Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis yang Ternoda

Gadis yang Ternoda

Akibat insiden satu malam yang berujung pada kehamilan Leanna, Dean terpaksa membatalkan rencana pernikahannya dengan Trisha. Meski kini terikat dalam ikatan rumah tangga, api kebencian masih berkobar di hati Dean karena ia menganggap Leanna sebagai penghancur kebahagiaannya. Di tengah dinginnya sikap sang suami, mampukah Leanna meluluhkan kekerasan hati Dean? Perjuangan Leanna mencari cinta dalam pernikahan yang diawali dendam ini pun dimulai.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tiba-tiba saja Leanna bersimpuh dihadapan Trisha, “Aku mohon Trisha, jangan batalkan pernikahanmu! Aku minta maaf padamu. aku bersalah padamu. Tapi ku mohon! Jangan menghancurkan kebahagiaanmu dengan membatalkan pernikahan ini.”

“Kebahagiaan? Kebahagiaanku sudah hancur sejak penghianatan menjijikan yang kau lakukan!” tegas Trisha mendorong bahu Leanna hingga terjengkang kebelakang.

“Aku hanya berfikir, mungkin saja benar apa yang dikatakan oleh paman. Kau iri melihatku bisa mendapatkan pria tampan dan kaya. Hingga kau nekat untuk menggoda siapapun pria yang mendekatiku,” teriak Trisha disela-sela tangisnya. Leanna menggeleng tak percaya dengan perkataan yang baru saja keluar dari mulut adiknya.

“Aku tidak pernah melakukan itu!” elak Leanna.

“Maling, mana mau ngaku,” sela paman dengan pedas. Leanna memutar kepalanya kasar untuk menatap ke arah pamannya, “Aku bukan maling, paman!” tolaknya.

“Iya, tapi kau wanita penggoda!”

“Aku bukan wanita seperti itu!” Leanna berteriak sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Tak mau mendengar setiap tuduhan dan hinaan yang dilontarkan oleh pamannya.

Paman menatap sinis pada Leanna, “Setelah apa yang telah terjadi semalam, kau pikir sebutan apa yang pantas disematkan padamu? Mustahil kalau kupanggil kau wanita terhormat,” ejek paman.

Leanna mengarahkan pandangannya pada ibunya yang terlihat enggan menatapnya. Leanna mencoba merangkak untuk kemudian memeluk kaki sang ibu dan menangis di pelukannya, “Ibu.. tolong katakana bu! Aku bukan wanita seperti itu. Aku tidak bersalah!” ucap Leanna lirih disela tangisnya.

Leanna mendongkakan kepalanya perlahan untuk menatap wajah ibunya, sejenak Leanna merasa terluka. Ekspresi ibunya nampak datar dan tak peduli. Leanna hendak kembali menghambur menangis dipelukan ibunya, ketika ibunya sudah bergerak melepaskan pelukan Leanna dengan paksa, dan berdiri lalu pergi meninggalkan Leanna yang tersungkur tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Ibu..” panggil Leanna tapi ibunya tetap tak menoleh sedikitpun. Leanna menggerakkan kepalanya untuk menatap pada ayahnya yang masih berdiri tak jauh didekatnya, “Ayah,,” panggil Leanna. Tapi ayahnya juga sama sekali tak memperdulikannya. Ayah malah menatap serius pada Dean.

“Dean! Trisha telah membatalkan pernikahan kalian. Sekarang, bagaimana keputusanmu selanjutnya?” Tanya ayah. Dean terlihat menghembuskan nafasnya kasar, lalu menatap Leanna dengan sinis.

“Apapun yang akan aku putuskan selanjutnya. Yang jelas, aku tegaskan didepan kalian semua. Bahwa aku tidak merasa perlu untuk bertanggung jawab terhadap perempuan ini,” tegas Dean dengan menekan setiap kalimatnya sambil menunjuk ke arah Leanna.

“Aku tak merasa bersalah sama sekali,” lanjut Dean, kemudian ia menatap Trisha dengan sorot pandangan yang lembut dan tenang.

“Trisha! Aku tahu, aku telah membuatmu kecewa dan terluka. Tapi satu hal yang perlu kau tahu. Bahwa kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai. Dan aku akan selalu berusaha untuk membuatmu kembali mau menikah denganku,” ujar Dean dengan tulus. Ia tersenyum ketika Trisha menoleh padanya dan pandangan mereka bertemu untuk sejenak.

Kemudian Trisha berdiri dengan mata yang masih tertancap pada bola mata Dean yang abu. Senyum Dean semakin lebar, saat Trisha berjalan ke arahnya. Dean membentangkan tangan siap menyambut Trisha yang ia kira akan menghambur memeluknya. Tapi, sampai di depan Dean Trisha bahkan tak menghentikan langkahnya.

Trisha terus berjalan melewati Dean hingga membuat Dean berbalik menatap punggungnya dengan rasa kecewa. Setelah Trisha pergi, Dean menggerakkan kepalanya kasar ke arah Leanna. Hingga tatapan mereka bertemu.

Leanna takut bukan main, ketika Dean melemparkan tatapan kebencian dan penuh intimidasi ke arahnya. Leanna menggeserkan tubuhnya yang sedang terduduk di lantai, untuk mundur. Ketika Dean yang bertubuh tinggi menjulang tersenyum culas sambil melangkah kemudian berhenti tepat di depan Leanna. Dean bahkan sampai jongkok untuk menyamakan tingginya dengan Leanna. Dengan jarak sedekat ini, Leanna sekarang tahu bagaimana sorot kemarahan Dean yang sesungguhnya.

“Ini semua karenamu! Ingat selalu raut wajahku saat ini! Agar kau tahu, kalau aku tak akan pernah melepasmu jika sampai Trisha membenciku,” tegas Dean yang berbicara dengan rahang yang mengeras.

“A.. aku tidak bersalah,” ucap Leanna susah payah membela dirinya. Dean malah tertawa mengejek. Membuat Leanna semakin ketakutan melihatnya. Setelah Dean menghentikan tawanya, Dean kembali menatap Leanna dengan tatapan yang menyiratkan kebencian.

“Katakan itu saat nyawamu pergi meninggalkan tubuhmu nanti,” hardik Dean kemudian berdiri dan pergi tanpa sekedar berbasa-basi sedikitpun pada ayah dan paman Leanna yang sejak tadi hanya diam menyaksikan Dean yang mengintimidasi Leanna.

“Ayah..” panggil Leanna. Tapi ayah malah pergi setelah melemparkan tatapan menghinanya pada Leanna. Membuat Leanna semakin terisak. Ia meremas dadanya kuat-kuat.

“Makanya, jadi perempuan, jangan suka menggoda calon suami orang!” ejek paman yang berkacak pinggang menatap Leanna. Leanna hanya diam, tak ingin membalas hinaan pamannya lagi yang tak akan pernah puas menghinanya.

Paman mendengus, ia malah tersenyum puas dan pergi setelah meludah ke arah Leanna. Hampir saja mengenai wajah Leanna, jika Leanna tak segera menggeser tubuhnya dengan cepat.

“Ya Tuhan! Maafkan aku!” isak Leanna dalam tangisnya.

***

Sudah jam istirahat, ketika guru yang lain sedang sibuk mengenyangkan perut, Leanna masih sibuk berkutat dengan setumpuk lembaran tugas para muridnya.

Leanna duduk di mejanya, dan memeriksa dengan serius setiap tugas yang akan dibagikan lagi pada muridnya esok hari.

“Ibu Leanna tidak makan siang?” Tanya Bu Sekar, guru berkacamata yang mengajar matematika di kelas tujuh.

Leanna menoleh dan menggeleng perlahan.

“Tidak bu. Saya sudah makan banyak tadi pagi,” jawab Leanna dengan dusta. Padahal perutnya sudah terasa sangat perih sekali.

Bu Sekar mengangguk dengan cepat, “Oh, pantas saja Bu Leanna masih sibuk bekerja di jam istirahat. Syukurlah kalau Bu Leanna sudah makan. Soalnya Kepala Sekolah tadi bilang katanya jam pulang akan diperlambat sampai pukul enam sore,” ujar Bu Sekar.

Leanna mengerutkan keningnya, ia bahkan belum sempat melihat papan pengumuman, tadi pagi.

“Memangnya.. ada acara apa ya, Bu?” tanya Leanna penasaran.

“Itu, kalau saya tidak salah dengar, katanya sekolah kita akan ada seminar dadakan. Itu loh bu, yang bulan kemarin sempat dibatalkan karena bintang tamunya sedang sibuk. Jadi, seminarnya akan diadakan sekarang.” Jawab Bu Sekar.

Leanna ingat sekarang! Sebulan yang lalu sempat ada seminar yang dibatalkan dengan alasan si bintang tamu sedang sibuk hingga tak bisa datang.

Dan, sekarang seminar itu kembali digelar bahkan tanpa ia tahu.

“Nanti, sebelum ke aula. Bu Leanna dandan yang cantik dulu ya!” ujar Bu Sekar dengan nada menggoda.

Leanna mengangkat sebelah alisnya.

“Memangnya kenapa, bu?”

Bu sedikit cengengesan. Bukannya langsung menjawab, Bu Sekar malah tersenyum malu-malu. Hingga membuat Leanna geregetan.

Sebenarnya apa maksud Bu Sekar ini?

“Soalnya.. ini kan seminar kesehatan. Sudah pasti bintang tamunya seorang dokter. Dan yang saya dengar, katanya dokternya masih single, Bu,” papar Bu Sekar dengan wajah sumringah.

Sedang Leanna malah menepuk keningnya.

“Lalu kenapa, Bu. Kalau dokternya masih single? Memangnya dokter single itu mau sama saya?” Tanya Leanna dengan nada geli.

“Ya sudah pasti. Bu Leanna kan cantik. Kulitnya juga putih seperti bintang film. Lelaki mana yang tidak akan kepincut?” jawab Bu Sekar mantap.

Leanna hanya menggelengkan kepalanya. Kalau sudah berbicara dengan Bu Sekar, pasti arah topiknya akan kemana-mana.

Jadi, sebelum Bu Sekar kembali menggodanya lagi, Leanna lebih baik bergegas untuk mengajar di jam pelajaran selanjutnya.

Mengingat bell juga akan berbunyi dua menit lagi.

“Ah, sudahlah, bu. Bu Sekar ini senang sekali menggoda saya. Saya pamit, mau mengajar di kelas sembilan,” ujar Leanna tersenyum manis yang langsung dibalas dengan anggukan mantap oleh Bu Sekar.

“Jangan lupa pakai parfum nanti, bu! Saya dengar dokternya tampan juga,” teriak Bu Sekar yang masih bisa didengar oleh Leanna yang sudah berjalan melewati pintu ruang guru.

Lagi-lagi Leanna hanya terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.

Aula sekolah itu akan menjadi tempat diadakannya seminar hari ini, yang Leanna tahu di acara Seminar ini katanya akan menghadirkan bintang tamu seorang dokter lelaki.

"Bu, Leanna. Silakan duduk di sini Bu!" Kezia, salah satu guru di sekolah itu menyambut baik Leanna da menyuruh Leanna untuk duduk di sebelahnya. Karena kursi di sebelahnya kosong.

"Baik. Terima kasih Bu Kezia." Leanna menganggukan kepala, lalu mendaratkan pantatnya di sana.

Kini mereka berdua berada di dalam aula yang megah itu. Untuk menunggu kedatangan bintang tamu yang tampaknya sedang dinanti-nantikan oleh para guru, terutama para siswi yang sejak tadi menggigit bibir bawah mereka. Sambil tangan mereka sudah mempersiapkan ponsel.

Leanna bisa menebak. Sepertinya ponsel itu akan digunaka untuk memotret sang bintang tamu.

"Bu Leanna sudah tahu belum, siapa bintang tamu yang akan datang di acara seminar ini?" Kezia bertanya pada Leannya, sambil menyenggol lengan wanita itu.

Leanna menggeleng. "Tidak, Bu. Ini seminarnya dadakan. Dan kemarin saya tidak masuk sekolah sela beberapa hari. Jadi saya belum tahu siapa bintang tamu yang diundang ke seminar ini. Yang saya tahu, bintang tamunya adalah seorang dokter laki-laki," jawab Leanna, menjelaskan pada Kezia.

"Benar. Memang dokter. Tapi Masalahnya, dokternya tampak sekali."

"Oh ya?" mata Leanna mulai melebar. Tertarik dengan ucapan Kezia.

Kezia menganggukan kepala. "Benar, Bu. Saya pernah berobat ke dokter tampan itu. Wajahnya sangat mirip seperti aktor hollywood. Ah, andai saja saya bisa punya suami setampan dia. Pasti senang hati saya," seloroh Kezia, yang lantas membuat Leanna terkekeh pelan mendengarnya.

Memang ada-ada saja guru satu itu.

Setelah semua siswa berkumpul di dalam aula, beserta para guru, ketika itu tiba-tiba terdengar suara riuh tepuk tangan, juga seruan heboh para siswi yang menjerit melengking.

Leanna yang penasaran pun segera mengalihkan matanya ke arah ambang pintu masuk aula. Dan ia menatap ke sana dengan kening yang berkerut.

"Kenapa mereka heboh sekali, Bu?" Leanna menautkan kedua alisnya. Merasa heran dengan reaksi para siswa yang hadir di dalam Aula itu.

Kezia pun tampaknya penasaran dengan apa yang membuat siswi di dalam Aula itu menjerit dengan heboh. Dan saat Kezia menolehkan matanya ke arah ambang pintu masuk aula, seketika itu ia terkejut ketika melihat pemandangan yang baru saja melihatnya.

"Bu Leanna, lihat itu siapa yang datang! Dokter Dean Sebastian. Itu dokter tampan yang saya maksud, Bu Leana. Lihatlah betapa tampannya dia. Dan semua siswi sedang menjerit karena bintang tamunya sudah datang." Kezia memekik terkejut sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri.

Dia tak percaya karena bisa kembali melihat sosok dokter tampan yang selama ini dikaguminya.

Mendengar nama Dean Sebastian disebut oleh Kezia, Leana pun ikut menolehkan matanya ke arah ambang pintu dan seketika itu juga Leana melebarkan matanya.

Ia terkejut melihat Dean berjalan memasuki Aula sambil dijaga oleh beberapa orang agar tidak ada tangan jahil dari siswi yang menarik-narik bajunya.

Sampai ketika Dean telah berdiri di atas panggung, lelaki itu tanpa sengaja beradu pandang dengan bola mata Leana yang berwarna coklat muda hingga membuat Leana gelisah.

Leanna mengatupkan rapat bibirnya. Ia tak dapat berkata-kata. Leanna terkejut melihat Dean yang saat ini tiba-tiba menghentikan langkah dan menatap ke arahnya dengan sorot yang menyiratkan kebencian.

Tatapan itu mampu membuat Leanna meneguk kasar ludahnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Di Sudut Memori
8.6
Citra terjebak dalam kepedihan mendalam setelah Dwiyan pergi meninggalkan luka yang membekas di ingatannya. Di tengah duka itu, ia harus berjuang melawan penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Kehadiran Panggih kemudian membawa secercah harapan dan mulai menyembuhkan trauma masa lalunya. Kini, Citra dihadapkan pada pilihan sulit: bangkit demi kebahagiaan baru bersama Panggih atau selamanya terbelenggu oleh bayang-bayang kenangan pahit yang tak kunjung sirna.
Sampul Novel Hanin & Wahyu
8.0
Hanin dan Wahyu adalah saudara kembar yang selalu seiring sejalan hingga mereka dewasa. Namun, perbedaan mencolok muncul saat mereka memilih pasangan hidup. Suratman sukses menjadi konsultan bank dengan istri sekretaris hotel yang ambisius. Sebaliknya, Suratmin hanya bekerja sebagai petugas kebersihan dengan istri ibu rumah tangga biasa. Perbedaan status dan pola asuh anak yang kontras ini akhirnya memicu konflik besar yang mengorbankan masa depan anak-anak mereka.
Sampul Novel Hidupku yang Kaya Mendadak
8.5
Terlahir miskin, aku banting tulang demi membiayai kuliah dan membelikan iPhone untuk kekasih impianku. Namun, pengorbananku dibalas pengkhianatan saat aku memergokinya bermesraan dengan pria lain. Tak hanya dihina karena kemiskinanku, aku pun dipukuli hingga terpuruk dalam keputusasaan. Di titik terendah itu, sebuah telepon dari ayah mengubah segalanya. Rahasia besar terungkap bahwa aku sebenarnya adalah putra seorang miliarder yang sangat kaya raya.
Sampul Novel JALAN PULANG
8.0
Setelah dua dekade merantau, seorang wanita karier yang sukses memilih pulang ke tanah kelahirannya. Kepulangan ini memaksa dirinya menghadapi memori pahit terkait cinta pertama serta trauma masa kecil yang belum tuntas. Di sana, ia harus berhadapan kembali dengan mantan kekasihnya sembari menentukan pilihan besar yang akan mengubah arah hidupnya selamanya. Sebuah perjalanan emosional untuk berdamai dengan masa lalu yang sempat ia tinggalkan demi masa depan.
Sampul Novel KANDAS!
9.4
Segala pengorbanan dan upaya keras yang telah dikerahkan demi mempertahankan hubungan asmara selama ini ternyata harus menemui jalan buntu. Meskipun seluruh tenaga dan perasaan telah dicurahkan untuk menjaga keutuhan cinta tersebut, takdir berkata lain. Kisah romansa yang diperjuangkan dengan penuh kesungguhan itu akhirnya terhenti di tengah jalan dan hancur berantakan. Harapan yang dulu dipupuk kini sirna saat jalinan kasih itu resmi dinyatakan kandas.
Sampul Novel Neraka di Matanya, Surga dalam Ciumannya
8.3
Dikhianati oleh kekasihnya, Gabriela melarikan diri ke pelukan pria asing dalam sebuah malam penuh gairah sebelum akhirnya menghilang saat subuh. Ia mengira telah tidur dengan seorang playboy, namun sosok itu ternyata Wesley, CEO dingin yang merupakan atasannya sendiri. Meski Wesley tetap bersikap tenang di kantor, ia sebenarnya memendam kecemburuan posesif yang luar biasa karena mengira Gabriela masih mencintai mantan kekasihnya yang tidak setia itu.