
Gairah Bad Boy Salah Sasaran
Bab 3
Elang ikut gusar melihat wajah sendu Nindya. Meski terlihat tenang tapi mata Nindya menyimpan luka saat menatapnya.
"Bu Nindya kok bisa-bisanya tidur di tenda saya?" tanya Elang terkena serangan panik setelah matanya bersirobok dengan dosennya. Dia takut Nindya menangis dan histeris karena merasa dilecehkan oleh mahasiswa yang sedang dibimbingnya.
Dosen muda cantik di depan Elang menaikkan alisnya tinggi, menjawab dengan galak pertanyaan konyol dari Elang yang tidak masuk akal didengar telinganya. "Ketua panitia yang menempatkan saya di sini!"
Well, Elang sekarang merasa jadi orang paling tolol sejagad mapala, kenapa dia tidak bertanya pada ketua jurusan yang tadi mengobrol dengannya?
Karena harusnya beliau datang bersama istrinya yang menjabat sekretaris jurusan teknik kimia. Wanita pasangan kajur yang juga mendapatkan undangan untuk menghadiri malam keakraban penyambutan mahasiswa baru.
"Jadi Bu Nindya datang mewakili istri ketua jurusan? Bu Dewi nggak bisa datang ya?" Elang menelan ludah kasar setelah bertanya.
"Ya, beliau yang memberi tugas ini karena sedang kurang enak badan untuk memenuhi undangan kegiatan lapangan!" jawab Nindya sinis. "Jadi bagaimana sekarang?"
Elang mendadak sakit kepala ditanya seperti itu. Dia berniat menjawab pertanyaan dengan pertanyaan 'bagaimana kalau kita ulang sekali lagi? Tadi itu enak sekali.'
Tapi kalimat mesum itu sama sekali tidak keluar dari bibir tipisnya. Elang hanya memijat pelipisnya dan berharap kewarasannya segera datang secara utuh. "Bisa kita bahas besok saja, Bu Nindya? Kepala saya sedang error."
Nindya melebarkan mata bersiap menyahut sengit, tapi dia juga merasa akan sia-sia jika berbicara dengan Elang yang setengah mabuk, hingga akhirnya Nindya mengangguk kesal.
Elang lega melihat gerakan kepala Nindya meski itu dilakukan dengan terpaksa. Nindya sendiri langsung merapatkan kedua paha yang hanya tertutup kantung tidur milik Elang, karena pemuda yang duduk memegang ponsel di depannya sedikit mengarahkan cahaya ke bagian bawah tubuhnya.
"Mau apa lagi kamu?" sarkas Nindya dengan suara marah tertahan.
"Apa semua baik-baik saja? Sa-kit kah?" tanya Elang cemas. Dia tidak pernah bermain kasar apalagi memaksakan diri pada wanita. Elang memasang ekspresi menyesal sebelum bicara lagi pada wanita yang sekarang menjaga paha dari lirikan nakalnya. "Itu tadi … em ketat sekali!"
PLAK!!!
Elang menutup mulutnya yang lancang. Pujiannya berbuntut tamparan, meski tidak sekeras yang pertama tapi tetap menyakiti harga dirinya sebagai laki-laki. Kalau saja dia tidak dalam posisi salah, mungkin Elang akan membalas dengan kembali menaiki Nindya sekali lagi.
"Maaf, tapi memang rasanya …," gumam Elang tak selesai. Dia hanya menatap Nindya dengan raut yang tidak bisa ditebak.
Nindya membisu. Rasanya memang sedikit sakit karena kurang pelumas saat Elang menerobosnya, tapi Nindya tidak memungkiri pengalaman pertamanya tidak akan membuat trauma. Dia wanita dewasa yang memahami hubungan seperti itu mungkin saja terjadi pada siapa saja.
"Saya tidak tahu kalau Bu Nindya masih perawan!" Suara Elang terdengar lugu dan tanpa merasa bersalah. Tapi ada apresiasi dan kebanggaan yang tersirat dari gaya dan nada yang dihasilkan.
"Setelah tau lalu apa?" Meski berusaha tidak menikmati sentuhan Elang yang liar tadi, tapi sekujur tubuh Nindya bereaksi mengkhianati otaknya yang penuh dengan kata penolakan.
Nindya benci Elang karena bisa membuatnya mengira Daniel yang datang dan mengajaknya bercinta. Nindya benci karena ternyata dia lebih menyukai sentuhan ala Elang daripada tunangannya. Nindya benci menemukan fakta baru kalo dia lebih menyukai Elang yang liar daripada tunangannya yang konservatif.
"Maaf," lirih Elang mengulang kata paling jitu untuk membuat pengakuan bersalah sekaligus memohon pengertian.
"Sudah tidak ada gunanya, simpan maaf itu untuk dirimu sendiri!" potong Nindya cepat.
Satu-satunya hal yang membuat Nindya khawatir adalah jika apa yang dilakukan Elang akan meninggalkan benih yang mungkin akan hidup dalam rahimnya.
"Saya … kebablasan!" Elang masih berusaha memperbaiki keadaan yang tegang dengan berkata lebih jujur.
"Bagaimana jika aku hamil?" tanya Nindya galau. Elang dengan kurang ajar tidak mengenakan pengaman saat menjelajahi kedalaman basahnya.
Elang mengetuk kepalanya dengan ponsel, cengar-cengir pada Nindya lalu mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau harus menjawab apa sekarang, pikiranku sedang kacau!"
"Kamu tadi mengeluarkannya di dalam kan?" tanya Nindya setengah berbisik.
"Iya." Elang termangu, dia belum pernah lepas kontrol sebelumnya. Sedikit menyesal karena alkohol membuat otaknya tidak berpikir logis. "Tapi mau gimana lagi? Sudah terlanjur terjadi."
"Bagus! Kamu membuatku takut sekarang," ungkap Nindya dengan setetes air mata yang segera diusapnya.
"Maaf!" Hanya kata itu lagi yang keluar dari bibir Elang. Selanjutnya, dengan cekatan Elang membantu Nindya merapikan pakaian, mendorongnya agar berbaring lalu menyelimutinya rapat.
"What are you doing, El?"
"Sebaiknya Bu Nindya tidur, besok kita bicara lagi! Saya akan carikan solusi untuk hal fatal yang baru saja terjadi. Saya ada di depan tenda jika ibu butuh sesuatu!" jawab Elang dengan nada rendah dan lembut. "Atau ibu mau minum dulu mungkin biar tenang? Saya bisa buatkan susu atau sereal jika ibu mau."
Elang dalam kebimbangan, meski sedikit mabuk tapi dia masih bisa berpikir tentang obat pencegah kehamilan untuk Nindya.
Tapi … haruskah Elang sepicik itu? Pergulatan batinnya tidak menemukan jawaban yang tepat. Elang butuh waktu menjernihkan kepala agar tidak salah saat membuat keputusan.
"Sereal," jawab Nindya singkat. Dia menurunkan selimut sebatas pinggang lalu menghembus nafas berat.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Elang keluar meninggalkan Nindya lalu menggelar matras tipis di depan tenda. Selanjutnya menyalakan kompor lapangan yang selalu dibawanya saat berkegiatan di alam terbuka dan mulai membuat dua sereal, untuknya dan Nindya.
Kepala Elang berdenyut pusing, bayangan ada anak kecil memanggil papa tiba-tiba menerornya. Lalu bagaimana nasib kuliahnya nanti?
Nindya duduk termenung dengan kepala tak kalah pusing, tangannya terulur menerima sereal dari Elang. "Kamu mau kemana?"
"Saya tidak kemana-mana, berjaga di luar tenda," jawab Elang lembut.
"Sepertinya aku butuh udara segar! Aku mau duduk di luar juga!"
"Tapi tidak enak dilihat orang kalau ibu juga ikut duduk di luar," tolak Elang halus. Dia tidak mau kepergok Vivian yang ada di tenda sebelah saat berduaan dengan dosen pembimbingnya. Ups … entahlah!
"Di dalam tenda sendirian lebih berbahaya, apalagi kamu tidak jauh dari tempat saya tidur! Otakmu sedang setengah sinting, dan aku takut yang tadi itu kamu ulangi lagi!" gerutu Nindya dengan wajah cemberut.
Elang menahan gerakan Nindya, "Tetap di sini dan segera istirahat, besok arung sungai akan melelahkan. Butuh kondisi sehat untuk rafting selama tiga jam! Apalagi ibu baru saja ehm ehm sama saya dan kehilangan keperawanan!"
"Apa? Jangan ngacau kamu, tidak ada orang kehilangan keperawanan jatuh sakit dan kejang-kejang, Elang! Yang ada jatuh enak, makanya malam pertama diulang setiap hari bagi yang sudah menikah," sindir Nindya penuh sarkasme.
"Kalau memang jatuh enak … apa mungkin yang tadi itu terulang lagi? Apa artinya ibu mengizinkan saya untuk ehm …?" tanya Elang dalam gumaman untuk dirinya sendiri.
"Hah, apa katamu barusan? Kamu bahkan belum menikah tapi sudah mahir melakukan 'hal itu'. Jangan ngimpi bisa terulang lagi, El! Gila apa?"
"Katanya tadi enak? Lagian saya laki-laki normal, Bu! Saya juga udah dewasa, lagian kalau cuma mimpi bisa mengulangi, apa salahnya?" sungut Elang membela diri.
"Jadi kalau saya sampai hamil karena kamu, itu salah siapa?" Nindya mengancam dengan tatapan bengis.
"Salah Bu Nindya sendiri kenapa tidur di tenda saya tanpa suara, saya udah coba bangunkan loh tadi." Elang menutup telinganya, tidak bersedia mendengarkan apa-apa lagi dari mulut Nindya. Dia memilih beringsut keluar tenda, "Saya ada di depan!"
Elang merapatkan resleting tenda yang ditempati Nindya dari luar, duduk diam lalu mulai menyalakan rokok, menghisap dalam gundah. Elang membuat susu lagi setelah serealnya habis untuk mengikis kekalutan.
Pikiran Elang runyam, antara takut harus bertanggung jawab atau justru menghindar agar tidak bertemu lagi dengan dosennya itu. Antara membiarkan Nindya memiliki kemungkinan untuk hamil, atau segera memberikan obat penangkalnya.
Menikah muda itu sama sekali bukan cita-cita Elang, apalagi menjadi ayah di usia 22 tahun!
Satu jam berikutnya, mata Elang mulai sayu, mengantuk karena perut kenyang. Juga karena ketegangannya sudah dilepaskan.
Elang mematikan rokok yang masih tersisa setengah batang, menjauhkan bekas gelas dan kompor mini dari matras lalu merebahkan badan.
Dalam hati dia berharap bisa bangun pagi dan lebih bugar saat membawa mahasiswa baru mengarungi sungai dengan perahu.
Pemuda berwajah kusut itu melipat tubuh agar tidak terlalu merasakan dingin dan menutupi wajah dengan topi rimba agar terlelap lebih cepat. Tak lama, dengkur halus sudah keluar dari mulut Elang.
"Elang! El, ngapain kamu tidur di sini?" Satu suara membangunkan Elang yang baru saja memulai mimpi indahnya.
"Oh, Arga? Ada Bu Nindya di dalam tenda. Ryan sialan itu ngasih tenda kita buat tamu lain karena istri ketua jurusan nggak datang." Elang menjelaskan singkat sambil menguap lebar. Matanya menyipit saat cahaya senter Arga menerpa wajahnya.
"Kenapa Bu Nindya nggak tidur sama tunangannya saja daripada tidur sendiri-sendiri." Arga bicara spontan dan cengengesan.
"Kok kamu tau kalau dia datang sama tunangannya? Gila, mulutmu kalau ngomong jangan sembarangan, mana bau banget lagi!" kata Elang yang tau pasti kalau temannya itu dalam keadaan lebih mabuk darinya.
"Aku yang nyambut kedatangan mereka dan ngasih tenda pak puket ke tunangan dosenmu itu! Nggak mungkin kajur, puket dan tunangan Bu Nindya ada dalam satu tenda, masa iya petinggi mau dikasih satu tenda isi tiga. Terpaksa aku ngalah ngasih tenda kita buat Bu Nindya. Kamunya sibuk sama Vivian terus makanya ketinggalan berita. Dah ah aku mau tidur sama anak-anak kalau gitu! Ayo ikut sekalian daripada membeku di sini!" ajak Arga menatap Elang dengan ekspresi kasihan.
"Udah males jalan, pusing! Lagian kalau ada yang masuk tenda ini gimana? Dikira kita ada di dalam? Salah besar kita nanti. Aku yakin yang ketinggalan berita bukan cuma aku saja!" Elang membuat alasan tepat.
"Em iya juga … eh ya tenda sebelah kanan Vivian kan El? Nggak beraksi? Siapa tau doi butuh kehangatan di malam dingin begini, lumayan satu celup dua celup," goda Arga tertawa ringan. Bau alkohol dari mulut menandakan kalau Arga juga sudah tidak jernih pikirannya, mulai kotor dan mesum.
"Minggir sana! Jangan bikin masalah di sini, garap ntar aja kalau udah mulai kuliah reguler!" usir Elang kesal.
"Baiklah rivalku, aku tidak takut tantangan!" bisik Arga geli. Otaknya sudah berkelana memikirkan paha Vivian yang putih mulus seperti paha Syahreni.
Elang kembali meringkuk memeluk lututnya ketika Arga pergi menjauh menuju tenda panitia. Udara terbuka di malam hari terlalu dingin untuk tidur tanpa memakai sleeping bag. Gigi geraham Elang bahkan sesekali terdengar bergemeretak karena menggigil.
"Sial," gerutu Elang di sela-sela tidurnya yang tak nyenyak. "Mimpi apa aku tadi bisa sampai salah paha? Mana paha perawan, mana tunangan orang. Mati aku!"
***
Anda Mungkin Juga Suka





