
Finding A True Love
Bab 3
Tidak terasa sudah hampir dua minggu berlalu sejak pertemuan Kanaya dan Ethan. Hari-hari berjalan seperti biasa. Kanaya banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja. Mulai dari mendesain busana untuk persiapan Jakarta fashion week, bolak-balik mengunjungi rumah produksi dan masih banyak lagi, salah satunya seperti yang sedang dilakukan Kanaya saat ini, mengawasi pemotretan untuk pakaian summer edition yang akan segera dikeluarkan.
Clara memandang Kanaya seraya menghela napas, Kanaya sedang fokus menatap para model yang sedang berpose di depan kamera sehingga tidak mendengarkan perkataannya. “Kanaya.” Clara mencoba memanggil Kanaya lagi.
Kanaya menatap Clara. “Kenapa?” tanyanya.
“Kamu pulang duluan saja, pemotretannya juga hampir selesai. Sisanya biar aku yang urus,” ujar Clara.
“Aku akan tetap di sini sampai selesai,” kata Kanaya. Matanya kembali memandang ke arah para model tadi.
Clara menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia jadi bingung mau berkata apa lagi, Kanaya benar-benar keras kepala. Setelah terdiam beberapa saat, Clara berjalan meninggalkan ruang pemotretan. Tak lama dia kembali dengan membawa sebuah kotak makan berukuran sedang. “Setidaknya makanlah ini! Aku tahu kamu belum makan apapun dari pagi, kan?” ujar Clara sambil menyodorkan kotak makan tersebut ke arah Kanaya.
“Thanks Clara.” Kanaya tersenyum senang melihat isi dari kotak makan yang diberikan Kanaya. Ada lima potong sandwich keju yang berwarna kecokelatan juga beberapa potongan apel merah. Tanpa menunggu lama, Kanaya langsung mengambil sandwich tersebut dan menggigitnya dalam gigitan besar. Rasanya sangatlah enak. Kanaya terus memakan sandwich tersebut tanpa menghiraukan rasa nyeri yang mulai muncul di perutnya. Setelah semua isi di dalam kotak makan tersebut habis, Kanaya kembali menatap ke arah Clara yang dari tadi hanya diam memandanginya.
“Terima kasih Clara, makanannya enak.” Kanaya tersenyum puas, dia kenyang, walaupun rasa nyeri di perutnya semakin menjadi-jadi.
Clara menggelengkan kepala seraya tersenyum geli melihat tingkah Kanaya. “Kalau begitu sekarang kamu pulang dan istirahat, tidak ada alasan. Jangan lupa besok kita sudah harus pergi ke Bali kalau tidak ingin terlambat menghadiri pernikahan sepupumu.”
Kanaya tersenyum masam mendengar perkataan Clara. Dia hampir saja lupa bahwa besok adalah jadwal keberangkatannya ke Bali. “Baiklah aku akan pulang sekarang,” kata Kanaya pelan. Dia kemudian mulai membereskan barangnya yang berserakan di atas meja dan memasukannya ke dalam tas.
Clara menghembuskan napas lega melihat Kanaya yang tidak membantah lagi. “Aku akan memesan taksi untukmu,” ucap Clara yang ditanggapi dengan anggukkan setuju oleh Kanaya.
**********
Suasana bandara international Ngurah Rai sore itu tampak sibuk oleh hilir mudik orang. Kanaya dan Clara adalah salah satunya. Begitu melewati pintu kedatangan, Kanaya melihat ada seorang pria yang sedang memegang papan nama berupa sepotong kertas besar bertuliskan namanya. Kanaya pun segera menghampiri pria tersebut.
Melihat Kanaya yang berjalan ke arahnya, pria tersebut langsung tersenyum ramah. “Selamat sore nona Kanaya. Nama saya Reno, saya ditugaskan tuan Ethan untuk menjemput nona Kanaya.”
Kanaya mengangguk mengerti.
“Mari nona. lewat sini,” kata Reno. Setelah itu dia berjalan di depan Kanaya untuk menujukan jalan. Sementara Kanaya dan Clara langsung mengikutinya dalam diam.
Setelah kurang lebih dua puluh menit, mobil yang dikendarai Reno berhenti di depan gedung hotel berbintang lima yang terlihat sangat mewah.
Clara berdecak kagum. “Sepertinya saudara sepupumu sangat kaya,” bisiknya pada Kanaya.
“Sepertinya begitu,” balas Kanaya.
Mereka keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam hotel. “Ini kamar nona Kanaya dan di depannya kamar nona Clara. Kalau ada yang diperlukan nona bisa menghubungi staff hotel lewat telepon yang ada di kamar nona,” jelas Reno.
“Baiklah, aku mengerti,” jawab Kanaya.
“Kalau begitu saya permisi. Selamat beristirahat nona,” kata Reno sebelum berbalik pergi meninggalkan Kanaya dan Clara.
“Wah … caranya berbicara seperti robot.” Clara bergumam pelan menatap punggung Reno yang semakin menjauh.
Kanaya tertawa. “Jangan berpikir macam-macam. Aku mau istirahat dulu, sampai jumpa besok.” Kanaya lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Kanaya membuka koper miliknya dan mengeluarkan semua barang yang dia bawa lalu menatanya di dalam lemari. Setelah memastikan semua barangnya sudah tertata dengan rapi, Kanaya kemudian mengambil peralatan mandi dan bersiap-siap untuk mandi. Dia akan mandi dengan air dingin yang sangat dingin untuk menenangkan dirinya.
Selesai mandi dan berpakaian, Kanaya lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dia benar-benar kelelahan dan sangat mengantuk. Masih ada beberapa jam lagi sebelum jam makan malam tiba lebih baik dia pergunakan untuk tidur. Tidak butuh waktu lama, Kanaya langsung tenggelam dalam tidur lelapnya.
**********
Semburat jingga matahari bersinar indah di ufuk barat ditambah dengan suara deburan ombak laut yang mengalun damai menciptakan suasana magis yang tampak romantis. Gaun biru yang dikenakan Kanaya beterbangan dengan anggun tertiup anggin pantai.
Kanaya menghela napas bosan, ternyata pernikahan Ethan berlangsung lebih lama dari perkiraannya. Setelah melakukan akad nikah pagi tadi, sorenya dilanjutkan dengan acara resepsi dan ini bahkan sudah hampir malam, tapi masih belum selesai juga.
Kanaya mengedarkan pandangan ke sekeliling berusaha menemukan keberadaan Clara tapi hasilnya nihil, Clara benar-benar tidak bisa diharapkan. Kanaya mengajak Clara agar dia tidak tampak kesepian tapi Clara malah menghilang entah kemana.
Di kejauhan Kanaya melihat paman dan bibinya yang sedang asik berbincang dengan keluarga Keyla — istrinya Ethan. Keyla adalah gadis yang ceria dan lembut. Kepribadiannya sangat baik, pantas saja jika saudara sepupunya yang terkenal playboy itu langsung terpesona. Kanaya juga sempat berbicara sedikit dengan Keyla saat Ethan mengenalkan mereka. Dan dari apa yang diceritakan Keyla, Kanaya tahu bahwa Ethan dan Keyla ternyata dijodohkan. Itulah alasan kenapa mereka bisa menikah secepat ini.
“Kanaya.” Kanaya menoleh ke sumber suara dan melihat Clara yang sedang berjalan ke arahnya.
“Dari mana saja kamu?” tanya Kanaya kesal.
Clara tertawa pelan menanggapi Kanaya yang tampak kesal padanya. “Aku habis menikmati pemandangan indah” jawabnya sambil menyodorkan segelas wine kepada Kanaya.
Kanaya menerima gelas tersebut dan langsung menghabiskan isinya dalam sekali teguk, membuat Clara terperangah melihatnya.
“ Woah take it easy girl, kamu bisa mabuk,” kata Clara memperingati.
Kanaya tidak menanggapi Clara. Dia mengambil botol wine di depannya dan mengisi ulang gelasnya yang sudah kosong.
“Kanaya…” tegur Clara pelan.
Kanaya menatap Clara sekilas. “Ini hanya wine Bulan dan aku punya toleransi alkohol yang cukup tinggi jadi aku tidak akan mabuk semudah itu.”
Clara menghebuskan napas gusar. “Baiklah terserah kamu saja.” Pada akhirnya Clara memilih untuk menyerah.
Kanaya tersenyum puas, dia kemudian meminum wine-nya, kali ini dilakukan secara perlahan. Ada setitik perasaan resah yang menyusup ke dadanya. Sebelum datang ke Bali untuk menghadiri pernikahan Ethan, Kanaya sudah berulang kali mengingatkan dirinya sendiri bahwa dia sudah berhasil menghapus semua kenangan tentang Gavin dan Gavin tidak akan bisa mempengaruhi dirinya lagi. Namun entah kenapa Kanaya mulai merasa ragu, dia ingin memastikannya sendiri tapi sayangnya Gavin dan Kesya belum sampai di Bali. Pesawat yang mereka tumpangi mengalami sedikit masalah, sehingga mereka akan datang terlambat.
Sekali lagi Kanaya kembali mengisi gelasnya yang sudah kosong dan mulai menyesap wine-nya secara perlahan. Ethan bilang Kanaya berbeda dengan ibu dan kakak-kakaknya, namun Kanaya sendiri tidak yakin akan hal itu. Dia tahu dengan sangat jelas bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat dia cintai, rasanya mengerikan dan butuh waktu yang lama untuk bisa kembali melanjutkan hidup. Kanaya tidak yakin apakah dia akan baik-baik saja jika dia harus kembali kehilangan orang yang dia cintai.
Cinta… semua karena cinta sialan itu. Pilihan terbaik saat ini adalah jangan mencintai dan jangan menerima cinta. Pada akhirnya semua orang yang kita cintai akan pergi, entah itu pergi karena dia sudah menemukan orang lain atau pergi karena waktunya di dunia ini sudah habis. Lebih baik mencintai diri sendiri agar tidak perlu dibayang-bayangi dengan perasaan takut ditinggalkan.
Suara Clara yang memanggil namanya membuyarkan lamunan Kanaya. “Ada apa?” tanya Kanaya.
“Vano semalam menelponku, dan dia menanyakan kabarmu. Apa kalian bertengkar lagi?”
Kanaya menatap Clara dengan tatapan pura-pura polos. “Sepertinya begitu,” ada nada jahil terselip di kalimat Kanaya ketika melanjutkan, “Aku juga tidak tahu, tiba-tiba dia jadi marah-marah tidak jelas.”
Clara melemparkan tatapan curiga ke arah Kanaya. “Tidak mungkin Vano marah tanpa ada alasan yang jelas. Kamu pasti sudah melakukan sesuatu.”
Kanaya menghembuskan napas. Vano adalah salah satu teman yang cukup dekat dengan Kanaya. Kanaya mengenal Vano lewat Clara. Vano adalah tipikal orang yang sangat menghargai kehidupan, itulah yang membuat Kanaya dan Vano sering bertengkar. Menurut Vano, cara Kanaya menjalani hidup menujukan bahwa Kanaya sangat tidak menghargai kehidupannya.
“Aku juga tidak tahu. Kamu tahu sendiri, kan? Vano itu seperti apa… hal kecil saja dia persoalkan,” jelas Kanaya seadanya.
“Jangan menolak panggilan teleponnya, kalau kalian terus seperti ini aku yang pusing,” ujar Clara.
Kanaya tertawa kecil dan mengangguk. Diambilnya lagi botol wine yang isinya sisa setengah kemudian mengisi ulang gelasnya dan juga gelas Clara yang sudah hampir kosong. “Jangan pikirkan manusia menyebalkan itu, kita datang ke sini untuk bersenang-senang,” kata Kanaya dengan nada riang.
Clara memandang Kanaya sebentar. “Kamu mabuk?” tanyanya.
“Tentu saja tidak.” Kanaya menjawab singkat.
Clara menatap Kanaya dengan tatapan tak percaya. “Kanaya berhenti minum,” katanya kemudian.
“Oh, ayolah Clara. Aku masih sadar dan aku baik-baik saja, aku sama sekali tidak mabuk.” Kanaya mencoba menyakinkan Clara. Walaupun masih tampak ragu, pada akhirnya Clara memilih untuk diam saja.
Clara mengalihkan pandangannya ke sekeliling, melihat apakah ada hal menarik yang bisa dia temukan. Lalu tatapannya berhenti pada seorang wanita yang tampak familiar. Wanita itu mengenakan gaun biru selutut dengan potongan rendah di bagian dada. Di sampingnya berdiri seorang lelaki yang mengenakan kemeja yang juga berwarna biru, jangan heran kenapa semuanya berwarna biru karena warna biru adalah dress code untuk acara resepsi pernikahan sepupu Kanaya. Lelaki itu sangat tampan, ketampanan yang tidak manusiawi seperti karakter utama yang keluar dari komik. Mata birunya sangat memikat. Membuat siapapun tidak akan sanggup mengalihkan pandangannya.
Mata Clara kembali menatap ke arah pasangan tadi, mengamati dengan kagum. Mereka adalah pasangan yang serasi. Clara melirik Kanaya yang diam di sampingnya, Kanaya sedang merebahkan kepalanya di atas meja dan sibuk dengan ponselnya. Tidak begitu peduli dengan keadaan di sekelilingnya.
Clara tidak habis pikir dengan Kanaya. Kanaya sangat cantik, bahkan lebih cantik jika dibandingkan dengan wanita yang tadi dilihat Clara. Kulit Kanaya sangat putih bahkan cenderung pucat, tubuh Kanaya sangat ramping dan juga berisi di tempat-tempat yang seharusnya, belum lagi wajah cantiknya yang dihiasi dengan mata cokelat yang mempesona. Seandainya Kanaya mau sedikit saja membuka hatinya pasti tidak akan sulit baginya untuk mendapatkan lelaki manapun yang dia inginkan. Sayangnya, setiap kali menerima pengakuan cinta Kanaya malah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal seperti dia bisa mencintai dirinya sendiri dan tidak butuh orang lain untuk mencintainya.
Clara terkikik geli mengingat ekspresi polos yang Kanaya tampilkan saat menolak setiap pernyataan cinta yang dia terima, ekspresinya itu berbanding terbalik dengan kata-kata kejam yang keluar dari mulutnya. Clara jadi penasaran, kira-kira lelaki seperti apa yang bisa meluluhkan hati Kanaya… tanpa sadar tatapan Clara mengarah ke tempat pasangan serasi yang tadi dilihatnya. Rupanya mereka sedang berbincang-bicang dengan keluarga dari mempelai wanita dan juga paman serta bibi Kanaya. Beberapa saat kemudian, terlihat kedua mempelai yang juga ikut bergabung dengan mereka.
Clara kembali menyesap wine-nya sambil terus mengamati mereka. Mungkin ini hanya perasaanya saja, tapi Clara merasa bahwa sepupu Kanaya —Ethan dan juga lelaki tampan bermata biru itu dari tadi terus melirik ke arahnya dan Kanaya.
Clara memperbaiki posisi duduknya, lalu menyentuh pelan pundak Kanaya. “Kanaya,” panggil Clara pelan.
Kanaya mendongakkan kepala, menatap Clara penuh tanya.
Clara mengamati Kanaya. “Kamu belum mabuk, Kan?” tanya Clara memastikan.
“Tidak ada pertanyaan lain?” Kanaya balas bertanya sambil melemparkan tatapan kesal ke arah Clara.
Clara mengangguk mengerti. “Baguslah… jangan mabuk dulu kebiasaan mabukmu sangat buruk.” Clara mengarahkan padangannya ke depan dan tersenyum, dugaannya benar. Pasangan serasi yang tadi dan juga kedua mempelai sedang berjalan ke arahnya dan Kanaya. “Nah, Kanaya… sekarang duduk yang benar dan bersikap ramah. Aku ingin menikmati pemandangan indah ini sedikit lebih lama.” Clara berkata dengan penuh semangat
Kanaya mengerutkan dahi, bingung dengan apa yang Clara katakan. Kanaya kemudian mengikuti arah pandangan Clara dan begitu matanya bertemu pandang dengan iris biru yang sedang menatapnya balik dengan pandangan yang… sulit diartikan, tubuhnya langsung membeku dan bibirnya kelu. Mata biru itu masih sama, setiap Kanaya melihat ke dalamnya dia merasa seperti tersedot ke dalam lautan biru yang dalam. Tidak mampu mengalihkan pandangan walaupun hanya sedetik.
Tunggu, masih sama?! tangan Kanaya yang sedang mengenggam gelas wine mulai gemetar. Kanaya dengan cepat berusaha mengendalikan dirinya. Takut dia akan menjatuhkan gelas yang sedang dipegangnya, Kanaya lalu meletakan gelas tersebut di atas meja. Dia kemudian tersenyum menatap Ethan dan Keyla, juga Ethan serta… Gavin yang sedang menatapnya balik dengan ekspresi yang berbeda-beda.
Ethan bilang Kanaya harus mencari tahu perasaan seperti apa yang dia miliki terhadap Gavin, Kan? Sekarang Kanaya akan melakukannya. Satu hal yang pasti, apapun jawaban yang Kanaya temukan dia akan tetap menjauhkan Gavin sejauh mungkin darinya.
**********
Anda Mungkin Juga Suka





