
Gairah Bad Boy Salah Sasaran
Bab 2
Tunggu! Apa dia Vivian?
Elang memperhatikan kembali perempuan tersebut dan menyadari bahwa dia bukan Vivian. Elang memaki dalam gumaman kecil, "Brengsek! Siapa yang berani menempatkan perempuan ini dalam tendaku?"
Kondisi gelap membuat Elang tidak bisa mengenali siapa yang sedang lelap di sampingnya. Untuk menyalakan penerangan, Elang juga merasa enggan. Selain pusing dan mengantuk, Elang justru berpikir sesuatu yang mungkin menguntungkannya.
"Aku bahkan tidak mengingat siapa yang biasa memakai parfum sialan ini, padahal rasanya aku sering mencium baunya. Benar-benar membuat otakku makin sinting!" Pemuda setengah mabuk itu mengeluh dalam dilema.
Bau wangi dari perempuan yang tidur di sampingnya terasa tidak asing, tapi Elang tidak yakin dengan isi kepalanya sekarang. Akhirnya Elang memilih untuk tidak peduli, hal itu terjadi karena dia mulai kesulitan mengendalikan diri dari hasrat yang mulai membakar, dan tentu saja hal itu jauh lebih penting daripada sekedar mengetahui identitas pemilik bau-bauan yang menggelitik hidungnya.
Dengan setengah hati, Elang menyentuh bahu dari tubuh kecil yang ada di sampingnya. "Mbak … please jangan tidur di sini, ini tenda cowok!"
Merasa beberapa kali guncangannya tidak dihiraukan, Elang mempererat pelukannya. Sebenarnya sih bukan tidak dihiraukan, tapi Elang memang tidak serius membangunkan perempuan tersebut, sentuhannya terlalu lembut tanpa membuat guncangan sedikitpun. Tapi, Elang yang sudah kepanasan tidak mau salah apalagi pusing dengan siapa dia tidur malam ini.
"Emang gue pikirin … yang penting anget!" gumam Elang dengan seringai mesum.
Tidak ada yang salah dengan kelakuan Elang, dia sudah benar dengan tidak memasuki tenda orang lain secara sembarangan. Elang masih sedikit punya kewarasan untuk mengingat dimana dia harus tidur malam ini. Terbukti tas dan sleeping bagnya ada di dalam tenda tersebut, malahan sedang dipakai sebagai selimut oleh perempuan yang tidurnya sangat lelap, seperti orang mati.
Elang yang sudah on fire, memeluk lebih erat dan nekat memasukkan tangannya ke dalam jaket perempuan di sampingnya. Dia ingin menyentuh lebih banyak kulit yang terasa lembut di tangannya. Makin menghimpit dan sedikit menindih perempuan yang seenaknya lelap di dalam tendanya. Elang jelas sedang mencari sesuatu yang lebih dari sekedar kata hangat.
"Bukan salah gue!" serapahnya pada bisikan hati yang melarangnya bertindak lebih jauh. Elang masih sempat berpikir logis tapi jengkel, kenapa masih saja ada kebaikan yang diingatnya lebih dulu sebelum melakukan sesuatu yang seharusnya terlarang?
"Iya … gini udah bener, siapa suruh tidur di tenda orang tanpa permisi!" Elang bermonolog lirih pada bisikan kotor yang memenuhi kepalanya. Membela diri agar tidak merasa bersalah saat melakukan kenakalannya.
Mulut Elang yang sudah gatal mulai menyentuh lembut dan membuai bibir yang rasanya pas saat dihisap. Bibir yang mulai bergerak ringan menolak setiap sapuan lidahnya.
Namun, Elang tidak membiarkan wanitanya menghindar, salah satu tangannya menelusup dan menahan kepala bagian belakang si perempuan, memaksa bibir tersebut tidak lari dan tetap berada dalam kuasanya.
Darah muda Elang yang sudah panas sulit dihentikan, mengalir lebih cepat dari perkiraan. Bahkan tubuhnya kini menekan lebih kuat wanita yang berada dalam dekapannya.
Satu tangan yang sudah menyentuh kulit perut reflek naik ke dada, mengelus dan menggenggam benda lembut yang sudah membuatnya sakit kepala.
"Arrgghh tolo …!" Suara perempuan itu hanya keluar seperti kambing tercekik. Elang membungkam cepat dengan mulutnya yang panas serta gairah yang meledak-ledak.
"Sssssstttt …!" bisik Elang singkat di sela-sela ciumannya, tidak memberi kesempatan sedikitpun pada wanita yang membuatnya panas dingin untuk menjawab. Tangan Elang dengan lincah bermain pada puncak dada yang ikut menegang karena sentuhan intensnya.
"Lepaskan … jangan! Lepas, jangan, lepaskan!" Suara manis yang tenggelam dalam mulut Elang mengerang memohon belas kasihan.
Di antara sadarnya yang mulai lengkap, perempuan bernama Nindya itu berusaha mengenali orang yang ada di atasnya dan sedang mencium dengan intens.
Nindya hanya berpikir pria itu adalah tunangannya. Salah satu dosen muda di kampus yang sama tempatnya mengajar. Nindya meminta tolong pada Daniel untuk mengantar ke acara makrab mahasiswa baru karena tidak enak jika harus berangkat bersama ketua jurusan dan bagian kemahasiswaan. Selain faktor jarak usia, Nindya juga tidak mau satu mobil dengan dua pria beristri.
Nindya masih berusaha melepaskan diri, mendorong lembut bahu pemuda yang menghimpitnya. "Daniel, stop! Mulutmu bau alkohol, mabuk kamu itu!"
Elang menulikan telinganya. Tidak peduli pada kalimat lirih Nindya. Kewarasan Elang bukan hanya diambil alkohol yang baru beberapa waktu lalu diminumnya, tapi dikuasai oleh birahi yang menggelegak di seluruh nadi. Bayangan tubuh Vivian mendadak mengaburkan semua sudut pandangnya.
Elang yang sedang kesurupan hasratnya semakin menjadi-jadi, tangannya memaksa bergerilya dan membuka pakaian bagian bawah Nindya yang sukses ditindihnya secepat mungkin.
"Arrgghh nggak, no no no … jangan, Daniel! Lepaskan!" Suara memelas dan memohon kembali terdengar miris, tapi sayangnya tidak digubris oleh Elang. Dalam pikiran Elang, Vivian tidak mungkin menolaknya. Dia hanya perlu berusaha sedikit lagi untuk mendapatkan semuanya.
Elang dengan semangat memposisikan dirinya di antara paha wanita yang setengah hati menerimanya, Elang benar-benar siap untuk menenggelamkan gairahnya yang tegak menantang.
Karena istilah kentang alias kena tanggung, bukanlah bagian dasar dari seorang Elang.
Nindya mengeluh dalam hati, Daniel jarang sekali mabuk dan berbuat seliar ini padanya. Tapi jika dia menolak dan membuat keributan, bukan mustahil semua orang akan tahu kelakuan mereka. Nindya tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dan juga tunangannya.
Hanya saja, mengapa wangi parfum Daniel di indera penciumannya serasa bukan yang biasanya?
Dalam situasi panas dan intim seperti itu, yang dipikirkan Elang hanya bagaimana caranya dia cepat mencapai puncak kenikmatan dan meredakan ketegangannya.
Jadi, dengan tergesa Elang menghentakkan tubuh bagian bawahnya hingga langsung menyentuh dasar wanitanya, menariknya perlahan lalu mengulang dengan tempo yang lebih cepat.
Suara pekik kecil di bawah Elang ditutupi dengan ciuman panas tanpa henti dan tanpa ampun. Kewarasan Elang benar-benar berada di titik nol sehingga dia tidak sudi mendengarkan keluhan apapun.
"Sayang …!" Desis pelan tidak berdaya kembali menghampiri pendengaran Elang. Terdengar parau seperti sebuah desahan.
Elang bangga saat Nindya bergumam dengan panggilan mesra. Sebenarnya tidak bisa dibilang mesra, suara Nindya lebih ke nada protes dengan nafas tertahan menghadapi hasrat liarnya.
Nafas Elang memburu, peluhnya jatuh menetes pada wajah di bawahnya, lalu erangannya keluar bersama dengan gigitan pelan pada bibir bawah Nindya yang tak berkutik melawan pelukan posesifnya.
"I got it, thanks ya, Vi!" Tanpa merasa bersalah, Elang turun dari tubuh yang sudah membantu mengurangi kram otaknya. Elang lalu mengelap bekas basah bagian bawahnya dengan kaos yang baru saja ditanggalkan.
Dengan pikiran rumit, Elang berusaha mengembalikan setengah otaknya yang tadi menghilang dalam kegilaan. Elang membuka tas dan mengambil pakaian ganti, mengenakannya dengan cepat sambil melirik perempuan yang masih terkapar tak berdaya.
"Siapa kamu?" tanya Nindya gelagapan. Siapa yang dimaksud Vi oleh pasangan bercintanya?
Suara itu tak asing, tapi bukan milik tunangannya, membuat Nindya bergerak cepat menutupi bagian tubuhnya yang masih terbuka.
Elang tercekat mendengar pertanyaan perempuan yang baru ditidurinya. Dia spontan mengamati wajah yang sekarang membuatnya penasaran. Sedikit gentar saat menebak suara perempuan yang hampir setiap hari didengarnya di laboratorium penelitian.
Namun, Elang masih terkesima dengan rasa yang baru saja didapatkan dengan tidak menjawab pertanyaan Nindya dan menjelaskan siapa dirinya. Elang justru melamunkan petualangan ranjangnya bersama pacar-pacarnya.
Sejauh dalam ingatan Elang, dia belum pernah merasakan kedalaman yang sangat menghanyutkan seperti yang baru saja diselaminya.
Semua wanita yang pernah bercinta dengannya memiliki rasa yang hampir sama, hanya menyenangkan saat gairahnya meledak, lalu rasanya hilang tanpa sedikitpun meninggalkan desiran aneh di dadanya.
Beberapa saat kemudian Elang menyadari kesalahannya. Elang kembali ingat kalau Vivian memang hanya ada dalam pikirannya sejak dia masuk tenda. Tapi sialnya pesona Afrodit dalam tubuh Vivian sangat mempengaruhi pikiran Elang yang sedang mabuk, hingga dia menganggap fantasi bercinta dengan Vivian adalah nyata.
"Ini salah paham, Bu Nindya!" ujar Elang pucat dan penuh sesal sesaat setelah menyalakan ponsel dan mengamati wajah cantik di depannya.
Satu tangan Elang reflek menutup wajah, mengintip wajah Nindya di antara jari telunjuk dan tengah. Elang lalu menggeleng dengan berat, tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya pada Nindya. Mulutnya bersuara sesal, berdecak dengan nada putus asa.
Nindya melebarkan mata, menaikkan kedua alis dan menyahut galak,"Ini bukan salah paham namanya, El! Ini murni salah paha!"
Dosen muda yang jadi pembimbing tugas penelitian Elang terus saja melotot tajam sambil memegangi pusat tubuhnya yang nyeri, lengket dan berdarah. Dia mengumpat kasar karena mengira pria yang menyentuhnya adalah sang tunangan. "Brengsek!"
Kalau saja tidak dalam situasi serius, Elang pasti sudah tergelak mendengar kalimat ketus Nindya. Dosennya memang benar, Elang benar-benar sedang salah sasaran. Alih-alih mengeksekusi paha Vivian, dia justru salah paha dengan dosen pembimbingnya, Nindya.
"Maaf," lirih Elang dengan ekspresi bersalah, tiba-tiba saja Elang ingin menangis seperti anak kecil yang dimarahi ibunya.
PLAK!!!
Satu tamparan keras mendarat pada pipi Elang. "Bajingan kamu!"
PLAK!!!
Satu kali lagi Elang mendapatkan tambahan dari rasa sakit hati perempuan yang menatapnya dengan geram. "Mahasiswa sialan!"
"Sekali lagi maaf, tadi itu benar-benar tidak sengaja!" kata Elang berusaha mengajak Nindya bicara baik-baik.
PLAK!!!
Tapi sekali lagi tangan halus Nindya menyentuh pipi Elang dengan kasar, tidak sudi mendengar permintaan maaf dari pemuda yang memasang wajah seperti kucing kehilangan induknya.
Elang menangkap tangan yang mendarat di pipinya, bukan sakit yang dirasa tapi sejenis dengan harga dirinya yang terinjak saat wanita itu terus saja melayangkan tangan tanpa mau diajak bicara.
“Please …!” pinta Elang sekali lagi dengan sangat memelas. Dia menggenggam tangan Nindya erat, menariknya perlahan dan mengarahkan pada bibirnya.
"Never!" Nindya berusaha menarik tangannya tapi tidak berhasil.
Elang mencium telapak tangan yang baru saja menamparnya dengan penuh kelembutan. “Aku hanya ingin bicara, Nindya!”
Panggilan langsung ke namanya membuat Nindya semakin melebarkan mata tak percaya. “Kamu panggil saya Nindya saja? Nggak pake lagi? Jaga bicaramu, El! Aku bukan pacarmu!”
"Ibu bisa menampar saya lagi kalau memang belum puas," ujar Elang melepaskan tangan Nindya dengan kesal. "Tapi itu tidak menyelesaikan permasalahan!"
Nindya hanya diam dalam sendu, apa yang dilakukannya dengan Elang barusan memang tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang dari dirinya. Virginitas. Entah itu penting atau tidak, tapi Nindya memang menjaganya dengan baik selama ini.
"Sekali lagi saya minta maaf!" Elang tidak tahu bahwa kelakuannya yang hanya satu kali itu akan membawa dampak dan cerita panjang bersama perempuan yang berprofesi sebagai dosen muda di kampusnya. Perempuan yang sedang membimbing tugas penelitiannya agar segera selesai dan bisa diseminarkan.
Nindya melengos menahan air mata, bagaimana jika tunangannya tahu kalau dia salah mengenali orang yang masuk ke dalam tendanya dan bercinta dengan orang tersebut?
***
Anda Mungkin Juga Suka





