Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel GADIS MALANG

GADIS MALANG

Rinda, gadis muda yang merantau demi pendidikan, harus menghadapi pahitnya realita di tanah orang. Meski ia memegang teguh komitmen dalam cinta, luka mendalam justru menghampirinya hingga memicu depresi berat. Di tengah isak tangis, ia meluapkan rasa sakitnya kepada sosok yang telah menghancurkan hatinya. Kini, Rinda terjebak dalam dilema antara bertahan atau menyerah pada keadaan. Akankah ia mampu melewati badai ini, atau justru hancur ditelan waktu?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Siapa, Rin?" tanya Della yang satu menit kemudian saling bertatapan dengan Rinda.

Perempuan yang ada di samping Della hanya menggelengkan kepalanya. Ia juga bingung, karena tidak biasanya ada orang berteriak dengan suara kencang seperti itu.

Tanpa berpikir lama, mereka berdua memutuskan untuk segera beranjak menuju pintu kos.

"Gian!!!" seru dua pasang sahabat itu secara serentak. Tangan mereka juga spontan menutupi hidup karena tidak tahan mencium bau alkohol dari Gian.

Penampilan Gian malam itu terlihat sangat kacau. Kancing bajunya beberapa sudah terlepas. Wajah dan rambutnya juga berantakan.

Ini adalah momen pertama kali Rinda menyaksikan mantan kekasihnya itu mabuk. Sepanjang masa mereka menjalin hubungan, tampaknya perempuan berdarah Sunda itu tidak pernah berpikiran bahwa Gian bisa berbuat demikian. Terlebih, tempat mereka menimba ilmu yang berdekatan, membuat mereka sering bertatap muka dan tak pernah mendekati tempat seperti diskotik dan semacamnya.

"Kamu tidak boleh meninggalkan aku, Rinda ...," ucap Gian yang kemungkinan sudah kehilangan kesadaran.

Rinda bergidik ngeri manakala  laki-laki itu mulai mendekat ke arahnya. Akan tetapi, dia dan Della tak berani membentak ataupun melawan lebih dulu. Sebab, mereka berdua takut kalau sampai Gian akan berbuat hal-hal yang di luar kendalinya.

"Hei, Gian! Sadar!" ucap Della sembari mencoba menampar pipi laki-laki yang ada di hadapannya.

Della memang lebih pemberani dibandingkan Rinda. Bahkan, setiap kali sahabatnya ada masalah dengan Gian, dirinyalah yang maju untuk melabrak. Entahlah, ia hanya merasa tak terima jika melihat Rinda terpuruk.

"Aku mau Rindaaaa ... Rindaku sayang. Sini ikut denganku." Perkataan Gian semakin ngelantur.

Della yang mencoba mengendalikannya pun merasa kuwalahan. Apalagi, yang dihadapinya adalah laki-laki berpostur tubuh tinggi seperti itu.

"Mending kamu masuk dulu, Rin. Nanti gantian aku dan kita tutup pintunya. Sepertinya kita tidak akan bisa menghadapi, Gian dalam keadaan seperti ini," bisik Della yang mulai agak panik.

Sementara Gian, masih meracau dan sesekali berteriak memanggil Rinda.

"Minggir kamu! Aku mau Rinda!" seru Gian dengan raut wajah yang membuat Della sedikit ngeri.

Tangan perempuan berkulit eksotis itu masih mencoba menghalangi Gian untuk masuk. Walaupun ia sendiri merasa tidak yakin bisa menahan laki-laki itu lebih lama, tetapi dirinya masih terus berusaha.

Buk!

Dengan tingkat kesadaran yang rendah, Gian masih berhasil menyingkirkan dan membuat tubuh Della tersungkur di depan pintu.

"Rindaa!!! Keluar dari pintu belakang!!!" teriak Della dengan sekuat tenaga.

Ia yang masih dalam keadaan tersungkur, memutar ide untuk menarik kaki Gian supaya tidak melangkah ke dalam. Detak jantungnya menjadi tak karuan karena khwatir laki-laki yang sudah mencampakkan Rinda itu berbuat hal-hal buruk.

***

***

"Kenapa, Bu?" Suara Pak Ganjar membuyarkan lamunan istrinya.

Seperti biasa, pukul 22.30 beliau baru pulang dari kantornya. Hampir setiap saat, sosok ayah yang hanya bekerja sebagai pegawai biasa itu memilih untuk mengambil jadwal lembur. Hal itu, semata-mata supaya penghasilannya bisa lebih dari gaji pokok saja. Sebab, banyak sekali daftar pengeluaran yang selalu harus beliau penuhi.

"Tidak apa-apa, Yah. Kepikiran Rinda saja tadi. Tapi, sudah telepon kok tadi," jawab Bu Meilinda dengan wajah lesu.

Bertegur sapa dengan putrinya beberapa saat yang lalu, ternyata tidak membuat hati beliau menjadi tenang. Perempuan paruh baya itu masih merasa bahwa putrinya sedang menyembunyikan masalah besar.

"Terus kenapa masih lesu begitu? Sudah minum obat malam ini?" tanya Pak Ganjar lagi.

Beliau memang sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan perhatian. Segala hal yang menyangkut keluarganya selalu beliau perhatikan dengan teliti. Termasuk kesehatan dua perempuan yang amat beliau sayangi.

Akhir-akhir itu, penyakit jantung Bu Meilinda memang sering kambuh. Entah karena terlalu lelah mengurus pekerjaan rumah atau hanya karena terlalu banyak berpikir yang negatif.

"Belum ... Ibu masih nunggu Ayah untuk makan malam tadi."

Mendengar jawaban dari istrinya, Pak Ganjar pun hanya bisa menghela napas dan tersenyum tipis.

"Aku bersih-bersih dulu, Ibu siapkan makan malam. Nanti kita makan malam berdua," ucap laki-laki yang rambutnya sudah mulai beruban itu dengan lembut.

Bu Meilinda mulai menampakkan senyumnya. Beliau juga merasa tidak enak jika tidak menyambut baik kedatangan suaminya dari kantor. Terlebih, Pak Ganjar hampir tidak pernah berbuat buruk kepadanya meskipun tubuh dan pikiran beliau merasa lelah.

'Terima kasih, Tuhan karena telah menghadirkan sosok baik hati untukku dan Rinda,' batin Bu Meilinda sembari melangkahkan kakinya ke ruang makan.

Semua makanan sudah siap sejak pukul 21.00 tadi. Beliau memang selalu menyiapkan makanan sebelum suaminya pulang. Meskipun hanya makanan sederhana, tetapi Pak Ganjar selalu menghargai apa yang sudah disediakan.

Selang beberapa menit kemudian, laki-laki yang wajahnya sudah tampak segar itu sudah muncul di ruang makan. Senyum yang seolah tak lekang oleh waktu itu membuat Bu Meilinda sedikit bahagia.

"Enak ini, Bu kayaknya," celetuk Pak Ganjar yang langsung mencomot ayam panggang kesukaannya.

Hari itu, istri salihahnya sengaja membuatkan ayam panggang. Bukan karena ingin diberikan imbalan hadiah mewah, melainkan karena ingin sesekali memberikan kebahagiaan kecil untuk Pak Ganjar.

Ayam panggang lengkap dengan krawu memang menjadi masakan favorit Pak Ganjar sejak kecil. Entah mengapa, rasa gurih dari bumbu-bumbu yang diracik oleh almarhumah ibunya membuat beliau sangat lahap makan. Sampai-sampai, resep ayam panggang dan krawu dari mendiang ibunya itu diberikan kepada Bu Meilinda.

"Bagaimana kabar Rinda, Bu? Baik-baik saja kan?" tanya Pak Ganjar di sela-sela makan malam.

Meskipun hari-harinya penuh dengan pikiran pekerjaan kantor, laki-laki itu tetap selalu menyempatkan diri untuk berkomunikasi baik dengan istri dan putri tunggalnya. Beliau memang tipe suami dan ayah idaman bagi setiap orang. Rasa peduli yang begitu kuat membuat Bu Meilinda masih bisa bertahan hidup hingga detik itu.

"Baik katanya. Tapi ... Ibu merasa ada hal yang janggal, Yah. Tidak biasanya loh Ibu berfirasat seperti ini," timpal perempuan yang nafsu makannya jadi tidak enak.

"Sudah coba tanya ke Nak Gian?"

Mendengar nama Gian, perempuan di hadapan Pak Ganjar itu spontan menghentikan aktivitas makannya.

"Hampir sepuluh kali Ibu mencoba menghubungi dia, tetapi nomornya sudah tidak aktif," jawab Bu Meilinda yang sebenaenya menaruh kecurigaan terhadap hubungan putrinya dengan Gian, tunangan yang selalu Bu Meilinda dan Pak Ganjar bangga-banggakan.

"Iya kah? Kenapa bisa begitu? Rinda tidak cerita apa pun?" Pak Ganjar mengerutkan keningnya seketika.

Bagi mereka, nomor Gian yang tidak aktif itu menjadi pertanda telah terjadinya sesuatu. Sebab, Gian adalah laki-laki sopan yang selalu mengangkat telepon dan mengabarkan hal-hal yang terjadi pada Rinda kepada mereka berdua. Tidak menghilang tanpa alasan seperti itu.

"Tidak," jawab Bu Mei dengan singkat.

Pak Ganjar terdiam sejenak. Beliau seperti tampak memikirkan suatu hal yang tidak ingin dibicarakan kepada istrinya.

"Kita husnuzon saja, Bu. Mungkin Gian dan Rinda memang sedang sibuk dan banyak kegiatan saja," ucap Pak Ganjar yang selalu menjadi penenang bagi istrinya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ada Cinta Di Sekolah
8.3
Kimberly Aldama merupakan gadis cantik yang memikat lewat senyum manis dan ciri khas gigi kelincinya. Sebagai permata berharga bagi keluarga Aldama dan Fidelyo, ia tumbuh dalam limpahan kasih sayang yang luar biasa. Keempat saudara laki-laki serta para sepupunya selalu memanjakan dan menjaganya dengan sangat ketat. Mereka berkomitmen penuh untuk memastikan keselamatan Kimberly, melindunginya dari segala ancaman demi menjaga kebahagiaan adik tercinta.
Sampul Novel Become True
9.2
Gadis berlesung pipi itu tertegun saat sebuah suara berat yang sangat ia rindukan tiba-tiba memanggilnya. Meski air mata kembali membasahi pipinya dengan deras, kali ini ada binar kebahagiaan yang terpancar. Sosok yang selama ini ia nantikan dalam doa dan harapan akhirnya benar-benar berdiri tepat di hadapannya. Pertemuan tak terduga ini membawa kembali kenangan lama yang sempat hilang. Dia telah kembali, mewujudkan segala impian yang selama ini dipendam.
Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas
8.2
Kehidupan rumah tangga yang seharusnya indah berubah menjadi penderitaan akibat lisan tajam ibu mertua. Tuduhan mandul dan penyesalan atas pernikahan terus dilontarkan, menambah beban pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Sang istri terus dipojokkan dan dituntut memberikan cucu dalam tekanan mental yang berat. Di tengah badai konflik dan sikap mertua yang semena-mena, ia kini berdiri di persimpangan jalan antara terus bertahan atau memilih menyerah.
Sampul Novel Istri Bayaran
9.5
Demi biaya kuliah dan pengobatan sang ayah, seorang gadis muda terpaksa bekerja sebagai teman kencan bayaran. Takdir membawanya bertemu seorang pria kaya berwajah dingin yang merupakan kakak dari kliennya. Terpikat sejak awal, sang tuan muda menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi finansialnya. Meski awalnya terpaksa, hubungan mereka penuh liku akibat campur tangan keluarga dan rahasia masa lalu. Akankah cinta sejati tumbuh sebelum masa kontrak mereka berakhir?
Sampul Novel Kuhancurkan Harga Dirimu, Galih
8.4
Tujuh tahun aku mengabdi pada Galih hingga mengubur karier hukumku demi mimpinya. Namun, ia justru mengabaikanku demi Davina, bahkan lupa bahwa aku alergi seafood saat aku sakit. Muak dengan 52 pembatalan rencana masa depan, aku pergi dan bangkit sebagai pengacara sukses. Saat Galih bersujud memohon di depan kantorku, aku menolaknya mentah-mentah. Kini, giliran aku menghancurkan harga dirinya dan berkuasa penuh atas hidupku sendiri tanpa bayangannya.
Sampul Novel Menjadi Korban Manipulasi Kekasih Kakakku
7.9
Nadia harus menghadapi kepahitan ketika wanita idaman kakaknya memfitnah dirinya atas tuduhan perundungan. Sang kakak yang murka memutuskan untuk mengirim Nadia ke sebuah sekolah khusus perempuan demi memperbaiki perangainya. Di sana, Nadia bertransformasi menjadi sosok adik impian yang patuh, tanpa tuntutan maupun rasa iri. Namun, kepatuhan dingin ini justru menyimpan luka mendalam. Saat lembar laporan medis Nadia akhirnya terbongkar, sang kakak didera penyesalan hebat dan memohon agar Nadia sudi memanggilnya "Kakak" sekali lagi.