
Gadis Cantik Milik Mafia
Bab 2
Pagi ini, Aldo bersiap-siap untuk memulai hari kerjanya di kantor. Dia teliti menyelesaikan persiapannya, memastikan tidak ada yang terlewat. Aldo tinggal sendirian di apartemen mewah, namun kehidupannya tidak sepi karena ada keponakan yang dia sayangi dan para pembantu yang membantu mengurus rumah tangga.
Sebelum berangkat, Aldo menyapa keponakannya dan berpamitan dengan para pembantu. Dengan semangat, dia melangkah keluar apartemen, siap menghadapi tantangan dan meraih kesuksesan. Aldo juga membawa Oca keponakannya yang berusia 4 tahun, bersamanya. Oca kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan mobil dan merasa nyaman hanya bersama Aldo. Aldo memutuskan untuk membawa Ocha tinggal bersamanya di hunian mewah.
Kecelakaan yang merenggut nyawa orang tua Oca meninggalkan Aldo dengan banyak pertanyaan. Dia merasa ada unsur kesengajaan di balik peristiwa tragis tersebut. Sejak saat itu, Aldo bertekad untuk mengungkap kebenaran. Dia bekerja sama dengan timnya, mengikuti setiap jejak dan bukti yang mungkin membawa mereka pada dalang di balik kecelakaan tersebut. Tekad Aldo untuk mengungkap kebenaran didorong oleh cintanya kepada Oca dan keinginannya untuk memberikan keadilan bagi orang tua Oca. Dia yakin bahwa dengan mengungkap kebenaran, dia dapat memberikan ketenangan bagi Oca dan membantu meringankan beban yang dipikulnya.
"Ayah, cepat pulang ya!" pinta Oca memelas, tak ingin ditinggal Aldo. "Oca di sini aman bersamaku, Aldo," kata Erlin penuh kasih, menenangkan Aldo.
Erlin, seorang gadis kaya dari Eropa, adalah sahabat karib Aldo. Meskipun mereka berada di kelas sosial yang berbeda, Aldo sangat menyayangi Erlin sebagai teman dan adik. Namun, Erlin diam-diam mencintai Aldo. Persahabatan mereka yang kuat membuat Aldo percaya sepenuhnya pada Erlin, bahkan sampai mempercayakan kekasihnya, Oca, kepada Erlin. Aldo keluar rumah dan masuk ke mobilnya, melaju di jalanan Berlin di pagi hari.
Di balik keramahan dan keanggunannya, Erlin menyimpan sisi jahat yang tersembunyi. Kepergian Aldo membuka kedoknya, dia berubah menjadi sosok yang kasar dan kejam. Oca merasakan perubahan itu, dia diperintah dengan kasar untuk mengambil cemilan. Ketakutan Oca tak dihiraukan, erlin mencengkram lengannya dengan kuat hingga Oca meringis kesakitan.
"Ini kak," ucap Oca meletakkan cemilan di atas meja.
"Buatkan aku juz," perintah Erlinpada Oca. Oca hanya bisa menurut saja daripada harus kena marah oleh Erlin. Tak lama, Oca membawa juz yang di minta oleh Erlin.
"Pijit kakiku!" Erlin memerintah Oca. Oca pun menuruti perintahnya, memijat kaki Erlin yang sedang bersantai di sofa panjang sambil menikmati cemilan dan bermain sosmed.
Tatapan tajam Celine menusuk mata Oca, membuatnya ketakutan. Maid yang melihat Oca memijat kaki Erlin pun merasa curiga. "Nona mengapa?" tanya maid itu.
"Ah, tidak apa, Bi. Kakiku terkilir sedikit. Oca memaksa memijatku, padahal aku sudah bilang tidak apa-apa," Erlin berbohong. Dia tidak ingin maid itu tahu sifat aslinya dan mengadu pada Aldo.
Oca mengangguk. "Iya, Bi. Bibi lanjutkan saja pekerjaannya."
Maid itu pergi. Erlin mengancam Oca, "Diam kau! Jangan bilang pada Aldo dan yang lain! Atau kau akan menyesal!" Oca hanya bisa diam, tak berani melawan.
Di puncak kejayaan, Aldo, pemimpin perusahaan teknologi dan properti ternama di Eropa, memancarkan aura karismatik. Sejak di bawah kepemimpinannya, perusahaan tersebut melesat bak meteor, menduduki posisi teratas di benua biru.
Dengan langkah mantap, Aldo melangkah di atas karpet merah yang menghiasi gerbang megah yang menjulang tinggi. Ribuan pasang mata menunduk hormat saat dia menuju lift eksklusif yang diperuntukkan bagi para pemimpin. Setelah memasuki ruang kerjanya, Aldo melepaskan jasnya dan duduk di kursi kerja. Tumpukan berkas menantinya, menunjukkan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Tiba-tiba, ada ketukan di pintu yang mengalihkan perhatiannya. "Silakan masuk," kata Aldo dengan ramah.
"Tuan, ada pertemuan dengan Collen Corporation di restoran jam 9 pagi," lapor asistennya.
"Ada lagi?" tanya Ardan singkat.
"Tidak, Tuan."
"Bagaimana kelanjutan proses rekrutmennya? Kita harus segera menemukan kandidat yang tepat."
"Baiklah. Kita bisa memulai wawancara lusa."
"Baiklah, mari kita berangkat sekarang.
Aldo restoran, sebuah rumah makan yang menyimpan banyak kenangan bagi Oca. dahulu, tempat ini dikelola dengan penuh kasih sayang oleh mendiang mamanya. Kini, Aldo, kakak Oca, yang memegang kendali restoran tersebut. dia bertekad untuk menjaganya dengan baik sampai Oca siap untuk meneruskannya.
Di balik tembok dan meja-kursi restoran ini, terukir kenangan indah Oca bersama mamanya. Aroma masakan yang lezat dan tawa pengunjung seakan membawa Oca kembali ke masa lalu. Meski mama sudah tiada, Aldo dan Oca bertekad untuk menjaga kelangsungan restoran ini sebagai warisan berharga dari sang mama.
Malam telah menyapa, menggantikan siang yang tadi bercahaya. Di kediaman Bibi
"Cepat sephi, lelet sangat sih." Bentak Yuli pada Sephi
Sephi gemetar saat menyerahkan baju Yuli yang telah rapi. Tubuhnya ringkih, tak berdaya melawan tatapan tajam Yuli yang menuntut uang untuk pergi malam ini. Dengan suara lirih, Sephi mengaku tak punya uang. Yuli, bagaikan singa betina yang marah, mendorong Sephi keluar, memaksanya menyiapkan makan malam.
Sephi terluka, tertekan. Rasa pahit menelan ludahnya. Terpaksa dia memenuhi tuntutan keluarga bibinya yang tak ada habisnya. Bahkan, dia harus berbohong demi menutupi kenyataan pahitnya.
Meskipun keluarga bibinya kaya raya, mereka tak pernah memberinya sepeser pun. Uang yang Sephi dapatkan hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Dia tak punya uang untuk bersenang-senang seperti Yuli dan teman-temannya.
Di sisi lain, Yuli dan teman-temannya menikmati malam yang indah di Berlin. Mobil mewah mereka melaju kencang, membelah kegelapan malam. Di dalam mobil, mereka tertawa riang sambil menikmati berbagai minuman keras.
Namun, di balik keriaan itu, Yuli menyimpan sebuah rahasia yang gelap. Dia tak seceria yang terlihat. Tatapannya kosong saat menyeruput minumannya, seolah tenggelam dalam pikiran sendiri.
Rahasia Yuli adalah bahwa dia telah mencuri uang dari Sephi. Dia tahu bahwa Sephi tak punya uang, tetapi dia tak peduli. Dia hanya ingin bersenang-senang dan tak ingin memikirkan orang lain.
Sephi, dengan kelicikannya, berhasil menyembunyikan rasa sakitnya. Dia tetap tersenyum dan bersikap baik kepada Yuli, meskipun dia tahu bahwa Yuli telah menipunya.
Kelicikan Yuli dan kepasrahan Sephi menciptakan sebuah dinamika yang rumit dalam hubungan mereka. Rahasia dan kebohongan menjadi benang merah yang menghubungkan mereka, dan tak ada yang tahu kapan benang itu akan putus.Yuli terus menikmati malamnya, mabuk dalam kemewahan dan kesenangan. Dia tak menyadari bahwa kebahagiaannya dibangun di atas penderitaan Sephi.
Sephi, di balik senyumannya, menyimpan luka dan kekecewaan. Dia tak tahu sampai kapan dia harus hidup dalam bayang-bayang kelicikan Yuli.
Kehidupan mereka bagaikan dua sisi mata uang yang berbeda. Yuli dengan kemewahan dan keceriaannya, dan Sephi dengan kesederhanaan dan kepasrahannya.
Anda Mungkin Juga Suka





