Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Finding A True Love

Finding A True Love

Bagi Kanaya Amelitta, cinta hanyalah luka yang harus dihindari. Ia menutup hati rapat-rapat hingga Gavin Januartha hadir membawa kehangatan. Meski merasa nyaman, Kanaya justru kabur saat Gavin menyatakan perasaan. Delapan tahun berselang, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi rumit yang mengikat keduanya, padahal Gavin sudah memiliki komitmen lain. Di tengah rasa benci dan takut, mampukah Kanaya mengabaikan Gavin yang kini bersikap sangat keras kepala?
Bab
Bagikan

Bab 2

Suara ketukan stiletto Kanaya memenuhi lorong. Langkahnya luwes dengan postur tubuh yang proporsional, ditambah dengan wajah cantik yang mempesona, layak membuat semua orang menoleh. Sesekali Kanaya membalas sapaan yang dia dapat dengan senyum tipis. Kanaya melangkah masuk ke dalam lift, dia kemudian menekan tombol delapan di panel. Kanaya menyandarkan tubuhnya di dinding lift dan memejamkan matanya, menikmati kesunyian yang ada di sekelilingnya.

Kanaya bekerja sebagai seorang fashion designer, dia bahkan memiliki brand pakaian sendiri. Tidak heran jika Kanaya sangatlah sibuk, sejak pagi tadi Kanaya sudah menghadiri rapat untuk persiapan fashion show yang akan diadakan dua bulan lagi di Jakarta fashion week. Rapatnya berlangsung cukup lama karena ada banyak hal yang harus dipersiapkan.

Suara ponsel yang berbunyi nyaring membuyarkan lamunan Kanaya. Kanaya segera mengambil ponselnya dan melihat ada panggilan masuk dari Ethan.

“Halo Kanaya…” terdengar suara Ethan yang menyapanya dengan nada riang.

“Iya, kenapa?” tanya Kanaya.

“Apa kamu sibuk? aku lagi di Bandung. Kalau kamu tidak terlalu sibuk, bisa kita bertemu sebentar? ada yang mau aku bicarakan,” ucap Ethan.

Kanaya menghembuskan napas berat. “Aku tidak bisa lama-lama, aku masih harus bertemu dengan beberapa klien.”

“Tidak akan lama, aku janji,” ucap Ethan.

“Baiklah,” balas Kanaya. Dia kemudian langsung memutuskan panggilan telepon dengan Ethan.

Setelah menunggu sekitar lima menit, lift akhirnya sampai di lantai delapan. Kanaya segera keluar dan berjalan menuju ruang kerjanya.

“Kanaya…” terdengar suara Clara — asisten Kanaya, yang memanggilnya.

“Kenapa Clara?” tanya Kanaya.

Clara menatap Kanaya sekilas. “Ini daftar nama-nama model yang akan ikut dalam fashion show.” Clara memberikan beberapa kertas berukuran sedang pada Kanaya. “Oh iya jangan lupa jam dua nanti kita ada meeting dengan pihak Meyta Collection.” tambahnya cepat.

Kanaya mengangguk. “Aku mau keluar sebentar.”

“Baiklah. Kembali sebelum jam dua, jangan sampai terlambat!” kata Clara memperingati.

Kanaya bergumam paham. Setelah itu dia melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mengambil beberapa barang yang dia perlukan.

**********

Taksi yang ditumpangi Kanaya berhenti di sebuah kafe sederhana dengan tema monokrom yang membuat kafe tersebut tampak unik. Setelah membayar, Kanaya segera melangkah masuk ke dalam kafe tersebut. Kanaya mengedarkan pandangan ke sekeliling berusaha menemukan keberadaan Ethan.

Suasana kafe tampak ramai sehingga Kanaya sedikit kesulitan untuk menemukan Ethan. Setelah beberapa saat mencari, pandangan Kanaya terhenti pada sosok pria tampan yang menggunakan kemeja light blue dengan potongan rambut pendek yang tertata rapi. Pria itu duduk di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan luar kafe.

“Ethan,” sapa Kanaya begitu jaraknya dengan pria tersebut tidak terlalu jauh.

Ethan yang sedari tadi sibuk dengan ponsel di tanganya langsung mengangkat pandangannya saat mendengar suara Kanaya. “Hai…” ujar Ethan seraya tersenyum ramah.

Kanaya membalas senyuman Ethan. Dia kemudian duduk berhadapan dengan Ethan. “Jadi, apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Kanaya tanpa basa-basi.

Ethan sontak tergelak. “Sepertinya kamu benar-benar tidak ingin bertemu dengan ku, padahal aku sangat merindukanmu, aku jadi sedih…” ujar Ethan dengan nada sedih yang dibuat-buat.

Kanaya tertawa pelan. “Bukan begitu, aku hanya penasaran apa yang mau kamu bicarakan.”

“Benarkah? kalau begitu pesanlah sesuatu, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu.”

Kanaya tersenyum tipis kemudian memanggil salah satu pelayan. “Aku ingin pesan colossal carrot cake dan vanilla sweet cream.” Pelayan tersebut mencatat pesanan Kanaya dan segera pergi.

“Bagaimana kabar paman, bibi, dan juga Kesya? apa mereka baik-baik saja?” tanya Kanaya.

“Mereka baik-baik saja. Bagaimana dengan mu? Apa kamu tidak merasa kesepian tinggal sendirian di sini? Apa kamu tidak ingin kembali ke rumah?”

“Aku baik-baik saja, dan aku sangat sibuk sampai tidak punya waktu untuk merasa kesepian,” jawab Kanaya.

Ethan terdiam sejenak memandang saudara sepupunya. Kanaya semakin tertutup dan sangat sulit untuk dipahami, dia seperti membangun tembok kokoh yang tidak murah ditembus oleh siapapun tidak peduli seberapa keras orang tersebut mencoba, pada akhirnya pasti akan gagal.

“Kanaya, kamu boleh sesekali pulang ke rumah. Ayah dan ibu pasti akan senang, kalau soal Kesya kamu tidak perlu menanggapinya,” ujar Ethan.

Kanaya mengangguk. “Aku akan pulang saat liburan,” jawab Kanaya seadanya.

Percakapan mereka terhenti sejenak saat seorang pelayan datang membawa pesanan Kanaya. “Selamat menikmati,” kata pelayan tersebut dengan ramah.

Kanaya tersenyum senang merasakan colossal carrot cake di dalam mulutnya. Ada sedikit rasa asin, tapi sangat pas disandingkan dengan vanilla sweet cream yang dia pesan.

Ethan tertawa pelan melihat Kanaya begitu menikmati makanannya. “Aku akan menikah,” ujar Ethan dengan lugas.

Kanaya tertegun. Menikah? barusan Ethan bilang dia akan menikah? menikah dengan siapa? apa saudara sepupunya ini punya pacar yang bisa diajak menikah?

“Kamu mau menikah? dengan siapa? memangnya kamu punya pacar yang bisa diajak menikah?” Kanaya akhirnya melontarkan pertanyaan yang ada di pikirannya.

Ethan terperangah, tak lama dia tertawa.

“Kenapa malah tertawa?” Kanaya mengernyit binggung.

“Menurutmu aku tidak punya pacar yang bisa diajak menikah?” Ethan balik bertanya seraya berusaha meredahkan tawanya.

Kanaya mengedikan bahu. “Aku hanya berpikir kamu bukan tipe yang bisa serius untuk berkomitmen semua pacarmu yang aku tahu juga sama,” ucap Kanaya.

Ethan tersenyum, matanya menerawang. “Yang satu ini istimewa, kamu pasti akan mengerti apa maksudku saat bertemu langsung dengannya.”

“Aku jadi penasaran,” gumam Kanaya pelan, “Jadi kapan tepatnya kamu akan menikah?” tanyanya kemudian.

“Dua minggu lagi, dan kamu harus datang tidak ada alasan. Aku sampai datang jauh-jauh ke sini untuk mengundangmu secara langsung, undangan resminya akan menyusul,” jelas Ethan.

Kanaya menghela napas. Datang ke pernikahan Ethan? apa tidak apa-apa?

“Kanaya, kamu bisa datang kan?”

Kanaya terdiam sejenak, sebelum menjawab, “Ethan… apa tidak apa-apa? aku rasanya belum siap.”

Ethan mengulurkan tanganya, mengelus pelan rambut hitam Kanaya yang terurai indah dan terasa begitu halus. “Kanaya, ini sudah hampir delapan tahun… mau sampai kapan kamu menghindarinya? saat ini dia sudah bertunangan dengan Kesya, kamu tidak bisa menghindar terus seperti ini,” ujar Ethan. Kanaya hanya terdiam. “Kanaya …?” panggil Ethan, dia menatap Kanaya yang terus diam di depannya.

“Aku hanya takut. Terlebih sekarang dia adalah tunangannya Kesya, hubunganku dengan Kesya sudah cukup buruk. Aku tidak mau membuatnya semakin buruk lagi,” jelas Kanaya.

Ethan menatap Kanaya dengan lekat. “Apa yang membuatmu takut? Apa kamu masih memiliki perasaan pada Gavin?”

Kanaya tercenung, tak siap dengan pertanyaan itu. “Aku… tidak tahu, tapi sepertinya tidak.”

Ethan memandang Kanaya dengan tatapan tak percaya. “Jawaban macam apa itu? kamu harus memastikannya sendiri. Berhenti menghindari Gavin!” tegas Ethan.

Kanaya mengangguk mengerti. Apa yang dikatakan Ethan memang benar. Sudah cukup selama ini dia terus menghindar dari Gavin. Kanaya harus memastikan sendiri apakah dia masih memiliki perasaan pada Gavin atau tidak… lagi pula saat ini Gavin sudah menjadi tunangan Kesya, jadi pastinya Gavin sudah tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap dirinya. Semuanya pasti akan baik-baik saja.

Ethan melihat Kanaya yang tampak begitu gusar. “Kanaya, jangan terlalu dipikirkan. Kamu tidak perlu khawatir, kalaupun ternyata kamu masih memiliki perasaan pada Gavin… tidak apa-ap—”

“Apanya yang tidak apa-apa?” potong Kanaya cepat. “Gavin itu tunangannya Kesya,” sambungnya ketus.

Ethan tersenyum menatap Kanaya dengan lekat. “You know nothing,” gumamnya kemudian.

Kanaya memilih mengabaikan Ethan yang sedang tersenyum tidak jelas. Entah apa maksud Ethan berkata seperti itu, Kanaya sama sekali tidak berminat menanggapinya. Dia kemudian memutuskan untuk menghabiskan vanilla sweet cream yang masih tersisa setengah.

“Jadi, kamu akan datang ke pernikahanku, kan? tanya Ethan memastikan.

“Iya,” jawab Kanaya singkat. “Apa aku boleh membawa temanku?” tanyanya kemudian.

Ethan tampak tertarik, “teman? teman yang mana?”

“Clara, dia asistenku,” jawab Kanaya.

Ethan mengangguk mengerti. “Baiklah, kamu boleh membawanya. Aku akan menyiapkan satu kamar lagi untuk dia.”

Kanaya memandang Ethan sambil mengernyitkan dahi. “Kamar?” tanya Kanaya perlahan.

Ethan menyandarkan punggungnya pada kursi. “Apa aku belum bilang?” tanya Ethan, “aku akan menikah di Bali, jadi kita harus menginap sekitar tiga hari,” jelasnya kemudian.

Kanaya tampak senang. “Bali? aku jadi tidak sabar. Sepertinya akan menyenangkan,” ujarnya bersemangat.

Ethan tersenyum menatap Kanaya. “Ya, sekalian liburan. Tidak baik bekerja terus.”

Kanaya mengangguk setuju. Kalau pernikahan Ethan diadakan di Bali, Clara pasti tidak akan menolak permintaan Kanaya untuk menemaninya. Kanaya kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tanganya, sudah hampir pukul dua. Dia harus bergegas kembali ke kantor jika tidak ingin terlambat menghadiri rapat dengan pihak Meyta Collection.

“Ethan sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku sudah punya janji jam dua ini,” ujar Kanaya. “Dan aku bisa pergi sendiri, aku akan naik taksi. Kamu tidak perlu mengantarku,” tambah Kanaya cepat. Dia kemudian mengeser kursinya dan beranjak pergi meninggalkan Ethan.

“Kanaya... tunggu sebentar!” ujar Ethan menahan Kanaya untuk tidak pergi dulu.

Kanaya menoleh, melihat Ethan. “Kenapa?” tanyanya.

“Jangan menghindari Gavin, temui dia dan pastikan perasaanmu. Kalau ternyata kamu masih menyukainya… aku akan membantumu. Kamu tidak perlu takut, kamu berbeda dengan ibu dan kakak-kakakmu. Kamu tidak akan berakhir seperti mereka,” ujar Ethan.

Kanaya memandang Ethan seraya berusaha menahan perasaan sesak yang tiba-tiba muncul. Kenapa Ethan berkata seperti itu? Gavin dan Kesya sudah bertunangan tidak mungkin hanya karena Kanaya menyukai Gavin, lalu Ethan akan membantunya merusak pertunangan mereka —pertunangan sahabat dan adik kandungnya sendiri! Apa yang sebenarnya dipikirkan Ethan?

“Anggap saja aku tidak pernah dengar apa yang barusan kamu katakana,” ujar Kanaya dingin. Dia lalu berbalik, berjalan keluar dari kafe tersebut.

Ethan menatap punggung Kanaya yang menjauh. Kanaya, you really know nothing…

Kanaya yang sudah keluar dari kafe langsung menghentikan salah satu taksi yang lewat di depannya dan masuk ke dalam taksi tersebut. Dia masih tidak habis pikir dengan apa yang dikatakan Ethan barusan.

Sebenarnya kalau diingat-ingat ini bukan pertama kalinya Ethan mengatakan hal seperti ini padanya, hanya saja kali ini Ethan mengatakannya dengan sangat jelas.

Ethan memang mengetahui hubungan seperti apa yang dia miliki dengan Gavin. Hal itu terjadi saat Kanaya meninggalkan Gavin sendirian di taman labirin setelah mendengar pengakuan cinta Gavin. Kanaya berlari sekuat tenaga menjauh dari Gavin dengan perasaan sesak yang merasuk dadanya. Lalu tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Ethan. Saat melihat Ethan, tangis yang dari tadi Kanaya bendung langsung pecah seketika. Ethan yang kebingguangan berusaha menenangkan Kanaya, setelah Kanaya cukup tenang barulah Ethan menanyakan apa yang terjadi.

Utungnya pada saat itu Ethan cukup memahami apa yang Kanaya rasakan. Memahami semua ketakutan Kanaya. Ethan sendiri pernah melihat bagaimana hancurnya Kanaya saat pertama kali ayahnya membawa Kanaya ke rumah mereka. Kehilangan semua anggota keluarganya dengan cara seperti itu benar-benar sesuatu yang menyedihkan. Wajar saja kalau Kanaya merasa takut.

Ethan juga yang membantu Kanaya untuk menjauh dari Gavin. Sesaat setelah paman Robert dan bibi Nasya kembali dari perjalanan bisnis di Bali, Kanaya langsung meminta ijin untuk kembali pulang ke Bandung. Awalnya paman dan bibinya itu tidak setuju. Namun Kanaya berusaha meyakinkan mereka bahwa ini adalah pilihannya dan tidak akan ada hal buruk yang terjadi, Ethan juga membantunya untuk meyakinkan paman dan bibinya itu. Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya paman Robert dan bibi Nasya mengijinkannya kembali ke Bandung asalkan Kanaya tetap meneruskan terapi psikologis yang sedang dia jalani.

Kanaya pun kembali ke Bandung. Dibantu pamannya, Kanaya menjual rumah peninggalan orang tuannya dan memutuskan untuk tinggal di apartemen. Dia juga melanjutkan sekolahnya yang sempat tertunda, menata kembali hidupnya yang berantakan, dan juga… menghapus semua kenangan tentang Gavin.

Sesekali paman dan bibinya, juga Ethan bahkan Kesya akan datang mengunjunginya. Yang lebih sering berkunjung adalah Ethan, karena Ethan memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Bandung. Sedangkan Kesya melanjutkan kuliahnya di Paris. Mungkin itulah alasan kenapa Gavin dan Kesya bisa bertunangan.

Ethan pernah bercerita bahwa tidak lama setelah Kanaya pindah ke Bandung, Gavin juga pindah ke Paris tinggal bersama keluarga ayahnya. Mungkin saja Kesya bertemu dengan Gavin di sana dan menghabiskan waktu bersama sebagai sepasang kekasih dan memutuskan untuk bertunangan. Pertunangan mereka sangat tiba-tiba. Mereka melangsungkan pertunangan di Paris. Hanya ada keluarga Gavin di Paris yang menghadiri pertunangan mereka tidak ada keluarga Kesya.

Tetap saja, saat ini Gavin adalah tunangan Kesya dan nantinya akan menjadi suami Kesya. Kanaya harus mengingat hal itu, walaupun terkadang dia sering merasa aneh karena Ethan seperti mengajaknya untuk merusak pertunangan Gavin dan Kesya.

Kanaya menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan dirinya. Ini sudah hampir delapan tahun, ada banyak hal yang sudah berubah diantara dia dan Gavin. Kanaya yakin dia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa pada Gavin, begitu juga dengan Gavin. Semuanya akan baik-baik saja tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dia hanya perlu bertemu dengan Gavin selama tiga hari dan kehidupannya akan kembali normal seperti biasanya.

Itulah yang dipikirkan Kanaya… tanpa tahu bahwa tiga hari itu mungkin saja bukan sekedar tiga hari.

**********

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Meninggalkan Suaminya Setelah Dia Menemukan Rahasianya
8.6
Lima tahun menikah, Tobias Stevens jatuh miskin dan terlilit utang. Di tengah kesulitan, Dorothy bekerja keras demi menghidupi Margaret, putri mereka. Suatu hari, Dorothy membawa Margaret ke taman bermain impian dari hasil tabungannya. Namun, mereka terkejut melihat Tobias di sana bersama cinta pertamanya, Liza Briggs, dan anaknya. Ternyata, Tobias telah menyewa seluruh tempat itu secara pribadi, sementara istri dan anaknya sendiri justru diusir oleh petugas.
Sampul Novel Dendam Anak Tiri
9.1
Masa kecil yang penuh kemiskinan dan hinaan mengubah Alena dari gadis lembut menjadi sosok ambisius yang haus balas dendam. Ia bertekad menghancurkan keluarga ayah kandungnya yang kaya raya karena telah menelantarkannya. Di sisi lain, adik tirinya yang manja, Alyssa, tidak menyadari bahwa kehidupan mewahnya akan segera terusik. Pertemuan mereka memicu konflik besar saat rahasia persaudaraan terungkap. Akankah misi Alena berhasil atau justru berakhir duka bagi keduanya?
Sampul Novel Istri Cacat CEO
9.6
Christian Oliver adalah CEO sukses yang tampak memiliki segalanya, namun hidupnya terkekang oleh aturan sang ayah. Di usia 29 tahun, ia dilarang menjalin kasih karena statusnya yang sudah terikat pernikahan sejak remaja dengan Olivia, putri sahabat ayahnya. Meski telah bertahun-tahun mencari, Christian tak kunjung menemukan keberadaan istrinya itu. Ironisnya, tanpa ia sadari sedikit pun, sosok Olivia sebenarnya selalu berada sangat dekat di sisinya selama ini.
Sampul Novel Masa Depan Kita
7.9
Dalam kisah romansa modern yang penuh pengabdian ini, seorang tokoh utama memilih jalan sunyi untuk menjaga perasaan mendalamnya. Ia bertekad untuk memendam seluruh rasa cintanya rapat-rapat tanpa membaginya kepada orang lain. Keputusan sulit ini diambil semata-mata demi melindungi dan menghargai sosok pujaan hati yang sangat ia sayangi. Sebuah pengorbanan perasaan yang tulus demi menjaga kebahagiaan orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Sampul Novel Membebaskan Diri: Cinta CEO yang Hilang
8.8
Miley bertahan dalam pernikahan dingin dengan Harold meski sang suami mencintai wanita lain. Saat semua orang menanti kehancurannya karena kembalinya cinta sejati Harold, Miley justru memilih pergi dan menandatangani surat cerai. Harold yang murka menuntut penjelasan, namun Miley dengan tenang mengumumkan rencana pernikahan barunya. Ternyata, selama ini Miley tidak benar-benar mencintai Harold; ada sosok lain yang selama ini diam-diam ia dambakan dalam hatinya.
Sampul Novel Nenek Mertua Yang Culas
9.7
Ambarningsih bukannya sadar di usia senja, ia justru kian licik dalam menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Setelah berhasil memisahkan Ravindra dan Dewi, kini ia mengincar pernikahan cucunya, Elang dan Citra, sebagai target sabotase berikutnya. Akankah rencana jahat Ambar kembali membuahkan hasil? Ataukah ketulusan Citra mampu meruntuhkan kerasnya hati sang nenek hingga ia akhirnya bertobat? Ikuti perjuangan Citra dalam menghadapi mertua yang culas ini.