
GADIS POLOS MILIK TUAN MUDA
Bab 2
Karena dia fokus memandang wajah tampan Arsen dan dia sangat percaya bahwa kali ini godaannya selama ini dia berikan kepada Arsen sudah termakan oleh laki-laki itu makanya sekarang Arsen menyuruh dia mendekat bahkan menyuruh dia duduk di atas meja kerja laki-laki itu.
Tapi tanpa dia sadari Arsen sudah memegang sebilah pisau kecil hingga dengan gerakan yang tak terbaca Arsen sudah menggores paha mulus itu hingga darah segar mengalir deras hingga menetes di atas lantai.
"Ampun tuan muda," rintih dia merasa kesakitan sebab dia tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi kepada dirinya.
Padahal tadi dia sudah percaya bahwa Arsen sudah termakan sama godaannya.
Karena selama ini tidak ada yang berani menolak pesonanya dan sehingga dia memiliki keyakinan bahwa Arsen juga akan tergoda terhadap kemolekan tubuh yang dia miliki.
"Bukankah ini yang selama ini kamu inginkan?" Dengan suara berat Arsen berkata.
Karena bukannya dia tidak tahu bahwa sekretarisnya ini sudah berani menggoda sejak pertama kali masuk kerja.
Jadi bukan salah Arsen jika dia hanya ingin mengabulkan permintaan ringan dari sekretaris cantiknya ini.
"Ampun tuan muda," meronta-ronta untuk dilepaskan sebab dia sudah tidak kuat menahan rasa sakit atas goresan pisau yang sudah berpindah ke paha satunya lagi.
"Apakah kamu berpikir saya sebaik itu?" Di kegiatan terakhirnya Arsen menancapkan pisau itu lalu mendorong sekretarisnya hingga telungkup di atas lantai dengan darah yang sudah berceceran ke mana-mana.
"Itu hanya peringatan kecil," itu hanyalah sebuah peringatan kecil.
Lalu Arsen menghubungi seseorang.
"Datang ke ruangan saya dan bereskan semut kecil ini,"
Setelah itu Arsen menuju ke ruangan sebelah yang merupakan kamar yang biasa dia gunakan untuk beristirahat.
Arsen harus membersihkan dirinya karena darah sudah mengotori pakaian kerjanya apalagi, sebentar lagi dia harus meeting bersama perusahaan lain.
"Jika gadis manis itu yang menggoda gue, maka dengan senang hati gue menerima," selama aktivitas mandinya Arsen terus membayangkan wajah manis serta senyuman sangat menggoda di mata Arsen.
Di pertemuan pertama saja bayang-bayangan wajah Cinta sudah menguasai pikiran Arsen dan itu tidak bisa dia tolak sama sekali.
Namun bukannya terganggu tapi Arsen sungguh menikmati bayangan wajah cantik Cinta menari-nari di pikirannya.
"Kamu hanya milik gue dan selamanya hanya milik gue," keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan selembar handuk yang melilit di tubuh ke kekar Arsen, hingga menampakkan perut kotak-kotak serta dada bidang yang jika digunakan untuk bersandar pasti terasa sangat nyaman.
Tapi sampai sekarang belum ada satu orang pun yang bisa menikmati keindahan yang tercetak di badan Arsen.
Dan mungkin hanya Cinta orang pertama dan terakhir yang bisa merasakan itu semua karena sejak awal Arsen sudah mengklaim Cinta sebagai miliknya.
"Barang murah apalagi barang obral bukanlah hal yang gue sukai," Arsen keluar dari ruangan pribadinya dan dia lihat ruangan kerjanya sudah bersih tampak seperti tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya bahkan bau darah pun tidak tercium di sana.
"Pengganggu," desis Arsen lalu melanjutkan lagi pekerjaannya sempat tertunda karena semut kecil yang ingin mengganggu dia.
Jika pun Arsen mau mungkin sudah sejak awal dia menikmati sekretarisnya itu tapi sayang hanya akan menyentuh jika perempuan itu menarik di matanya.
=====
Waktu terus berputar dan sekarang sudah menunjukkan pukul delapan malam dan sudah saatnya Cinta pulang dari kerjaannya.
Gadis mungil itu melangkah dengan riang karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan neneknya yang dia tinggalkan sejak siang hingga malam ini.
Karena hari ini dia libur kuliah jadi dia bisa masuk kerja lebih cepat dan pulang lebih awal juga.
"Beliin apa ya untuk nenek?" Memang jarak tempat kerjaan Cinta dengan tempat tinggal dia hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit dengan jalan kaki Cinta lebih memilih jalan kaki pulang ke rumah karena bisa untuk hemat biaya juga.
"Martabak aja kayaknya enak," Cinta melihat penjual martabak dan itu adalah makanan kesukaan neneknya.
Lalu gadis mungil itu memesan seporsi martabak dan duduk di kursi yang sudah disediakan sambil menunggu pesanannya jadi.
Sambil menunggu Cinta melihat sekeliling yang mana jalan sangat ramai oleh pengendara yang berlalu lalang mungkin mereka ingin pulang juga, fikir cinta.
"Ini neng martabat nya," lalu Cinta membayar martabaknya dan melanjutkan perjalanan menuju pulang.
"Mungkin jika Papa dan Mama masih hidup, mungkin hidup Cinta tidak akan seperti ini tapi Cinta tidak boleh mengeluh karena masih ada nenek yang sangat menyayangi Cinta," walaupun saat itu Cinta masih kecil ditinggalkan oleh kedua orang tuanya tapi gadis mungil itu masih bisa mengingat wajah kedua orang tuanya.
Kadang pada waktunya dia menyalahkan takdir bahwa mereka dipisahkan begitu cepat hingga dia tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tua dan hanya neneknya lah yang harus banting tulang untuk biaya hidup mereka berdua.
"Nenek Cinta pulang," Cinta memasuki rumahnya setelah mengetuk pintu beberapa kali.
Sampai di dalam dia melihat neneknya sedang membuat sebuah rajutan yang baru setengah jadi.
"Ini nek Cinta belikan martabak kesukaan nenek," memindahkan martabak itu ke dalam piring dan tidak lupa Cinta mengambil air lalu mereka menikmati berdua martabak di bawah Cinta barusan.
"Kenapa harus repot-repot membeli martabak? Lebih baik uangnya ditabung untuk biaya kuliah Cinta," nenek tidak ingin Cinta terlalu boros dalam membeli sesuatu karena dia ingin Cinta memiliki tabungan yang bisa digunakan sewaktu-waktu dalam keadaan mendesak.
"Cinta tidak boros Nek, tadi Cinta mendapat bonus di tempat kerjaan jadi Cinta keingat nenek. Nenek tidak usah memikirkan itu karena Cinta pasti akan menyisihkan uang yang Cinta miliki," Cinta tahu apa yang dicemaskan oleh neneknya dan dia pasti menyisihkan uang yang selama ini dia dapatkan saat bekerja.
Mereka hanya tinggal berdua dan tentu harus memiliki uang tabungan karena sewaktu-waktu pasti sangat berguna dalam situasi mendesak.
Adapun Cinta memiliki paman dan bibi tapi mereka tidak bisa Cinta harapkan sebab selama ini paman dan bibi Cinta tidak pernah menganggap ada keponakannya itu.
"Sekarang nenek istirahat ya, karena sudah sangat malam untuk tidur," walau ini baru jam sembilan malam.
Tapi untuk usia tua sudah terlalu larut untuk tidur.
Cinta tidak ingin kondisi kesehatan neneknya menurun dan berakhir dengan jatuh sakit.
"Iya Cinta juga jangan terlalu malam tidurnya, besok mau kuliah," setelah mengantarkan neneknya ke kamar, lalu Cinta memasuki kamarnya sendiri yang terletak di sebelah kamar neneknya.
Sebelum tidur Cinta membersihkan badan terlebih dahulu baru setelahnya dia mengarungi alam mimpi dan berharap bisa bertemu orang tuanya walaupun hanya di dalam mimpi.
Anda Mungkin Juga Suka





