Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gadis Nakal Itu Milikku

Gadis Nakal Itu Milikku

Grace jatuh terduduk dalam kehancuran setelah dipermalukan oleh Edward. Tidak ada lagi sikap keras kepala yang biasa ia tunjukkan. Di tengah isak tangisnya, Edward mendekat dan memeluknya erat sambil memohon maaf. Edward mengaku tindakannya dipicu oleh kecemburuan melihat kedekatan Grace dengan Kevin. Meski emosinya sempat meledak, Edward menyadari perasaannya yang kacau. Ia mencium kening Grace, berusaha menjelaskan sesak di dadanya yang selama ini tak ia pahami.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Hey bangun!" teriak Edward tepat di telinga Grace.

Gadis itu tertidur nyenyak di atas tempat tidur besar milik Edward, mengorok pula.

Edward lebih memilih tidur di atas sofa, semalaman dia tak tahan dengan dengkuran Grace yang mengganggu telinganya, sehingga memutuskan pindah ke sofa dan menjauh dari Grace. 

Grace mengucek kedua matanya, kesadarannya belum pulih benar. "Begitu caramu membangunkan seorang tamu?"

Edward melotot, rahangnya mengeras, ditatapnya Grace dengan tajam dan berkata, "Heh, jadi kau mau tidur sampai kapan? Aku punya banyak urusan, aku antar kau pulang!"

"Ck, apa kau tak pernah bisa berbicara dengan lembut? Kurasa, di rumahmu semuanya tuli, ya?"

"Gadis tolol, cepat sebelum aku naik darah, pakai kembali bajumu. Tadi aku sudah menyuruh laundry apartemen untuk mencucinya untukmu."

Sebegitu perhatiannya Edward. Selama ini dia tak pernah peduli dengan yang namanya perempuan. Apalagi sampai rela menawarkan diri mengantar pulang, dan peduli dengan pakaian kotor grace sampai memaksa petugas laundry apartemen untuk mendahulukan mencuci beberapa potong pakaian milik Grace.

*

"Kau tinggal di tempat seperti ini?" tanya Edward ketika mobilnya berbelok ke arah lingkungan kumuh.

Semua bangunan tampak tak terawat, belum lagi beberapa gelandangan yang tidur di sembarang tempat beralaskan kardus menambah pemandangan yang tak layak dipandang.

"Iya, aku bukan orang kaya seperti kalian yang mampu berpindah-pindah apartemen jika merasa bosan di satu tempat. Tapi aku yakin suatu saat aku akan punya banyak uang."

Grace membuang pandangannya dan menatap sebuah papan nama yang sangat besar terpampang jelas 'RETRO CLUB HOUSE' sebuah bar ternama di Detroit.

"Aku mau melamar di sana." Grace menunjuk papan nama klub malam tersebut. 

Edward meringis mendengar perkataan Grace, dia bilang dia ingin kerja di sana, untuk mendapatkan uang banyak?

"Hey, apa kau masih waras?" tanya Edward. 

"Tentu saja, kenapa?"

"Kau tak punya cita-cita lain? Kau tahu kerasnya kehidupan malam. Mereka bersaing mendapatkan tamu, bahkan menggunakan cara licik, dan kau tak memiliki pengalaman sama sekali. Kau tak takut harus melayani om-om bertubuh besar dan sangar, yang kasar terhadap perempuan?"

"Buat apa aku takut?"

"Ah sudahlah, berbicara denganmu, sama saja berbicara dengan tembok."

Edward melirik dan memperhatikan wajah Grace dari samping. Jika memang benar dikatakan dia masih perawan, sungguh disayangkan jika dia harus bekerja di tempat seperti itu nantinya. Edward mengangkat satu tangan—hendak mengusap wajah Grace—kemudian diurungkan. 

Tak lama kemudian keduanya tiba di sebuah pemukiman warga. Pemukiman itu terlihat berantakan. Orang-orang berkulit hitam terlihat asyik menari-nari di tepi jalan menggunakan jaket tebal, musim dingin tak terlalu berpengaruh, salju pun sudah mulai berkurang di bulan Januari, di sisi jalan lainnya, beberapa pemuda terlihat asyik mengisap ganja seolah tak peduli kalau mereka sedang diperhatikan. 

"Itu rumahku, kau cukup mengantarku sampai di sini," ujar Grace seraya menunjuk sebuah rumah susun tua yang kelihatan kurang terurus, catnya sudah memudar, bahkan mengelupas, temboknya menghitam membentuk garis lurus dari atas hingga ke bawah, bekas rembesan air hujan. 

"Aku laki-laki, aku yang membawamu, maka aku yang akan mengantarmu sampai di depan pintu!" jawab Edward setengah membentak.

"Hey, kau tak bisa ya, jika berbicara tanpa menarik urat?"

"Berisik, cepat tunjukkan tempatmu!"

*

Seusai mengerjakan pekerjaan kantor yang berhubungan dengan bisnis milik orangtua-orangtua mereka, keempat pemuda itu memilih sebuah tempat untuk makan siang. 

"Kau ingin memesan apa, Ed?" tanya Mark sambil menatap buku menu yang ada di tangannya. Sepertinya, Edward tak mendengar kata-kata Mark sama sekali. Mark kelihatan bingung, melihat Edward yang tersenyum-senyum sendiri. 

"Dia senang, karena semalam dia bersama Grace di apartemen," ujar Vanes. 

Edward langsung menoleh, kedua bola matanya mendelik, dia langsung berdiri dan menghampiri Vanes, kemudian membungkam mulut Vanes dengan kedua tangannya.

"Ka-kau jangan membuat gosip!"

"Tunggu, siapa Grace?" tanya Mark tak paham. Sepertinya dia dan Kevin melewatkan sebuah berita besar tentang semalam. 

Bukan hanya para perempuan yang senang bergosip, laki-laki pun suka. Apalagi ketika bergosip tentang Edward, pemuda dingin, arogan, yang tak pernah bisa bersikap lembut kepada perempuan, bahkan tak segan memukul perempuan yang berusaha menyentuhnya.

Vanes melepas tangan Edward dari mulutnya dan melanjutkan kata-katanya tadi, "Gadis di toko kue yang semalam, gadis itu mabuk dan Edward membawanya ke apartemen."

"Wow, kau sudah begitu dengannya?" tanya Mark penasaran. 

"Kau kira aku gila, meniduri perempuan yang sedang mabuk, sama saja mencuri kesempatan darinya!" jawab Edward jengkel. 

"Ya, aku lupa sepertinya kau harus segera ke psikiater dan memeriksa kejiwaanmu. Siapa tahu kau sudah mulai tak normal. Seumur dirimu masih perjaka, itu sangat aneh," ejek Mark kemudian meraih sekaleng bir di atas meja dan meminumnya. 

"Benar, bahkan Cathy saja tak bisa memaksamu untuk berkencan dengan anak dari relasi bisnisnya, kau ingat Adel? Gadis yang kau tinggal di restoran sendirian? Akhirnya hubungan bisnis itu gagal karena tingkah lakumu," sambung Vanes. 

Mereka masih ingat kejadian tahun lalu, ketika Cathy—ibu dari Edward—memintanya untuk bertunangan, kemudian menyuruh Edward menemani Adel makan malam. Sesampainya di restoran, dengan seenak jidat Edward memesan semua menu kemudian meninggalkan Adel dan menyuruh gadis itu membayar semua tagihan. 

"Aku tak bisa memaksa diri berkencan dengan orang yang tak kusukai," jawab Edward santai sambil mengisap sebatang rokok. 

"Memangnya ada gadis yang kausukai?" tanya Kevin tiba-tiba yang sejak tadi hanya diam mendengarkan segala perdebatan yang tak berguna di antara ketiga orang itu.

"Hmmm ... entah," jawab Edward singkat. 

"Mungkin, jika Valerie kembali ke Jepang, aku bisa mengencani Grace," ujar Kevin sekali lagi tanpa dosa, dan dia bisa melihat perubahan ekspresi pada wajah Edward, apalagi dia merasa Edward menatapnya dengan sinis. 

"Silakan, dia juga masih perawan."

"JACKPOT!" teriak ketiga kawannya; Mark, Kevin, dan Vanes. Serigala-serigala tanpa bulu itu begitu senang mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Edward. Mendengar kalimat itu, wajah dan kuping Edward memerah, dan menatap sinis ketiga kawannya. Kesal! 

*

Grace berlari ke arah pintu, sejak tadi kupingnya merasa terganggu dengan bel rumah yang tak henti-hentinya berbunyi. Kedua orangtuanya pun sedang tak ada di rumah, hanya ada dia, Sean, dan Howard, kedua adik laki-lakinya yang brengsek. 

"Kalian sibuk mengisap ganja, apa tak mendengar kalau bel pintu dari tadi berbunyi?!" bentak Grace yang tak diacuhkan sama sekali. 

Grace tak peduli, dia mengintip dari lubang kunci, terlihat dua pria berbadan kekar dan berwajah sangar sedang berdiri di depan pintu, mereka memakai setelan jas, dan kacamata hitam. Tanpa ragu, Grace membukakan pintu. 

"Tuan Frey ada?"

"Kalian siapa, dan mau apa mencari ayahku?"

"Kami ingin meminta pertanggungjawabannya."

"Huh? Memangnya dia melakukan apa?"

"Mana dia?" tanya laki-laki satunya yang bertubuh lebih tinggi, tanpa sopan santun dia melangkah masuk dan menyingkirkan Grace, "Katakan pada ayahmu, Nathan mencarinya."

"Eh, eh, kalian mau apa, masuk ke rumah orang seenaknya. Memangnya ayahku ada salah apa? Siapa itu Nathan?"

Lelaki satunya mengacak-acak seisi rumah, membuka laci, mengeluarkan isinya dan membuangnya ke lantai. "Nathan pemilik kasino dekat bar terkenal itu, suruh dia bayar hutangnya!"

"Hutang? Hutang apa?" 

Seribu pertanyaan menggelayut di benak Grace, ayahnya berhutang? Jika memang berhutang, lalu uangnya untuk apa? Dia masih memiliki tabungan yang ditaruhnya di bawah kasur, memang tak banyak, tapi setidaknya bisa membuat dua laki-laki menyeramkan itu pergi dari rumahnya, begitu ayahnya pulang, dia akan menanyakan, kenapa harus berhutang. 

"Ayahmu kalah judi, dan dia harus membayarnya."

"Tuhan, berapa besar hutangnya pada kalian?!"

"Sepuluh ribu dollar, apa kau punya uang sebanyak itu? Jika ya, lebih baik kauserahkan, setelah itu, kau tak perlu lagi melihat kami datang ke mari," jawab laki-laki yang bertubuh lebih tinggi tadi. 

Sepuluh ribu dollar, Grace merasakan pening secara tiba-tiba, darimana mendapatkan uang sebanyak itu? Tabungannya hanya ada lima ratus dollar, tak akan mungkin cukup membayar kedua preman suruh orang bernama Nathan. 

Grace yang saat itu mengenakan celana pendek dan kaos ketat, menjadi pusat perhatian mata-mata nakal kedua pria di hadapannya. Lelaki satunya mendekati Grace, "Thomas, mungkin hutangnya bisa lunas, jika—"

"Wohhoo, pikiran kalian kotor, aku sudah tahu maksud kalian. Aku lebih memilih membayar hutang tersebut, ketimbang harus menjadi jaminan. Jangan pernah berharap kalian bisa mendapatkan apa yang ada di otak kalian, sekarang pergi atau aku tak segan membunuh kalian berdua!"

"Lagi pula kau lumayan juga," kata lelaki yang bernama Thomas, dia berjalan mendekati Grace dan menyolek wajah Grace, membuat Grace bergidik ngeri dan jijik. 

Merasa terancam, Grace tanpa segan melayangkan sebuah pukulan telak ke arah wajah Thomas, yang membuat Thomas bergerak mundur, dan mengusap wajahnya. 

"Itu baru satu pukulan, kalau kalian masih di sini, aku berani jamin, kalian akan pulang tinggal nama."

"Dasar pelacur cilik!" 

Tamparan yang cukup keras dari Thomas mengenai wajah Grace, membuat tepi bibir Grace terluka. 

"Heh, apa pun sebutanmu untukku, aku tak peduli. Tapi kau dan si jelek satunya, seenaknya masuk dan mengacak-acak rumah orang. Sekarang kalian pergi atau aku akan berteriak sekuat tenaga supaya satu rumah susun menghajar kalian sampai mati!" bentak Grace, sorot mata Grace berubah, raut mukanya pun tak seperti biasanya, dia benar-benar sudah kehabisan sabar. 

"Cih! Kalian yang berhutang, kalian yang lebih galak!" 

Grace hanya diam ketika salah satu laki-laki itu meludahi wajah Grace.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LMW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LMW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Aku Tak Setia
9.1
Tiga tahun berlalu sejak Raja dan Cahaya memilih jalan masing-masing, namun luka lama akibat perpisahan tersebut nyatanya belum sepenuhnya pulih. Kini, takdir kembali mempertemukan mereka dalam sebuah situasi yang tak terduga. Di tengah kenangan masa lalu yang kembali menyeruak, keduanya harus menghadapi perasaan yang dulu sempat tertunda. Akankah pertemuan kali ini menjadi kesempatan kedua bagi mereka untuk meraih akhir yang bahagia bersama?
Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Kasih Sayangnya yang Terlambat
9.8
Selama tiga tahun, pengabdian Giselle hanya dibalas kebencian oleh Lucian. Setelah menyerah pada pernikahan yang menyesakkan itu, Giselle bangkit menjadi CEO saingan dengan berbagai identitas rahasia sebagai peretas hingga desainer ternama. Lucian yang awalnya meremehkan justru terobsesi untuk mengejarnya kembali saat rahasia Giselle terungkap. Meski Lucian memohon kesempatan kedua dengan segala cara, bagi Giselle, penyesalan suaminya sudah sangat terlambat.
Sampul Novel Dikhianati Saudara Tiri
9.5
Dunia Kiana Putri hancur saat Salsabila, saudara tirinya, dan sahabatnya sendiri, Dara, mengkhianatinya. Terusir dari rumah penuh kenangan, ia bangkit dan sukses menjadi desainer perhiasan setelah lima tahun berjuang. Meski mandiri membesarkan putranya, Haidar, hati Kiana tetap tertutup rapat. Tiba-tiba, Alif muncul membawa tawaran mengejutkan: pernikahan dan janji untuk menjaga Haidar. Di tengah keraguan akibat luka lama, Kiana harus menghadapi kehadiran pria misterius ini.
Sampul Novel Dosa Terindah Bersama Sang Primadona
9.6
Setiap malam, Lucy menyamar sebagai Rose, primadona klub malam yang menggoda namun tetap menjaga kesuciannya meski ditawar mahal. Reputasinya menarik perhatian Rookie, seorang playboy yang terobsesi menaklukkan wanita yang belum pernah menolaknya itu. Namun, pertemuan mereka justru mengungkap rahasia masa lalu yang rumit. Kini, keduanya terjebak antara pilihan untuk merajut kembali cinta lama yang tertunda atau merelakan perasaan demi menjalani hidup masing-masing.
Sampul Novel Kematian Palsu Suamiku
8.1
Setelah dituduh sebagai penyebab kecelakaan maut suaminya, seorang wanita diusir oleh mertuanya tanpa warisan hingga jatuh sakit akibat duka mendalam. Di detik-detik terakhir hidupnya akibat kanker, ia mengetahui kenyataan pahit bahwa kematian suaminya hanyalah rekayasa demi hidup bersama wanita lain. Dipenuhi murka, ia mengembuskan napas terakhir hanya untuk terbangun kembali di hari kecelakaan itu dilaporkan. Kini, ia siap menghadapi sandiwara kejam tersebut dari awal.
Sampul Novel Ketika Suami Tak Lagi Peduli
8.9
Arista berharap pernikahan dengan Yoga penuh kelembutan, namun realitanya justru menyakitkan. Setelah berhenti bekerja demi suami, dia malah diabaikan dan tidak diberi nafkah dengan alasan gaji yang tertunda. Kesabaran Arista mencapai batasnya saat ia memergoki kebohongan Yoga ketika buah hati mereka jatuh sakit. Kini, Arista bertekad menguak kebenaran di balik sikap dingin suaminya. Rahasia gelap apa yang sebenarnya disembunyikan Yoga selama ini?