
Falling for him
Bab 2
Sebagai gadis yang jarang bicara dan juga enggan bersosialisasi. Jaane mengerti betapa menumpang duduk di kursi mobil milik orang sangat tidak nyaman baginya. Bukan karena Namu yang mengajaknya bicara terus-menerus sedangkan Jaane merupakan gadis yang irit bicara, namun karena pandangan lelaki yang duduk di kursi supir itu beberapa kali ketahuan curi-curi pandang padanya.
Sejak saat kereta beroda empat ini mulai memasuki gerbang sekolah, Jaane sudah memegang gagang pintu. Dan saat rem di injak, saat bahkan sang supir belum mematikan mesin kendaraan Jaane sudah turun dari sana. Yang dipikirkannya saat ini hanya melepas diri dari kecanggungan.
Belum pernah selama delapan belas tahun hidupnya Jaane merasa canggung sedemikian parah, Jaane bahkan hampir tak bisa bicara dan hanya menjawab pertanyaan dengan anggukan atau gelengan saja.
"Terima kasih, sir." Jaane hendak berlalu membawa dirinya pergi menenangkan diri, tapi instruksi dari pria tinggi yang menggunakan kemerja itu menghentikannya.
"Jane, kau kelas 11-3 kan?"
Jaane memejam mata sekilas, merutuki diri. Sebelum kemudian berbalik. "Benar, sir." Jaane mengerjap dua kali lalu tersenyum.
"Bisa tolong bawa dia juga?" pinta Namu. Menunjuk si supir berseragam itu dengan dagunya.
Jaane mendesah dalam hati, mata gadis itu melirik ke arah laki-laki berambut hitam yang tengah bersandar di bagian depan mobil. Entah kenapa terlihat sangat menyebalkan, maksudnya laki-laki itu. Entahlah, melihat laki-laki itu melipat tangan di dada dengan sok seperti itu membuat Jaane sebal.
"Maaf, sir. Tapi saya akan mampir ke tempat lain dan mungkin akan masuk kelas terlambat," tolak Jaane halus, alasannya kali ini bukan sekedar alibi. Jaane benar hendak ke ruang tari sebelum mengikuti pelajaran pertama. Jaane melihatnya dengan jelas, laki-laki itu berdecih lalu berdiri tegak seraya menyimpan satu tangannya di saku celana.
"Aku bisa sendiri." Suara beratnya untuk pertama kali terdengar. Kaki panjang itu hendak melangkah namun tertahan saat Namu menarik kerah seragamnya dari belakang.
"Jangan macam-macam!"
Namu melepas tangan dari kerah laki-laki itu saat dirasa kalau ia benar-benar berhasil mengusirnya pergi.
"Apanya yang macam-macam? Aku mau masuk kelas," decakan dari mulut lelaki berkulit tan itu terdengar keras. "Lagipula aku tidak bawa mobil, kabur juga tidak akan bisa."
"Kau pikir aku bodoh. Masih ada Jimmy disini, dia juga sama sepertimu."
Jaane hanya berdiri di sana dengan wajah super datar, tidak ingin ikut campur sama sekali.
"Tolong ya, Jaane. Sebentar saja, pastikan dia benar-benar masuk kelas." Jaane yang sejak tadi diam masih diam juga. Jaane masih ingin menolak, tapi juga khawatir Namu akan menganggapnya buruk kalau ia menolak. Dan tentu saja ia tak ingin itu terjadi.
Tepat sebelum Jaane membuka mulut ingin menyangkal, bel sekolah berbunyi. Membuat gadis itu menelan kembali kata-katanya. Mau bagaimana lagi.
"Baik, sir." Kalian tau seberapa enggan Jaane mengucapkannya.
Pria tinggi itu tersenyum manis memperlihatkan pahatan indah dipipi. "Terima kasih," katanya sebelum menoleh ke samping, menatap adiknya. "Dan kau, ikuti Jaane."
"Aku bisa membaca dan mengerti tulisan 'kelas 11-3'," gerutu lelaki berkulit tan itu.
"Kau tidak dengar bel sudah berbunyi? Sudah sana cepat."
Jaane sudah berlari jika dari tadi laki-laki berambut hitam itu tidak menyahut. Membuang-buang waktu dan membuatnya hampir mati karna terlalu lama salah tingkah.
Namu menjauh setelah sebelumnya menganggukan kepala pada Jaane dan mengucapkan sepenggal kalimat terima kasih sekali lagi.
Mengabaikan hati yang sejak lima belas menit yang lalu tak nyaman, Jaane berbalik. "Ikuti aku." Lalu gadis itu berjalan tanpa repot-repot menoleh ke belakang.
--
Menjadi pusat perhatian sudah biasa, disorot laser kekaguman setiap langkahnya juga hal biasa.
Yang tidak biasa dari pandangan orang terhadap primadona sekolah mereka adalah suara langkah kaki di belakangnya, yang menjadi hal baru dari opini berpasang-pasang mata yang melihat. Sudah pasti rumor dan gosip akan menyebar luas, jelas saja. Ini kali pertama seorang Jaane berjalan dengan laki-laki didekatnya.
"Kau menyukainya?" Theo mengambil langkah sejajar dengan Jaane. Membuat si gadis menjauh sepontan.
Dengan enggan menjawab, "apa?"
"Kau menyukai kakak ku?" tanyanya lagi, langkah kaki Jaane berhenti di belokan koridor. Sedikit tidak percaya.
"Kakakmu?" ulangnya tak percaya. "Orang tadi?" lanjutnya lagi, Namu? Ini adiknya? Kening Jaane mengerut dalam. Kenapa sangat berbeda. Jaane tidak tau harus memikirkan mana lebih dulu, otak pintarnya bahkan tidak mendukung disaat seperti ini.
Maksudnya adik kandung? Tapi mereka terlihat sangat berbeda. Fisik dan juga auranya.
Dan apa yang ditanyakan lelaki ini tadi? Jaane suka pada Namu?
"Tidak," jawab Jaane singkat, gadis cantik itu kemudian mengambil langkah lebih cepat dari sebelumnya. Dan tentu tidak akan sulit bagi kaki panjang laki-laki berambut hitam itu menyusul.
"Berbohong malah membuatmu lebih ketara."
Jaane memejamkan matanya sejenak. Dasar sok tau!
"Aku tidak berbohong," sahut Jaane, menambah lagi satu tingkat kecepatan langkahnya.
"Lalu kenapa gugup?" Dan seperti sebelumnya, Theo menyamai langkah kecil gadis itu yang nyatanya merupakan hal mudah. Sekarang Jaane berhenti. Lagi.
Jaane menoleh, menaikan satu alis, wajahnya datar sekali.
"Bukan urusanmu," tandas Jaane. Yang mana diartikan sebagai pengakuan oleh Theo.
Biarlah. Lagipula Jaane tidak tau bagaimana harus menyikapi situasi seperti ini.
Kelas sudah terlihat, hanya tinggal melewati tiga ruangan dan mereka akan sampai. Tapi Jaane sudah enggan, lupakan apa yang diamanatkan Namu kepadanya, bahwa ia harus memastikan laki-laki ini masuk kedalam kelas.
"Disana, itu kelasmu." Jaane menunjuk pintu kelasnya, lalu menatap laki-laki itu. "Kau lihat?"
Setelah Theo mengangguk, Jaane berbalik arah hendak menuju ruang tari, tetapi tarikan dari tali ranselnya membuat langkah Jaane tertahan.
"Itu juga kelasmu. Kenapa tidak masuk?"
Jaane menebas tangan Theo dari tali tasnya. "Berhenti bertanya dan urusi saja urusanmu sendiri."
Dan nyatanya semua cuma basa basi semata. Theo hanya mengangkat bahu acuh, "Kau mau mengingkari perintah guru tersayangmu?" Laki-laki itu kembali memasukan tangannya ke saku celana.
Jaane malas berdebat, mood yang hancur sejak pagi tadi dibuat lebur oleh laki-laki ini. Gadis itu hanya melengos dan kembali berjalan kearah tujuan. Niatnya hendak pergi ke ruang tari memang untuk memperbaiki suasana hatinya yang berantakan. Ingin sekali berteriak, berdecak sebal dan menendang laki-laki itu.
Mengabaikan semuanya, Jaane terus berjalan dengan langkah cepat.
Theo yang melihat punggung kecil itu menjauh hanya memiringkan kepala sedikit. Mendapat mainan baru di sekolah baru.
Menarik.
——
Anda Mungkin Juga Suka





