
Gadis Muda untuk Tuan Duda
Bab 2
Mayra segera meraih ponselnya Rayyan, “Ya ampun, ini pecah gara-gara tadi?” tanya Mayra sambil mengelus layar ponsel milik Rayyan dan melihatnya bolak-balik untuk mengecek lecet yang lainnya.
Ferdi dan Kino kembali ke tempat semula, mereka hendak masuk ke dalam restoran, mereka kembali melihat Mayra dan Rayyan sedang berduaan.
“Apa dia membeli ponsel yang sama dengan yang dia pakai untuk bocah itu?” tanya Kino pada Ferdi, dia sengaja menaikkan nada suaranya supaya terdengar oleh Rayyan.
“Sepertinya, mungkin dia sedang mabuk cinta makanya tidak bisa dinasihati,” jawab Ferdi, lalu mereka pergi masuk ke dalam restoran.
Rayyan mengerang kesal, tapi masa bodoh dengan ocehan mereka untuk sementara, karna dia harus memberi peringatan untuk gadis di depannya.
“Mereka sedang membicarakan siapa? Apa mereka membicarakan kita?” tanya Mayra sambil melihat sekelilingnya, mencari sumber yang menjadi topik pembicaraan Ferdi dan Kino.
“Mana aku tau! Bukan urusan aku dan bukan urusan kamu juga! Urusan kamu perbaiki ini!” sahut Rayyan yang kembali menunjuk ponsel yang masih berada di tangan Mayra.
“Tapi itu kan orang yang tadi bicara sama kamu, dan di sini tidak ada siapa-siapa selain kita berdua, apa mereka menggosip untuk kita? Ah, begitulah lelaki di daerah sini, suka menggosip kayak ibu-ibu, memalukan!” ucap Mayra dengan ujung bibir yang dinaikkan sebelah.
Rayyan menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan ke udara, kemudian menarik ponselnya dari tangan Mayra dengan sekali sentakan.
“Lebih memalukan lagi karna harus berurusan dengan perempuan seperti kamu!” jawab Rayyan lalu pergi menuju parkiran untuk mengambil mobilnya, dia sudah lupa dengan niatnya yang datang ke sana karna lapar.
“Apaan sih?! Tadi kenapa di samperi lagi dan nunjuin ponselnya yang retak kalo ujung-ujungnya pergi gitu aja?! Dasar lelaki aneh!” gerutu Mayra sambil menghentikan angkutan umum yang lewat, dia tidak mungkin menunggu taksi lagi, takut telat sampai ke rumah.
“Tapi gak apa-apa juga sih dia pergi, setidaknya aku tidak harus ngeluarin uang untuk bayarin servis ponsel dia,” lanjut Mayra sambil cekikan sendiri. Angkot yang dia stop berhenti tepat di depannya, dan dia segera naik untuk pulang.
Di toko ponsel, Rayyan sedang menunggu ponselnya di servis. Bukan dia tidak mampu membeli ponsel yang lain, hanya saja banyak data penting di dalam ponselnya, membuatnya rela menunggu untuk di perbaiki.
“Sial banget gua hari ini, di kantor ada masalah, di tambah lagi ketemu sama bocah menyebalkan. Rasa-rasanya pengen gua jitak aja lihat kelakuannya yang tidak hati-hati,” gerutu Rayyan.
Dia duduk di kursi tunggu dengan wajah malas. Seorang perempuan berpakaian seksi masuk ke toko ponsel tersebut dan melihat-lihat barang yang ada di sana.
“Loh Rayyan, lama gak jumpa, apa kabar kamu?” tanya Vina yang tak lain mantannya Rayyan saat kuliah.
Rayyan mendongak ke atas menatap Vina, lalu membuang tatapannya ke sembarang arah.
‘Kenapa harus bertemu dengan perempuan ini lagi?’ batin Rayyan dengan wajah yang terlihat makin betek.
Vina menatap Rayyan dari atas hingga bawah, benar saja seperti yang dikatakan oleh temannya, Rayyan sangat tampan sekarang, dan Vina juga tahu kalau Rayyan sudah memiliki perusahaan besar dan cabangnya yang ada di mana-mana.
“Rayyan, gua minta maaf sama kejadian yang waktu dulu, gua gak ada niat untuk- ....”
Belum selesai Vina berbicara, Rayyan langsung memotong pembicaraan.
“Aku sudah tidak peduli lagi dengan hal itu!” sahut Rayyan dengan cuek.
Vina menghela nafas, “Aku udah dengar tentang almarhumah istri kamu, aku ikut berduka cita, maaf aku tidak hadir ke acara pemakaman istri kamu saat itu, aku sedang bertugas di luar kota,” ucap Vina membuat hati Rayyan merasa nyeri karna kembali teringat dengan almarhumah istrinya.
“Bagaimana kabar anak kamu? Aku dengar anak kamu perempuan ya? Kalau tidak salah umurnya sekitar 4 tahun ya?” tanya Vina, Rayyan hanya mengangguk tanpa bersuara.
“Kalau kamu butuh orang untuk menjaganya, kamu bisa bawa dia ke TK tempat aku mengajar, aku akan menjaganya dengan baik,” ucap Vina membuat Rayyan mengerti arah topik pembicaraan Vina.
Rayyan tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Vina, dia tidak yakin Vina akan menyukai anak-anak, karna dia sudah melihat dengan mata kepalanya sendiri dulu saat mereka sedang kencan, ada anak-anak yang tidak sengaja menubruknya, dan Vina memarahinya dengan kasar.
Rayyan bangkit dari tempat duduknya dan mendekati meja penjaga toko.
“Bagaimana, apa masih lama siap ponselnya?” tanya Rayyan.
“Tidak Mas, ini sudah siap,” sahut penjaga toko tersebut sambil menyerahkan ponsel Rayyan dan membuat nota harga.
Rayyan hendak mengeluarkan dompetnya dari saku celananya, tapi tidak ada, ‘Ke mana dompet gua?’ batinnya celingukan mencari dompet, tidak mungkin dia tidak bayar uang servis ponselnya, apa kata pegawai toko tersebut.
Tapi syukurlah begitu dia meraba ke dalam kantong jasnya, dia menemukan kartu kreditnya, dan dia segera membayar harga servis ponselnya, lalu pergi begitu saja dari sana tanpa berkata apa pun, termasuk kata pamit pada Vina, membuat Vina merasa di kacangin oleh Rayyan.
“Sialan banget si Rayyan! Gua udah ngerendahin harga diri gua di depan dia, tapi dia malah pergi gitu aja! Gua gak boleh nyerah, gua udah pernah dapatin hatinya, jadi tidak susah untuk mendapatkannya kembali,” lirih Vina dengan senyum mengembang di bibirnya.
Rayyan terus berjalan hingga sampai ke mobilnya. “Sial banget sih gua hari ini, di kantor bermasalah, ketemu bocah sialan, ketemu teman yang sok tau, dan sekarang malah ketemu mantan yang bedebah! lebih baik gua pulang saja dan istirahat, akhir-akhir ini gua jarang tidur nyenyak karna gila kerja,” gerutu Rayyan, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
“Tapi tunggu, dompet gua ke mana? Apa di dalam mobil?” tanya Rayyan pada dirinya sendiri, dengan cepat dia masuk ke dalam mobil dan mencari dompetnya, tapi tetap tidak ada, membuatnya frustrasi karna merasa lelah, dia berhenti mencari dompet dan memilih melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Rayyan langsung menuju kamarnya, biasanya dia pulang akan menyapa anaknya lebih dulu, tapi kali ini tidak, hati dan pikirannya sedang letih, apalagi dompetnya tidak ada, jadi dia memilih langsung masuk ke kamar untuk mencari dompetnya.
“Di sini juga tidak ada dompet gua, ke mana ya?” tanya Rayyan setelah membuka laci dan lemari untuk mencari dompetnya tapi nihil hasilnya. Rayyan menjentikkan jari tengah dengan jari jempolnya.
“Apa jangan-jangan yang tadi itu ....” Rayyan kembali teringat dengan kejadian saat di restoran, saat Mayra memegang pinggangnya.
“Ah sialan! Jadi bocah itu berprofesi sebagai pencopet! Sialan banget! Mana semua data pribadi gua ada di dalam dompet itu lagi!” lanjut Rayyan lagi sambil menyugar rambutnya ke belakang, lalu merebahkan tubuhnya di kasur sambil memejamkan matanya.
Ibunya Rayyan yang biasa di panggil nenek Rumi melihat Rayyan pulang kantor dengan wajah lelah, dia membiarkan Rayyan untuk pergi beristirahat, dan berusaha mengajak Asyifa untuk main di tempat lain supaya dia tidak mengganggu istirahat papanya.
Anda Mungkin Juga Suka





