
GADIS MALANG
Bab 3
"Ini semua salah kamu, Gian!" bentak seorang perempuan yang usianya terlihat tidak jauh beda dari Gian.
Wajahnya tampak kesal saat itu. Sorot matanya pun sedikit berkaca-kaca ketika berbicara dengan Gian.
"Hei, Cantika! Sedari awal, kamu yang memberanikan diri mempublish foto kita di sosial media," sahut Gian yang tak kalah emosinya.
Gian dan perempuan bernama Cantika itu memang memiliki hubungan yang tidak diketahui oleh Rinda. Hubungan itu bermula saat Gian masuk pada Unit Kegiatan Mahasiswa yang sama dengan Cantika. Karena kerap kali bertatap muka untuk rapat, akhirnya tanpa disadari tumbuh benih cinta dalam hati perempuan yang berambut agak pirang itu.
"Aku sudah memblokirnya, Gian. Mana mungkin dia tau dari sosial mediaku."
Dalam keadaan yang sama-sama diliputi oleh emosi, Cantika masih tak mengelak dan tak mau disalahkan.
Sebelum hubungan mereka tercium oleh Rinda, Gian sudah sering mengingatkan supaya tidak mempublish hubungan terlarang itu ke media sosial. Sebab, kisah cintanya dengan Rinda sudah hampir sampai di titik finish. Tak mau munafik, Gian memang lebih sayang kepada Rinda.
"Sahabat-sahabat Rinda itu banyak, Cantika. Termasuk Della, teman sekelas kamu. Pasti dia mendapatkan banyak kabar dari sahabat-sahabatnya," ucap Gian panjang lebar sembari memegangi kepala yang rasanya hampir pecah.
Pada dasarnya, Gian memanglah sosok yang teliti dan waspada. Ia selalu melakukan sesuatu dengan hati-hati dan rapi. Semua rencana yang ingin dilakukan, pasti sudah dipikirkan matang-matang sebelumnya. Termasuk sebuah hubungan yang memang seharusnya tidak dilakukan.
"Arghhh!" seru Cantika sembari menggebrak meja diskotik.
Malam sebelum pergi ke kos Rinda, Gian memang bertemu dengan Cantika di diskotik. Pikirannya kacau. Permasalahan di luar dugaan yang tiba-tiba muncul itu membuat dirinya stres.
Tujuan bertemu dengan Cantika sebenarnya bukan untuk memperdebatkan sesuatu yang sudah terjadi. Melainkan hanya untuk berbagi cerita yang sudah berdesakkan di kepalanya. Akan tetapi, sungguh malang nasibnya. Alih-alih bersimpati dan mencoba menenangkan, Cantika justru marah besar kepada Gian. Ia tidak suka namanya tercoreng sebagai perusak hubungan orang yang sudah sampai jenjang keseriusan. Terlebih, pamor sebagai mahasiswa teladan menjadi buruk karena satu kelasnya mengetahui isu-isunya dengan Gian.
"Aku sudah tidak mau berhubungan dengan kamu lagi, Gian!" seru Cantika lagi sebelum kembali meneguk satu gelas minuman beralkohol.
Perempuan itu juga terlihat bergegas meninggalkan Gian yang ternyata sudah banyak minum sejak tadi. Hal itu tentu saja membuat laki-laki berdarah Jawa itu murka. Ia spontan mengejar kekasih gelapnya itu. Sampai-sampai, terjadi perkelahian kecil yang membuat seluruh pengunjung beralih kepada mereka.
"Tolong! Laki-laki ini mau mencelakai saya!" teriak Cantika yang tangannya ditarik-tarik oleh Gian.
Entah ide dari mana, Cantika rela memfitnah kekasihnya sendiri. Padahal, selama ini Gian selalu memperlakukannya dengan baik. Bahkan, terkadang lebih baik dan perhatian dibandingkan dengan Rinda, kekasih yang sudah jelas bertunangan dengannya.
Beberapa pengunjung laki-laki yang masih memiliki kesadaran penuh pun menghampiri mereka berdua. Tanpa diperintah pun, pukulan-pukulan sudah mulai mendarat di tubuh Gian.
"Sudah ... sudah! Tolong dibawa ke pos security, ya," ucap Cantika yang sedikit panik melihat kondisi Gian.
Ia bergidik ngeri ketika melihat ada darah mengalir di sudut mata dan bibir laki-laki yang pernah ia cintai. Ada rasa bersalah, tetapi dia tetap berpegang pada pendiriannya untuk meninggalkan Gian. Biar bagaimana pun, ada pamor yang lebih berarti dibandingkan hubungan percintaan yang belum tentu akhirnya akan bahagia itu.
***
"Pak tolong, ada orang mabuk masuk ke kos saya," ucap Della dengan napas yang terengah-engah.
Ia belum tahu bagaimana nasib Rinda yang posisinya ada di dalam kos. Perempuan itu sangat berharap agar sahabatnya melakukan rencana yang ia bisikkan sebelumnya.
Disebabkan karena gagal mencegah Gian, dirinya pun memutar otak untuk meminta pertolongan pada warga sekitar. Biasanya, di jam-jam malam banyak warga yang bercengkerama di depan rumah dan pos kampling.
"Kok bisa masuk? Kamu sendiri, ya, yang bawa ke sana?!" sahut bapak-bapak yang usianya belum cukup tua.
Alih-alih, segera menolong dan bergegas ke kos Della, bapak-bapak yang ada di pos kampling justru menjudge yang tidak-tidak. Della terlihat sedikit kesal, tetapi dia masih mencoba menahan amarahnya. Yang terpenting dalam benaknya saat itu adalah bagaimana supaya Gian bisa pergi dari kosnya.
"Astaghfirullah ... tidak mungkin saya meminta tolong kalau saya sendiri yang membawanya ke sana, Pak," jawab Della dengan sabar.
Para bapak yang di sana pun mulai percaya dan bergegas menuju kos-kosan yang ditempati Della dan Rinda. Mereka juga tidak suka jika ada mahasiswa yang berbuat kurang baik di lingkungan desa yang dekat dengan kampus. Bahkan, beberapa kos juga sudah menerapkan peraturan supaya tidak membawa lawan jenis ke dalam kos. Kalaupun ada kos yang membebaskan, itu berarti sudah ada kesepakatan khusus dengan perangkat desa setempat. Akan tetapi, sejauh yang Della ketahui, di lingkungan kosnya, para warga sangat membatasi pergaulan antar jenis di area kos-kos yang disewakan. Tidak jarang pula setiap malam bapak-bapak yang jadwal jaga, berkeliling ke seluruh penjuru desa.
Semua yang dilakukan semata untuk menjaga ketentraman desa. Beruntungnya, para mahasiswa juga mengerti dan menjalani peraturan itu dengan baik.
"Della! Della!"
Baru beberapa langkah dari pos kampling, Della mendengar teriakan yang sangat familiar di telinganya. Ia yang tadinya memimpin jalan menuju kos-kosan pun spontan mengehentikan laju larinya.
"Della!" teriak suara itu sekali lagi.
"Rinda!" Della terkejut ketika melihat sahabatnya yang sedang berlari seperti dikejar hantu.
Kelihatan sekali napas Rinda yang sudah tak beraturan. Ia juga terlihat menghentikan langkah sembari memegangi dada yang terasa sesak. Bulir keringat pun bercucuran di wajahnya.
Della pun langsung menghampiri sahabat yang sedari tadi dikhawatirkan. Dalam hati, ia akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu dengan Rinda.
"Sumpah ide kamu, Del," ucap Rinda dengan napas yang masih sangat sesak.
Della memutar bola matanya ketika mendengar kalimat dari sahabatnya. Ia tampak berpikir.
"Bagus dong kamu bisa keluar dari kos," sahut Della dengan gampangnya. Sebab, ia masih belum mengerti dengan maksut perkataan Rinda.
"Tapi, Dellaaaaa ... belakang kos itu semak-semak dan ada temboknya loh. Untung ada tangga tadi."
"Lah, aku lupa ... maaf ... maaf. Tapi, kamu gak papa kan? Gian belum sempat nemuin kamu kan?"
Alih-alih membawa sahabatnya ke pos kampling untuk duduk sembari mengatur napas, Della justru melontarkan banyak pertanyaan yang membuat Rinda sedikit kesal. Perempuan itu juga hampir lupa dengan bapak-bapak yang ia mintai tolong sebelumnya.
"Bodoamatlah, Del. Capek aku!" seru Rinda yang melangkahkan kakinya ke pos kampling.
Tentu saja ia ingin beristirahat sejenak. Badannya terasa sangat lelah. Tenggorokannya pun berasa ingin segera meminum banyak air putih.
"Jadi ke kosnya atau tidak, Mbak?" teriak salah satu bapak-bapak yang sedari tadi bengong melihat Rinda dan Della.
"Astaghfirullah, Della," gumam Della sembari menepuk dahinya.
Anda Mungkin Juga Suka





