Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Nakal Itu Milikku

Gadis Nakal Itu Milikku

Grace jatuh terduduk dalam kehancuran setelah dipermalukan oleh Edward. Tidak ada lagi sikap keras kepala yang biasa ia tunjukkan. Di tengah isak tangisnya, Edward mendekat dan memeluknya erat sambil memohon maaf. Edward mengaku tindakannya dipicu oleh kecemburuan melihat kedekatan Grace dengan Kevin. Meski emosinya sempat meledak, Edward menyadari perasaannya yang kacau. Ia mencium kening Grace, berusaha menjelaskan sesak di dadanya yang selama ini tak ia pahami.
Bab
Bagikan

Bab 2

Edward mengajak Vanes ke sebuah bar, dan mereka hanya duduk, minum beberapa botol bir tanpa melakukan hal lain.

“Hey, kita berdua di sini, seperti pemuda tolol yang hanya bisa menyaksikan tarian erotis dari penari bugil di depan panggung. Ed, apa kau tak ingin bercinta dengan mereka?!” tanya Vanes setengah berteriak karena lagu-lagu yang diputar di dalam klub malam benar-benar kencang.

Edward hanya mengangkat kedua alisnya dan menggeleng.

“Aku bilang, apa kau tak ingin bercinta dengan salah satu penari bugil di depan sana?!”

Sebetulnya Edward sudah dengar tapi malas menjawab. Bercinta dengan penari bugil? Membayangkannya saja tak pernah, membuat Edward bergidik lebih dulu. Terlalu beresiko!

“Kau saja yang bercinta dengan mereka!” jawab Edward.

“Kurasa ... sebentar lagi kau benar-benar jadi tak normal!”

“Apa pedulimu?!”

“Jika kau tak normal, aku tak bersedia menjadi pasanganmu!”

“Bangsat!”

“Hey, Ed, lihat itu!” Vanes menunjuk ke arah pintu masuk klub, seorang gadis yang wajahnya tak asing muncul di sana, dan itu gadis pelayan yang ada di toko kue tadi. Grace.

“Dia itu siapa?” tanya Edward yang sudah tak ingat wajah Grace.

“Gadis cantik bertubuh sintal di toko kue tadi, memangnya kau tak tertarik?”

Kali ini Vanes duduk mendekat ke arah Edward, tenggorokannya sakit karena harus berteriak-teriak.

Tatapan Edward mengikuti gerakan Grace, gadis itu bergerak cepat di antara kerumunan orang-orang yang menyesaki tempat itu. Dilihatnya Grace duduk di depan bar. Satu tangannya terangkat memanggil bartender.

“Aku mau menghampirinya.”

“Ha?”

“Kenapa?”

“Kau mau mengajaknya begitu?”

“Kata siapa?” tanya Edward lagi, kali ini pertanyaannya membuat Vanes jengkel setengah mati.

“Terserah!”

Edward sudah berdiri di belakang Grace, ditatapnya Grace dari belakang. Grace memesan segelas vodka, dia masih belum menyadari kehadiran Edward di sampingnya.

Sebetulnya Vanes agak heran. Kenapa Edward mau menghampiri Grace, yang dia tahu, pemuda itu dengan segala keangkuhan dan rasa dingin yang ada pada dirinya, tak akan pernah mau menghampiri perempuan terlebih dahulu.

Edward cuek dan dingin, entah berapa puluh wanita berusaha dijodohkan padanya, atau yang berusaha mendekatinya, semuanya mental begitu saja.

“Satu gelas cognac,” ujar Edward memesan pada bartender.

Grace mengenali suara itu, dan ketika dia menoleh ke samping, benar saja, itu pemuda yang tadi di toko kue, yang wajahnya memerah setelah menggenggam tangannya.

“Kau?”

“Gadis toko kue,” ujar Edward datar.

“Ke mana kawan-kawanmu?” Grace memanjangkan lehernya. Kedua matanya sibuk mencari-cari seseorang, dia tak peduli dengan Edward yang ada di sampingnya, sebetulnya ada seseorang yang dicarinya, dan dia tak menemukannya. “Hey, mana kawan-kawanmu?” ulang Grace menanyakan pertanyaan yang sama.

“Kenapa kau harus mencari seseorang yang tak ada? Ikut aku. Kau jangan terlalu banyak minum, mukamu sudah merah seperti babi,” ujar Edward. Wajah Grace memang sudah sangat merah karena mabuk.

“Ey, mana temanmu, yang berwajah melankolis tadi,” ceracau Grace.

“Dia sibuk bercinta,” jawab Edward sekenanya.

“Ah, lalu kenapa kau tak melakukannya juga,” balas Grace. Kali ini dia benar-benar sudah mabuk, jalannya limbung ke kanan dan ke kiri, kedua matanya pun sayup. “Eh, maaf.”

Edward membawa Grace ke meja di mana Vanes masih menunggunya di sana.

“Gadis ini mabuk. Jika aku membiarkan dia di sini sendiri, dia akan menjadi santapan para lelaki. Aku akan mengantarkannya pulang.”

“Lalu aku?”

“Van, kau bisa pulang naik taksi dulu, kan?”

“Buat apa naik taksi, aku bisa meminta supir menjemputku. Kau pergilah, antar gadis toko kue kembali ke rumahnya, atau jika kau mungkin berminat, kau bisa menikmatinya seorang diri,” goda Vanes.

“Tidak, aku tak berminat. Aku balik duluan.”

*

Tentu saja Edward tak membawa Grace ke rumahnya di mana kedua orangtuanya juga ikut tinggal.

Jika Edward membawa Grace ke sana, mereka pasti akan mengira jika Edward baru saja menculik seorang gadis mabuk.

Edward menurunkan posisi jok mobil, agar posisi kepala dan tubuh Grace bisa lebih nyaman. Gadis itu mabuk dan pingsan. Ternyata berat orang pingsan itu benar-benar berbeda saat terbangun, baginya, dia seperti mengangkat karung beras seberat 100 kg.

Sesampainya di apartemen mewah miliknya, Grace masih belum juga sadar, dengan terpaksa dan bersusah payah Edward harus membopongnya, membawanya ikut serta masuk ke dalam lift.

Benar-benar menyusahkan! Seandainya saja dia diperbolehkan untuk menyeretnya, dengan senang hati dia akan menyeret tubuh Grace!

Susah payah Edward mengeluarkan kartu untuk membuka pintu kamar miliknya, ternyata Grace benar-benar menyulitkan.

“Kau benar-benar menyulitkanku, tapi aku tak tega meninggalkanmu sendirian di sarang singa seperti tadi. Oh Tuhan, apakah para dewa sedang menghukumku, sehingga aku harus diberi cobaan seperti ini?”

Setibanya di kamar, Edward langsung merebahkan tubuh Grace di atas ranjang besar miliknya. Untungnya Grace tak muntah. Jika mabuk kemudian muntah, dia akan membiarkan Grace tidur di koridor apartemen sampai besok pagi.

“Engh ...,” Grace bersuara, membuat Edward yang sedang melepas kancing kemejanya langsung menoleh. Tapi dia belum bangun, hanya membuat suara lalu memutar tubuhnya ke arah samping tempat tidur, dan—

“Eh!” Edward langsung berlari ke arah tepi ranjang dan menahan tubuh Grace agar tak terjatuh ke bawah. “Sial, sial! Kenapa kau benar-benar merepotkanku.”

Pakaian kerja yang dikenakan Grace semuanya basah oleh keringat. Edward tak suka dengan bau keringat, tapi apa yang bisa dilakukannya, tak mungkin dia harus melucuti satu per satu pakaian Grace, sedangkan gadis itu pasti tak membawa baju ganti, dan dia pun tak memiliki baju perempuan, lalu bagaimana?

“Eh....” Lagi-lagi Grace mengeluarkan suara.

“Gadis toko kue, apa kau sudah sadar?” Edward berjongkok di tepi tempat tidur, dan menatap wajah Grace lebih dekat. Wajah gadis di hadapannya serupa pahatan, lekuk wajahnya begitu tegas, wajah tirus, bibir tipis, hidungnya mancung, dan kedua mata yang memiliki bulu lentik. Terlalu sempurna bagi Edward untuk menjadi penjaga toko kue. Setidaknya, bagi Edward gadis ini bisa menjadi lebih dari sekadar pekerjaannya saat ini, apakah dia tak bisa mendapatkan pekerjaan lain?

Grace sendiri mulai sadar, meski samar, dia bisa melihat sosok laki-laki sedang menatap wajahnya. “Kau?”

“Kenapa?”

“Kenapa? Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau bisa bersamaku?”

“Kau mabuk lalu pingsan,” jawab Edward singkat.

Kepala Grace masih terasa berat dan pusing, padahal seingatnya dia hanya minum tiga gelas vodka, tidak lebih.

“Lalu kau, apa yang kau lakukan bersamaku?” tanya Grace dengan wajah kusut. Pengaruh alkohol masih sedikit menyisakan pening di kepalanya.

“Aku ingin menjualmu, makanya aku membawamu kemari,” ujar Edward dengan enteng.

“Menjualku? Kau seorang mucikari?” kata Grace lalu tertawa

“Apakah itu lucu? Kau tak takut jika aku menjual tubuhmu kepada seorang laki-laki tua yang memiliki bau ketiak?”

“Jika bisa mendapatkan uang banyak, kenapa tidak?”

Edward menepuk jidatnya. Baru kali ini dia bertemu gadis aneh. Gadis di depannya ini malah membetulkan posisinya, duduk dengan santai, kemudian dengan tenangnya dia membuka jaket, dan kaos polo shirt putih yang dikenakannya, hingga hanya tersisa bra berwarna hitam yang memerlihatkan jelas bentuk payudaranya yang padat dan berisi.

“Pakai kembali kaosmu,” pinta Edward.

“Bajuku keringatan, lagi pula ... aku masih memakai bra. Bukan telanjang bulat,” jawab Grace santai tanpa dosa.

Bentuk dada yang padat berisi, perut yang rata, dan pinggang yang ramping. Grace memang seksi, tapi Edward memandangnya tanpa gairah, raut wajahnya datar tanpa ekspresi apa pun. “Ya sudah, kau mau telanjang bulat sekalipun, aku tak akan menyentuhmu, silakan saja.”

“Kau mau ke mana?” tanya Grace ketika melihat Edward berdiri dan berjalan memunggunginya.

“Mau mandi,” jawab Edward tanpa menoleh sedikit pun.

*

Edward baru saja selesai berendam di dalam bath tube dengan air hangat, tiba-tiba saja kupingnya menangkap suara-suara yang sudah tak asing baginya. Ya, suara desahan, rintihan, dan erangan, entah datang darimana.

“Hey, apa yang kau tonton?!”

“Oh, aku hanya menonton adegan porno di sebuah situs, kenapa?”

Tanpa merasa berdosa, dengan polosnya Grace menunjukkan tampilan layar di handphonenya, di mana terdapat adegan ranjang antara dua laki-laki dan satu perempuan. Lagi-lagi Edward tak memberikan reaksi yang berarti. Grace sendiri tak menaruh pikiran buruk terhadap pemuda tampan yang hanya terbalut kimono tanpa mengenakan apa pun di dalamnya.

Edward menggelengkan kepalanya. Jangan-jangan yang dia bawa ke apartemennya ini adalah seorang gadis setengah waras, pikirnya.

Edward mengibas rambutnya yang masih setengah basah, wajahnya terlihat segar, ketampanannya naik peringkat beberapa persen dari sebelumnya, dia terlihat memesona. Ya, mungkin saja karena baru mandi.

“Kau tak mau mandi?”

“Aku tak punya pakaian, kecuali kau ijinkan aku memakai pakaianmu,” jawab Grace cuek, masih asyik menonton film porno di handphonenya.

“Tak bisakah, kau mengganti dengan film lain?”

“Kenapa? Apa kau terangsang?”

“Apa?”

Edward tersenyum geli, ingin rasanya dia menjedotkan kepala Grace di tembok. Mungkin saja saat ini dia kehilangan akal sehatnya, makanya kata-katanya sedikit ngawur.

“Kau terangsang mendengar suara-suara itu?”

“Tidak sama sekali,” jawab Edward.

“Sebaiknya aku mandi,” ujar Grace. Dia beringsut dari tempat tidur dan berjalan ke arah Edward, tiba-tiba kakinya tersandung sofa yang ada di dekat tempat tidur, dan membuatnya kehilangan keseimbangan.

“Awas!” Dengan sigap Edward menahan tubuh Grace, tapi sepertinya dia salah memegang, yang dipegangnya bukan bahu, karena bahu tak selembut juga sekenyal yang dirasakannya sekarang.

“Kau ... meremas dadaku,” kata Grace tanpa berusaha melepaskan tangan Edward. Bentuknya benar-benar pas dalam genggaman tangan kekar milik Edward.

“Maaf, aku hanya berusaha menolongmu. Sekarang mandilah, aku akan meminjamkan pakaianku. Kau bisa mengenakan piyama tidur milikku, atau kau mau tidur mengenakan bra dan celana dalam, itu terserah kau. Sekarang yang terpenting, kau harus  segera mandi. Kurasa celana dalammu sudah terlalu basah karena tontonan yang kau tonton tadi, dinginkan kepalamu, sekarang!”

Grace melenggang genit menuju kamar mandi, sebelum menutup kamar mandi, dia mengatakan sesuatu, “Jangan memanggilku gadis toko kue, namaku Grace!”

Edward berjalan menuju balkon, dia telah mengganti pakaian dan menggenakan jaket tebal, kemudian membuka pintu, lalu duduk di bangku yang ada di teras. Saat itu sudah pukul dua pagi, tetapi jalanan di Kota Detroit tak pernah sepi.

Edward meraih sebungkus rokok, menyalakannya, dan mengepulkan asap rokok ke arah atas membentuk bulatan-bulatan kecil.

Grace sudah setengah jam berada di kamar mandi dan masih belum juga selesai. Entah apa yang dikerjakannya saat itu.

“Hai, aku sudah selesai,” ujar Grace yang telah berpakaian. Dia mengenakan piyama tidur milik Edward, sedikit kebesaran, daripada tak ada sama sekali.

“Apa yang kau lakukan sampai hampir satu jam di kamar mandi?”

“Berendam, sambil membayangkan adegan-adegan tadi,” jawab Grace tanpa dosa, membuat Edward bergidik geli.

“Kau ingin melakukan adegan tadi?”

“Entahlah. Aku masih perawan. Aku belum pernah melakukannya, bahkan aku tak tahu rasanya seperti apa,” jawab Grace cuek, kemudian bersandar di pagar balkon.

Ya, itu benar, gadis tengil, genit, dan sedikit tolol di hadapan Edward itu memang masih perawan.

“Apa? Eh ... kau masih perawan?” Kali ini Edward tertawa geli, lalu terbahak-bahak, menganggap jika kata-kata Grace adalah sebuah lelucon.

“Kau tak percaya, ya?”

“Tentu saja tidak, apa buktinya? Kelakuanmu saja seperti ini, terlalu berani, mana mungkin aku percaya kau masih perawan atau tidak.”

“Ayo kita lakukan,” ajak Grace merasa ditantang.

Sebenarnya dia kesal karena Edward menertawakan kejujurannya.

“Maksudmu?”

“Bercinta.”

“Kenapa?”

“Supaya kau percaya, aku masih perawan atau tidak.”

“Jadi ... kau ... benar-benar masih perawan? Berapa usiamu?”

“Aku baru 21 tahun, ada yang aneh?”

“Hahaha ..., sangat aneh, biasanya gadis seusiamu sangat langka yang masih perawan,” tawa Edward menggelegar mendengar Grace dengan tingkah laku anehnya menyebut dirinya masih perawan, apakah dia salah dengar?

“Kau ... masih perjaka?” Hal yang sensitif ditanyakan Grace. Edward  berdiri, berjalan mendekati Grace dan mencengkram lengan kecil milik Grace, “Kau ini kenapa, aku kan hanya bertanya, tak perlu—“

Alis tebal milik Edward bertaut menjadi satu, kedua matanya menatap tajam, memerhatikan tubuh Grace dari atas sampai bawah, “Memangnya perjaka atau tidak, apa urusanmu?”

Bagaimana jika Grace tahu, pemuda tampan dan bertubuh ideal yang diidam-idamkan semua wanita, yang sekarang berdiri di hadapannya, ternyata masih seorang perjaka, apa reaksinya?

Edward bukan tipe laki-laki mesum seperti Mark atau kedua temannya yang lain, dia tak mau sembarangan tidur dengan wanita yang tidak disukainya.

“Kau ini aneh, sesaat kau bisa sangat manis, tiba-tiba kau bisa berubah menjadi sangat arogan, apa kau ini seorang pemuda labil yang memiliki gangguan jiwa?”

Edward benar-benar merasa jengkel dengan semua kalimat-kalimat konyol berkesan tolol yang keluar dari mulut Grace, Edward memutar tubuh Grace dan memiting kedua tangannya, mengunci pergerakan Grace sehingga Grace tak bisa bergerak.

"Aku masih waras,” jawabnya. Satu tangan Edward mengunci kedua tangan Grace, satunya lagi menyibak rambut panjang Grace, memperlihatkan leher jenjang, putih, dan mulus milik Grace. Ya, leher itu benar-benar mulus tak ada cacat sedikit pun, membuat Edward menelan ludah berkali-kali.

Grace merasakan bibir Edward yang mengecup tengkuk lehernya dengan lembut, dia merasa geli, tapi menikmatinya.

Grace memejamkan matanya ketika Edward menggigit cuping telinganya dengan lembut, jantungnya berdegup kencang. Grace ingin merasakan lebih bukan hanya sekadar kecupan, maupun gigitan menggoda yang membuat darahnya mendidih dibakar gairah. “Eh?”

“Kenapa kau merem melek seperti itu?”

“Cuma seperti itu?” tanya Grace sedikit kesal, benar-benar tanggung dibuatnya. Pemuda menyebalkan di hadapannya ini benar-benar menjengkelkan, Edward tersenyum puas melihat Grace yang seolah berharap lebih darinya.

“Lalu kau mau apa? Aku bukan pria mesum seperti dalam pikiranmu,” kata Edward sinis.

“Ehmmm, kau tak normal ya?”

Edward mengangkat wajah Grace, mendekatkan wajahnya ke depan muka Grace dan berbisik, “Aku bisa memperkosamu berulang-ulang, jika kau mengatakan kalimat itu sekali lagi. Aku masih NORMAL!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Aku Tak Setia
9.1
Tiga tahun berlalu sejak Raja dan Cahaya memilih jalan masing-masing, namun luka lama akibat perpisahan tersebut nyatanya belum sepenuhnya pulih. Kini, takdir kembali mempertemukan mereka dalam sebuah situasi yang tak terduga. Di tengah kenangan masa lalu yang kembali menyeruak, keduanya harus menghadapi perasaan yang dulu sempat tertunda. Akankah pertemuan kali ini menjadi kesempatan kedua bagi mereka untuk meraih akhir yang bahagia bersama?
Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Kasih Sayangnya yang Terlambat
9.8
Selama tiga tahun, pengabdian Giselle hanya dibalas kebencian oleh Lucian. Setelah menyerah pada pernikahan yang menyesakkan itu, Giselle bangkit menjadi CEO saingan dengan berbagai identitas rahasia sebagai peretas hingga desainer ternama. Lucian yang awalnya meremehkan justru terobsesi untuk mengejarnya kembali saat rahasia Giselle terungkap. Meski Lucian memohon kesempatan kedua dengan segala cara, bagi Giselle, penyesalan suaminya sudah sangat terlambat.
Sampul Novel Dikhianati Saudara Tiri
9.5
Dunia Kiana Putri hancur saat Salsabila, saudara tirinya, dan sahabatnya sendiri, Dara, mengkhianatinya. Terusir dari rumah penuh kenangan, ia bangkit dan sukses menjadi desainer perhiasan setelah lima tahun berjuang. Meski mandiri membesarkan putranya, Haidar, hati Kiana tetap tertutup rapat. Tiba-tiba, Alif muncul membawa tawaran mengejutkan: pernikahan dan janji untuk menjaga Haidar. Di tengah keraguan akibat luka lama, Kiana harus menghadapi kehadiran pria misterius ini.
Sampul Novel Dosa Terindah Bersama Sang Primadona
9.6
Setiap malam, Lucy menyamar sebagai Rose, primadona klub malam yang menggoda namun tetap menjaga kesuciannya meski ditawar mahal. Reputasinya menarik perhatian Rookie, seorang playboy yang terobsesi menaklukkan wanita yang belum pernah menolaknya itu. Namun, pertemuan mereka justru mengungkap rahasia masa lalu yang rumit. Kini, keduanya terjebak antara pilihan untuk merajut kembali cinta lama yang tertunda atau merelakan perasaan demi menjalani hidup masing-masing.
Sampul Novel Kematian Palsu Suamiku
8.1
Setelah dituduh sebagai penyebab kecelakaan maut suaminya, seorang wanita diusir oleh mertuanya tanpa warisan hingga jatuh sakit akibat duka mendalam. Di detik-detik terakhir hidupnya akibat kanker, ia mengetahui kenyataan pahit bahwa kematian suaminya hanyalah rekayasa demi hidup bersama wanita lain. Dipenuhi murka, ia mengembuskan napas terakhir hanya untuk terbangun kembali di hari kecelakaan itu dilaporkan. Kini, ia siap menghadapi sandiwara kejam tersebut dari awal.
Sampul Novel Ketika Suami Tak Lagi Peduli
8.9
Arista berharap pernikahan dengan Yoga penuh kelembutan, namun realitanya justru menyakitkan. Setelah berhenti bekerja demi suami, dia malah diabaikan dan tidak diberi nafkah dengan alasan gaji yang tertunda. Kesabaran Arista mencapai batasnya saat ia memergoki kebohongan Yoga ketika buah hati mereka jatuh sakit. Kini, Arista bertekad menguak kebenaran di balik sikap dingin suaminya. Rahasia gelap apa yang sebenarnya disembunyikan Yoga selama ini?