Sampul Novel GADIS MALANG

GADIS MALANG

8.2 / 10.0
Rinda, gadis muda yang merantau demi pendidikan, harus menghadapi pahitnya realita di tanah orang. Meski ia memegang teguh komitmen dalam cinta, luka mendalam justru menghampirinya hingga memicu depresi berat. Di tengah isak tangis, ia meluapkan rasa sakitnya kepada sosok yang telah menghancurkan hatinya. Kini, Rinda terjebak dalam dilema antara bertahan atau menyerah pada keadaan. Akankah ia mampu melewati badai ini, atau justru hancur ditelan waktu?

GADIS MALANG Bab 1

“Aku yakin kamu kuat,” ucap seorang perempuan yang berada di samping Rinda.

‘Kamu bisa, Rinda.’

“Aku tidak mau lagi menjual diri.”

“Kita akan menikah, Rin. Di mana letak kamu menjual diri kepadaku?”

“Kenapa baru sadar hari ini?” tanya Rinda yang berusaha keras untuk menahan sesak di dadanya.

“Aku tidak pernah membelimu,” sahut Gian dengan menyuguhkan tawa kecil.

“Kamu memang tidak pernah membeliku dengan uang. Karena memang aku yang selalu mengeluarkan uang untuk kita jalan berdua.”

“Na---.”

“Tunggu! Ada satu hal lagi. Dan kamu sudah menghancurkan masa depanku,” ucap Rinda dengan mata yang sudah berair.

“Kita sama-sama suka melakukannya, Rin! Kamu lupa?!”

“Oh tentu tidak! Tapi, seharusnya kamu juga ingat bahwa dirimu sudah melamarku dan tidak seharusnya kamu melakukan hal itu dengan perempuan lain!”

Gian berdecak kesal. Ia juga sedikit terkejut saat Rinda mengucapkan hal itu. Padahal, dirinya merasa sudah menyembunyikan rahasia besar itu dengan rapi.

“Kamu pasti sudah dipengaruhi sama Della,” ucap Gian sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Dipengaruhi? Hei ... aku sudah mengumpulkan semua buktinya, Gian,” sahut Rinda sembari menunjukkan kertas yang sudah ia siapkan bersama Della.

“Bukti apa? Aku tidak pernah melakukan hal apa pun.”

“Dalam keadaan seperti ini saja kamu masih sibuk membela diri.” Rinda berkata dengan tatapan tajam dan senyuman sinis.

“Aku harap, orang tuamu tidak akan merasakan pedihnya jadi di posisi orang tuaku. Semoga mereka tidak pernah merasakan sakitnya melihat putri kesayangannya depresi setiap hari. Dan ... semoga hal ini tidak akan terjadi pada putri kesayanganmu nantinya,” ucap Rinda sembari berusaha menahan air mata yang sudah berdesakkan ingin keluar.

***

"Kamu baik, Nak?" ucap seorang perempuan paruh baya di seberang telepon.

Suaranya terdengar seperti orang yang penuh kekhawatiran. Tak biasanya pula perempuan itu menelepon pada jam-jam malam.

"Rinda? Kamu masih ada di sana, Nak?"

Rinda memang belum menyahuti apa pun kecuali menjawab salam dari ibunya. Ia tak mengerti harus memberikan penjelasan seperti apa. Sebab, apa-apa yang akan dijelaskan tentu membuat sakit hati kedua orang tuanya.

"Iya, Bu ... Rinda baik kok. Ini baru beres merajut baju. Kenapa, Bu?" Rinda berpura-pura tegar demi menjaga kesehatan ibunya. Ia tak mau jikalau penyakit jantung perempuan di seberang telepon itu kambuh.

"Beneran kamu baik-baik saja?" Bu Meilinda--Ibu Rinda--tak percaya dengan ucapan putrinya. Beliau merasa ada yang tidak beres dengan putrinya di perantauan.

"Iya, ibuku yang cantik ... lagian sudah jam segini, Ibu masih main hp saja," sahut Rinda yang mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Sejak sore tadi, Ibu kepikiran kamu terus, Nak. Mau nelpon, takut kamunya masih ada kesibukan lain."

Dari balik telepon, Rinda juga sudah mendengar helaan napas Bu Meilinda yang merasa lega dengan jawabannya. Ia memang berniat untuk menyembunyikan permasalahannya dengan Gian serapi mungkin.

Sebelum semua bukti-bukti terkumpul dengan benar dan tepat sasaran.

Rinda Wahyuningsih. Di umur yang sudah mau menginjak 24 tahun, Rinda tentu ingin menjalin hubungan serius dengan kekasihnya—Gian—. Membercandai sebuah perasaan, menurut dia bukan hal yang wajar. Apalagi jika hubungan itu sudah melibatkan orang tua di setiap langkah yang akan dituju ke depannya.

"Rinda memang sibuk sekali di outlet sama Della tadi, Bu. Alhamdulillah ramai pengunjung hari ini." Rinda berbohong untuk yang ke sekian kalinya.

"Alhamdulillah ... tapi kamu juga jaga kesehatan loh, Nak!"

"Iya, ibuku ...."

Merasa tak ada yang ingin dipertanyakan lagi, Bu Meilinda pun mengakhiri panggilan malam itu. Selain ingin segera merebahkan tubuh, beliau juga tak mau menyita waktu istirahat putrinya.

Rinda memang menjadi putri tunggal dari pasangan suami istri Ganjar dan Meilinda. Oleh sebab itu, tidak heran jika Bu Meilinda begitu protektif terhadap putri semata wayangnya.

"Kenapa, Rin?" Suara khas dari Della sedikit mengejutkan Rinda yang masih menatap layar ponselnya.

"Biasa ... ibuku. Ngerasa kali, ya, kalau anaknya sedang hancur kayak gini," sahut Rinda dengan nada lesu.

Berulang kali ia mengembuskan napasnya yang terasa sesak. Penghianatan dari Gian juga terus memenuhi pikirannya. Sampai-sampai, jam tidur dan waktu makannya ikut berantakan.

Sementara itu, Della masih menatap Rinda dengan tatapan nelangsa. Perempuan kelahiran Ciamis itu tak pernah melihat sahabatnya sesedih itu.

"Ya udah, makan dulu, yuk! Tadi aku mampir beli nasi goreng Pak Arifin," ajak Della yang berusaha mencairkan suasana.

Bukan tak peduli dengan kalimat Rinda sebelumnya, Della hanya tak ingin suasana itu terus menetap dalam ruangan kos mereka. Seolah-olah, tak ada kehidupan yang lebih baik di dalam ruangan yang tak cukup lebar itu. Ia yang notabenenya baru saja pulang dari outlet penjualan mereka juga merasa sesak jika pulang-pulang selalu disuguhi dengan kesedihan dari Rinda.

"Duluan saja, Dell. Mau ngelanjutin rajutan dulu." Rinda beralasan.

Selera makannya memang tidak ada sedikit pun. Bahkan bagianya, semuanya telah mati rasa. Tidak tahu lagi mau diarahkan ke mana lagi pikiran dan tubuhnya itu.

Alih-alih memarahi Rinda, Della justru meneteskan air mata di samping sahabatnya. Seolah dia juga merasakan sesak yang harus ditanggung oleh Rinda.

"Aku gak kenapa-kenapa loh, Dell ...," ucap Rinda yang dengan sekuat tenaga menahan tangisnya saat itu.

Di jam-jam rawan overthingking, Rinda memang kerap kali menangis hingga fajar muncul. Ia tak tahu apa yang ditangisi, tapi perasaan tidak nyaman dan aman selalu menghantui. Ia sudah berusaha menyembunyikan tangisnya dari Della. Sampai-sampai, dirinya selalu menutup wajahnya dengan bantal ketika menangis. Akan tetapi, tetap saja. Della selalu terbangun dan nelangsa melihat perempuan yang tidur bersamanya.

"Hei?! Della ... aku kuat ketika kamu juga kuat," ucap Rinda sekali lagi karena sahabatnya tak kunjung berhenti terisak.

"Benci aku sama Gian!!!"

Kalimat itu sudah keluar dari mulut Della berulang kali. Ia menjadi garda terdepan yang mau membela dan menemani Rinda dalam melawan Gian. Akan tetapi, Rinda selalu menahan Della untuk balas dendam kepada kekasihnya.

"Dendam itu api, Dell. Kita tidak perlu menggenggam api untuk menghancurkan diri kita sendiri," sahut perempuan berlesung pipit itu dengan tenang.

Begitulah Rinda, selalu keras kepala dan terlalu baik kepada orang yang menyakitinya. Dalam keadaan hati yang porak-poranda seperti itu saja dia masih bisa memaafkan dengan ikhlas. Bahkan, ia juga sempat meminta maaf kepada Gian dan kekasih barunya.

"Seharusnya kamu tidak perlu meminta maaf kepada mereka, Rin. Yang salah itu mereka z bukan kamu!" bentak Della yang masih dikelabuhi dengan emosi.

Ia kasihan dengan Rinda tapi juga tidak suka dengan sikap sahabatnya itu. Terlalu baik dan percaya pada orang lain yang membuat dirinya selalu dimanfaatkan.

Saat suasana sedang mengharu biru, tiba-tiba mereka berdua dikejutkan dengan suara lantang dan ketukan pintu yang kasar.

"Rindaa!!! Rindaa!!!"

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi GADIS MALANG

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CHRONOPHILE
8.2
Menikahi pria yang pernah ditolak di masa lalu membawa dilema besar dalam sebuah perjodohan. Apakah dia bertahan karena cinta yang tersisa, atau justru merencanakan balas dendam atas luka lama? Sebagai pasutri, mereka dipaksa menjalani komitmen di tengah bayang-bayang masa lalu yang kembali mengusik ketenangan. Di dunia Chronophile, di mana waktu sangat dihargai, rahasia dan konflik mulai menguji kesetiaan mereka dalam mempertahankan rumah tangga ini.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Terlahir dengan keterbatasan fisik, Jasmine Bintang tumbuh di bawah bayang-bayang kekecewaan ibunya. Ia berharap menemukan kebahagiaan saat menikahi Ardan Mahendra yang sukses. Namun, keluarga Ardan justru menghina keterbatasannya. Luka Jasmine kian dalam saat Anindya, mantan kekasih Ardan, kembali dan mengungkap kebohongan cinta mereka. Meski Jasmine mantap meminta cerai demi martabatnya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya begitu saja.
Sampul Novel En-PD153
8.9
Mantan kekasihku yang kukira telah tiada tiba-tiba muncul membawa wanita hamil yang disebut penyelamatnya. Dia secara tak masuk akal memintaku tinggal bersama mereka dan menawarkan upacara pernikahan sebagai kompensasi sementara ia menikahi wanita itu. Sebagai putri bangsawan dan menantu keluarga konglomerat, aku tak sudi dijadikan selingkuhan. Jika dia menolak hidup mewah, aku akan memastikan dia kehilangan segalanya hingga menjadi pengemis.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjalani hidup sebagai istri kedua dari pengusaha sukses bernama Raga Dirgantara. Terjebak oleh beban hutang budi di masa lalu, Kayla tidak memiliki pilihan selain menerima nasibnya yang pahit. Kehadirannya dalam pernikahan itu hanyalah demi memberikan keturunan bagi sang miliarder. Ia harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa dirinya cuma dianggap sebagai alat tanpa memiliki posisi yang sesungguhnya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan