Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis yang Ternoda

Gadis yang Ternoda

Akibat insiden satu malam yang berujung pada kehamilan Leanna, Dean terpaksa membatalkan rencana pernikahannya dengan Trisha. Meski kini terikat dalam ikatan rumah tangga, api kebencian masih berkobar di hati Dean karena ia menganggap Leanna sebagai penghancur kebahagiaannya. Di tengah dinginnya sikap sang suami, mampukah Leanna meluluhkan kekerasan hati Dean? Perjuangan Leanna mencari cinta dalam pernikahan yang diawali dendam ini pun dimulai.
Bab
Bagikan

Bab 2

Leanna tersentak dari lamunannya ketika ia merasakan sebuah pelukan tangan kekar yang merapatkan tubuhnya pada Leanna, “Maafkan aku! Aku mencintaimu,” bisik pria itu dengan mata tertutup. Sedang tangan kekarnya yang tadi memeluk erat tubuh Leanna, mulai bergerak menyusuri bagian lain yang lebih sensitif.

Leanna menggigit bibir bawahnya ketika jari tangan pria itu nyaris mencapai pusat dirinya.

Membuat Leanna memekik tertahan, sebelum ia berteriak dengan lantang, “Jangan!” hingga pria itu tersentak membuka matanya, dan seakan kaget ketika melihat wajah Leanna yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Pria itu segera bangkit berdiri dari tidurnya.

Setelah ia memakai celana yang tergeletak dilantai dengan gerakkan cepat. Ia menatap Leanna yang sedang berusaha untuk duduk diatas tempat tidur sambil merapatkan selimutnya.

“Mengapa kau bisa ada dikamarku?” bentak pria itu dengan mata yang berkilat karena kemarahan. Ia menyorot tajam pada Leanna yang menatapnya dengan berkaca-kaca.

Leanna hanya bisa terdiam dalam ketakutan. Ingin sekali ia membuka mulutnya untuk menjawab, namun entah mengapa lidahnya terasa begitu kelu.

“Jawab!” bentak Dean.

“A.. aku, semalam. Kita.”

“Ya Tuhan! Apa yang kalian lakukan?” belum sempat Leanna menyelesaikan ucapannya, Ibu Leanna yang baru sadar tadi pagi bahwa Leanna belum pulang sejak semalam. Memutuskan untuk datang menyusul ke rumah Dean. Kini, dua orang itu menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka lebar dengan ekspresi yang sama kagetnya.

“Ibu!” pekik Leanna. Ia makin merapatkan selimutnya. Tidak menyangka ibunya akan datang dan melihat keadaannya yang seperti ini.

“Leanna! Dean! Kalian..” Ibu tak sanggup melanjutkan perkataannya. Ia memegang kepalanya yang tiba-tiba pening, “Siapa yang akan menjelaskan tentang apa yang aku lihat sekarang ini!” teriaknya. Leanna menunduk ketakutan. Sedangkan Dean menatap Leanna dengan tatapan mengintimidasi. Lalu kembali menoleh ke arah calon ibu mertuanya.

“Aku tidak tahu! Tiba-tiba saja saat aku terbangun, Dia sudah ada ditempat tidurku tanpa sehelai pakaian,” tegas Dean dengan nada tak mau disalahkan. Leanna menoleh ke arahnya. Ia tidak percaya dengan apa yang Dean katakan. Bukankah semalam Dean sendiri yang merenggut kesucian Leanna dengan memaksanya? Tapi, mengapa sekarang Dean bersikap seolah tidak tahu apa-apa? Leanna menoleh pada ibunya yang menatapnya dengan tatapan terluka. Kemudian memberanikan diri untuk berkata,

“Ibu, aku ..”

“Aku tidak bemaksud menghianati Trisha. Aku bahkan tidak ingat apa yang sudah terjadi semalam.” Dean memotong perkataan Leanna. Ia meremas rambutnya sendiri dengan gusar. Dean bahkan tak bisa memutar otaknya untuk berfikir tentang mengapa ia bisa satu tempat tidur dengan calon kakak iparnya sendiri yang entah kapan datangnya.

Dengan mata yang memerah karena menahan kemarahan, kini tatapan ibu tertancap pada Leanna yang penampilannya kusut dan awut-awutan. Leanna menatap nanar ibunya yang sudah bergerak melangkah menuju ke arahnya.

Plak!

Satu tamparan yang melayang dari sebuah tangan yang halus, namun terasa begitu kasar dan menyakitkan. Hingga membuat Leanna tersungkur ke tengah tempat tidur. Leanna merasakan sakit yang begitu dalam. Tapi bukan pada pipinya yang memerah akibat tamparan ibu. Melainkan pada ulu hatinya yang terluka. Ini kali yang pertama. Ibu menamparnya.

“Sejak kapan ibu mengajarimu untuk menjadi wanita murahan?” teriak ibu tepat di telinga kiri Leanna. Leanna segera menoleh kearah ibunya yang sudah memegang dadanya sendiri, “Ibu.. aku bisa jelaskan,” mohon Leanna yang mencoba meraih tangan ibunya, namun selau ditepis dengan kasar.

“Cukup!” bentak ibu mengangkat tangannya sebagai tanda Leanna untuk berhenti berbicara, “Apapun yang mau kau jelaskan, jelaskanlah dirumah. Didepan ayah dan adikmu!” tekan ibu. Leanna menggelengkan kepalanya, ia menangis dengan berusaha terus menggapai tangan ibunya untuk memohon. Namun selalu ditepisnya lagi dan lagi.

Ibu menatap Dean tak kalah tajamnya, “Dean! kau juga harus ikut dengan tante!” perintahnya. Dean membelalakan matanya terkejut, “Tapi untuk apa? Jangan katakan kalau tante akan meminta pertanggung jawabanku tentang ini? Jika itu yang tante maksud, jelas aku akan menolak. Aku akan menikah dua hari lagi kalau tante lupa. Dan satu lagi yang harus aku tegaskan. Aku bahkan tidak ingat apapun semalam. Jadi, aku sama sekali tidak merasa bersalah disini,” papar Dean dengan tegas.

“Tante minta sekali lagi. Kamu ikut tante sekarang!” perintah ibu tak kalah tegasnya. Dean menampilkan raut wajah tidak setuju, “Bahkan orang yang tidak waras pun akan tahu apa yang telah terjadi semalam, setelah melihat keadaan kalian saat ini. Mau ingat ataupun tidak, kalian sudah melakukan kesalahan. Dan setiap kesalahan harus ada pertanggung jawabannya. Jadi, saya minta. Ikut saya sekarang!” bentak ibu dengan rahang yang mengeras.

Baik Leanna maupun Dean, sama-sama tak bisa berkutik ataupun membela diri masing-masing. Saat ini, mereka tak mempunyai pilihan lain kecuali ikut dengan Ibu Leanna yang akan menghadapkan mereka berdua didepan ayah Leanna dan Trisha. Memikirkan hal itu, membuat Dean mengepalkan tangannya rapat-rapat. Ia meremas rambutnya gusar dan berdoa dalam hati, “Semoga saja Trisha tidak membatalkan pernikahan ini.”

***

Plak!

Sebuah tamparan kembali melayang dan mendarat tepat di pipi kanan Leanna. Kali ini dari seorang lelaki yang selalu menjadi panutan dalam hidupnya. Hingga Leanna merasa pipinya begitu panas dan perih. Karena mendapat tamparan ditempat yang sama.

“Ayah,” lirih Leanna.

“Jangan lagi berani memanggil namaku dengan sebutan itu!” hardik Ayah menunjuk Leanna yang terduduk bersimpuh di depannya. Sedangkan Trisha, ibunya, Dean dan juga paman Leanna sedang duduk di kursi ruang tamu dengan melemparkan tatapan merendahkan pada Leanna yang menangis tak berdaya.

“Mulai sekarang, aku mengharamkan mulutmu yang hina itu menyebut namaku,” bentak ayah dengan urat leher yang bertonjolan. Leanna menangis semakin terisak dengan memeluk erat kaki sang ayah. Leanna merasa fisiknya sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit dari semua rasa sakit yang pernah ia rasakan selama hidupnya. Leanna tak menyangka, hardikan itu akan keluar dari mulut sang ayah yang ditujukan padanya.

“Ayah, maafkan aku!” lirih Leanna makin terisak.

Ayah meremas rambut Leanna kemudian menariknya paksa hingga Leanna berdiri, “Minta maaflah pada adikmu! Dia orang yang kau hianati,” perintah ayah lalu tangan kirinya mencengkram dagu Leanna, sedang tangannya yang kanan masih meremas rambut Leanna dengan kuat. Ayah sengaja menghadapkan wajah Leanna tepat dihadapan Trisha yang matanya basah dan sembab.

“Perlihatkan wajah hinamu pada adikmu. Lihatlah dia! Kau tahu dua hari lagi pernikahannya. Dan sekarang, kau malah mengacaukannya dengan menggoda calon pengantin prianya,” geram ayah yang makin mengetatkan cengkraman tangannya. Hingga membuat Leanna meringis. Sejenak mata Leanna bukan tertancap pada Trisha, melainkan pada Dean yang terlihat begitu datar dan tak bereaksi ketika melihat Leanna sedang diadili oleh ayahnya.

Leanna menjerit dalam hati. Mengapa hanya dia yang disalahkan? Mengapa sejak tadi mereka tak menyebut nama Dean sebagai salah satu tersangkanya? Bukankah semua kekacauan yang terjadi juga disebabkan oleh Dean?

“Trisha..” lirih Leanna menatap Trisha yang bahkan tak mau menatapnya sama sekali.

“Aku malu sekali melihatmu. Tapi aku tidak tahu, apa kau masih memiliki rasa malu itu atau tidak.” Ayah yang berkata sambil menghempaskan Leanna ke lantai yang dingin.

“Sudah berapa kali kukatakan kalau Leanna itu iri pada adiknya. Usianya sudah dua puluh delapan tahun, tapi belum juga menikah. Makannya dia mau menggaet semua pria yang menyukai Trisha,” sela paman Leanna.

“Diamlah Rusman!” bentak ayah.

“Kenapa kak? Aku hanya bicara kenyataan kan,” ucap paman yang sepertinya tak mau diam.

Kini mata ayah tertuju pada Dean dan Trisha yang duduk berjauhan, karena Trisha masih tidak mau mendengar penjelasan Dean, “Jadi, bagaimana keputusan kalian? Setelah kejadian memalukan ini?” tenya ayah. Dean langsung menatap ayah, cepat-cepat ia berkata, “Aku tetap ingin menikah! Tapi aku menyerahkan semuanya pada Trisha. Dan aku juga sangat berharap, kalau ia akan mengambil keputusan yang sama,” ujar Dean sambil matanya tak lepas memandang Trisha yang masih menangis karena merasa tidak percaya ia telah dihianati oleh calon suami dan kakaknya sendiri.

“Trisha, ayah menunggu keputusanmu!”

Trisha mengangkat wajahnya, menatap sang ayah. Kemudian ia berkata, “Aku mau pernikahan ini.. dibatalkan!” putus Trisha yang langsung membuat semua mata memandangnya dengan tatapan tak percaya. Terlebih Dean menatap Trisha dengan sorot mata yang terluka.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Sudut Memori
8.6
Citra terjebak dalam kepedihan mendalam setelah Dwiyan pergi meninggalkan luka yang membekas di ingatannya. Di tengah duka itu, ia harus berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Kehadiran Panggih kemudian membawa secercah harapan dan mulai menyembuhkan trauma masa lalunya. Kini, Citra dihadapkan pada pilihan sulit: bangkit demi kebahagiaan baru bersama Panggih atau selamanya terbelenggu oleh bayang-bayang kenangan pahit yang tak kunjung sirna.
Sampul Novel Hanin & Wahyu
8.0
Hanin dan Wahyu adalah saudara kembar yang selalu seiring sejalan hingga mereka dewasa. Namun, perbedaan mencolok muncul saat mereka memilih pasangan hidup. Suratman sukses menjadi konsultan bank dengan istri sekretaris hotel yang ambisius. Sebaliknya, Suratmin hanya bekerja sebagai petugas kebersihan dengan istri ibu rumah tangga biasa. Perbedaan status dan pola asuh anak yang kontras ini akhirnya memicu konflik besar yang mengorbankan masa depan anak-anak mereka.
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Terlahir miskin, aku banting tulang demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone untuk kekasih impianku. Namun, pengorbananku dibalas pengkhianatan saat aku memergokinya bermesraan dengan pria lain. Tak hanya dihina karena kemiskinanku, aku pun dipukuli hingga terpuruk dalam keputusasaan. Di titik terendah itu, sebuah telepon dari ayah mengubah segalanya. Rahasia besar terungkap bahwa aku sebenarnya adalah putra seorang miliarder yang sangat kaya raya.
Sampul Novel JALAN PULANG
8.0
Setelah dua dekade merantau, seorang wanita karier yang sukses memilih pulang ke tanah kelahirannya. Kepulangan ini memaksa dirinya menghadapi memori pahit terkait cinta pertama serta trauma masa kecil yang belum tuntas. Di sana, ia harus berhadapan kembali dengan mantan kekasihnya sembari menentukan pilihan besar yang akan mengubah arah hidupnya selamanya. Sebuah perjalanan emosional untuk berdamai dengan masa lalu yang sempat ia tinggalkan demi masa depan.
Sampul Novel KANDAS!
9.4
Segala pengorbanan dan upaya keras yang telah dikerahkan demi mempertahankan hubungan asmara selama ini ternyata harus menemui jalan buntu. Meskipun seluruh tenaga dan perasaan telah dicurahkan untuk menjaga keutuhan cinta tersebut, takdir berkata lain. Kisah romansa yang diperjuangkan dengan penuh kesungguhan itu akhirnya terhenti di tengah jalan dan hancur berantakan. Harapan yang dulu dipupuk kini sirna saat jalinan kasih itu resmi dinyatakan kandas.
Sampul Novel Neraka di Matanya, Surga dalam Ciumannya
8.3
Dikhianati oleh kekasihnya, Gabriela melarikan diri ke pelukan pria asing dalam sebuah malam penuh gairah sebelum akhirnya menghilang saat subuh. Ia mengira telah tidur dengan seorang playboy, namun sosok itu ternyata Wesley, CEO dingin yang merupakan atasannya sendiri. Meski Wesley tetap bersikap tenang di kantor, ia sebenarnya memendam kecemburuan posesif yang luar biasa karena mengira Gabriela masih mencintai mantan kekasihnya yang tidak setia itu.