
Gairah Cinta Mr. Luca
Bab 3
Sarah dan Luca terpaku, tetapi sebelum pria itu bisa bereaksi, Luca melompat ke depan, menendang pria itu ke dinding.
Pria itu lalu menerima tendangan sekali lagi dari Luca sehingga dia pingsan. Mereka berdua berlari menjauh, meninggalkan pria itu terduduk dan pingsan.
"Ayo, pergi!" teriak Luca, giliran dia menarik tangan Sarah.
Mereka melanjutkan perjalanan mereka melalui lorong-lorong yang gelap, berusaha menghindari semua yang mencurigakan.
Setelah beberapa saat, mereka tiba di luar gedung tersebut, di belakang barisan toko-toko kecil yang tertutup.
"Kita harus menemukan tempat berlindung," kata Luca, tetap berpegangan pada luka tembakannya. "Mereka tidak akan berhenti mencari kita."
Sarah memikirkan sebentar sambil melihat wajah Luca yang sudah sangat pucat, lalu mengangguk. "Aku punya seorang teman, seorang dokter yang tinggal di dekat sini. Dia bisa membantu dengan luka tembakmu. Kita singgah ke sana terlebih dahulu."
Luca mengangguk dan membiarkan Sarah yang mengarahkan jalan untuk mereka lalui.
Mereka melanjutkan perjalanan ke rumah teman Sarah, memasuki apartemen kecil yang tertutup rapat.
Teman Sarah, Emily, seorang wanita berusia tiga puluhan dengan rambut cokelat gelap, terkejut melihat mereka berdua.
"Sarah, apa yang terjadi? Siapa pria ini?" tanyanya dengan gemetar.
Sarah memberikan penjelasan singkat tentang kejadian di restoran dan luka tembakan yang diderita Luca. Emily adalah seorang dokter hewan. Dia tidak pernah menangani luka pada manusia, apalagi luka peluru.
"Sarah, kamu sudah gila. Aku tidak pernah menangani luka pada manusia, apalagi ini luka tembak!" Dokter Emily berkata di balik kacamata tebalnya dengan nada tinggi dan menatap tajam ke arah Luca.
"Tolonglah dia, Emily. Kata mendiang Ayahku, sebagai manusia, kita harus saling tolong-menolong, apalagi kamu sebagai dokter yang mengerti .... "
"Sudah-sudah ceramahnya. aku menyerah! akan kubantu!" sahut Dokter Emily dengan wajah tidak suka. Ia sangat anti bila Sarah sudah mulai menyebut petuah dan nasehat dari mendiang ayahnya.
Dokter Emily segera membantu Luca dengan luka tembakannya, membersihkan dan menjahitnya. Memberikan obat bius sehingga ia dapat mengeluarkan peluru dari bahunya.
Setelah menyelesaikan pengobatannya, Emily mengusir mereka dengan halus.
"A-aku takut terlibat terlalu jauh. Sepertinya kalian harus mencari tempat lain untuk berlindung," ucap Dokter Emily tanpa berniat berbasa-basi lebih lama.
Sarah dan Luca mengerti perkataan Emily. Mereka lalu melanjutkan perjalanannya.
Dokter Emily segera membersihkan ruangannya agar tidak meninggalkan jejak apapun.
"Eh, ini apa? Astaga, aku salah menyuntikkan obat bius! Ini obat biusnya. Lalu yang tadi itu apa?"
Dokter Emily menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan bilang itu obat perangsang untuk kuda yang akan kawin silang besok pagi di perternakan Pak John!" pekik Dokter Emily sambil menepuk kepalanya dengan keras.
"Astaga, gadis polos itu dalam bahaya besar!"
Dokter Emily berusaha menghubungi ponsel milik Sarah, tetapi hanya jawaban dari mesin yang dia terima.
"Gawat."
***
"Sialan," gumam Luca dengan napas yang terengah-engah. "Kita terjebak dalam masalah besar kalau tidak menemukan tempat untuk bersembunyi. Aku mulai merasa aneh!"
"Aneh? Apa maksudmu?" Sarah merasa cemas, tetapi dia juga tahu dia tidak bisa meninggalkan Luca dalam keadaan seperti ini.
"Sepertinya obat penahan nyeri yang diberikan Dokter tadi tidak cocok untuk tubuhku," sahut Luca sambil memegang area tengah dadanya yang berpacu dengan kencang.
"Mari kita tidak memikirkan hal itu. Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi. Mengapa mereka mengejarmu?"
Luca menggigit bibirnya sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku adalah seorang anggota mafia, Sarah. Mereka adalah rival kami. Itu sebabnya mereka ingin membunuhku."
Sarah terkejut mendengar pengakuan Luca. Dia tidak pernah membayangkan bahwa dia akan terlibat dengan seseorang seperti Luca. Namun, dia tahu bahwa mereka harus bekerja sama jika ingin bertahan hidup.
Malam itu, mereka merencanakan langkah-langkah selanjutnya. Akhirnya Sarah menyembunyikan Luca di apartemennya, yang berada di lantai bawah.
"Sementara kita di sini dulu. Tempat ini tidak mewah, tetapi bisa untukmu memulihkan tenagamu. Lihat, wajahmu pucat sekali," ucap Sarah sambil membantu Luca berbaring di ranjang kecil miliknya.
Anda Mungkin Juga Suka





