Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Foto Suamiku Diruang Keluarganya

Foto Suamiku Diruang Keluarganya

Dua tahun membina rumah tangga, Ane akhirnya menemukan kenyataan pahit bahwa dirinya hanyalah istri kedua Farel. Rahasia besar ini terungkap secara tidak sengaja saat Ane berkunjung ke rumah salah satu wali muridnya. Ketika sang ibu menjatuhkan foto keluarga yang selama ini ia simpan rapat-rapat, Ane terkejut melihat sosok suaminya ada di sana. Kini, Ane terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan cintanya atau memilih pergi meninggalkan Farel.
Bab
Bagikan

Bab 2

Foto Suamiku Di ruang Tamunya Bab 2

Bab2 Aku Istri Kedua

"Itu Papa Bu Guru, ganteng kan Papa Tasya." Ujar bocah itu dengan mata berbinar bahagia.

Papa, Tasya memanggil Mas Farel dengan sebutan Papa, apa itu artinya Tasya?

Ya Tuhan ..., Kenyataan apa ini?

Aku merasakan dunia seperti terpaus, rasanya tubuhku lemas mendengar jawaban polos bocah ini.

Kucoba mengatur perasaan dan gejolak dihati ini, aku harus tenang, bisa saja ini hanya kebetulan dan lelaki yang disebut Papa oleh Tasya itu bukan Mas Farel suamiku.

"Ganteng, nama Papa Tasya siapa?"

"Papa Farel."

Rasanya seperti dadaku dihantam dengan ribuan ton batu hingga aku tak bisa bernapas.

Ya Tuhan kalau Tasya anak Mas Farel lalu artinya Mbak Riana adalah istrinya Mas Farel, kenyataan apa ini Ya Allah?

Ku kuatkan diri ini dan berusaha mengulum senyum.

"Mbak Riana sudah lama menikah?"

"Sudah 7 tahun tapi sudah tiga tahun ini kita LDR, suami kerja diluar kota dan dengan keadaan saya yang seperti ini saya tak mungkin ikut suami saya."

Kalau Mbak Riana sudah menikah selama tujuh tahun, itu artinya aku adalah istri kedua aku selingkuhan Mas Farel.

Ya Tuhan, lalu apa alasan Mas Farel menikah lagi.

Apa karena Mbak Riana sakit jadi Mas Farel memutuskan menikah lagi agar kebutuhan batinya terpenuhi.

Kalau itu benar artinya Mas Farel adalah manusia kejam, Dia hanya memikirkan sela**ngnya saja.

Dan aku kejamnya aku, disaat istri pertama suamiku sedang berjuang untuk hidup aku justru berbahagia dengan suaminya, melalui malam-malam yang panjang dengan lelaki yang harusnya mendukung dan merawatnya.

Hatiku sungguh hancur saat ini, aku merasa menjadi wanita yang hina telah menjadi perebut lelaki orang. Apa bedanya aku sama pelakor sekarang ini?

Tunggu kamu Mas, kalau benar apa yang dikatakan Mbak Riana maka kau akan tahu akibatnya.

Aku takkan biarkan kamu berlama-lama mempermainkan kami, manusia macam apa kamu yang tega menelantarkan istri yang tak berdaya demi wanita lain.

Huek, huek

"Mama."

Tasya segera menarik sebuah ember untuk didekatkan ke Mamanya saat wanita itu ingin muntah.

Walaupun aku sebenarnya masih ingin bertanya banyak pada Mbak Riana tentang Farel untuk memastikan benarkah Farel yang ada difoto itu adalah suamiku atau mungkin hanya kebetulan mirip, tapi melihat keadaan Mbak Riana tak memungkinkan bagiku untuk bertanya pada Mbak Riana.

Untunglah Orang tua Mbak Riana segera pulang, kalau tidak, mungkin aku akan menginap malam ini, gak tega rasanya aku membiarkan anak sekecil Tasya mengurus ibunya sendirian.

-

-

Aku lihat motor mas Farel sudah terparkir di halaman, menandakan lelaki itu sudah ada dirumah.

Jantungku berdegup kencang tak seperti biasanya saat aku lihat sosok lelaki berpakaian maskulin sedang duduk disofa.

Mas Farel tersenyum menatapku, senyum yang biasanya kurindu itu gini terasa hambar.

Rasa bahagia tiap kali melihat senyumnya dulu kini berubah menjadi rasa nyeri dan sesak.

Ingin rasanya aku bertanya tentang Mbak Riana dan juga Tasya agar semua menjadi jelas tapi mulutku seperti terkunci.

"Kamu sakit ?" Ujar Mas Farel meletakkan telapak tanganya kedahiku.

"Gak papa kalau kamu sakit aku pergi sendiri saja," ujarnya.

Aku seketika teringat kalau malam ini aku ada janji menemani Mas Farel ketemu klien yang kebetulan teman lamanya.

"Gak papa aku gak sakit, cuma lelah saja," jawabku dingin.

"Beneran?"

Aku hanya menjawab ucapan Mas Farel itu dengaan anggukan, rasanya lidahku kelu untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Mas Farel padaku.

Bayangan Mbak Riana dan Tasya lebih mendominasi pikiranku saat ini.

Disini aku bersenang-senang sedangkan disana istri yang lain Mas Farel menderita, aku merasa diri ini sungguh kejam.

Ya Tuhan kuatkanlan aku, setelah hatiku bisa tertata kembali aku harus meminta penjelasan pada Mas Farel dan jika memang benar Mbak Riana itu istri pertamanya, apapun alasanya aku akan minta cerai dan mengembalikan Mas Farel pada Mbak Riana.

Aku gak boleh egois, hanya karena memikirkan kesenangan diri sendiri lalu mengorbankan orang lain.

Aku memakai gaun warna merah yang Mas Farel sudah siapkan dan memoles make up diwajah.

"Bidadari Mas sudah siap belum?" Ucap Mas Farel, ada senyum yang mengembang dibibirnya.

Ada rasa perih dihatiku tiap melihat senyum Mas Farel, sungguh aku merasa diri ini dibodohi oleh Mas Farel.

"Sudah," jawabku dingin.

Sekilas aku melihat raut wajah Mas Farel tampak bingung melihat perubahan sikapku tapi aku tak peduli.

Dalam perjalanan aku juga tak banyak bicara, aku hanya menjawab seperlunya saja pertanyaan Mas Farel.

Berulang kali lelaki itu menanyakan apa aku baik-baik saja dan aku hanya menjawab mengangguk atau menggeleng.

-

-

-

Akirnya kami sampai disebuah hotel yang cukup megah.

"Habis pertemuan kita gak usah pulang, kita bulan madu saja disini," goda Mas Farel namun aku hanya menanggapinya dengan senyum mengambang.

Seseorang melambaikan tangan pada kami saat kami sampai di lobi hotel dan kami pun menghampirinya.

"Ini siapa Rel?" Tanya lelaki itu saat kami sampai.

"Ini istri Gue, Bro," ujar Mas Farel tersenyum bangga.

"Lho bini Lo ganti atau Lo punya dua istri?"

Deg

Ya Tuhan kenyataan apalagi ini?

Sampai detik ini aku masih berharap apa yang aku lihat dirumah Tasya itu hanya mimpi dan suamiku tetaplah lekaki setia yang aku kenal tapi sekarang, hatiku sungguh sakit Ya Allah.

Setelah ini aku akan bertanya dan meminta pengakuan Mas Farel tentang apa dan kenapa dia membohongku tentang statusnya, jika dia mengelak aku akan merencana sesuatu yang aku yakin Dia pasti tak akan bisa mengelak lagi.

Foto Suamiku Di ruang Tamunya Bab 2

Bab2 Aku Istri Kedua

"Itu Papa Bu Guru, ganteng kan Papa Tasya." Ujar bocah itu dengan mata berbinar bahagia.

Papa, Tasya memanggil Mas Farel dengan sebutan Papa, apa itu artinya Tasya?

Ya Tuhan ..., Kenyataan apa ini?

Aku merasakan dunia seperti terpaus, rasanya tubuhku lemas mendengar jawaban polos bocah ini.

Kucoba mengatur perasaan dan gejolak dihati ini, aku harus tenang, bisa saja ini hanya kebetulan dan lelaki yang disebut Papa oleh Tasya itu bukan Mas Farel suamiku.

"Ganteng, nama Papa Tasya siapa?"

"Papa Farel."

Rasanya seperti dadaku dihantam dengan ribuan ton batu hingga aku tak bisa bernapas.

Ya Tuhan kalau Tasya anak Mas Farel lalu artinya Mbak Riana adalah istrinya Mas Farel, kenyataan apa ini Ya Allah?

Ku kuatkan diri ini dan berusaha mengulum senyum.

"Mbak Riana sudah lama menikah?"

"Sudah 7 tahun tapi sudah tiga tahun ini kita LDR, suami kerja diluar kota dan dengan keadaan saya yang seperti ini saya tak mungkin ikut suami saya."

Kalau Mbak Riana sudah menikah selama tujuh tahun, itu artinya aku adalah istri kedua aku selingkuhan Mas Farel.

Ya Tuhan, lalu apa alasan Mas Farel menikah lagi.

Apa karena Mbak Riana sakit jadi Mas Farel memutuskan menikah lagi agar kebutuhan batinya terpenuhi.

Kalau itu benar artinya Mas Farel adalah manusia kejam, Dia hanya memikirkan sela**ngnya saja.

Dan aku kejamnya aku, disaat istri pertama suamiku sedang berjuang untuk hidup aku justru berbahagia dengan suaminya, melalui malam-malam yang panjang dengan lelaki yang harusnya mendukung dan merawatnya.

Hatiku sungguh hancur saat ini, aku merasa menjadi wanita yang hina telah menjadi perebut lelaki orang. Apa bedanya aku sama pelakor sekarang ini?

Tunggu kamu Mas, kalau benar apa yang dikatakan Mbak Riana maka kau akan tahu akibatnya.

Aku takkan biarkan kamu berlama-lama mempermainkan kami, manusia macam apa kamu yang tega menelantarkan istri yang tak berdaya demi wanita lain.

Huek, huek

"Mama."

Tasya segera menarik sebuah ember untuk didekatkan ke Mamanya saat wanita itu ingin muntah.

Walaupun aku sebenarnya masih ingin bertanya banyak pada Mbak Riana tentang Farel untuk memastikan benarkah Farel yang ada difoto itu adalah suamiku atau mungkin hanya kebetulan mirip, tapi melihat keadaan Mbak Riana tak memungkinkan bagiku untuk bertanya pada Mbak Riana.

Untunglah Orang tua Mbak Riana segera pulang, kalau tidak, mungkin aku akan menginap malam ini, gak tega rasanya aku membiarkan anak sekecil Tasya mengurus ibunya sendirian.

-

-

Aku lihat motor mas Farel sudah terparkir di halaman, menandakan lelaki itu sudah ada dirumah.

Jantungku berdegup kencang tak seperti biasanya saat aku lihat sosok lelaki berpakaian maskulin sedang duduk disofa.

Mas Farel tersenyum menatapku, senyum yang biasanya kurindu itu gini terasa hambar.

Rasa bahagia tiap kali melihat senyumnya dulu kini berubah menjadi rasa nyeri dan sesak.

Ingin rasanya aku bertanya tentang Mbak Riana dan juga Tasya agar semua menjadi jelas tapi mulutku seperti terkunci.

"Kamu sakit ?" Ujar Mas Farel meletakkan telapak tanganya kedahiku.

"Gak papa kalau kamu sakit aku pergi sendiri saja," ujarnya.

Aku seketika teringat kalau malam ini aku ada janji menemani Mas Farel ketemu klien yang kebetulan teman lamanya.

"Gak papa aku gak sakit, cuma lelah saja," jawabku dingin.

"Beneran?"

Aku hanya menjawab ucapan Mas Farel itu dengaan anggukan, rasanya lidahku kelu untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Mas Farel padaku.

Bayangan Mbak Riana dan Tasya lebih mendominasi pikiranku saat ini.

Disini aku bersenang-senang sedangkan disana istri yang lain Mas Farel menderita, aku merasa diri ini sungguh kejam.

Ya Tuhan kuatkanlan aku, setelah hatiku bisa tertata kembali aku harus meminta penjelasan pada Mas Farel dan jika memang benar Mbak Riana itu istri pertamanya, apapun alasanya aku akan minta cerai dan mengembalikan Mas Farel pada Mbak Riana.

Aku gak boleh egois, hanya karena memikirkan kesenangan diri sendiri lalu mengorbankan orang lain.

Aku memakai gaun warna merah yang Mas Farel sudah siapkan dan memoles make up diwajah.

"Bidadari Mas sudah siap belum?" Ucap Mas Farel, ada senyum yang mengembang dibibirnya.

Ada rasa perih dihatiku tiap melihat senyum Mas Farel, sungguh aku merasa diri ini dibodohi oleh Mas Farel.

"Sudah," jawabku dingin.

Sekilas aku melihat raut wajah Mas Farel tampak bingung melihat perubahan sikapku tapi aku tak peduli.

Dalam perjalanan aku juga tak banyak bicara, aku hanya menjawab seperlunya saja pertanyaan Mas Farel.

Berulang kali lelaki itu menanyakan apa aku baik-baik saja dan aku hanya menjawab mengangguk atau menggeleng.

-

-

-

Akirnya kami sampai disebuah hotel yang cukup megah.

"Habis pertemuan kita gak usah pulang, kita bulan madu saja disini," goda Mas Farel namun aku hanya menanggapinya dengan senyum mengambang.

Seseorang melambaikan tangan pada kami saat kami sampai di lobi hotel dan kami pun menghampirinya.

"Ini siapa Rel?" Tanya lelaki itu saat kami sampai.

"Ini istri Gue, Bro," ujar Mas Farel tersenyum bangga.

"Lho bini Lo ganti atau Lo punya dua istri?"

Deg

Ya Tuhan kenyataan apalagi ini?

Sampai detik ini aku masih berharap apa yang aku lihat dirumah Tasya itu hanya mimpi dan suamiku tetaplah lekaki setia yang aku kenal tapi sekarang, hatiku sungguh sakit Ya Allah.

Setelah ini aku akan bertanya dan meminta pengakuan Mas Farel tentang apa dan kenapa dia membohongku tentang statusnya, jika dia mengelak aku akan merencana sesuatu yang aku yakin Dia pasti tak akan bisa mengelak lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cintanya dan Hartaku
9.7
Saat hendak menyetor uang ke bank, sebuah unggahan media sosial menarik perhatianku. Di sana, seorang netizen mengaku telah diam-diam menikahi cinta pertamanya, sementara kekasihnya yang bodoh terus mengisi rekening bersama mereka yang kini berisi 1,3 miliar rupiah. Sang netizen berencana membawa kabur uang itu setelah mencapai 1,6 miliar. Terkejut, aku langsung memeriksa saldo tabunganku. Angkanya tepat 1,3 miliar rupiah. Kenyataan pahit menghantamku: kekasihku telah mengkhianatiku demi cinta pertamanya.
Sampul Novel Cool vs Cold
8.4
Kehadiran Jay yang tak terduga membawa perubahan besar dalam kehidupan Avril, membangkitkan kembali perasaan yang telah lama terkubur. Melalui perhatian tulus dan kasih sayang yang nyata, Jay perlahan berhasil meruntuhkan dinding es yang menyelimuti hati Avril. Kini, Avril menyadari bahwa cinta sejati memang membutuhkan keberanian besar untuk melangkah maju. Ini adalah kisah tentang bagaimana kehangatan mampu meluluhkan hati yang selama ini membeku rapat.
Sampul Novel Gadisku UniQue
9.5
Uni merintih kesakitan saat Ares mencoba memasukkan sesuatu dengan hati-hati. Meski telah diminta untuk perlahan, rasa sakitnya membuat Uni membentak Ares hingga situasi menjadi panik. Ares akhirnya mengajak Uni ke kamar mandi demi kemudahan. Di luar ruangan, Deris yang tidak sengaja mendengar percakapan ambigu tersebut merasa sangat terkejut dan tidak percaya. Kesalahpahaman pun muncul akibat interaksi intens yang penuh ketegangan ini.
Sampul Novel Gairah Liar Uncle Sam
9.6
Shila merintih kesakitan saat Sam mulai merasuki dirinya dengan penuh gairah. Dalam suasana yang mencekam dan penuh risiko, Sam berbisik lirih agar Shila mengecilkan suaranya. Ia memperingatkan gadis itu bahwa orang tuanya bisa mendengar aktivitas rahasia mereka di dalam rumah tersebut. Ketegangan memuncak saat mereka berusaha menyembunyikan hubungan terlarang ini dari pendengaran ayah dan ibu Shila yang berada sangat dekat dengan mereka.
Sampul Novel Kematian Palsu Suamiku
8.1
Setelah dituduh sebagai penyebab kecelakaan maut suaminya, seorang wanita diusir oleh mertuanya tanpa warisan hingga jatuh sakit akibat duka mendalam. Di detik-detik terakhir hidupnya akibat kanker, ia mengetahui kenyataan pahit bahwa kematian suaminya hanyalah rekayasa demi hidup bersama wanita lain. Dipenuhi murka, ia mengembuskan napas terakhir hanya untuk terbangun kembali di hari kecelakaan itu dilaporkan. Kini, ia siap menghadapi sandiwara kejam tersebut dari awal.
Sampul Novel Menikah dengan Pria Lain Setelah Tunanganku Menunda Pernikahan
9.7
Tepat tiga hari sebelum hari bahagia, Eliana dikhianati oleh kekasihnya yang memilih menikahi teman masa kecilnya dengan alasan penyakit Alzheimer. Pacarnya meminta Eliana menunggu hingga wanita itu lupa segalanya. Tanpa air mata, Eliana mengambil langkah drastis dengan menghubungi keluarganya. Ia setuju menikahi pewaris keluarga Barton yang dikenal dingin melalui perjodohan lama. Eliana memastikan pria itu akan muncul di pelaminan bersamanya.