
Fatimah Perjuangan TKW Indonesia
Bab 2
Menjadi TKW di usia belia tidaklah sulit, walaupun persyaratan usia untuk jadi TKW minimal usia 23 tahun. Dahulu saat belum ada KTP elektronik, sangatlah mudah memanupulasi identitas KTP. Di daerah kampung anak gadis yang baru lulus SMP, bahkan ada yang masih usia SMP sudah bisa bekerja ke luar negeri.
Gaji sebagai pembantu di sana lebih menjanjikan ketimbang gaji pembantu di negeri sendiri. Walaupun dengan banyak resiko harus terpisah jauh dan kontrak rata-rata 2-3 tahun, tergantung negara yang di tuju. Negeri primadona di kampung daerah wilayah III Cirebon adalah Taiwan. Negeri yang sudah melepaskan diri dari Republik Rakyat China, di sana gajinya lebih besar dibandingkan negara lainnya.
Impian Fatimah yang tak bisa masuk ke negara Taiwan itu memilih negeri singa. Walaupun gaji di negeri dengan lambang kepala singa tersebut tidak sebesar gaji di Taiwan, tapi setidaknya bisa membantu untuk biaya kuliahnya nanti. Fatimah ingin masuk ke STIKES. Cita-cita Fatimah tidak harus menjadi dokter, dia ingin bekerja di dunia medis, setidaknya dia bisa menjadi Perawat atau Bidan.
Tetapi alasannya menjadi TKW bukan hanya untuk mencari biaya kuliah, tetapi menghindari pacarnya yang super posesif. Ya, Fatimah semasa sekolah punya pacar yang sangat posesif. Pacarnya adalah kakak kelasnya dan 1 sekolah, jadi semua kegiatan Fatimah bisa terpantau. Fatimah tidak diperbolehkan untuk mengobrol dengan teman lelaki di kelasnya.
Fatimah pernah mencoba untuk mengakhiri hubungannya dengan pacarnya karena tidak sanggup dengan perlakuan posesifnya, tetapi pacarnya itu bahkan melukai dirinya sendiri karena tidak mau putus dengan Fatimah. Pacarnya bahkan pernah melukai tangannya dengan pecahan beling. Fatimah tak tega melihat pacarnya menyakiti dirinya sendiri, hingga dengan berat hati tetap menjalani hubungan yang tak menyenangkan hatinya.
Walaupun mereka tinggal di Desa yang jauh, tetapi pacarnya ini terlalu nekad, bisa langsung datang jika Fatimah tak memberi kabar keadaannya melalui SMS karena jaman dulu masih menggunakan SMS.
“Mas, aku sudah mendaftar untuk menjadi TKW di Singapura dan minggu depan aku akan berangkat ke tempat agensi di Jakarta.” Ucap Fatimah mengabari Rusdi pacarnya.
Fatimah bisa melihat dari raut wajah Rusdi yang tak suka kalau Fatimah bertindak tanpa izin kepadannya, tetapi ini adalah satu-satunya cara agar dia bisa terbebas.
“Kenapa kamu gak ngomong dulu, Fat?” tanya Rusdi kecewa.
Rusdi sudah lulus SMA, tetapi dia tidak mau bekerja jauh. Bahkan masih menganggur, karena terlalu memperhatikan keadaan Fatimah yang membuatnya posesif.
Rusdi pernah merantau ke Jakarta, tetapi belum ada 1 bulan sudah kembali lagi ke kampung. Alasannya takut Fatimah berselingkuh darinya karena dia tidak bisa memantau langsung.
Fatimah sampai gunta ganti nomor, karena jika Rusdi tahu ada nomor laki-laki yang mengirim SMS pada Fatimah langsung di suruh ganti, agar Fatimah tidak tergoda laki-laki lain. Dan tetap Fatimah tidak bisa menolak. Jika menolak Rusdi bisa menyakiti dirinya sendiri.
Hingga Fatimah memutuskan harus menjauh, sejauh-jauhnya dari Rusdi untuk masa depan dirinya dan masa depan Rusdi juga, agar dia mau bekerja untuk dirinya sendiri.
“Aku ingin mengejar cita-citaku untuk kuliah di STIKES, Mas.” Jawab Fatimah pelan.
“Tapi kan, aku udah janji sama kamu kalau kamu lulus kita akan kerja sama-sama dan membiayai kuliahmu di STIKES.” Ujar Rusdi kecewa.
‘Bagaimana kamu akan bekerja, Mas? Kalau kerajaanmu setiap hari memantau kegiatanku terus dan akupun tidak yakin bisa bekerja kalau kamu selalu mencurigaiku terus.’ Guman Fatimah dalam hati
Tidak akan mungkin Fatimah bahagia. Fatimah bisa membayangkan kehidupannya nanti jika menurut padanya. Atas nama cinta di hatinya sudah berubah menjadi rasa terpaksa, kali ini Fatimah harus tega.
“Aku udah terlanjur daftar, Mas. Kalau aku mundur, aku harus ganti rugi biaya pendaftarannya dan itu besar. Aku juga gak mau mengecewakan orang tuaku dan keluargaku.” Jawab Fatimah.
“Lalu aku bagaimana? Kamu tidak memikirkan perasaanku? Kamu tidak memikirkan bagaimana aku kecewa sama kamu? Kamu tahu, aku tidak bisa jauh dari kamu.” Cerca Rusdi, air matanya menetes.
Walaupun Rusdi laki-laki, tapi air matanya mudah keluar. Apalagi saat membujuk Fatimah jika Fatimah merajuk.
“Maafkan aku, Mas. Tapi keputusanku sudah bulat. Jika kamu tidak mau kita bisa putus saja!” gertak Fatimah tegas.
Akhirnya Fatimah berani mengatakan kalimat itu lagi, setelah 3 tahun bersama pacaran saat sekolah SMA. Sulit untuk mengungkapkan kata itu.
“Jangan Fat! Aku gak mau putus dari kamu. Aku akan menunggumu. Aku janji akan setia sama kamu.” Bujuk Rusdi sambil duduk berlutut di hadapan Fatimah.
“Tapi kamu juga harus janji, kamu harus setia sama aku!” pinta Rusdi ragu.
“Kamu gak percaya sama aku? Aku ke sana untuk bekerja, Mas.” Jawab Fatimah kesal.
“Aku hanya takut, jika nanti kamu sudah bekerja dan punya uang sendiri, pasti akan meninggalkan yang tak punya apa-apa.” Ucap Rusdi lirih.
Fatimah selalu kesal jika Rusdi merendah diri dengan membahas kehidupannya.
“Ya, kamu kerja juga dong, Mas. Biar bisa punya uang sendiri.” Jawab Fatimah kesal.
“Kerja apa, Fat? Susah cari kerja itu, apalagi ijazah aku paket C karena aku tidak lulus UN. Siapa yang mau menerima aku kerja.” Ucap Rusdi kesal juga.
Rasanya sia-sia buat Fatimah untuk menasehati Rusdi. Sebenarnya Rusdi pernah bercerita dulu saat di Jakarta diajak temannya untuk berjuang dan hasilnya memuaskan, tetapi karena Fatimah lupa memberi kabar saja, Rusdi langsung pulang dan mengira Fatimah melupakan dirinya.
“Fat, bagaimana kalau kamu bersumpah di atas Al-Qur’an?” tiba-tiba Rusdi mengagetkan Fatimah.
“Aku gak mau! Al-Qur’an itu kitab suci, bukan untuk jadi saksi sumpah.” Ucap Fatimah dengan nada tinggi.
Fatimah benar-benar kecewa, karena ini bukan pertama kalinya Rusdi menanyakan kesetiaannya dengan bersumpah di atas Al-Qur’an. Rusdi sudah tahu kalau Fatimah akan marah jika di pintai akal hal tersebut.
“Baiklah, Fat. Aku akan percaya padamu.” Akhirnya Rusdi luluh.
Sebenarnya ada rasa kecewa saat Rusdi menolak putus dengannya, tapi itu lebih baik, Rusdi tidak membujuk dengan menghentikannya untuk tidak menjadi TKW. Nanti saat pulang dari sana, dia akan benar-benar meninggalkannya. Setidaknya nanti saat dia jadi TKW dia tidak akan menghubungi Rusdi, jadi dia bisa terbebas saat bekerja di sana.
**
Semua persiapan Fatimah untuk berangkat ke agensi penyalur TKW di Jakarta sudah selesai. Bapak dan ibunya sudah menunggu Fatimah keluar dari kamarnya. Saat Fatimah keluar langsung dipeluk bapak dan ibunya.
“Semangat ya, Neng!.” Ucap Jamal bapaknya Fatimah, sambil tersenyum bangga pada putri tunggalnya.
“Gak boleh cengeng lagi dong.” Ucap Nani ibunya Fatimah dan mengusap air mata Fatimah yang mengalir di pipinya.
Fatimah hanya mengangguk dan mencoba tersenyum.
Fatimah tidak sendirian. Fatimah pergi dengn Dewi sepupunya yang akan sama-sama menjadi TKW di negeri singa, yaitu Singapura. Dewi sudah ada di luar rumahnya dan sudah ada mobil yang akan membawanya berangkat ke Jakarta. Mobil tersebut adalah milik Sponsor, panggilan untuk orang yang mencari para TKW.
Di luar pun sudah banyak tetangga yang berderet untuk melepas kepergian Fatimah dan Dewi. Fatimah menyalami satu persatu para tetangga yang berdiri di luar.
“Yang sukses ya, Fat. Nanti kalau udah sukses bisa kuliah dan jadi bidan, biar di kampung kita punya bidan sendiri.”
Berita tentang cita-cita Fatimah sudah menyebar di kampung. Dahulu para tetangganya mencibir Fatimah karena cita-citanya yang terlalu tinggi, katanya tidak mengukur kemampuan ekonomi keluarga, tapi kali ini yang terucap dari mulut tetangga yang dulu mencibirnya menjadi ucapan penuh do’a.
**
Fatimah dan Dewi sudah meninggalkan kampung menggunakan mobil sponsor dan yang menyetirnya pun sponsor itu sendiri. Dewi dan Fatimah berbeda usia 3 tahun. Dewi lebih muda. Bahkan Dewi saat itu baru saja lulus SMP, tapi mereka berdua sudah yakin untuk mengubah nasib keluarga.
Sepanjang perjalanan Fatimah dan Dewi tak banyak mengobrol. Biasanya mereka akan bercerita apa saja dengan keseruannya, karena mereka adalah saudara yang dekat dan akrab. Mereka tenggelam dengan kesedihannya karena meninggalkan keluarga mereka.
Saat mereka baru sampai Indramayu, Fatimah dan Dewi diminta untuk pindah ke mobil lain. Mobil itu milik sponsor pusatnya. Di mobil tersebut ada 6 orang wanita, mereka juga sama calon TKW.
“Nanti Sponsor Edi yang akan mengantarkan kalian ke tempat agensi di Jakarta yah, kalau ada apa-apa bilang saja sama Sponsor Edi!” Jelas Sponsor Mustofa yang mengantar menjemput mereka dari rumah.
Fatimah dan Dewi hanya mengangguk tak bersuara, lalu pindah ke mobil itu. Mereka duduk saling berdempet. Walaupun mobil yang mereka naiki lebih besar dari mobil yang tadi, tetapi tetap saja terasa sempit karena di dalam sudah ada 8 penumpang dan di tumpuk dengan tas-tas yang mereka bawa. Sedangkan ransel baju mereka disimpan di atas mobil tersebut. Di depan ada supir dan Sponsor Edi duduk di kursi samping supir.
“Nanti saya, antar Fatimah dan Dewi duluan yah! Yang ke penampungan agensi Singapura, sisanya beda agensi dan beda negara.” Ucap Sponsor Edi pada Fatimah dan Dewi.
Sepanjang perjalan hanya terisi sunyi, tak ada yang menobrol. Mungkin karena mereka tidak saling kenal. Akhirnya mereka sampai di tempat yang dituju. Agensi untuk Fatimah dan Dewi, tempat agensi itu mereka menyebutnya penampungan.
Rasa was-was dan takut, bercampur aduk di hati Fatimah dan Dewi, tetapi mereka harus yakin dengan tujuan mereka.
“Udah siap?” tanya Sponsor Edi.
Tetap Fatimah dan Dewi tak bersuara, hanya menganguk. Sponsor Edi terlihat memasuki mobil memberi intruksi pada para wanita yang berada di sana untuk menunggu sebentar karena Sponsor Edi akan mengantar mereka ke dalam rumah penampungan agensi.
Mereka di persilahkan masuk. Di ruangan itu ada berjejer beberapa meja karyawan. Mereka diperkenalkan dengan para karyawan yang akan mendampingi mereka di sana.
“Masih muda-muda banget Bang Edi. Kuat gak mereka?” tanya Bu Ros yang merupakan pemilik agensi tersebut pada Sponsor Edi.
Fatimah dan Dewi masih berdiri mematung sepertinya masih diintrogasi.
“Yakinlah Bu Ros, masa gak percaya sama saya?” jawab Sponsor Edi lantang, lalu tersenyum.
“Kalian yakin mau jadi TKW? Kalian baru lulus sekolah, kan? Kalian itu nanti ke luar negeri buat bekerja yah bukan buat main! Usia seperti kalian kan masih seneng main.” Tanya Bu Ros tegas.
Fatimah dan Dewi sedikit gentar dengan pertanyaan dari Bu Ros.
“Yakin, Bu.” Jawab mereka kopak.
Tetapi tatapan Bu Ros sangat tajam, seperti meragukan tekad mereka berdua.
Anda Mungkin Juga Suka





