Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Fall For You (Rindu)

Fall For You (Rindu)

Rindu Kinasih mengira perjodohannya dengan Derren Aji Putra adalah anugerah. Namun, pria mapan itu justru menjadi sumber siksaan fisik dan batin yang kejam. Di tengah penderitaan, Danielo Chris selaku atasan Rindu yang trauma akan kekerasan muncul menawarkan bantuan. Ia menyodorkan kontrak pernikahan sebagai jalan keluar dari neraka Derren. Kini, Rindu terjebak dilema besar: tetap bertahan dalam maut atau menerima tawaran gila demi kebebasannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Toilet?” ulang seorang pelayan ketika Rindu bertanya tempat yang dia maksud.

“Anda bisa berjalan ke koridor kiri di sebelah sana.” Pria itu menunjuk sebuah lorong dekat tangga dengan ramah.

Rindu berterima kasih padanya, langkahnya mengayun pada lantai dan bergegas pergi ke arah yang disebutkan oleh pelayan tadi. Semua orang terlihat tak acuh, saling sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak memperhatikan Rindu yang hampir menangis karena sikap kasar Derren. Bahkan pria itu bisa dengan leluasa berbicara sambil tertawa dengan teman-temannya.

“Brengsek!!” umpat Rindu.

Gadis itu melukai telunjuknya sendiri dengan kuku ibu jarinya, ia biasa melakukan hal itu ketika marah dan kesal dalam waktu bersamaan, tidak jarang telunjuknya akan berdarah dan Rindu membiarkannya kering dengan sendirinya. Ia menatap dirinya di depan cermin wastafel, bekas cengkeraman tangan Derren masih membekas kontras dengan warna kulitnya yang putih. Namun bukan luka fisik yang sebenarnya Rindu takutkan, setiap kali Derren memberinya bekas luka di tubuhnya, Rindu akan ketakutan sendiri karena hal itu akan berbarengan dengan memori menyakitkan di mana ia mendapatkan luka tersebut.

Rindu tidak mengerti kenapa Derren tidak melepaskannya jika memang ia tidak menyukai Rindu, atau ia tidak mencoba membunuh Rindu agar semua ini selesai dengan cepat. Rindu muak dan lelah bahkan ia sudah putus asa. Setiap kali Rindu membahasnya Derren akan menjawab dengan pertanyaan lainnya yang ia lontarkan.

Suara tawa dan hentakkan hak sepatu mendekat dan masuk ke dalam toilet, jumlahnya lebih dari satu orang, Rindu kebingungan karena wajahnya yang berantakan tidak ingin ia perlihatkan pada orang lain, gadis itu membuka bilik toilet dan bergegas menguncinya dari dalam kemudian duduk di atas kloset.

“Bukannya gaun yang Sheila pake sama kaya waktu dia pake ke acara minggu lalu?”

“Serius? Aku enggak perhatiin loh. Emang dasar kamu julid yaa.” Kedua gadis itu tertawa bersamaan karena ocehan mereka sendiri.

“Kamu lihat cewek yang Derren bawa?”

“Iya, kenapa?”

“Enggak, aku cuma kasihan aja. Kita semua tahu Derren kaya gimana, kan?”

“Who cares, ceweknya aja bego. Hahahaha.”

Rindu terkejut ketika sepertinya orang yang tengah mereka bicarakan adalah dirinya sendiri, jantungnya berdetak cepat namun bahu Rindu merosot. Kepalanya bersandar pada dinding di belakangnya. Banyak pertanyaan berputar di kepala gadis itu tentang apa yang mereka maksud juga ada apa dengan Derren namun ketika kesadaran Rindu muncul dan ia membuka pintu kamar mandi kedua gadis itu sudah tidak ada di sana, kembali kepada kerumunan orang-orang dan membuat Rindu putus asa, ia tidak tahu suara siapa yang tadi membicarakan Derren. Tubuhnya menolak untuk kembali pada keramaian, ia bersandar pada dinding di samping kamar mandi dengan pikiran yang menerawang, tampaknya ia harus mencari tahu sendiri ada apa dengan Derren.

Rindu ingin berlama-lama di kamar mandi namun batas waktu yang Derren berikan sudah lebih dari seharusnya, pria itu akan memarahi Rindu lagi jika ia tidak menurut. Meski sebenarnya saat Rindu kembali ke tengah acara, Derren masih sibuk dengan teman-temannya yang lain. Rindu bahkan tidak digubris ketika ia menepuk bahu pria yang menggunakan jas hitam itu. Tapi dengan begini Rindu bisa bernapas di pengapnya atmosfer tempat tersebut.

Rindu mengambil minuman dari pelayan yang hilir mudik, gelasnya cantik dan menarik perhatian meski ia tidak tahu isinya. Terdapat buah di dalamnya dengan warna warni yang menggoda, Rindu mencium aromanya yang manis sebelum meminumnya dalam sekali teguk. Alkohol, gadis itu baru tahu ketika kepalanya sedikit pusing dan ia mual. Sebagai seorang gadis yang hanya tahu pergi kuliah dan mall, Rindu tidak tahu bahwa alkohol bisa berwarna warni dan tampak cantik. Rindu hanya mengira itu minuman biasa atau mocktail. Bentuknya memang mirip.

Rindu berpegangan pada tepi meja, secangkir kecil itu saja ternyata mempengaruhi Rindu yang tidak pernah menenggak alkohol sebelumnya. Rindu tiba-tiba tersenyum sendiri entah karena apa ia merasa sekelilingnya lucu hingga seorang pelayan kembali mendekat, tetapi meski membuat kepalanya pusing Rindu tetap mengambil minuman yang sama.

“Cocktail, Nona," jelasnya ketika Rindu bertanya tentang minuman tersebut.

Gadis itu menatap gelas yang ia pegang, mencicipi minuman tersebut sedikit lagi dan Rindu terkesan bahwa alkohol rasanya tidak terlalu buruk, ia merasakan campuran dari manis, asam dan sedikit pahit.

Mata Rindu mulai sayu, setelah ia menenggak gelas cocktail yang ketiga atau mungkin yang terakhir bukan cocktail, karena gelasnya berbeda dan aromanya lebih kuat tetapi Rindu tetap meminumnya, dengan sisa tenaga yang Rindu miliki tubuhnya mencoba berdiri dengan menopangkan tangan di atas meja. Matanya yang mulai berat masih bisa melihat Derren yang berdiri bersama teman-teman bisnisnya dalam jarak 10 meter.

“Hah! Tetap di sana, jangan ke sini!!” Gadis itu tersenyum miring ia menatap punggung Derren nanar.

Seorang MC yang tengah berdiri di atas stage mulai berbicara sambutan yang malas Rindu dengar, Rindu harus segera pulang karena besok ia harus bekerja juga karena tempat ini rasanya tidak cocok untuk dirinya. Ia tidak ingin pergi menemui Derren untuk meminta ijin sebab pria itu pasti mengabaikannya lagi. Jadi Rindu memutuskan untuk mengirim pesan saja.

Raut wajah Derren langsung berubah ketika ia menerima pesan dari Rindu, pria itu langsung berbalik dan menghampiri Rindu dengan langkah yang tegas membuat nyali gadis itu ciut seketika, ia merasa semua orang menatap ke arahnya yang akan segera dimarahi oleh Derren.

“Kamu mau pulang?” Derren tersenyum sinis, Rindu bisa melihat itu dari sudut matanya. “Kerjaan aku masih banyak, kamu duluan yaa!” Derren mengusap bahu Rindu dan membuat gadis itu tercengang. Ia tidak tahu bahwa Derren akan melunak seperti ini.

“Ahh, pasti karena banyak orang.” Rindu tertawa mengejek dirinya sendiri karena sempat terkesima.

Gadis itu kemudian pergi di tengah kerumunan orang-orang yang fokus pada dirinya masing-masing, ia memang bukan pusat dari acara ini dan tidak membuat orang terkesan hingga harus memperhatikannya bahkan tidak ada yang peduli jika seorang gadis yang tidak memiliki peran dalam dunia mereka menghilang begitu saja.

Pelayan yang berjaga membukakan pintu besar yang terbuat dari kayu tebal dengan model yang tinggi, dan ketika Rindu melangkah keluar entah kenapa udaranya terasa berbeda, Rindu dapat menarik napas dengan lega sekarang. Rasanya seperti kebebasan dan Rindu bisa menghabiskan malam ini dengan tenang.

Tanpa Rindu sadari sepasang mata tidak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis yang tampak berbeda malam itu, seorang pria yang mengenal Rindu sekilas saja hanya karena gadis itu bekerja di kantornya. Danielo Chris, pemilik salah satu perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia seorang pria kaya, mapan, dingin dan tidak tertarik dengan hubungan yang tidak menguntungkan seperti jatuh cinta. Ia memiliki garis wajah Latin karena papanya yang berasal dari Italia namun Chris yang sejak kecil tinggal di Jakarta sangat fasih berbahasa Indonesia dan mulai merintis bisnisnya sendiri.

Hidup yang keras dan fokus yang tinggi membuat Chris menjadi pria monoton dan kaku, ia tidak bisa bersikap basa basi atau lembut hanya untuk menyenangkan orang lain kecuali pada mamanya, juga neneknya yang sudah tidak ada.

Pria itu memperhatikan Rindu sejak gadis itu masuk ruangan bersama seorang pria yang belakangan ia tahu bernama Derren, pria yang memperlakukan Rindu dengan cara yang tidak biasa. Meski Chris adalah orang yang dingin namun ia tidak suka melihat seorang wanita diperlakukan seperti itu, apa pun alasannya. Pengalaman membuat Chris memiliki prinsip yang kuat.

Mata Chris terus bergerak ke mana pun Rindu pergi bahkan ia tanpa sadar menarik sudut bibirnya naik ketika Rindu mendadak pusing karena segelas cocktail hingga Chris menyadari bahwa responsnya sudah berlebihan. Ia mulai berbicara dengan beberapa kolega bisnis yang ia temui di sana sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari gadis bernama Rindu yang Chris lihat setiap pagi di lobby kantornya namun tidak ada yang menarik selama ini hingga saat Rindu memutuskan untuk keluar dari ruangan itu lebih dulu, Chris menoleh menyadari gerakan Rindu seakan bunyi pintu besar itu memanggilnya untuk menengok ke arah suara.

Gadis itu pergi dan membuat Chris sedikit kecewa karena tidak bisa melihatnya di tempat itu lebih lama lagi, pria itu mendadak aneh hanya karena seorang gadis yang menyapa dirinya setiap pagi dengan seragam birunya tiba-tiba berubah menjadi Cinderella dan membuat Chris terpukau karena tingkah lugunya. Aneh.

Rindu menunggu taksi di depan Hotel namun ia sadar semua orang menggunakan mobil mewah dan tidak ada taksi yang masuk, atau mungkin Rindu hanya sedang tidak beruntung. Gadis itu memutuskan berjalan sedikit ke depan dan memesan taksi online melalui ponsel miliknya, tidak butuh waktu lama hingga Rindu menaiki mobil berwarna hitam dengan plat nomor yang sama dengan yang tertera pada aplikasi.

“Sesuai maps ya mbak," ujar pria yang mengemudikan mobilnya dengan kepala yang miring menoleh ke arah Rindu.

Rindu hanya mengangguk sambil tersenyum tipis hanya untuk beramah tamah, ia membuka jendela mobilnya dan menghirup udara kebebasan yang ia miliki malam ini. Meskipun hanya malam ini yang ia miliki namun Rindu merasa lebih baik daripada tidak sama sekali. Ia melepaskan sepatu hak tingginya dan menyimpan benda berkilauan tersebut di samping kursi kemudian fokus lagi pada ramainya jalanan ibukota. Hari mungkin belum larut, lalu lintas masih ramai dan lancar meski langit tidak menampakkan apa pun selain warnanya yang pekat, angin kota Jakarta yang panas dan lembab terasa lebih sejuk malam ini dan membuat Rindu mulai mengantuk.

Alarm pada ponsel Rindu berbunyi nyaring, ini kedua kalinya benda tipis itu berteriak dan membuat Rindu dengan sangat terpaksa harus bangun. Ia harus pergi bekerja. Kesadaran Rindu yang muncul memaksanya juga untuk menikmati hantaman sakit kepala karena alkohol semalam, ia memegang kepalanya sebentar dan mencoba untuk pulih. Gadis itu bersiap dan berlari menuruni tangga dengan sebuah roti isi di mulutnya, pemilik kos memang menyediakan sarapan di ruang makan setiap pagi namun Rindu yang terburu-buru membawa bekalnya di mulut seperti seekor kucing yang baru mencuri tulang.

“Kamu telat lagi?” bisik teman kerja Rindu yang sudah siap berdiri di balik meja resepsionis.

Ini bukan kali pertama Rindu terlambat, ia sering kali harus menemani Derren pergi keluar hingga larut hanya agar pria itu tidak menyiksanya, hingga Rindu sering kekurangan jam tidurnya sendiri

“Cuma 5 menit kok," sangkal Rindu.

“TIME IS MONEY!” Rindu dan temannya serempak mengatakan kalimat yang sama sambil tertawa karena terlalu sering mendengar Supervisor mereka mengomelinya dengan bahasa Inggris semampu yang ia bisa.

“Oke dia datang," ucap teman Rindu dengan bibir terkatup memberi peringatan.

Gadis itu menarik napas dan siap diomeli untuk ke sekian kalinya, ia masih bisa menerima hal itu asal tidak mendapat SP dari HRD, Rindu menyukai pekerjaannya.

“Selain telat, kesalahan apalagi yang kamu buat?” ujar pria bernama Bowo yang merupakan Supervisor Rindu. Pria itu baru saja selesai mengoceh di depan semua orang dengan tangannya yang bertolak di pinggang. Dan sekarang tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang jawabannya tidak Rindu ketahui.

Gadis itu kebingungan, ia merasa kesalahannya hanya telat lima menit saja selain dari itu pekerjaan Rindu selalu memenuhi standar, penampilannya juga rapi dan ia tidak melakukan kesalahan apa pun yang ada dalam kontrak kerjanya.

“Tidak, tidak ada, Pak!" jawab Rindu percaya diri.

“Yakin?” pria berbadan gemuk itu melipat tangannya di dada meskipun tidak sampai karena terhalangi perutnya yang menonjol.

“Kamu dipanggil Pak Chris!" jawabnya dengan nada yang sedikit emosional, bagaimana bisa kesalahan Rindu yang berulang itu membuat Pak Chris sampai harus ikut campur dengan urusan karyawan rendahannya.

"Ya?" Rindu tidak tuli, namun ia perlu memastikannya lagi.

"Pak Chris kamu tahu dia kan!!" jawab Pak Bowo sambil membuang napas dengan kasar. "Saya enggak tahu karena apa yang jelas dia minta kamu menghadap ke ruangannya sekarang!”

“Pak Chris?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AKU dan MAS DIREKTUR
9.2
Ajeng bertekad kuat untuk kabur demi menghindari acara pertunangan dari perjodohan yang tidak pernah ia inginkan. Ia merasa sangat terdesak hingga mencari segala cara untuk melarikan diri. Namun, sebuah keberuntungan tak terduga justru berpihak padanya. Saat waktu yang ditentukan tiba, sosok pria yang dijodohkan dengannya ternyata tidak kunjung datang. Ajeng pun merasa telah memenangkan situasi sulit tersebut karena rencana itu gagal total.
Sampul Novel Aku Tak Lain Hanyalah Tamu
8.9
Tujuh kali menikah dan tujuh kali diceraikan oleh pria yang sama membuat perasaan wanita ini mati rasa. Sang suami memanfaatkan pernikahan berulang ini hanya demi melindungi kekasih lamanya dari gosip. Setelah melewati fase histeris hingga kepasrahan mendalam di setiap perceraian, kini sang istri tidak ingin lagi menjadi mainan. Begitu mendengar kabar kepulangan wanita tersebut, ia menyerahkan surat cerai dengan tangannya sendiri dan bersiap pergi selamanya, mengakhiri siklus manipulatif ini.
Sampul Novel Balas Dendam Putri Konglomerat
8.2
Aluna hancur saat memergoki suaminya, Dian, menemani Ratnasari di rumah sakit ketika ia sedang berjuang untuk program bayi tabung. Pengkhianatan memuncak saat Aluna dikurung dan dipaksa menggugurkan kandungannya akibat sabotase obat. Setelah kehilangan bayinya dan diusir dari rumah, identitas asli Aluna terungkap sebagai putri konglomerat media yang hilang. Kini, sang pewaris telah kembali untuk menuntut balas pada semua orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel CEO & Sekretaris
8.0
Tasya memberanikan diri melangkahkan kaki ke kantor pusat Adityaswara dengan harapan besar. Sambil menahan debar di dada, ia segera menghampiri meja resepsionis untuk mencari tahu ketersediaan lowongan pekerjaan di sana. Ia sangat berharap keberuntungan berpihak padanya sehingga bisa diterima bekerja di perusahaan bergengsi tersebut. Langkah awal ini menjadi penentu masa depannya dalam mengejar karir di bawah pimpinan CEO perusahaan yang sangat berkuasa.
Sampul Novel Ditinggal Suami Dinikahi Adik Ipar
8.9
Shifra, yatim piatu yang dinikahi miliarder Elzien Kagendra, harus kehilangan suaminya akibat kecelakaan tragis. Hidupnya berubah menjadi pelayan di rumah mertua hingga sebuah insiden satu malam memaksanya menikahi adik iparnya sendiri. Saat telah memiliki anak, Elzien yang disangka wafat tiba-tiba muncul kembali. Kini Shifra terjebak dalam dilema besar antara cinta pertamanya atau suami kedua yang merupakan ayah dari bayinya. Siapa yang akan dia pilih?
Sampul Novel Istri Keempat
9.2
Airin dikenal sebagai putri penurut yang tak pernah membantah titah orang tuanya. Namun, kepatuhannya diuji saat ia dipaksa menikahi Saka Januar Pradipta, pengusaha kaya yang telah memiliki tiga istri. Menjadi istri keempat bukanlah akhir bagi Airin. Di balik wajah polosnya, tersimpan sisi manipulatif dan licik yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Meski mampu mengelabui dunia, Airin tak berkutik di hadapan Saka yang sanggup melihat jati diri aslinya.