
Find Me In Your Memory
Bab 2
Entah pria itu pendiam atau karena memang dia tidak suka berbicara dengan orang asing? Selama menjelajahi area pantai, mereka tidak saling berbicara. Sessil mengikutinya sambil menikmati sekantong gorengan. Ya, sendirian! Habisnya, pria itu menolak saat ia menawarkan makanan itu padanya.
Namun, meskipun begitu, rasa keingintahuan Sessil menggantung dalam benaknya. Ia memperhatikannya, saat pria itu tengah memotret sebuah obyek, sementara dirinya tengah duduk di sebuah kursi.
"Dia itu turis atau photografer? Kok kayaknya dari tadi foto-foto mulu?" gumam Sessil.
Sepertinya pria itu merasa sedang diperhatikan, makanya tiba-tiba ia menoleh pada Sessil. Sontak saja Sessil memalingkan wajah, gugup. Jangan sampai pria itu sadar kalau tatapannya sejak tadi mengarah padanya. Ia sampai berpindah tempat duduk, berpura-pura menikmati angin laut dan memainkan pasir putih pantai itu, berusaha tak melihat padanya.
"Kamu capek?"
Eh! Bukannya itu suaranya? Sessil menoleh ke samping, terkejut sejenak karena pria itu tahu-tahu sudah ada di sampingnya. "Em ... nggak sih," jawabnya seraya menggeleng.
Pria itu terdiam. Sikapnya tidak terduga, duduk di atas pasir tanpa peduli seberapa banyak butiran pasir menempel di betis yang tidak tertutup oleh celana pendeknya. Merenung, menatap lurus pada lautan tenang berair biru yang bersih.
"Aku mau menikmati sunset. Apa kamu nggak keberatan?" katanya tanpa menoleh.
Matahari terbenam? Memangnya, sudah jam berapa ini? Sessil bergegas memeriksa jam yang ada di ponselnya. Sudah sekitar pukul 18.20, berarti sekitar 15 menit lagi. Kalau memang ini waktu terakhir untuk menjelajahi daerah ini, Sessil akan bersabar. Lagipula, ia belum pernah menyaksikan sunset secara langsung seumur hidupnya. Tidak ada ruginya juga menikmati momen itu sekarang.
"Ya ... kalau aku balik, nggak mungkin juga," jawab Sessil seraya terkekeh. "Mau nggak mau aku harus ikut biar bisa barengan sama kamu ke resort. Aku kan baru pertama kali ke sini, dan aku nggak tahu jalan."
Hemat kata sekali pria ini. Kicauan Sessil cuma ditanggapi oleh anggukkan. Ya sudahlah, Sessil juga nggak terlalu kecewa. Mungkin memang sifatnya seperti itu. Namun, pria itu juga tidak terduga. Tahu-tahu mengulurkan tangan sambil mengucapkan namanya.
"Andrew."
Hah? Sessil melirik uluran tangan pria itu dengan tertegun. Kiranya, pria itu tidak sudi memperkenalkan dirinya, tapi kenapa tiba-tiba begini? Butuh waktu lama bagi Sessil untuk memahami maksud dari sikapnya ini.
"O, baiklah. Tak perlu memberitahukan namamu, aku tidak memaksa," kata Andrew spontan, lalu menarik kembali uluran tangannya.
Berubah lagi sikapnya. Apa dia tersinggung? Sessil berpikir, mungkin untuk meredam kesalahpaham lantas ia terkekeh dan berbicara sesantai mungkin. "Ah, maaf. Saya cuma terkejut aja. Namaku, Sessil."
"O. Mungkin kamu merasa nggak nyaman dengan saya," sentil Andrew, tapi justru tidak membuat Sessil tersinggung.
Sebenarnya, tidak juga. Sessil lebih nyaman jika mereka tidak saling bertukar nama ataupun saling berbicara. Menjadi asing itu lebih baik, daripada keakraban menciptakan sebuah hubungan. Ia tak mau berakhir kecewa.
Karena enggan menjawab dan hanya terkekeh saja, Sessil mengalihkannya dengan hal lain. "Eh, matahari terbenam!" serunya seraya menunjuk ke arah barat.
Hal yang ditunggu, tidak mungkin dilewatkan. Andrew melihat ke arah tunjukan itu, tertegun sejenak, lalu tersenyum dengan pandangan terpesona pada matahari bercahaya oranye di ujung laut. Sessil menurunkan tangannya, hendak kembali menumpukan di atas pasir. Namun, tanpa sengaja menyentuh sedikit tangan Andrew.
Keduanya tampak terkejut dan saling berpandangan, cukup lama, tapi agak intens sekejab karena rasa gugup tiba-tiba menghampiri mereka. Sadar, bahwa perasaan yang tidak seharusnya ada merasuki diri mereka.
"Eh! Maaf," gumam Sessil tersenyum kikuk, setelah berseru kaget.
"Nggak apa-apa," jawab Andrew, yang sama groginya. "Kamu ... nggak sengaja, 'kan?"
Sessil mengangguk pelan, masih belum habis rasa gugup itu. Maka keduanya kembali terdiam, hanya saja hal janggal bergelung di dalam hati mereka. Degup jantung ini aneh sekali, berdetak gelisah. Kadang, tak tahan rasanya ingin melirik satu sama lain, meski mata mereka selalu saling menghindar. Kemudian, tersipu sambil memalingkan wajah.
Apa ini? Perasaan suka? Tepatkah menyimpulkan secepat itu?
"Besok ... apa kamu naik kapal pesiar?" Keberanian seakan muncul mendadak dari diri Andrew untuk mempertanyakan hal itu.
"Iya. Memang salah satu tujuan liburan aku sama Vanya adalah naik kapal pesiar," jawab Sessil mengangguk sekali tapi grogi. Ya iyalah, rugi kalau tidak naik kapal mewah itu. Soalnya, pihak pemberi hadiah yang menyediakannya.
"O," sahut Andrew. Bingung sekali mau merespons gadis itu setelahnya, karena perasaan tak keruan ini begitu menggila.
Ini adalah kali pertama Andrew merasa begitu pada seorang perempuan asing, yang baru ia ketahui namanya. Cupid seakan telah menancapkan panah cinta di hati mereka begitu saja. Apakah Tuhan sedang melakukan lelucon, sampai takdir mendadak ini secepat kilat terbentuk?
Mungkin tidak. Cinta adalah hasrat yang manusiawi. Wajar jika dua insan bisa saling menyukai pada detik-detik yang begitu cepat tanpa disadari. Bahkan, Andrew tak tahu bahwa diam-diam hatinya tergelitik untuk menyicipi rasa itu. Jemarinya perlahan digerakan, mendekat sesenti demi sesenti ke arah tangan Sessil, hingga akhirnya menyentuh jemarinya.
Sessil tertegun, lalu mengalihkan tatapan dengan kedua mata membulat. Terdiam, saling bertemu pandangan tanpa menghiraukan momen matahari akan tenggelam. Andrew meneruskan niatnya, menggenggam jemari gadis itu.
Keduanya terpaku. Tenggelam dalam perasaan, hanya mendengar detak jantung yang berdegup kencang. Gerakan Andrew begitu cepat, meraih tengkuk Sessil, mendekatkannya ke arahnya, lalu ia melumat bibir bawah gadis itu.
Ini gila, tapi Sessil tak menghiraukan momen itu. Meski terkejut, perlahan ia menikmatinya, membiarkan pria itu mengecup bibirnya, bahkan ia menutup mata dan membalas melumat bibir atas Andrew.
Ciuman itu semakin intens, sampai Andrew merebahkan tubuh Sessil di atas pasir, menahan kepala Sessil menyentuh permukaan dengan kedua tangannya. Sessil terkejut bahwa pria itu pencium yang handal. Ia dibuat mabuk oleh ciuman yang begitu lembut yang mampu membangkitkan hasrat.
Setelah cukup lama mereka melakukannya, akhirnya mereka kehabisan napas. Andrew mejauhkan wajahnya sedikit, menatap Sessil sambil mengatur napas yang terenggah-engah.
"Ayo, kita kembali ke resort," saran Andrew, tapi ajakan itu mengartikan hal lain.
Seolah terhipnotis, Sessil mengangguk setuju. Dan gilanya lagi, ia bahkan tak menolak saat Andrew menawarkannya untuk masuk ke dalam kamarnya. Alih-alih air ataupun minuman, Andrew menawarkan pelukan hangat di atas ranjang. Sessil tak berontak, justru menunggu dengan degup jantung yang berdetak semakin kencang.
Jeda beberapa saat dilewati oleh tatapan intens, lalu Andrew kembali berucap, "Aku menyukaimu."
Kabut tipis di dalam otak Sessil justru mempercayainya. "Sejak kapan?" tanyanya, sengaja bernada meragukan ucapan Andrew.
"Sejak ...," Andrew menghela napas, mengalihkan lirikan matanya pada bibir Sessil, "sejak aku melihatmu di bandara."
Senyum menggoda Sessil terulas. "Gombal!"
"Aku tidak menuntutmu untuk percaya. Aku tak sengaja menemukan wajah cantik ini, aku tidak sengaja mengarahkan lensa kameraku padamu."
Ucapan yang mengalir bagai sungai jernih itu bukan bualan semata. Ketika ia keluar dari pintu gerbang bandara, Andrew mengambil beberapa spot untuk dijadikan objek fotonya. Namun, tak disengaja kamera diarahkan pada sosok Sessil. Ia tersenyum, mengambil fotonya, lalu berpura-pura tak acuh ketika melewati Sessil dan Vanya.
Sejujurnya, Andrew tak mengharapkan pertemuan itu. Namun, Tuhan yang memutuskan takdirnya. Tidak disangka, ia akan bertemu dengan sosok yang disukainya pada pandangan pertama. Dengan perasaan gugup yang berusaha disembunyikan, Andrew memotret Sessil dan Vanya.
"Kalau memang begitu," kata Sessil, setelah Andrew menyelesaikan ceritanya. "Kenapa sikapmu cuek begitu padaku?"
"Apa kamu tersinggung? Maafkan aku. Aku hanya berusaha tidak gugup, tapi sifatku memang seperti itu aslinya."
Sessil tertawa kecil, tapi justru menggelitik iman Andrew. Bibir mungil itu, tak tahan untuk ia lumat lagi. Akan tetapi, ia menahannya sejenak untuk mendapatkan persetujuan dari pemiliknya.
"Apa kamu menyukaiku?" tanyanya, sekejab Sessil menjadi terdiam.
"Aku tidak tahu. Memangnya, apa yang ingin kamu lakukan?"
Meski bukan maksudnya, Andrew merasa bahwa ucapan ini adalah sebuah undangan. "Aku ingin memilikimu," bisiknya, suara berat Andrew mendesah serak membelai relung hati Sessil untuk membangkitkan hasrat yang selama ini disimpannya erat.
Senyuman yang menandakan persetujuan, dan Andrew langsung memulai permainan dengan kecupan panas. Tangannya sibuk menyingkapkan pakaian Sessil, lalu memberikan sentuhan yang membuat darah Sessil mendesir.
Ciuman itu turun perlahan ke arah yang lebih intim. Sessil menggelinjang, kadang desahan pelan keluar dari mulutnya. Dalam sekejab, seprai di ranjang telah berantakan, pakaian mereka berserakan di lantai, lalu ruangan dipenuhi oleh suara rintihan dan dengusan nikmat dari keduanya.
💐
Mata Sessil tiba-tiba mendelik, mencoba melihat di ruangan gelap bercahaya lampu hias di meja. Lalu, ia melirik pada Andrew yang tengah tertidur pulas menghadap ke arahnya.
Apa itu tadi? Mimpi indah yang singkat? Namun, saat terbangun, ia sadar bahwa ini bukan mimpi. Sessil menaikkan selimutnya hingga seluruh tubuhnya ditutupi.
Aduh! Apa yang telah dilakukannya? Ia bukan lagi remaja labil yang mudah terbujuk oleh pernyataan cinta seseorang. Tapi, kenapa kini ia mau saja tidur dengan orang asing ini? Entah benar atau tidak bahwa pria itu menyukainya. Yang pasti, Sessil menyesali perbuatannya ini?
Ia resah. Kesuciannya telah menghilang. Bagaimana ini? Apa pria ini akan bertanggung jawab atau justru menghilang setelah ini? Jika iya, bagaimana dengan masa depannya nanti? Apa ada seorang pria yang mau menikahi wanita yang sudah tidak suci lagi?
Pusing jika memikirkan hal itu. Lalu, ia menyadari hal yang lebih penting lagi. Vanya! Dia pasti mencarinya. Dan yang benar saja. Saat ia mengecek ponsel, Vanya telah mengirim puluhan pesan Whatsapp, dan telah menghubunginya sebanyak 50 kali.
Dalam keadaan panik, Sessil turun dari ranjang. Namun, ia membeku sejenak seraya meringis karena merasakan perih di antara selangkangannya. Ia kembali menyadari bahwa dirinya benar-benar sudah tidak perawan. Wajahnya berubah murung sekejab, lalu perlahan menoleh pada Andrew.
"Aku akan membahas soal ini lagi padanya nanti. Sekarang, aku harus keluar dari sini," gumamnya, setelah itu bangkit dari ranjang dalam keadaan tanpa busana, memunggut pakaiannya yang ada lantai.
Namun, ia tak langsung memakai baju. Sebelumnya, ia membersihkan tubuhnya dulu, menghilangkan jejak aroma tubuh Andrew. Tapi sia-sia, karena jejak aroma parfum Andrew menempel di bajunya.
"Yah!" keluhnya setelah mengendus aroma parfum pria pada pakaiannya. "Kalau kayak gini sama aja bohong, Vanya pasti menyadarinya dan langsung curiga."
Sessil menghela napas panjang, pasrah. Berjalan menuju kamarnya dengan langkah gontai sembari berharap tidak berpapasan dengan Vanya, dan gadis itu sudah tertidur saat ia kembali ke kamar.
Kenyataannya Tuhan tak mengabulkan permintaan itu. Baru saja Sessil menyentuh handel, pintu sudah terbuka dari dalam. Ia terkejut, Vanya pun tertegun heran melihat sosok sahabatnya dalam keadaan wajah pucat pasi.
"Habis dari mana lo?"
Vanya mencecar, tetapi Sessil melesat masuk sambil menjawab dengan bersusah payah setenang mungkin. "Dari jalan-jalan."
Sulit untuk membaca ekspresi dan mengecek kebenarannya karena Sessil membelakanginya. "Jalan-jalan ke mana? Kan lo baru pertama kali ke sini?".
Sessil terhenyak sambil duduk di atas ranjang. Hari ini, Vanya sedang memakai nalarnya untuk mempertanyakan keganjilannya. "Gue ketemu sama SMA gue, yang kebetulan lagi liburan di sini?"
Senyum semringah Vanya menandakan bahwa kebohongan Sessil berhasil membuatnya percaya. Bergegas, ia menghampiri Sessil sambil mengharapkan sesuatu.
"Siapa? Gue kenal, nggak? Dia cewek or cowok—? Ih! Bau apaan nih? Kok nyengat gini?" Sontak, Vanya menutup hidungnya dan beringsut mundur.
Gawat! Sessil yang panik langsung beranjak dan berlalu ke kamar mandi.
"Eh! Mau ke mana? Gue belum selesai ngo ... mong." Vanya tercengang, kemudian kesal. Kata-katanya belum habis terucap, tapi Sessil sudah menutup pintu kamar mandi.
💐
Kapal pesiar yang megah, Vanya berjingkat girang sambil berjalan menuju kapal yang sedang menepi. Kamera digitalnya langsung dikeluarkan dari saku tas kecilnya, dan ia langsung sibuk mengambil foto yang berlatarkan kapal pesiar.
Sementara itu, Sessil tengah mengernyit sambil melihat ke sekeliling dermaga yang ramai. Tak tampak sosok yang tengah dinantinya di antara kerumunan orang-orang. Apa Andrew batal naik kapal?
"Sil, lo sini deh—" Vanya tertegun, menyadari Sessil tidak berada di sampingnya. Padahal, ketiaknya sudah kering karena diangkat demi bisa foto bersama dengan sahabatnya itu. "Sil! Sessil!"
Seruan Vanya akhirnya berhasil membuat Sessil menoleh. Mungkin lupakan saja dulu soal Andrew. Toh, mereka bisa bertemu nanti. Kini, ia harus menghampiri Vanya agar tidak bawel mencecarnya dengan pertanyaan karena tingkah tak biasanya ini.
"Kenapa, sih?" tanyanya agak ketus, ketika ia sudah berada di depan Vanya.
"Lo ngapain di sana? Yuk, kita naik ke kapal!"
Tumben sekali Vanya tidak mencerocos ataupun memaksanya untuk menjawab rasa keingintahuannya. Lega sih, setidaknya Sessil tidak perlu pusing-pusing menyiapkan jawabannya.
"Ya udah, ayo kita naik ke kapal!"
Semangat Vanya membara lagi, lalu menggandeng lengan Sessil, dan menariknya dengan langkah cepat masuki kapal. Namun, Sessil kehilangan rasa antusiasnya karena Andrew yang belum muncul juga di kapal pesiar. Padahal, ia sampai tidak bisa tidur karena menyiapkan kata-kata yang ingin diucapkannya perihal kejadian semalam.
Semoga saja Andrew datang. Sessil berdiri di dek kapal, menunggu sambil melihat-lihat ke tepi dermaga, berharap pria hadir di sini sebelum kapal berlayar.[]
Anda Mungkin Juga Suka





