
FAMILIAR PLACES
Bab 3
Byan menggendong tubuh Gemi ke kamar, ia menatap lekat mata indah perempuannya itu. Malam yang dingin itu seharusnya menjadi malam yang indah bagi mereka. Byan menjatuhkan tubuh Gemi dengan hati-hati, dan membelai lembut rambut gadis itu.
Byan menatap Gemi sekali lagi, memastikan kalau gadis itu menginginkannya juga. Maksudnya, untuk tidur bersamanya.
Gemi yang mengerti akan hal itu pun mengangguk mempersilahkan, ia beringsut meraih bantal. Lalu terpejam saat Byan melepaskan satu persatu pakaiannya. Untuk pertama kalinya Gemi melihat tubuh telanjang seorang pria. Meski malu, nampaknya ia harus melewati malam itu.
Malam itu, terjadi begitu saja. Gemi tak pernah menyangka, jika kesuciannya akan direnggut oleh pria yang baru ia kenal beberapa minggu. Bibir Byan yang terasa tebal, basah dan hangat, sejenak Gemi terbuai oleh gairahnya sendiri.
Gemi terbangun dengan tubuhnya yang tertutupi selimut. Ia duduk di kepala ranjang, dan menoleh ke sampingnya. Tidak ada Byan, hanya aroma tubuh laki-laki itu yang menempel di bantalnya. Gemi tersenyum malu, dan kembali melanjutkan tidurnya. Padahal jam dinding sudah menunjukan pukul delapan pagi.
"Kue-ku?" Gemi seketika tersadar akan adonan kuenya yang ia tinggalkan semalam. Ia takut adonannya itu akan berubah bau dan terbuang.
Sambil melilitkan selimut ke tubuhnya, Gemi berjalan ke arah dapur. Dan betapa senangnya ia saat melihat keadaan dapurnya yang sudah bersih. Ia membuka kulkas, dan melihat adonan kuenya sudah diamankan di sana.
"Kamu sudah bangun?" sapa Byan, tiba-tiba memeluk Gemi dari belakang. Lelaki itu membenamkan hidungnya di rambut Gemi, lalu menghirupnya dalam-dalam.
"Kamu cantik," katanya. Dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Kamu yang membereskan ini semua?" tanya Gemi.
"Tentu saja, siapa lagi?" Byan memutar tubuh kekasihnya itu, lalu berdiri menghadapnya.
"Aku senang mengenalmu, Gem," katanya.
Gemi tersipu malu, ia hanya menunduk, tidak berani menatap Byan.
Byan yang gemas lantaran sikap Gemi itu pun, bergegas menciumi kedua pundak Gemi yang terbuka.
"Ayo, buat kuenya lagi, tapi, sebelum itu kita mandi dulu," ujar Byan.
Gemi menatap terkejut, dan tanpa terasa Byan sudah mengangkat tubuhnya. "Ayo, bersihkan tubuhmu!" serunya.
Gemi berteriak geli saat Byan menggelitiki tubuhnya. Entah kenapa, hari itu Gemi maupun Byan merasa kalau mereka sudah sangat jatuh cinta.
"Taraaa...! Sudah jadi!" seru Gemi sambil mengangkat toples berisikan kue buatannya.
Byan berlari menghampiri Gemi di teras, ia lekas mencicipi kue buatan perempuan itu.
"Bagaimana?" tanya Gemi penasaran.
"Enak!"
Lalu Byan menarik Gemi untuk duduk di atas pangkuannya, sedang ia menyuapi Gemi dengan kue cokelat itu.
"Keluargamu jadi datang menemuimu?" tanya Gemi.
"Ya, aku akan mengenalkanmu pada mereka."
"Apa mereka akan senang melihatku? Ceritakan padaku seperti apa mereka," pinta Gemi.
"Mereka sangat ramah, tenang saja," ucap Byan menenangkan.
Bibir Gemi mengkerut, entah kenapa rasanya sangat mendebarkan hanya karena akan bertemu keluarga Byan.
Setelah semakin dekat, Byan memutuskan untuk tidur di rumah Gemi. Bahkan Byan membawa beberapa perlengkapannya ke rumah Gemi.
Keduanya pun tidak malu-malu lagi melakukan hubungan suami istri itu. Gemi bahkan membalas ciuman Byan dengan mesra, tak seperti sebelumnya yang masih malu-malu. Keduanya nampak seperti sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Di tengah redupnya lampu kamar, Byan dan Gemi saling membelai mesra, memeluk dan mencium penuh gairah.
Keesokan harinya, Byan mengantar Gemi pergi bekerja. Ia mengingatkan kekasihnya itu untuk pulang lebih awal, untuk menyambut kedatangan keluarganya.
"Baik, sayang," ucap Gemi seraya mencium Byan. Namun, Byan justru menarik tubuh Gemi, dan melumat bibir itu dengan kasar.
Gemi mengerutkan keningnya, dan menatap lelakinya itu. Ia merasa gairah Byan benar-benar menarik.
Setelah mengantar kekasihnya, Byan kembali menuju rumahnya. Ia membawa kue-kue buatan Gemi itu dan menyusunnya rapih ke atas meja. Lalu menyiapkan kamar yang akan di gunakan keluarganya nanti.
Tiba-tiba dering handphone membuat Byan menghentikan gerakannya. Ia meraih ponsel di atas nakas, dan membaca nama panggilan yang masuk. Seketika wajahnya berubah, Byan menegaskan rahangnya.
"Hallo?" ucap Byan pelan.
"Byan? Aku tidak mendengar kabarmu semenjak hari itu. Apa kamu begitu sibuk?" tanya wanita di ujung telepon.
Byan menghela napas panjang, lalu ia menurunkan pandangannya. "Ya, maafkan aku. Aku sangat sibuk sekarang. Ada apa?"
Perempuan itu lama diam, hingga akhirnya menjawab, "Aku merindukanmu, Byan."
Byan menelan salivanya, ia menyentuh dagunya yang berbulu. Namun, lidahnya terasa kelu, tak mampu menjawab pengakuan perempuan itu.
Tut.... Sambungan terputus. Wanita itu mengakhiri panggilannya.
Byan menatap lama nama April di layar ponselnya itu. Sudah lama sekali sejak ia tidak mengabari kekasihnya itu. April pasti sangat merindukannya, tapi entah kenapa perasaannya kepada kekasihnya itu kian memudar. Ia sudah tidak memiliki perasaan lagi pada April, dan perasaannya kini beralih pada Gemintang.
Byan terduduk lemas. Sejak bertemu Gemi, ia bahkan dengan mudah melupakan April, yang tak lain adalah kekasihnya. Byan merasakan perang batin dalam dirinya, ia berpikir tak seharusnya ia melakukan sampai sejauh itu. Ia tidak ingin menyakiti siapapun, tapi untuk saat ini, ia hanya ingin mencintai Gemi.
Lalu bagaimana dengan April? Mereka berpacaran sudah lebih dari lima tahun. Orang tua mereka pun sudah sangat dekat, mustahil untuk mengakhiri hubungan dengan tiba-tiba seperti itu.
Siang harinya Byan tengah membuat sebuah ayunan di pekarangan rumahnya. Ayunan dengan rantai tali besi itu, nampaknya ia buat juga untuk bisa dinaiki Gemi. Perempuannya itu pasti sangat senang, dengan karya barunya itu.
Tiba-tiba sebuah kapal bersandar di dermaga. Byan menyipitkan matanya, dan memperhatikan para penumpang yang baru saja turun dari kapal itu. Senyum mengembang di wajahnya saat mendapati kalau keluarganya telah tiba.
"Hai!" teriaknya.
"Byan!" sahut keluarga Byan bersamaan.
Byan menatap jam di tangannya, keluarganya itu datang lebih awal dari perkiraan.
"Om Byan!" teriak bocah kecil yang berlari memeluk Byan. Orang-orang di belakang bocah itu tersenyum gembira melihatnya.
"Hei! Apa kabar!" seru seorang pria yang wajahnya cukup mirip dengan Byan.
"Seperti inilah, sangat damai!" Byan membentangkan kedua tangannya, memamerkan pekarangan rumahnya yang terlihat asri.
"Wow! Di sini tenang sekali! Mama suka!" sahut wanita paruh baya yang memakai topi bundar dan kacamata hitam.
"Apa sebaiknya kita pindah saja ke sini? Byan pasti kesepian tinggal di sini. Lihatlah, dia hanya memiliki satu tetangga!" ucap Papa memperhatikan lingkungan tempat tinggal Byan.
"Aku baik-baik saja, Pah." Byan memeluk tubuh gempal Papanya itu.
Setelah itu, ia bergegas mengajak keluarganya untuk istirahat. Tak lama kemudian, Byan berjalan keluar menunggu Gemi pulang bekerja. Namun, setelah itu, nampak Gemi melambaikan tangannya. Kekasihnya itu baru saja pulang bekerja. Byan memandangi kekasihnya yang terlihat sangat cantik, dengan hembusan angin meniup rambut panjangnya.
Byan berlari menghampirinya. Kemudian lekas memeluk Gemi. "Keluargaku sudah datang," katanya, seraya mengusap rambut Gemi.
"Benarkah? Mengapa jantungku berdetak sangat cepat? Aku gugup!"
Byan lekas menghilangkan kegugupan Gemi dengan menciumnya lembut. Ia menekan belakang kepala Gemi untuk lebih dekat dengannya. Tanpa di sadari, kakak laki-laki Byan memperhatikan mereka. Kakak laki-laki Byan itu menggelengkan kepalanya, "Dasar playboyl!" keluhnya.
Setelah mengganti pakaian, Byan membawa Gemi untuk berkenalan dengan keluarganya. Sedang Kakak laki-laki Byan itu menatap adiknya dengan pandangan meledek. Mengira kalau adiknya itu sangat playboy. Karena ia tahu, Byan sudah memiliki seorang kekasih.
"Hei! Apa kamu sudah putus dengan April?" bisik Dirga.
Byan nampak pucat, dan tak mampu menjawab pertanyaan kakaknya. Tak hanya Dirga yang menatapnya aneh, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Mama dan Papa Byan nampak bingung melihat putranya itu memiliki wanita baru. Namun, ia mengira hubungan Byan dan April yang barang kali sudah kandas.
"Hallo, Gemintang. Kamu tinggal di sini juga?" tanya Mama.
"Ya, bersebelahan dengan rumah Byan." Gemi menjawab dengan ramah.
Setelah cukup berkenalan dengan keluarganya. Byan meminta kedua orang tuanya, dan juga Dirga untuk bersikap baik pada Gemi. Ia juga tidak ingin jika mereka sampai membahas tentang April kepada Gemi.
"Hubunganku dengan April sebenarnya sudah selesai sejak lama, tapi sebelum aku berangkat ke desa ini ... April menemuiku, dan mengatakan kalau ingin memperbaiki hubungannya denganku," ucap Byan pada kakaknya. Ia tidak mau jika keluarganya itu salah paham, dan memandang Gemi sebagai orang ketiga.
"Aku mengerti, Byan. Namun, saranku adalah, jangan sampai keputusanmu menyakiti keduanya nanti."
Byan mengangguk paham.
Hari berganti malam, nampaknya Gemi sudah akrab dengan keluarga Byan, termasuk bocah kecil anak laki-laki Dirga. Ia juga dengan ramah mengajak orang tua Byan bermain kartu, dan memanggang daging untuk mereka.
"Kue cokelat ini enak sekali, kamu ternyata pintar membuat kue," puji Mama Byan.
Gemi tersipu malu. Dengan salah tingkah Gemi menyenggol lengan Byan yang ada di sisinya.
"Awalnya dia memang terlihat seperti ini, tapi lama-lama dia akan bersikap memalukan," kata Byan meledek.
"Ish!" keluh Gemi yang lagi-lagi menyenggol lengan Byan.
"Besok kami akan pulang lagi, Dirga dan Papamu sudah mulai bekerja. Lain kali kami akan mengunjungimu lebih lama," ujar Mama.
Byan menatap Gemi, lalu memeluknya. "Aku baik-baik saja di sini. Dia akan merawatku dengan baik. Kalian tidak perlu khawatir," ucapnya.
Papa tertawa kencang melihat kebahagiaan putranya itu. Apapun yang terjadi dengan hubungan asmara Byan, mereka berharap Byan bisa memilih pilihannya dengan bijak.
Malam harinya, Gemi kesepian karena Byan tidak bisa menginap di rumahnya. Ia juga tidak enak, jika orang tua Byan memergoki kalau mereka tinggal bersama.
[Byantara : kamu baik-baik saja tidur sendiri? Aku ingin sekali memelukmu.]
Gemi membaca pesan singkat dari Byan, ia tersenyum seraya membalas pesan itu.
"Aku tidak baik-baik saja, rasanya aneh," balas Gemi.
Byan memperhatikan kakak dan keponakannya yang sudah tidur, dengan mengendap-endap Byan keluar dari kamar itu.
Sedangkan Gemi, terlihat tengah menunggu balasan pesan dari Byan.
"Kemana dia? Apa sudah tidur?" keluhnya kesal.
Tok... Tok... Tok...
Gemi menoleh mendengar suara ketukan pintu. Ia menerka-nerka siapa tamu yang mengunjunginya saat pukul satu malam.
[Byantara : Ini aku, buka pintunya!]
Gemi langsung tersenyum lebar. Lalu berlari membukakan pintu.
Lelaki tinggi itu muncul sesaat Gemi menarik pintu, dan dengan cepat ia meraih tubuh Gemi ke dalam pelukannya. Dan mendorongnya ikut masuk ke dalam.
Pintu pun terbanting, dan ponsel yang tengah di pegang keduanya pun terjatuh.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





