Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Foto Pelakor di Profil Ponsel Suamiku

Foto Pelakor di Profil Ponsel Suamiku

Serani Gunawan memilih bercerai dari Agung demi mengakhiri pengkhianatan serta perlakuan buruk keluarga suaminya. Agung sangat menyesal setelah mengetahui bahwa CEO baru di tempatnya bekerja adalah mantan istrinya sendiri, yang selama ini merahasiakan kekayaannya. Kini, Agung dan selingkuhannya berusaha keras merebut harta Serani. Beruntung, Serani dibantu dua pria tampan nan kaya raya untuk menghadapi kejahatan mereka demi menemukan cinta sejati.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Bunda, kok photo profil hape Ayah foto tante-tante? Ini foto siapa, Bun?"

Apaaa?

Aku tersentak mendengar pertanyaan Giska, anakku satu-satunya yang berusia tujuh tahun.

Aku segera membuka kontak ponsel Mas Agung di aplikasi berwarna hijau, dan meng-klik photoprofilnya. Benar saja. Ada foto seorang wanita muda berpakaian seksi dengan rambut sebahu. Segera saja aku save foto itu di galeriku.

"Oh itu mungkin teman sekantor Ayah Gis, biasa teman-teman Ayah suka pada iseng," jawabku mencari alasan yang tepat. Agar dia tak berburuk sangka pada Ayahnya.

Dan benar saja, sekitar tiga menit kemudian foto profil itu telah berganti menjadi gambar kaligrafi. Mungkin saja tadi Mas Agung salah pencet. Tapi kenapa dia bisa menyimpan foto wanita itu. Lalu siapa sebenarnya wanita itu? Aku harus menyelidikinya.

Akupun mengirim foto tersebut menggunakan aplikasi hijau kepada seseorang.

[ Do, tolong cek ini foto siapa , cepet nggak pake lama ]

Dido adalah teman sekantor suamiku. Dia adalah orang kepercayaan Om Beni sang direktur utama. Om beni adalah sahabat dekat almarhum Papa. Sejak aku kecil Om Beni sangat menyayangiku. Atas bantuan Om Benilah Mas Agung yang hanya lulusan SMA bisa mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang bagus di perusahaan itu. Hanya saja Mas Agung tidak menyadarinya.

[ Ini sih foto si Yuyun, Ra. Karyawan di sini. Tapi belum lama dia kerja di sini dan belum menjadi karyawan tetap pula. Emang kenapa Ra]

[ Tolong kirim nomor ponselnya ke aku, Do ]

Setelah Dido mengirim nomor ponsel si Yuyun, segera aku save di aplikasi berlogo hijau. Kulihat Foto profil wanita itu persis sama dengan foto profil ponsel suamiku. Tulisan kaligrafi yang sama.

Aneh. Kok bisa sama?

Aku memutuskan untuk menghubungi suamiku.

"Halo , Assalamualaikum Mas."

(.....)

Di angkat. Tapi tidak ada suara.

"Halo, kamu di mana Mas."

"Ha-lo maaf , i-ni dengan s-siapa?" Terdengar sahutan dari sebrang sana.

Deg.

Suara perempuan. Siapa dia?

"Halo, ini siapa? Kenapa ponsel suami saya ada sama anda?" tanyaku gusar.

tut ... tut ... tut ...

Kok di matikan?

Aku makin penasaran. Apa mungkin kamu menghianatiku, Mas?

--------------

Suara mobil memasuki halaman. Sepertinya Mas Agung pulang. Tumben masih siang sudah pulang.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam, Mas. Kok tumben sudah pulang ?"

"Dek, lihat ponsel Mas, nggak? Sejak tadi dicari-cari nggak ketemu. Sampai-sampai Mas ikut meeting dengan Pak Beni sejak tadi pagi nggak pegang ponsel."

Apa? Mas Agung sejak pagi meeting dengan Om Beni?

Diam-diam aku minta Dido untuk mengecek kebenarannya.

[Pak Agung sejak pagi memang meeting bareng Pak Beni, Ra. Ada apa sih sebenarnya?]

Aku sedikit lega membaca jawaban Dido.

"Kamu yakin Mas, nggak tau ponselnya di mana?"selidikku.

"Iya Dek, tapi kalau nggak ada di rumah, mungkin di kantor. Tadi Mas buru-buru di ajak Pak Beni ke lapangan." Sepertinya Mas Beni tidak berbohong.

"Hmm ... kayaknya ... ponsel Mas sama Yuyun," ujarku hati-hati.

"Hah? A-apa ?" Raut wajah suamiku nampak begitu cemas.

"Kenapa, Mas? Kok kaget gitu ?"

"Wah bahaya kalau ponsel aku sama Dia, Dek. Dia wanita nggak bener." Mas Agung kelihatan bingung, mondar-mandir.

"Maksud Mas?"

"Di-Dia beberapa kali menggodaku di kantor. Bukan cuma aku, tapi beberapa teman di kantor pernah dia ganggu. Bahkan Pak Bandi sampai ribut sama istrinya. Tapi kamu tenang aja. Aku sudah lapor ke Pak Beni. Kemungkinan dia akan di keluarkan bulan depan.

Aku merasa lega mendengar penjelasan suamiku. Walaupun belum percaya seratus persen. Hal ini bisa aku cek lagi nanti dengan Dido dan Om Beni.

"Ayo Dek, ikut ."

"Loh, kemana ,Mas?"

"Aku tahu kamu belum yakin dengan penjelasan Mas tadi. Pasti si Yuyun sudah bikin kamu nggak tenang. Sekarang kamu ikut aku ke kantor. Biar kamu yang mintain ponselku ke Yuyun."

Mas Agung menggandengku ke mobil. Kamipun pergi menuju kantornya.

Semoga suamiku benar-benar tidak tergoda oleh Yuyun si pelakor itu.

Tidak ada percakapan selama perjalanan menuju kantor. Rasa penasaranku pada wanita yang bernana Yuyun itu makin menjadi karena melihat kegelisahan pada sikap suamiku. Mobil ini ber-AC tapi dia berkeringat. Ia membawa mobilnya pun dengan kecepatan rendah. Apa dia sengaja?

"Selamat sore Pak Agung," sapa security kantor saat kami memasuki pintu utama.

"Sore Pak Amir, apa semua karyawan sudah pulang?"

"Sebagian sudah, Pak. Tapi Pak Beni dan beberapa karyawan masih ada di lantai atas. Oh ya, Pak. Ini tadi ada titipan ponsel milik Bapak dari Mbak Yuyun sebelum dia pulang tadi." Pak Amir memberikan amplop coklat yang berisi ponsel suamiku.

Aku melihat senyum kelegaan pada wajah Mas Agung. Entah lega karena ponselnya ditemukan atau karena aku tidak jadi bertemu dengan si Yuyun itu.

"Oh ya terimakasih, Pak Amir," jawab suamiku.

"Dek, Aku ke lantai atas dulu ya."

"Ya. Mas."

Aku duduk di depan receptionis. Sudah lama sekali aku tidak ke sini. Om Beni banyak merubah kantor ini menjadi lebih bagus dan tertata rapi.

"Seraaaa!" Dido histeris terkejut saat melihatku. Sepertinya Ia baru saja dari luar.

Mataku membelalak melihatnya. Segera aku kedipkan sebelah mataku dengan maksud memberi kode. Syukurlah Dido langsung paham. Karena tidak ada satupun yang mengetahui persahabatanku dengan Dido, termasuk suamiku. Hanya Om Beni seorang yang tahu. Karena Dido di terima kerja di kantor ini atas referensiku.

Akhirnya Dido hanya tersenyum dan mengangguk sambil berlalu dari hadapanku. Beruntung tidak ada karyawan lain yang melihat.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Ternyata ada panggilan masuk dari Om beni.

"Sera, kamu naik ke ruangan Om sebentar ya."

"Tapi Om...."

"Sudah ga apa-apa naik aja. kantor juga sudah sepi," sela Om beni.

"Baiklah Om. Sera ke sana sekarang."

Aku segera menuju ruangan Om Beni yang berada di lantai atas.

"Bagaimana kabarmu, Sera ?" Om Beni memulai percakapan. Nampak wajahnya serius.

"Sera baik, Om," jawabku yang duduk di hadapannya kini. Ruangan Om beni sepi.

Di lantai ini sudah tidak ada karyawan. Mungkin mereka sudah pulang. Mas Agung pun tak terlihat batang hidungnya. Di lantai dua aku hanya melihat Dido dan dua orang karyawan.

"Sera, Om sudah tua. Sudah tidak sanggup memimpin perusahaan Bapakmu ini. Perusahaan ini sudah berkembang cukup pesat. Membutuhkan pemimpin yang lebih muda dan produktif. Sudah saatnya Om kembalikan padamu."

Sebenarnya Om Beni memang sudah mulai sakit-sakitan. Mungkin benar sudah saatnya aku memimpin langsung perusahaan ini.

"Baiklah, Om. Tapi aku mohon hal ini tetap di rahasiakan dulu. Jangan sampai Mas Agung tau dulu bahwa sebenarnya aku pemilik perusahaan ini."

"Kalau memang itu maumu, Om ikuti permainanmu saja. Jadi, kapan kamu mulai bisa aktif ? untuk laporan keuangan dan lainnya kamu bisa minta Dido kirim email ke kamu."

"Sera akan mengabari secepatnya. Kalau begitu Sera pamit ya, Om. Takut nanti Mas Agung nyariin." Aku segera pamit untuk keluar menemui Mas Agung.

Ting

Sebuah pesan dari Dido.

[Ra , Aku lihat suamimu lagi berdua sama Yuyun di belakang kantor]

Apaa? Bukannya tadi Yuyun sudah pulang ? Sebaiknya aku cek sendiri sekarang. Dido nggak mungkin bohong.

Dengan langkah cepat aku langsung menuju ke belakang kantor. Di sana sebenarnya adalah tempat parkir motor karyawan. Sedangkan mobil Mas Agung ada di depan kantor. Berarti dia memang sengaja menemui pelakor itu.

Aku menatap nanar sepasang manusia yang sedang berbicara di bawah pohon besar itu. Dari tempatku berdiri ini tidak jelas apa yang mereka bicarakan. Tapi nampak keakraban yang tak wajar di antara mereka.

Wanita itukah yang bernama Yuyun? Masih muda, tapi menurutku tidak begitu cantik. Namun sikapnya berbicara dengan suamiku seperti wanita penggoda. Sesekali mereka saling menyentuh. Hebat kamu Mas. Pintar sekali kamu menutupi kelakuanmu selama ini.

Baiklah, Mas. Silahkan lanjutkan permainanmu. Kamu akan pingsan jika tau siapa aku sebenarnya. Tidak salah aku merahasiakan ini semua selama delapan tahun. Tunggu pembalasanku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Menantu Kaya Raya
9.2
Tiga tahun lamanya Liam Hanza hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan diperlakukan bak budak oleh mertuanya. Semua penghinaan itu ia telan demi sang istri, Yolanda Liandra. Namun, kesetiaannya hancur saat ia memergoki Yolanda berselingkuh. Kecewa dan terluka, Liam akhirnya membongkar identitas aslinya sebagai pewaris tunggal kekayaan ribuan triliun. Kini, keluarga Liandra bersujud memohon ampun, tetapi Liam siap membalas dendam dengan segala kekuasaannya.
Sampul Novel Hasrat Tak Henti-Hentinya Sang Taipan Manipulatif
8.1
Demi menyelamatkan bisnis ayahnya, Irene terpaksa menjalin hubungan dengan pengusaha perkasa bernama Braydon. Di balik sosoknya yang tangguh, Braydon menyimpan gejolak emosi yang hanya diperlihatkan pada Irene. Meski terjebak dalam manipulasi sang taipan, Irene justru jatuh hati sebelum akhirnya hancur saat mengetahui pertunangan Braydon. Ia pun pergi dan bertemu musuh bebuyutan Braydon, Dr. Mitchell, memicu persaingan sengit dua pria demi memenangkan hatinya.
Sampul Novel Istri Rahasia Sang CEO
9.3
Danendra Danu Atmaja, pengusaha sukses, tiba-tiba menawarkan untuk melunasi biaya pengobatan ibu Arana Salingga. Namun, bantuan tersebut datang dengan syarat yang mengejutkan: Arana harus menikahinya. Meski Arana sudah memiliki kekasih dan merasa asing dengan Danendra, pria itu tetap bersikeras. Arana terjebak dalam dilema besar karena perbedaan status sosial mereka yang sangat jauh. Mengapa sosok CEO ternama tersebut memilih gadis biasa sepertinya?
Sampul Novel Kontrak Kedua, Istri Bayangan Sang Pewaris
9.7
Pasca kecelakaan tragis, Aurora Ellis terbangun di tubuh yang asing sebagai istri kontrak Damian Aldridge, sang pewaris bisnis yang manipulatif. Karir cemerlangnya di masa lalu kini berganti menjadi peran sebagai istri kedua yang dituntut memberikan ahli waris. Terjebak dalam intrik elit penuh rahasia berdarah, Aurora yang ambisius menolak untuk tunduk begitu saja. Bisakah ia bertahan di pernikahan gelap ini saat perasaan mulai tumbuh di tengah luka dan konspirasi?
Sampul Novel Malam Pertama dengan CEO
9.7
Kehidupan Kara hancur saat suaminya menjualnya kepada Angkasa, seorang CEO kaya, di malam pernikahan mereka. Wajib melayani Angkasa selama sebulan, Kara justru hamil. Namun, Angkasa menolak mengakui janin itu karena salah paham dan mengusirnya. Di tengah tekanan mantan suami dan mertua, Kara berjuang sendiri hingga sukses jadi desainer. Saat Angkasa kembali untuk memohon maaf, akankah Kara bersedia membuka pintu hatinya yang telah terluka?
Sampul Novel Pengkhianatan Dibalik Cinta Duda
9.2
Pasca pengkhianatan sang tunangan, Alina Mahendra menutup rapat hatinya hingga ia bertemu Adriel Wicaksana, konglomerat properti yang karismatik. Meski Alina berupaya menghindar, takdir justru membawanya menjadi guru privat bagi putri Adriel, Naya, yang yakin bahwa Alina adalah ibunya. Di tengah dominasi Adriel dan trauma masa lalu yang menghantui, hubungan profesional mereka berubah menjadi dilema emosi. Akankah cinta baru ini menyembuhkan luka atau justru menyisakan perih?