diam-diam memasuki dapur untuk memastikan bahwa tidak ada orang di sana, tetapi ternyata di sana sedang ada ibunya yang memasak. Dia bisa mencium ibunya sedang memasak daging empal kering, kesukaannya.
Latifa yang belum tahu bahwa putrinya sudah berada di belakangnya. Karena Gail yang sedang kelaparan pun mengeluarkan bunyi ketika dia tidak sengaja mengambil gelas membuat Latifa menoleh.
“Eh, Sayang, sini, ibu masak buat kamu makan. Belum makan dari tadi pagi kan?” tanya ibunya perhatian.
“Iya, Bu, aku laper,” rengek Gail.
“Ayo, sana ambil nasi. Sudah matang kok sebagian, tinggal goreng sebentar.” Latifa mengambil beberapa potong untuk digoreng sebelum dia hidangkan ke putrinya.
“Oiya, Nak. Jangan lupa dua minggu lagi luangkan waktu ya. Karena saat itu kamu akan bertemu dengan suamimu!” ujar ibunya biasa saja membuat Gail rasa laparnya sedikit berkurang.
Anda Mungkin Juga Suka





