
Gairah Cinta Mr. Luca
Bab 2
Sarah mengangguk, wajahnya memancarkan kebingungan. "Kenapa kamu ada di sini? Apa yang terjadi? Mengapa mereka bermain senjata? Apakah kamu adalah polisi? atau kamu adalah penjahatnya?" tanya Sarah dengan bingung.
Luca menaikkan sudut bibirnya lalu menggeleng pelan, raut wajahnya tertutup. "Itu bukan ceritanya sekarang. Yang terpenting, bagaimana kita bisa keluar dari sini tanpa terlihat oleh mereka?"
Mereka mendengar suara langkah kaki di atas, yang semakin mendekat. Sarah menatap Luca, lalu ke jendela tinggi di dinding.
"Kita harus naik ke atap," kata Sarah dengan cepat. "Jendela ini menuju atap restoran. Mungkin kita bisa melarikan diri dari sana."
Luca mengangguk, dan mereka berdua berusaha berdiri. Luca mengerang karena rasa sakit di bahunya, tetapi dia tetap tegar. Mereka berdua berhasil mencapai jendela itu dan dengan hati-hati memanjat ke atap restoran.
Di atap, hujan yang deras masih terus turun. Mereka merasa angin dingin dan basah menusuk kulit mereka. Tanpa sengaja, Luca melirik cetakan bagian dada Sarah yang sudah basah kausnya karena hujan.
Luca menelan salivanya dengan susah payah. Bukannya menutup dirinya sendiri yang sudah basah, Sarah malah mengambil mantelnya yang setengah basah dan membungkuskan ke sekitar tubuh Luca.
Luca memang sedikit gemetar karena menahan nyeri sekaligus dingin. Namun, pria itu terharu dengan tindakan yang dilakukan oleh Sarah. Wanita itu tidak mengerti sekejam apa Luca dalam kehidupan sehari-harinya.
"Mari kita pergi," kata Sarah sambil mengarahkan pandangan ke sekitar atap.
Mereka melihat sekelompok pria di bawah, mencari-cari mereka. Luca dan Sarah harus bergerak dengan hati-hati, bersembunyi di balik tiang besar dan peralatan atap.
Luca menatap Sarah dengan ekspresi yang terkejut. "Kamu tidak perlu terlibat dalam ini," katanya dengan suara lembut.
"Kamu bisa pergi."
Sarah menggelengkan kepala tegas. "Aku sudah terlibat, Luca. Namamu, Luca bukan? Dan kita harus keluar dari sini bersama-sama."
Mereka terus merayap di atap, mencari jalan keluar yang aman, sambil berharap bisa melewati situasi yang semakin berbahaya.
Pertemuan tak terduga mereka telah mengubah nasib mereka, dan mereka belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Ayo, jangan lembek sekali jadi pria. Kamu bisa!" Sarah memberi semangat lalu merangkul Luca, menopang tubuh setinggi 180 cm itu di bahunya yang lebih pendek.
"Lembek?" Luca menatap tajam ke arah Sarah, tetapi wanita itu malah melihat ke arah lain dengan serius. Mencari jalan keluar.
Mereka merayap di atap yang licin, mencari tempat yang aman untuk melompat turun ke jalan. Hujan semakin deras, membuat langkah mereka semakin berat.
Sementara itu, pria-pria yang mencari mereka semakin mendekat. Terdengar derap langkah yang cukup serempak.
"Astaga, mereka kok cepat sekali," geram Sarah. Rambut Sarah sudah basah seluruhnya. Rambut berkepang dua yang basah itu malah menambah kecantikan alami dari wajahnya.
Luca menatap wanita pengantar makanan itu dengan lirikan tajam. Seandainya mereka bertemu dalam kondisi normal, Luca mungkin akan menelan gadis itu bulat-bulat.
"Kita harus menemukan jalan keluar segera," kata Luca dengan napas terengah-engah. "Mereka akan mengejar kita."
Sarah mengangguk, mata cemasnya memindai sekeliling atap yang gelap. Tiba-tiba, dia melihat tangga besi yang turun ke bangunan sebelah. "Ayo, Luca, ada tangga ke sana. Kita bisa mencoba melarikan diri lewat sana."
Luca setuju, dan mereka melompat ke tangga besi, merasa dingin yang menusuk kulit mereka.
Mereka turun dengan hati-hati, langkah demi langkah, hingga mencapai lantai yang lebih rendah.
Tiba-tiba, pintu darurat terbuka di depan mereka, dan seorang pria keluar dengan sigap.
"Ha ha ha, kalian tertangkap!" Suara pria bertubuh besar itu menggema di ruangan terbuka seiring petir yang menggelegar.
Anda Mungkin Juga Suka





