
Gadis Nakal Miliarder
Bab 2
“Mulai sekarang hubungan kita berdua berakhir!”
!!!
Air mata Serafhine kembali mengalir tak henti mendengar perkataan itu, “tidak bisa, Cliff, aku sangat mencintaimu! Bahkan aku bisa menerima kesalahanmu kali ini asalkan kau mau mengakhiri hubunganmu dengan Leandra.”
Percayalah, apa yang dikatakan Serafhine baru saja sangat terpaksa karena dia tak mau kehilangan Cliff. Rasa cintanya telah mendalam meski telah disakiti sampai separah itu. Asalkan Cliff tidak memutuskannya hanya karena kekhilafan semata atas dasar hasrat, Serafhine bisa menahan semua sakit di dalam hati.
“Dasar bodoh! Kau mau bersaing denganku dalam hal ini?” sosor Leandra memandang penuh keangkuhan, “dari penampilan kita jauh berbeda, terlebih kau tak bisa memberikan kenikmatan seperti yang aku berikan pada Cliff!”
“Dasar murahan! Kau sudah sama seperti pelacur di atas ranjang sana, tentu saja kau tak bisa sebanding denganku! Kesucianmu telah hilang, Lea!”
Leandra tertawa santai, “aku melacur pada kekasihku sendiri, itu wajar! Yang tak wajar adalah kamu, tidak bisa memberikan apa yang diinginkan oleh Cliff. Kau terlalu kuno! Jelek! Miskin! Tidak menarik sama sekali!”
“Kau!” Serafhine yang tak tahan dengan penghinaan itu mengulurkan tangannya ke arah rambut Leandra. Namun dengan cepat Cliff menghalangi, bahkan menarik kasar tangan Serafhine keluar dari dalam kamar mandi.
“Lepaskan aku!” bentak Serafhine mencoba melepaskan tangannya dan memberatkan tubuh melalui tumpuan kaki di lantai.
Upayanya sia-sia sebab rasa sakit di pergelangan tangan akibat cengkeraman kuat dari Clifford menghentikan perlawanannya. Dia meringis kesakitan, “sakit! Lepaskan tanganku, Cliff!”
“Pergi dari sini dan jangan pernah menemuiku! Hubungan kita telah berakhir!” bentak Clifford mengarahkan telunjuknya ke pintu bersamaan dengan kedua mata yang melotot.
“Cliff? Bagaimana kau bisa memperlakukanku seperti ini?”
“Apa kau tuli!? Aku tidak pernah mencintaimu, kau hanya pelampiasan sesaatku! Pergi!”
Kali ini Serafhine tak dapat membantah atau merendahkan diri lagi untuk mengemis cinta Clifford sebab penghinaan besar terhadap dirinya. Dia keluar membawa kekecewaan, kepedihan, dan kebencian di dalam hati.
Langit bahkan mewakili perasaannya saat ini. Di sepanjang jalan, hujan membasahi tubuhnya, menutupi air mata yang mengalir di pipi. Langkah kaki tak kuat lagi menopang tubuh setelah sekian jauh berjalan tanpa arah. Entah sudah berapa lama dia berada di bawah hujan deras itu.
Langkahnya terhuyung-huyung, pandangan di depan mata mulai kabur, terhalang oleh air hujan yang jatuh tanpa henti. Sepasang tangan dekil dan kusyuk akibat terlalu lama di air memegangi besi jembatan yang melintang.
Di bawah sana arus sungai besar berwarna coklat menyambutnya. Serafhine tersenyum bodoh, pikiran saat ini mendorong dia untuk segera melompat ke bawah sana, mengakhiri semua penderitaan. Namun tak ada lagi kekuatan untuk bergerak, dia hanya mampu mempertahankan tubuhnya untuk tetap berdiri.
“AAAAAARRRRGHHH!” Teriakan tak berdaya keluar dari mulut Serafhine. Berulang kali dia meneriaki nama Clifford dan Leandra dengan umpatan kasar, tapi deras hujan dan arus di bawah sana menutupi suaranya.
“Ha ha ha … bahkan melawan hujan saja aku kalah! Aku memang payah,” tawa bodoh Serafhine mengakhiri teriakan. Napasnya melambat, pandangan mata semakin kabur, tubuhnya perlahan jatuh ke jalan.
Dalam setengah sadar, dia melihat sebuah taksi berhenti di samping, seorang wanita yang keluar dari dalam sana membuat sudut bibirnya melengkung lalu berucap pelan, “Tante Ni … ya….”
***
“Kau baru saja sembuh, Serafhine. Pulihkan dulu kesehatanmu baru bekerja,” ucap wanita berusia empat puluh tahun mengambil pakaian yang hendak di masukkan ke dalam koper.
Serafhine menarik panjang napasnya lalu tersenyum, “kalau aku tidak tidak pergi bekerja rasa sakit ini akan lama sembuh.” Dia mengambil paksa pakaian dari tangan wanita itu lalu memasukkan ke dalam koper.
Bunyi retsleting menghentikan gerakkannya. Dia menatap wanita di depan. Kalau bukan karena tante Nia datang tepat waktu, dia pasti sudah membeku di tengah hujan. Selama dua minggu mendapatkan perawatan dari tante Nia, kesehatan Serafhine akhirnya boleh pulih, hanya saja luka batin belum bisa disembuhkan. Apalagi sampai sekarang Clifford benar-benar tidak pernah menghubunginya apalagi sekedar menanyakan kabar.
!!??
Bodoh! Berhentilah memikirkan lelaki brengsek itu! Batin Serafhine menyadarkan kembali diri sendiri untuk tidak memikirkan Clifford.
“Kau masih memikirkannya?” tanya Nia membuyarkan lamunan Serafhine.
“Seandainya Tante Nia tidak datang menolongku di jalanan saat itu, mungkin aku bisa melupakannya.”
“Dasar bodoh! Hanya orang mati yang bisa melupakan pengkhianatan lelaki berengsek itu!” tepis Nia menyentil dahi Serafhine tepat di bekas memar yang mulai menghilang.
“Akh!” Serafhine meringis kesakitan dalam senyumnya.
“Sakit?” Serafhine membalas dengan anggukkan atas pertanyaan Nia. “Kalau begitu ingatlah akan sakit ini dan …” jari telunjuk Nia mengarah ke dada Serafhine, “sakit di sini,” lanjutnya dengan tatapan tegas.
“Jangan terlalu percaya dengan lelaki! Terlebih jangan membiarkan dirimu jatuh ke dalam lelaki berengsek seperti Cliff, tidak-tidak!” Nia menggeleng, “bukan hanya Cliff, tapi semua laki-laki berengsek!”
“Tentu saja aku ingat! Jangan khawatir, Tante Nia, aku yang dulu telah mati. Sekarang yang kupikirkan hanya kebahagiaanku sendiri.”
"Memikirkan kebahagiaanmu memang harus, tapi apa kamu tak mau membalas penyebab rasa sakitmu sekarang?"
Serafhine menarik panjang napasnya, memikirkan segala macam pertimbangan untuk membalas pengkhianatan Cliff dan Lea. "Membalas mereka hanya masalah waktu dan kemampuan. Sekarang mungkin aku masih lemah, tapi akan ada waktu aku membalas semua ini di saat mereka mungkin telah melupakan keberadaanku!"
***
2 tahun Kemudian….
“Aaah! Ohhh! … yah! Lebih keras lagi!” pintah seorang lelaki menikmati jemari kecil berkulit mulus menggesek di pahanya.
“Seperti ini, Tuan?” suara halus yang terdengar membuat sang lelaki tersenyum merinding.
“Yah! Seperti itu … tidak! Lebih ke atas sedikit,” pintahnya dengan suara tertahan, “lebih cepat lagi!” tambahnya.
“Ooh!”
“Kau sangat hebat sayang!” puji sang lelaki dengan suara serak menahan nikmat, “bisa ke atas sedikit, tidak?”
Bibir merah itu melengkung perlahan. Kalimat pujian ini membuat hatinya sangat senang, seperti candu di telinga.
“Batasanku hanya sampai di sini, Tuan! Dan waktunya sudah melebihi perjanjian layananku."
Dengan berat hati lelaki itu bangkit dari pembaringannya sambil memperhatikan sang gadis,"kapan kau ada waktu lagi? Aku ingin menyewamu dengan harga yang lebih tinggi!"
"Maaf Tuan, layananku hanya sekali untuk satu klien. Dan aku tidak pernah menerima repeat order dari klien mana pun meski ditawarkan dengan harga tinggi!"
Anda Mungkin Juga Suka





