Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Pemuas Tuan Grey

Gadis Pemuas Tuan Grey

Demi membiayai pengobatan sang ayah yang sakit keras, Laura berusaha mencari pekerjaan tambahan sebagai pengasuh. Namun, niat tulus itu justru berujung petaka saat ia bertemu Greyson. Pria itu merampas kesuciannya dan memaksanya masuk ke dalam ikatan gelap sebagai pemuas hasrat. Kini, Laura terjebak dalam dilema moral yang menyiksa: apakah ia sanggup bertahan menjadi budak nafsu Grey demi mendapatkan uang yang sangat ia butuhkan untuk ayahnya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tangannya masih bermain ke bawah, bertukar peran dengan lidahnya. Laura hampir mencapai puncak, tubuhnya sedikit terangkat, hingga ia terpaksa mengapit kepala Grey, yang sudah berpindah lagi pada keintiman di mana cairan menyembur hangat. Tanpa jijik, lelaki itu meminum semua cairan, bahkan mulutnya menerkam milik Laura, membiarkan semua mengalir langsung ke dalam mulut.

Terkulai lemas dengan napas tersengal, Laura melepaskan cengkeraman pada rambut Grey. Lelaki itu tersenyum, ketika paha sudah tak mengapit kepalanya. Dia menatap wajah cantik Laura, tanpa aba-aba langsung memasukkan miliknya yang telah dikeluarkan dari celana. Laura membeliak, dia mengerang kesakitan, Grey langsung menanamkan sangat dalam, walau ia tahu bahwa perempuan itu masih perawan.

Terasa robekan-robekan ketika ia menembus lubang kehangatan, itu menyadarkan Grey bahwa lawannya sekarang masih tetap suci. Tidak, lelaki itu tidak peduli akan kesakitan Laura, karena baginya cukup dengan kenikmatan dirasakan. Egois, gila, tak berperasaan. Ya, itulah Grey yang dikenal oleh kebanyakan wanita pernah bersamanya, merengkuh kenikmatan.

Pergerakan pun tak dibuat pelan, Grey menikmati setiap cengkeraman dengan sangat liar. Suara dari Laura semakin kencang, sampai mulut harus dibekap rapat oleh lelaki yang mendengar suara lain. "Diam!" membulatkan mata sempurna, menatap pada Laura.

"Daddy, buka pintunya! Aku ingin masuk ke dalam!" seruan itu menyeruak dengan sangat kencang, Grey memejamkan kedua mata memasang wajah frustrasi.

"Ah, sial! Kenapa harus sekarang?!" umpatnya.

"Daddy!" teriak kembali seseorang di balik pintu.

"Tuan muda, ayo kita pergi saja. Mungkin, tuan besar ada di kamarnya." Seorang pelayan merayu.

"Shut up! I hate you!" sarkas Noah. "Daddy, aku tahu kamu di dalam! Buka pintunya, atau aku akan meminta pengawal mendobrak!" ancamnya sangat keras.

"Ah, persetan denganmu!" kata Grey, dia melanjutkan kembali karena miliknya masih tertanam dalam lubang kenikmatan. Dia tak melepaskan tangan dari mulut Laura, agar perempuan itu tak mengeluarkan suara.

Di depan masih saja terdengar Noah memanggil namanya, menyertakan ancaman. Noah adalah putra dari Grey, dari seorang perempuan yang telah dianggapnya sebagai kesalahan besar, untuk meniduri dalam keadaan mabuk berat. Dia kembali dengan anak di tangan, yang tak lagi mampu dielak oleh Grey, bahwa itu adalah putranya. Tes DNA dilakukan tiga kali dengan pengawasan ketat, berbeda tempat juga negara. Namun, hasilnya masih sama, dan mau atau tidak harus diterima oleh Grey.

Pelepasan didapatkan oleh Grey, dia menanamkan semua benihnya di dalam rahim Laura. Langsung mencabut kasar ketika sudah mengatur pernapasan sejenak, lelaki itu berdiri dan mengambil pakaian milik Laura di atas lantai. "Pakai pakaianmu! Aku tidak ingin anakku melihatmu seperti itu!" melemparkan di atas tubuh Laura, kemudian berbalik dan menuju meja. Ada segelas air putih di sana, Grey meneguknya.

Laura mengenakan satu-persatu pakaian, ditemani bulir air mata juga rasa sakit tak tertahan. Grey berjalan ke arah pintu, lalu membuka. Seketika ia dihantam oleh tangan kecil Noah, bocah berusia tiga tahun yang sudah terlalu kesal. "Apa yang kau lakukan?! Itu sakit!" kata Grey membentak.

"Kenapa daddy membuatku menunggu sangat lama?! Itu sangat menyebalkan, dan aku tidak menyukainya!" sarkas Noah.

"Kau tahu ini ruangan apa?! Daddy bekerja, dan disana ada orang yang terus mengganggu daddy dengan air mata!" menunjuk ke arah Laura.

Noah menoleh padanya, mata menyipit tapi juga dipertajam. "Dia tidak jelek, siapa? Pembantu baru?" tanya Noah seraya menyilangkan tangan di depan dada.

"Pengasuhmu!" singkat Grey.

"What?! Oh, come on, Daddy! Aku tidak butuh pengasuh, itu sangat merepotkan! Mereka akan mengomel sepanjang waktu, memintaku untuk melakukan banyak hal, dan aku tidak menyukainya! Usir dia!" kata Noah.

"Ini rumah siapa?" tanyanya.

"Daddy!"

"Siapa yang berkuasa di sini?!"

"Daddy!"

"Siapa Daddy?!"

"Big boss!"

"Oke! Kau tahu dengan pasti, dan kau tahu kalau daddy tidak menyukai bantahan! Kau ingin masuk kandang singa di depan?"

"No! I hate you, Dad! Really!" berbalik badan Noah, kemudian berlari pergi. "Aku tidak ingin pengasuh! Kecuali daddy mencarikanku yang seksi dan cantik untuk menemaniku tidur!" Menoleh dan menunjuk.

"Kau sudah gila mengatakan hal itu padaku?!" teriak Grey.

Tidak ada jawaban, Noah melengos dan berlalu pergi dengan raut wajah kesal. Grey mengeratkan gigi, bertolak belakang menatap kepergian putranya. "Lihatlah kelakuannya itu! Apa dia benar-benar anakku?!" gumam Grey. "He, kau! Keluar dari ruang kerjaku dan ganti pakaianmu, sebelum menemui putraku! Bersihkan tubuh menjijikkanmu lebih dulu!" menatap Laura—perempuan yang tak mampu untuk berdiri dan tetap berada di sofa.

"Ah, ada apa dengan hari ini?! Kepalaku sakit!" Grey memijat kepala. "Hubungi Nora, minta dia ke kamarku saat tiba!" berlalu Grey, setelah berpesan pada pelayan.

"Baik, Tuan." Membungkuk pada punggung lelaki sudah berlalu dengan terus memijat kepalanya.

Grey memasuki lift untuk menuju kamarnya di lantai tiga, tanpa henti ia memijat kepala. Selalu seperti itu, ketika Noah sudah berulah, siap meledakkan kepalanya. Entah sudah berapa banyak barang mewah dihancurkan, juga pengasuh dikerjai hingga masuk rumah sakit, rasanya itu sudah tak terhitung lagi. Menyusuri lantai atas, dia menuju kamar. Menekan pintu hendel, memasuki kamar.

Baru sampai ambang pintu, lelaki bertubuh tinggi sekitar 186cm itu langsung membulatkan sempurna kedua mata, melihat kekacauan di kamarnya. "NOAAAAAAAAAAAH!" teriaknya begitu kencang, membelah udara dan mengisi setiap sudut rumah.

Bocah di ruang TV itu mendengar, ia tertawa cekikikan dalam kepuasan. Ya, dia memang sudah membuat berantakan kamar daddy-nya, seprei dan selimut tebal disiram dengan air berwarna merah, campuran dari cat melukis miliknya. Bahkan, di sana juga terdapat banyak pakaian, jam tangan mewah dan banyak lagi barang-barang milik lelaki yang kini kembali lagi ke bawah dengan langkah cepat.

"Dasar anak menyebalkan! Apa yang sudah dilakukannya sekarang?! Kalau saja dia bukan anakku, maka aku sudah menghabisinya dari dulu!" bergumam seraya melangkah.

"NOAH!" teriaknya begitu keluar dari lift. "Di mana dia?!" bertanya pada pelayan.

"A-ada di ruang TV, Tuan." Terbata ketakutan, suara didengar memang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun.

Grey melebarkan langkahnya kembali menuju ruang TV, dia melihat anaknya sedang berbaring santai, mengayunkan kaki telah ditumpuk menyilang. "Apa yang kau lakukan di kamar daddy?!" tegurnya.

"Tidak ada, hanya sedikit kesenangan saja. Apa yang salah? Bukankah daddy selalu mengatakan, untuk aku bisa melakukan apa saja di rumah ini?" santai bocah berkaos putih itu menjawab.

"Tuhan, hukuman apa yang Kau berikan padaku sekarang?" mengurut kening dan bertolak pinggang. "Bangun! Bersihkan kamar daddy, atau kau akan benar-benar tidur di kandang singa malam ini!" bentaknya.

"Tidak mau!" tajam Noah menatap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Memberi Ampun: Mantan yang Berlutut
9.6
Grace Bennett menyaksikan pengkhianatan suaminya, Adrian Carter, yang berselingkuh di mobilnya sendiri. Bukannya menyesal, Adrian justru menghina pernikahan kontrak mereka. Grace pun membalas dengan tegas: membekukan bisnis miliaran dolarnya dan menceraikannya di depan publik. Meski Adrian berlutut memohon kesempatan kedua, Grace tetap pergi membawa putranya, Ethan. Ia melangkah maju dengan pria lain tanpa menoleh pada masa lalu yang telah tercemar.
Sampul Novel Antara Cinta Dan Obsesi
7.8
Melanjutkan kisah Ikhlasku dengan takdirku, Laras harus menjalani hidup sebagai anak angkat di keluarga kaya setelah kehilangan orang tuanya. Sosok yang merawatnya sebenarnya adalah penyebab kematian sang ibu yang ingin bertanggung jawab. Namun, kemewahan itu tidak membawa kebahagiaan. Laras justru terjebak dalam obsesi gelap kakak angkatnya sendiri. Di tengah berbagai rintangan pelik, mampukah obsesi tersebut berubah menjadi cinta yang tulus?
Sampul Novel Assalamu'alaikum, Mas CEO!
8.3
Hanif, pimpinan INANTA Group, bukanlah CEO angkuh pada umumnya. Ia adalah sosok religius yang mengutamakan ibadah di tengah kesuksesan. Namun, hidupnya berubah saat putrinya, Aisyah, bertemu Aida, seorang office girl yang sangat mirip dengan mendiang ibunya. Ikatan kuat antara Aisyah dan Aida membuat pertunangan Hanif dengan Soraya terancam gagal. Di antara tanggung jawab dan keinginan sang anak, ke manakah hati Hanif akhirnya akan memilih berlabuh?
Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder
9.7
Raissa terancam kehilangan panti jompo tempat tinggalnya akibat rencana penggusuran oleh taipan kejam, Arkhan Alvaro. Demi menyelamatkan tempat itu, Raissa nekat menghadapi sang miliarder yang dingin. Namun, Arkhan justru memberikan penawaran mengejutkan: panti akan selamat jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Terjebak dalam dilema antara pengorbanan dan harga diri, hubungan penuh paksaan ini mulai memicu konflik emosi yang mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Istri Dadakan Presdir
9.0
Salsabila Ayu Hanifa mengadu nasib ke Jakarta demi mengubur masa lalu kelam. Namun, takdir menyeret gadis desa ini ke dalam pernikahan tanpa cinta dengan Raditya Wijaya. Sebagai pengusaha dingin dan acuh, Radit justru memperlakukan istrinya sendiri layaknya seorang pembantu. Di tengah tekanan batin, mampukah Salsa melunakkan hati suaminya dan diakui sebagai istri seutuhnya, ataukah mahligai rumah tangga mereka akan berakhir dengan kegagalan total?
Sampul Novel JandA
9.4
Aline Anderson memimpin penerbitan terbesar di kotanya, namun ketidakhadirannya membuat kestabilan perusahaan goyah. Saat ia kembali memegang kendali, ancaman muncul dari penulis emasnya yang ingin menarik karya secara mendadak. Keputusan ini membawa bisnis Aline ke jurang kebangkrutan. Kini, Aline harus menghadapi kerugian besar sekaligus fakta mengejutkan mengenai identitas asli sang penulis di tengah badai konflik yang mulai bermunculan satu per satu.