
Gadis Muda untuk Tuan Duda
Bab 3
Keesokan pagi.
“Asyifaaa ....”
Suara panggilan nenek Rumi terdengar seperti putus asa ketika memanggil bocah perempuan yang berumur 4 tahun berlari cepat menuju lantai dua karna tidak mau mandi.
“Biar saya yang naik menyusul Non Asyifa Bu, Ibu di sini saja,” ucap pengasuhnya Asyifa yang dari tadi memang sudah kejar-kejaran bersama Asyifa membujuk Asyifa untuk mandi pagi.
“Iya, naiklah ke sana, kamu lihat sendiri kan, aku sudah tua, sudah tidak kuat naik turun tangga itu,” sahutnya.
Pengasuhnya Asyifa langsung pergi menaiki tangga yang baru saja di lalui oleh Asyifa sambil berlari, sedangkan nenek Rumi memijat dahinya sambil memutar badannya hendak menuju sofa di ruang tersebut.
“Ah, kamu mengageti Ibu saja, sejak kapan kamu sudah berdiri di situ?” nenek Rumi memegang dadanya sambil bertanya pada lelaki yang berada tepat di hadapannya.
Memiliki wajah yang tampan, badan atletik yang dibalut dengan kemeja berwarna putih dan jas hitam di tangannya. Matanya menatap ke arah lantai dua yang baru saja di lewati oleh putri kecilnya.
“Apa Asyifa selalu bertingkah yang membuat Ibu kewalahan?”
Rayyan bertanya dengan tatapan nelangsa pada Ibunya.
Nenek Rumi menghela nafas sambil melanjutkan langkahnya menuju sofa, Rayyan pun mengikuti langkah kaki ibunya.
“Ibu tidak kewalahan mengurus Asyifa, ada Minah yang mengurus Asyifa, ibu hanya khawatir Asyifa tidak bisa jadi anak penurut, Ibu rasa dia bosan terus-terusan di rumah,” sahut nenek Rumi.
“Tapi Ibu bilang, kalian selalu pergi main ke taman tiap sore,” ucap Rayyan.
“Itu tidak membuatnya senang, dia selalu saja melihat ke arah anak-anak yang datang dan bermain bersama ke dua orang tuanya.”
“Rayyan akan meluangkan waktu pekan ini untuk dia.”
“Bukan itu yang Ibu maksud, Asyifa butuh sosok ibu, tidakkah kamu berpikir menikah lagi setelah hampir 4 tahun di tinggal oleh almarhumah mamanya Asyifa?”
Pertanyaan nenek Rumi membuat Rayyan langsung menoleh ke arah ibunya, lalu beberapa saat kembali menatap datar ke depan.
“Rayyan harus pergi sekarang juga, ada rapat penting hari ini, oh ya, nanti bilang sama Burhan supaya keliling kota cari PAUD yang bagus untuk Asyifa, dia sudah bisa masuk PAUD tahun ini, sekalian bawa Asyifa biar dia bisa pilih sendiri sekolah mana yang dia mau,” ucap Rayyan sambil berdiri memakai jasnya dan merapikan dasinya sendiri.
“Iya, nanti akan ibu sampaikan,” sahut Nenek Rumi.
“Kalau begitu Rayyan pergi dulu,” pamitnya.
Nenek Rumi mengangguk, melepaskan putranya untuk pergi kerja tanpa melanjutkan obrolan yang menurutnya sangat penting untuk Rayyan sendiri, juga untuk Asyifa.
“Dia masih saja menghindar kalau sudah membicarakan menikah. Padahal dia masih muda, punya banyak uang, tapi aku belum pernah melihatnya keluar dengan wanita setelah mamanya Asyifa meninggal, apa dia masih terpukul dengan kepergian mamanya Asyifa? Tapi bukankah hal itu sudah sangat lama, seharusnya dia sudah bangkit dari rasa terpuruknya,” gumam nenek Rumi sambil menyesap teh hangat di depannya.
Baru menyesap tehnya sedikit, Burhan yang bekerja sebagai sopirnya masuk ke dalam.
“Ada apa?” tanya Nek Rumi padanya.
“Tadi Pak Rayyan bilang saya akan mengantar ibu untuk mencari PAUD, saya ingin bertanya jam berapa kita berangkat, karna ini sudah hampir jam delapan,” jawab dia.
Nenek Rumi menarik nafas, tadi Rayyan memintanya untuk menyampaikannya pada Burhan, tapi ternyata dia sudah berbicara sendiri dengan sopir mereka.
“Sebentar lagi kita pergi, tunggu Asyifa selesai bersiap-siap,” sahut nek Rumi.
“Baik Bu, kalau begitu saya tunggu di luar,” ucapnya.
Nenek Rumi mengangguk dan Burhan segera pergi keluar dari dalam rumah menuju pos satpam depan pintu gerbang. Biasanya dia pagi-pagi akan mengantar Rayyan ke kantor, tapi akhir-akhir ini Rayyan lebih memilih menyetir sendiri untuk pergi ke kantor.
Asyifa sudah berhasil di bujuk oleh Bi Minah supaya dia mau pakai baju, dia ikut turun ke lantai bawah bersama Bi Minah.
“Asyifa, kita hari ini cari sekolah buat kamu ya,” ucap Nek Rumi pada cucu semata wayangnya.
“Ekolah? api A..i..fa endak mau ekolah,” sahut gadis kecil tersebut yang masih agak cadel saat berbicara.
“Asyifa, di sekolah banyak teman, ada guru-guru cantik juga yang mau bermain sama kamu, kita pergi sekarang ya, nenek yakin kalau kamu sudah lihat sekolah nanti kamu juga akan betah di sekolah kamu,” ucap Nek Rumi yang kekeh sama ucapannya, mereka tetap harus pergi meski Asyifa menolak
Sedikit memaksakan kehendak demi kebaikan Asyifa menurutnya tidaklah salah.
Asyifa akhirnya ikut bersama nek Rumi untuk mencari PAUD terbaik untuk cucu semata wayangnya.
...
Di tempat lain. Mayra baru saja bangun tidur dengan rasa malas, dia pergi menuju dapur untuk memasak mie instan untuk dirinya, dia terbiasa makan mie saat pagi hari.
“Sampai kapan kamu malas-malasan begini? Apa kamu tidak malu sama diri kamu sendiri?!”
Ucapan bernada tinggi terdengar oleh Mayra, suara Bibinya yang berdiri tidak jauh dengannya.
Mayra menoleh dengan tatapan seperti sedang bertanya pada bibinya, ada apa?
“Sudah saatnya kamu balas budi! Bukankah sudah sangat lama kamu tinggal di rumah ini, kamu bisa makan makanan enak, tidur nyenyak, dan pergi sekolah dengan bahagia! Sekarang kamu sudah tamat SMA, tidak aneh kalau kamu sudah bisa pergi cari pekerjaan dan bawa pulang uang sebanyak-banyaknya ke rumah ini! Itung-itung membayar uang yang sudah kami habiskan untuk kamu dengan cara mencicil sedikit demi sedikit!”
Glek!
Mayra menelan saliva mendengar ucapan bibinya, perempuan yang sudah memberi tumpangan untuknya selama 6 tahun ini, kini berkata dengan kalimat ingin di balas budi.
Mayra bukan tidak tahu balas budi, tapi apa yang harus di balaskan? Selama ini dia jajan dari hasil usahanya sendiri, hanya makan nasi sehari 2 kali dan tidur malam, yang dia nikmati di rumah tersebut.
‘Mungkin maksudnya aku harus membayar beras yang selama ini ku makan, dan air putih yang sudah ku telan,’ batin Mayra sambil menggenggam gelas kaca di tangannya dengan kuat.
Kruk! Suara gelas yang retak dalam genggamannya.
“Aku akan bekerja hari ini,” sahut Mayra dengan linangan air mata.
Dia bangkit berjalan sambil terus menggenggam gelas tersebut, Lalu membuangnya ke tong sampah karna sudah tidak bisa dipakai lagi.
Mayra masuk ke dalam kamar dan menatap wajahnya di cermin.
“Aku harus cari uang dengan sungguh-sungguh!” ucapnya dengan tegas.
“Kerja mengantar kerupuk untuk pelanggan hanya bergaji sedikit, aku tidak bisa membayar hutang beras Bibi yang sudah ku makan,” lanjutnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca.
Dia tidak menyangka, orang yang sudah di anggap sebagai orang tuanya dulu ternyata meminta bayaran atas apa yang sudah dia habiskan.
Mayra selama kelas 1 SMP sudah mulai mengantarkan kerupuk untuk pelanggan, dia akan di bayar sesuai dengan kemampuan dia, dan uang tersebut biasanya digunakan untuk keperluan sekolahnya, terutama untuk membayar uang bulanan.
Dia mulai banting tulang setelah orang tuanya meninggal karna kecelakaan mobil yang mereka tumpangi.
Anda Mungkin Juga Suka





