
Find Me In Your Memory
Bab 3
Lima menit lagi masuk waktu makan siang. Vania berjalan cepat menuju ke sebuah meja untuk menemui seseorang sambil membawa ponselnya. Siapa? Memangnya siapa lagi kalau bukan Sessil.
Saat ia menemukan mejanya, gadis itu masih sibuk dengan pekejaannya. Sesampainya di sana, Vania agak membungkuk. Jari telunjuknya akan mentoel telinganya, tetapi urung setelah melihat wajah serius Sessil yang sedang mengedit artikel.
Apa ia tunggu saja di sini? Ngapain? Kayak kambing conge di kacangin sama nih manusia. Tapi, ia ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting. Apa ia menerima saja saran yang dikeluarkan otaknya? Yap, bicaranya saat jam makan siang saja.
"Kenapa?" Tidak ada petir, tiba-tiba Sessil berseru datang.
Padahal, niat Vania mau memutar tubuhnya, lalu pergi. Tapi ia berpikir menggunakan kesempatan ini untuk mengatakan niatnya.
"Sil, lo lihat deh ini!" Lantas, Vania menunjukkan sesuatu di ponselnya seraya berkata girang.
Dasar tidak peka! Cuma melirik sekilas, lalu menyahuti Vania, datar. "Emang kenapa?"
Kenapa? Vania gemas dengan sikap acuh tak acuh Sessil ini. Namun, ia tahan juga akhirnya, sambil menggumamkan slogannya terlebih dahulu, lalu menjawab Sessil.
"Huh! Sabar, sabar. Orang sabar dapat jodohnya orang ganteng. Amin." Lalu, ia menoleh lagi pada Sessil. "Sessil, ini nih pesta pernikahannya Dery dan Nora."
"Hmm, udah lihat. Terus, apa hubungannya sama gue?"
Ditimpali dingin lagi dong! Ubun Vania mengeluarkan asap fiktif karena sangking jengkelnya. "Ya, gue mau...."
"Ajak yang lain aja, gue nggak bisa temanin lo," pangkas Sessil, teganya berkata dengan tak berperasaan begitu.
Semangat membara Vania langsung padam, senyuman berganti wajah cemberut yang tak menyenangkan untuk dilihat. "Ih, jadi bete gue! Kenapa sih lo jadi berubah gini?"
"Nggak ada yang berubah."
Vania mendesis gemas. "Banyak perubahan lo. Dan itu terjadi sejak setahun yang lalu."
Jari Sessil tiba-tiba berhenti mengetik. Overall, konsentrasinya langsung kabur. Vania tetap stay di sampingnya ingin menagih jawaban. Akan tetapi, lidahnya seakan membeku untuk berlisan.
"Van, lunch, yuk!" Ajakan teman kerjanya menyelamatkan Sessil dari kerisauan hatinya.
"Oke, tungguin gue di lobi, yes?" sahut Vania, setengah berseru. Kini, kembali mengarahkan pandangannya pada Sessil yang kembali mengerjakan pekerjaannya. "Then, bagaimana tawaran gue tadi?"
"My answer will not change: big no!" tegas Sessil, tak melirik sedikitpun pada Vania.
"Au ah! Terserah lo!" gerutu Vania sambil berkacak pinggang. "Sekarang, tinggalin tuh, kerjaan. Ayo, kita makan siang."
Vania kalah telak karena Sessil menolaknya dengan menunjukkan sebuah tupperware warna biru yang ada di dalam laci kerjanya.
"Ssssh! Sekarang lo udah jadi asosial," celetuknya. "Molla! Males gue sama lo!"
Derap langkah kencang Vania menunjukkan betapa kesalnya dia. Seakan kepergian sahabatnya itu melegakan, Sessil melonggarkan pernapasannya dengan menghela oksigen agak kencang dari mulutnya.
Sessil memijat keningnya—kepalanya mendadak sakit ketika Vania membahas soal setahun yang lalu. Praktis, sekelebat masa lalu muncul sekejab, membuatnya harus kembali meremas dadanya akibat nyeri yang dirasakan dari luka itu.
Ia menggelengkan kepala. "Ah nggak, Sil! Lo harus kuat! Lo udah berusaha buat lupa! Jangan sia-siakan usaha lo itu!" gumamnya penuh tekad, lantas menegakkan badan dan kembali berkonsentrasi pada layar laptop.
Namun sedetik kemudian, suara perutnya berbunyi. Alarm alami yang menandakan bahwa sudah waktunya perut ini diisi makanan. Baiklah, daripada sakit dan diceramahi oleh Vania, lebih baik lupakan sejenak pekerjaan.
Tupperware yang dibawanya tadi ia keluarkan dari dalam laci. Nasi goreng sosis buatannya telah dingin, tapi tetap dilahapnya dengan nikmat. Ia celingak-celinguk, melihat sekelilingnya sepi. Kunyahannya lambat-laun memelan sambil berpikir.
"Apa iya, aku asosial?" gumamnya, mengingat sepintas ucapan Vania tadi. "Aku kan cuma pengin makan sendirian saja."
Bantahan itu hanya ingin menghibur diri saja bahwa dirinya tidak seperti itu. Sebenarnya, ia sadar bahwa memang ia telah menjauhkan diri dari orang-orang di sekelilingnya. Bahkan, ia sering mengabaikan Vania yang berusaha mendekatinya biar kata hanya pengin mengajak pulang bareng. Namun, ia tetap membela diri bahwa dirinya tidak patut dicap seperti itu.
Ponselnya berdering sekali, Sessil langsung melirik ke arah benda itu. Sessil meraih ponsel yang ada di dekat laptop, membaca sebuah pesan Whatsapp tanpa antusias.
"Sil, lagi apa? Udah makan siang belum? Ini aku Yuri." Kakak sepupunya yang men-chat-nya.
"Aku lagi makan siang di kantor. Ada apa, Kak?" Ketik Sessil seraya melafalkan dengan suara pelan.
"Nggak ada. Besok ke rumah orangtuaku, ya."
Sessil memiringkan kepala. Permintaan yang aneh, memangnya ada apa? "Oke, besok aku akan...."
Tiba-tiba, ibu jarinya berhenti mengetik. Ada yang baru disadarinya, dan ia sontak mengecek nomor ponsel yang tertera di atas dinding chat. Nomor Indonesia! Apa itu berarti Yuri sudah kembali dari Perth?
Chat yang tadi dihapusnya, lalu digantikan dengan pesan baru: "Sekarang Kakak lagi ada di mana?"
"Nanti juga tahu. Pokoknya, balik aja dulu ke rumah orangtuaku, oke? Bye."
Sessil menghela napas panjang. Dasar! Sok misterius, padahal dia sudah memberikan clue-nya dengan sangat jelas.
Ponsel kembali diletakkan di tempat tadi. Tangan kanannya menumpu dagunya, sambil berpikir Sessil bergumam, "Kayaknya, dia mau kasih tahu sesuatu? Apa soal pacarnya? Selama pacaran, dia nggak pernah kasih tahu soal pacarnya."
Aneh. Yuri itu ekstrovert yang apa-apa selalu cerita, mem-posting berbagai hal di media sosial, termasuk pacar-pacarnya. Tapi untuk cowok yang ini, tidak banyak yang Yuri ceritakan, bahkan namanya saja enggan disebutkan. Tidak ada foto kebersamaannya dengan pria itu.
"Apa jangan-jangan, kak Yuri cuma halu?" duganya, alisnya naik sebelah. "Ah, nggak mungkin! Kalaupun dia ngehalu, paling soal Jongkook BTS. Tapi, kenapa kak Yuri nggak kasih tahu soal pacarnya? Sekarang juga jadi sok-sokan misterius gitu? Apa pacarnnya yang suruh? Atau mungkin ... om sama tante udah tahu soal cowok itu, tapi kak Yuri suruh mereka untuk merahasiakannya?"
Makan siang telah usai, beberapa karyawan masuk ke dalam ruangan dan kembali ke meja masing-masing. Vania juga termasuk, dan ia tidak langsung ke mejanya karena melihat Sessil sedang berpikir serius.
Vania mendekati meja Sessil, berdiri sejenak di sampingnya sembari memperhatikan. Apa sih yang sedang dipikirkan gadis ini, sampai serius begitu ekspresi wajahnya? Soal pekerjaan? Tapi mungkin tidak. Meskipun pandangan Sessil mengarah pada layar laptop, tetap saja pikirannya melayang ke arah lain—Vania bisa melihat dari tatapan mata Sessil yang kosong.
"Lo lagi mikirin apa, Sil?" tanya Vania, akhirnya memutuskan untuk mencari tahu. Namun, sia-sia saja, sebab Sessil tidak menyahutinya.
Ada saja ide wanita itu. Ia membungkuk, lalu mendekatkan wajahnya sedikit ke hadapan Sessil. Tentu saja, Sessil terlonjak dan praktis beringsut mundur.
"Apaan sih? Bikin kaget!" protes Sessil, mengelus dadanya.
Vania tertawa puas melihat ekspresi kaget itu. "Lebay lo! Lagian, ngapain lo bengong?"
"Suka-suka gue lah!" ketus Sessil, membereskan kotak makanannya untuk kembali di simpan ke dalam paper bag. "Oya, aku diundang kak Yuri buat makan bareng. Lo mau ikut, nggak?"
"Sure!" seru Vania. Bagaimana tidak bersemangat, ia bisa menghemat uang makan yang menipis akibat tanggal tua.
"Ya udah, abis pulang kerja."
"Sip!" Vania mengacungkan ibu jarinya ke hadapan Sessil, meskipun ia tahu akan percuma karena pandangan Sessil telah terpaku ke layar laptop.
"Ya udah, balik ke meja lo sana!" kata Sessil, dingin sekali mengusir sahabatnya. "Apa perlu gue suruh Eko buat anterin lo?"
Mulu Vania langsung maju 5 senti seperti paruh bebek. Eko, pria klimis dan berkacamata yang bisa dibilang jauh dari tipe idaman Vania. Pria itu menyukai Vania dan mengerjar-ngejarnya hingga membuatnya tak nyaman. Bersama dengan Eko bagai penyiksaan berat, dibanding dicuekin Sessil selama setahun![]
Anda Mungkin Juga Suka





