Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Find Me In Your Memory

Find Me In Your Memory

Sessil dan Andrew sempat menjalin hubungan singkat yang penuh gairah di sebuah resort, sebelum Andrew menghilang tanpa jejak. Setahun kemudian, Andrew muncul kembali sebagai tunangan kakak sepupu Sessil dan bersikap seolah tidak mengenalnya. Namun, sebuah tragedi kematian mengubah segalanya. Andrew justru memilih Sessil untuk menjadi istrinya secara mendadak. Mampukah Sessil menjalani pernikahan paksa ini dengan pria yang pernah meninggalkannya begitu saja?
Bab
Bagikan

Bab 3

Lima menit lagi masuk waktu makan siang. Vania berjalan cepat menuju ke sebuah meja untuk menemui seseorang sambil membawa ponselnya. Siapa? Memangnya siapa lagi kalau bukan Sessil.

Saat ia menemukan mejanya, gadis itu masih sibuk dengan pekejaannya. Sesampainya di sana, Vania agak membungkuk. Jari telunjuknya akan mentoel telinganya, tetapi urung setelah melihat wajah serius Sessil yang sedang mengedit artikel.

Apa ia tunggu saja di sini? Ngapain? Kayak kambing conge di kacangin sama nih manusia. Tapi, ia ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting. Apa ia menerima saja saran yang dikeluarkan otaknya? Yap, bicaranya saat jam makan siang saja.

"Kenapa?" Tidak ada petir, tiba-tiba Sessil berseru datang.

Padahal, niat Vania mau memutar tubuhnya, lalu pergi. Tapi ia berpikir menggunakan kesempatan ini untuk mengatakan niatnya.

"Sil, lo lihat deh ini!" Lantas, Vania menunjukkan sesuatu di ponselnya seraya berkata girang.

Dasar tidak peka! Cuma melirik sekilas, lalu menyahuti Vania, datar. "Emang kenapa?"

Kenapa? Vania gemas dengan sikap acuh tak acuh Sessil ini. Namun, ia tahan juga akhirnya, sambil menggumamkan slogannya terlebih dahulu, lalu menjawab Sessil.

"Huh! Sabar, sabar. Orang sabar dapat jodohnya orang ganteng. Amin." Lalu, ia menoleh lagi pada Sessil. "Sessil, ini nih pesta pernikahannya Dery dan Nora."

"Hmm, udah lihat. Terus, apa hubungannya sama gue?"

Ditimpali dingin lagi dong! Ubun Vania mengeluarkan asap fiktif karena sangking jengkelnya. "Ya, gue mau...."

"Ajak yang lain aja, gue nggak bisa temanin lo," pangkas Sessil, teganya berkata dengan tak berperasaan begitu.

Semangat membara Vania langsung padam, senyuman berganti wajah cemberut yang tak menyenangkan untuk dilihat. "Ih, jadi bete gue! Kenapa sih lo jadi berubah gini?"

"Nggak ada yang berubah."

Vania mendesis gemas. "Banyak perubahan lo. Dan itu terjadi sejak setahun yang lalu."

Jari Sessil tiba-tiba berhenti mengetik. Overall, konsentrasinya langsung kabur. Vania tetap stay di sampingnya ingin menagih jawaban. Akan tetapi, lidahnya seakan membeku untuk berlisan.

"Van, lunch, yuk!" Ajakan teman kerjanya menyelamatkan Sessil dari kerisauan hatinya.

"Oke, tungguin gue di lobi, yes?" sahut Vania, setengah berseru. Kini, kembali mengarahkan pandangannya pada Sessil yang kembali mengerjakan pekerjaannya. "Then, bagaimana tawaran gue tadi?"

"My answer will not change: big no!" tegas Sessil, tak melirik sedikitpun pada Vania.

"Au ah! Terserah lo!" gerutu Vania sambil berkacak pinggang. "Sekarang, tinggalin tuh, kerjaan. Ayo, kita makan siang."

Vania kalah telak karena Sessil menolaknya dengan menunjukkan sebuah tupperware warna biru yang ada di dalam laci kerjanya.

"Ssssh! Sekarang lo udah jadi asosial," celetuknya. "Molla! Males gue sama lo!"

Derap langkah kencang Vania menunjukkan betapa kesalnya dia. Seakan kepergian sahabatnya itu melegakan, Sessil melonggarkan pernapasannya dengan menghela oksigen agak kencang dari mulutnya.

Sessil memijat keningnya—kepalanya mendadak sakit ketika Vania membahas soal setahun yang lalu. Praktis, sekelebat masa lalu muncul sekejab, membuatnya harus kembali meremas dadanya akibat nyeri yang dirasakan dari luka itu.

Ia menggelengkan kepala. "Ah nggak, Sil! Lo harus kuat! Lo udah berusaha buat lupa! Jangan sia-siakan usaha lo itu!" gumamnya penuh tekad, lantas menegakkan badan dan kembali berkonsentrasi pada layar laptop.

Namun sedetik kemudian, suara perutnya berbunyi. Alarm alami yang menandakan bahwa sudah waktunya perut ini diisi makanan. Baiklah, daripada sakit dan diceramahi oleh Vania, lebih baik lupakan sejenak pekerjaan.

Tupperware yang dibawanya tadi ia keluarkan dari dalam laci. Nasi goreng sosis buatannya telah dingin, tapi tetap dilahapnya dengan nikmat. Ia celingak-celinguk, melihat sekelilingnya sepi. Kunyahannya lambat-laun memelan sambil berpikir.

"Apa iya, aku asosial?" gumamnya, mengingat sepintas ucapan Vania tadi. "Aku kan cuma pengin makan sendirian saja."

Bantahan itu hanya ingin menghibur diri saja bahwa dirinya tidak seperti itu. Sebenarnya, ia sadar bahwa memang ia telah menjauhkan diri dari orang-orang di sekelilingnya. Bahkan, ia sering mengabaikan Vania yang berusaha mendekatinya biar kata hanya pengin mengajak pulang bareng. Namun, ia tetap membela diri bahwa dirinya tidak patut dicap seperti itu.

Ponselnya berdering sekali, Sessil langsung melirik ke arah benda itu. Sessil meraih ponsel yang ada di dekat laptop, membaca sebuah pesan Whatsapp tanpa antusias.

"Sil, lagi apa? Udah makan siang belum? Ini aku Yuri." Kakak sepupunya yang men-chat-nya.

"Aku lagi makan siang di kantor. Ada apa, Kak?" Ketik Sessil seraya melafalkan dengan suara pelan.

"Nggak ada. Besok ke rumah orangtuaku, ya."

Sessil memiringkan kepala. Permintaan yang aneh, memangnya ada apa? "Oke, besok aku akan...."

Tiba-tiba, ibu jarinya berhenti mengetik. Ada yang baru disadarinya, dan ia sontak mengecek nomor ponsel yang tertera di atas dinding chat. Nomor Indonesia! Apa itu berarti Yuri sudah kembali dari Perth?

Chat yang tadi dihapusnya, lalu digantikan dengan pesan baru: "Sekarang Kakak lagi ada di mana?"

"Nanti juga tahu. Pokoknya, balik aja dulu ke rumah orangtuaku, oke? Bye."

Sessil menghela napas panjang. Dasar! Sok misterius, padahal dia sudah memberikan clue-nya dengan sangat jelas.

Ponsel kembali diletakkan di tempat tadi. Tangan kanannya menumpu dagunya, sambil berpikir Sessil bergumam, "Kayaknya, dia mau kasih tahu sesuatu? Apa soal pacarnya? Selama pacaran, dia nggak pernah kasih tahu soal pacarnya."

Aneh. Yuri itu ekstrovert yang apa-apa selalu cerita, mem-posting berbagai hal di media sosial, termasuk pacar-pacarnya. Tapi untuk cowok yang ini, tidak banyak yang Yuri ceritakan, bahkan namanya saja enggan disebutkan. Tidak ada foto kebersamaannya dengan pria itu.

"Apa jangan-jangan, kak Yuri cuma halu?" duganya, alisnya naik sebelah. "Ah, nggak mungkin! Kalaupun dia ngehalu, paling soal Jongkook BTS. Tapi, kenapa kak Yuri nggak kasih tahu soal pacarnya? Sekarang juga jadi sok-sokan misterius gitu? Apa pacarnnya yang suruh? Atau mungkin ... om sama tante udah tahu soal cowok itu, tapi kak Yuri suruh mereka untuk merahasiakannya?"

Makan siang telah usai, beberapa karyawan masuk ke dalam ruangan dan kembali ke meja masing-masing. Vania juga termasuk, dan ia tidak langsung ke mejanya karena melihat Sessil sedang berpikir serius.

Vania mendekati meja Sessil, berdiri sejenak di sampingnya sembari memperhatikan. Apa sih yang sedang dipikirkan gadis ini, sampai serius begitu ekspresi wajahnya? Soal pekerjaan? Tapi mungkin tidak. Meskipun pandangan Sessil mengarah pada layar laptop, tetap saja pikirannya melayang ke arah lain—Vania bisa melihat dari tatapan mata Sessil yang kosong.

"Lo lagi mikirin apa, Sil?" tanya Vania, akhirnya memutuskan untuk mencari tahu. Namun, sia-sia saja, sebab Sessil tidak menyahutinya.

Ada saja ide wanita itu. Ia membungkuk, lalu mendekatkan wajahnya sedikit ke hadapan Sessil. Tentu saja, Sessil terlonjak dan praktis beringsut mundur.

"Apaan sih? Bikin kaget!" protes Sessil, mengelus dadanya.

Vania tertawa puas melihat ekspresi kaget itu. "Lebay lo! Lagian, ngapain lo bengong?"

"Suka-suka gue lah!" ketus Sessil, membereskan kotak makanannya untuk kembali di simpan ke dalam paper bag. "Oya, aku diundang kak Yuri buat makan bareng. Lo mau ikut, nggak?"

"Sure!" seru Vania. Bagaimana tidak bersemangat, ia bisa menghemat uang makan yang menipis akibat tanggal tua.

"Ya udah, abis pulang kerja."

"Sip!" Vania mengacungkan ibu jarinya ke hadapan Sessil, meskipun ia tahu akan percuma karena pandangan Sessil telah terpaku ke layar laptop.

"Ya udah, balik ke meja lo sana!" kata Sessil, dingin sekali mengusir sahabatnya. "Apa perlu gue suruh Eko buat anterin lo?"

Mulu Vania langsung maju 5 senti seperti paruh bebek. Eko, pria klimis dan berkacamata yang bisa dibilang jauh dari tipe idaman Vania. Pria itu menyukai Vania dan mengerjar-ngejarnya hingga membuatnya tak nyaman. Bersama dengan Eko bagai penyiksaan berat, dibanding dicuekin Sessil selama setahun![]

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Bukan Pengganti, Aku Istri Sahmu!
9.4
Ditinggal kabur oleh Andi di hari pernikahan membuat hidup Sarah hancur seketika. Demi menutupi aib keluarga, Bayu yang merupakan kakak Andi terpaksa maju menggantikan posisi sang adik di pelaminan. Namun, kehidupan baru Sarah penuh penderitaan karena sikap Bayu yang sangat dingin dan tak acuh. Di balik kebencian itu, tersimpan misteri besar mengenai alasan hilangnya Andi. Sarah kini terjebak dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan rahasia gelap.
Sampul Novel BOYFRIEND?
8.1
Persahabatan murni antara pria dan wanita mustahil terjadi tanpa benih cinta. Raina memegang teguh prinsip untuk tak memacari teman demi menjaga hubungan, namun pengkhianatan sang tunangan mengubah segalanya. Ia terpaksa menikahi sahabat sendiri demi mengobati luka. Kini, Raina terjebak dalam pergolakan batin antara logika dan rasa. Akankah ia belajar mencintai suaminya, atau justru memilih berpaling kembali pada sang mantan yang masih terus ia rindukan?
Sampul Novel Cantika : DESTINY OF LOVE
9.5
Pertemuan tak terduga dengan Jaden menyeret hidup Cantika ke dalam pusaran takdir yang mencekam. Melalui ultimatum posesif bahwa tak ada orang lain yang boleh memilikinya, Jaden mengurung Cantika dalam belenggu obsesi yang menyesakkan. Kini, Cantika dihadapkan pada pilihan sulit: melarikan diri dari dominasi pria itu atau justru terjerat perasaan cinta saat identitas asli Jaden terungkap. Sebuah kisah romansa penuh aksi tentang rahasia dan ambisi.
Sampul Novel CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO
8.5
Pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari garis takdir yang tak terelakkan. Sepasang kekasih terjebak dalam dilema besar saat cinta tulus mereka terbentur tembok perbedaan yang nyata. Di tengah tangis dan dekapan erat, sang pria berusaha meyakinkan bahwa perasaan mereka tidaklah salah. Namun, perbedaan keyakinan menjadi ujian berat bagi masa depan mereka. Di dunia di mana jodoh dan maut telah tertulis, mampukah mereka bertahan saat takdir seolah memaksa untuk menjauh?
Sampul Novel Dendam Menantu Miskin
8.5
Akibat kemiskinannya, Rendra Gumilar dipaksa bercerai oleh Tuan Brata, mertuanya yang angkuh. Meski berat hati, buruh pabrik ini terpaksa berpisah dengan Viona serta bayi mereka yang masih kecil. Diusir dan dihina, Rendra tidak menyerah pada nasib. Ia bertekad bangkit menjadi pria sukses demi merebut kembali keluarga kecilnya. Mampukah Rendra membuktikan harga dirinya di hadapan mertua yang dulu meremehkannya, ataukah ia justru akan kehilangan mereka selamanya?
Sampul Novel Dijebak Dipelaminan
8.2
Adeline Vyantara tak menyangka kehadirannya sebagai tamu justru berakhir di pelaminan. Ia terpaksa menjadi pengantin pengganti bagi Alaric Mahendra, pewaris yang merasa dijebak oleh intrik keluarganya sendiri. Meski awalnya ingin membatalkan pernikahan, Alaric tertahan oleh aksi berani Adeline demi menjaga martabat keluarga. Kini mereka terjebak dalam pernikahan dingin penuh aturan ketat. Di tengah kebencian dan rahasia masa lalu, benih cinta mulai tumbuh tanpa kendali.