Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati

Enam Bulan Dinikahi, Enam Kali Dikhianati

Terikat perjodohan keluarga, pernikahan enam bulan ini terasa bagai neraka. Dito, sang suami, justru terang-terangan menjalin asmara dengan mantan kekasihnya, Luna. Kehadiranku sama sekali tak dianggap, bahkan ia enggan menyentuhku dan selalu bersikap muak. Kesabaran pun mencapai batasnya saat perselingkuhan itu makin menjadi. Karena ia tak mampu adil, aku memilih mundur. Di tengah luka, takdir mempertemukan aku dengan pria dingin, Arya Pratama.
Bab
Bagikan

Bab 3

Aku menatap pesan singkat itu di koran yang kudapatkan dari Clara: "Sudah kubilang, jangan remehkan luka seorang istri." Tanda tangan di bawahnya-sebuah inisial 'A' yang tajam dan dingin-terasa seperti kode yang lebih dalam dari sekadar inisial nama Arya. Bukan cuma tentang simpatinya, yang ia sendiri akui tidak ia berikan, melainkan seolah... ia tahu. Ia mengawasi. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar kebetulan, sebuah perhitungan cermat di balik setiap tindakannya. Perasaan itu membuatku merinding, namun sekaligus membangkitkan secercah rasa ingin tahu yang aneh. Siapa sebenarnya Arya Pratama ini? Dan mengapa ia begitu tertarik dengan masalahku?

Langkah kakiku terasa ragu saat aku keluar dari ruang staf. Kantor itu masih sunyi, terlalu sunyi untuk jam sepuluh pagi di sebuah gedung perkantoran. Cahaya matahari pagi menembus jendela-jendela tinggi, menerangi debu-debu yang menari di udara, membuat suasana terasa semakin sureal. Aku merasa seperti masuk ke dalam labirin yang asing, jauh dari keramaian kota, jauh dari kebisingan duniaku yang lama. Kemewahan yang terpancar dari setiap sudut ruangan ini terasa dingin, kaku, seolah semua orang yang bekerja di sini pun tak berani datang lebih dulu dari pemiliknya. Sebuah aura kekuasaan yang tak terlihat, namun terasa begitu kuat.

Aku menemukan Arya Pratama sudah menungguku di ruang konferensi. Ruangan itu didominasi oleh sebuah meja panjang dari marmer hitam yang mengilap, dikelilingi kursi-kursi kulit berwarna gelap. Dia duduk santai di salah satu kursi di ujung meja, kemeja hitamnya kontras dengan kulit putihnya, dan ekspresi dingin yang tak bisa kutebak tercetak jelas di wajahnya. Di hadapannya, segelas kopi mengepulkan asap tipis dan tumpukan dokumen tebal. Dia terlihat begitu tenang, begitu terkendali, seolah kekacauan yang terjadi di luar sana, termasuk berita tentang Dito, sama sekali tidak mempengaruhinya.

"Kau terlihat lebih tenang pagi ini," katanya tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada dokumen di hadapannya. Suaranya datar, tanpa emosi, namun ada sedikit nada pengamatan di sana.

Aku berdiri kaku di ambang pintu, koper kecilku masih di sisiku. Tubuhku terasa tegang, siap untuk bereaksi. Pertanyaan pertama yang terlontar dari bibirku, adalah pertanyaan yang paling mengganggu pikiranku sejak aku melihat berita di koran tadi. "Kau menyebarkan foto itu?"

Dia mengangkat kepalanya, menoleh perlahan ke arahku. Matanya tajam, namun tidak ada kemarahan atau penyesalan di sana. Hanya kehampaan yang dingin. "Aku hanya membuka pintu," jawabnya, suaranya tenang, seolah dia sedang menjelaskan fakta ilmiah yang tak terbantahkan. "Media yang memutuskan untuk masuk."

Penjelasan itu membuatku terdiam. Sebuah metafora yang cerdas, sekaligus menakutkan. Itu berarti dia punya kendali. Dia adalah orang di balik layar. "Kenapa?" tanyaku pelan, berusaha menguatkan suaraku. "Apa untungnya bagimu menghancurkan suamiku?" Kata 'suamiku' terasa begitu asing di lidahku, seperti gelar yang sudah tidak lagi relevan.

Senyum samar muncul di bibirnya, nyaris sinis. Itu bukan senyum kebahagiaan, melainkan senyum kepuasan yang dingin. "Aku tidak peduli pada suamimu," katanya, tatapannya kini mengunciku. "Aku hanya peduli pada peluang."

Peluang? Kata itu membuatku merasa seperti sebuah objek, sebuah bidak dalam permainan catur yang rumit. Harga diriku yang sudah terkoyak, kini terasa semakin diinjak-injak. "Aku bukan peluang," balasku tegas, berusaha menunjukkan bahwa aku bukan boneka yang bisa ia mainkan.

Dia berdiri perlahan, tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapanku. Matanya menatapku lurus, tajam menembus, seolah mencoba menguliti setiap lapisan pertahananku. "Tapi kau bisa jadi alat."

Darahku berdesir dingin. Kata 'alat' itu menusukku. Setelah semua pengkhianatan yang kualami, setelah merasa tak berdaya selama berbulan-bulan, kini aku dihadapkan pada kemungkinan untuk dimanfaatkan oleh orang asing yang dingin. Sebuah alat? Aku bukan alat siapa pun.

"Aku butuh seseorang yang bersih citranya," lanjutnya, melangkah pelan mengitari meja. Setiap langkahnya terasa terukur, penuh perhitungan. "Dikenal publik sebagai 'korban'. Seseorang yang punya alasan kuat untuk melawan suaminya." Dia berhenti di depanku, jarak kami tidak lebih dari dua langkah. "Aku sedang menghadapi konsolidasi besar. Ada beberapa perusahaan yang harus kukuasai, beberapa lawan yang harus kusingkirkan. Dan Dito... adalah salah satu batu sandungan kecil yang harus disingkirkan dari jalan itu."

Aku menggelengkan kepala, mencoba memahami logika dingin di balik kata-katanya. "Kau ingin memanfaatkan aku untuk membalas dendam bisnis?" Terdengar begitu kejam, begitu tidak manusiawi.

"Aku ingin menawarkan kesepakatan," potongnya cepat, tidak ada jeda dalam suaranya. "Kau tinggal di sini. Kuberi nama baru, perlindungan, bahkan kontrak kerja dan akses sosial yang luas." Matanya menyapu tubuhku, dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Sebagai imbalan, kau bermain dalam drama ini bersamaku."

Drama? Aku menatapnya ngeri. "Aku bukan aktris. Aku cuma istri yang dikhianati." Suaraku sedikit bergetar, ada keputusasaan yang meluap. Aku hanya ingin kedamaian, bukan lagi drama baru.

"Justru itu," balasnya, ada sedikit nada tipis, nyaris tak terdengar, yang bisa jadi adalah sebuah kekaguman dingin. "Tak ada yang lebih meyakinkan daripada kebenaran yang menyakitkan."

Kata-katanya membuatku terdiam. Ada benarnya. Jika ini semua adalah kebenaran, mengapa aku harus bersembunyi? Tapi... bermain drama? Menjadi bagian dari permainan kekuasaan yang mengerikan ini? Aku mundur selangkah, naluriku berteriak untuk menjauh. "Dan jika aku menolak?"

"Pintu di belakangmu selalu terbuka." Ia menunjuk ke luar tanpa emosi, tangannya bergerak anggun. "Tapi jangan kembali jika kau sudah pergi." Sebuah ancaman yang terselubung, sebuah pernyataan final yang tak bisa dibantah. Sekali aku menolak bantuannya, tidak akan ada kesempatan kedua.

Aku terdiam, memandang ke arah pintu yang ditunjuknya. Di luar sana, hujan sudah reda, namun badai yang lebih besar sedang menungguku. Dito. Dia akan menunggu dengan kemarahan yang membara, dengan fitnah yang siap dilontarkan, dengan segala cara untuk mempermalukanku dan mempertahankan kekuasaannya. Dia tidak akan membiarkanku pergi begitu saja tanpa perlawanan. Aku tahu itu.

Di sini, di dalam gedung yang dingin namun terasa aman ini, Arya Pratama menawarkan perang. Tapi kali ini, aku bisa berdiri. Aku bisa melawan. Aku tidak akan menjadi bayangan yang diam, tidak akan menjadi korban yang pasrah. Pertanyaan itu kembali bergaung di benakku: Apa aku siap masuk ke dunia yang lebih kejam daripada rumah tangga palsuku? Apakah aku siap menjadi pion dalam permainan kekuasaan yang mungkin akan menghancurkanku sepenuhnya?

Arya melangkah mendekat lagi, satu langkah demi satu langkah, mengurangi jarak di antara kami. Suaranya, ketika ia bicara lagi, terdengar lebih dingin, namun ada intensitas yang membuatku terpaku. "Ini bukan tentang membalas dendam," katanya, seolah membaca keraguan di mataku. "Bukan juga tentang cinta. Ini tentang mengambil kembali harga diri yang dirampas."

Harga diri. Kata itu seperti mantra yang menghantamku. Harga diri yang telah Dito renggut. Harga diri yang kubiarkan tercabik-cabik selama enam bulan. Harga diri yang keluargaku abaikan demi gengsi. Ya, ini bukan tentang cinta. Cinta sudah lama mati dalam pernikahanku. Ini bukan tentang membalas dendam dalam artian yang kekanak-kanakan. Ini tentang keadilan. Tentang mendapatkan kembali apa yang telah diambil dariku.

Dan untuk pertama kalinya... aku tergoda.

Tergoda untuk berhenti jadi korban yang lemah, yang hanya bisa menangis dalam diam.

Tergoda untuk berhenti jadi bayangan yang tak berarti.

Dan mulai jadi pemain. Pemain dalam permainan yang akan mengubah hidupku, terlepas dari seberapa berbahaya itu. Aku ingin merasakan kekuatan lagi. Aku ingin merasakan kendali atas hidupku sendiri.

Sebuah senyum tipis, pahit, namun penuh tekad, terukir di bibirku. "Apa yang harus kulakukan?" tanyaku, suaraku terdengar lebih mantap dari yang kuduga. Itu bukan pertanyaan menyerah, melainkan sebuah pertanyaan untuk memahami aturan main.

Arya menatapku. Kali ini, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan simpati, bukan emosi, namun seolah sebuah pengakuan. "Detailnya akan kusiapkan," katanya. "Untuk saat ini, kau hanya perlu tahu satu hal: kau harus percaya padaku. Dan kau tidak boleh melakukan apa pun tanpa persetujuanku."

Aku mengangguk. Sebuah kesepakatan diam-diam telah terjalin. Kesepakatan yang didasari bukan oleh kepercayaan mutlak, melainkan oleh kebutuhan yang mendesak dan janji harga diri yang terenggut.

Tiba-tiba, sebuah nada dering memecah keheningan. Ponselku. Aku meraihnya dari saku. Jantungku mencelos saat melihat nama di layar: Luna.

Dan itu bukan panggilan suara biasa. Ini adalah video call.

Tangan gemetar mengangkat ponsel, menekan tombol hijau. Sebuah koneksi terjalin, dan wajah Luna muncul di layar, dengan senyum miring yang khas, seolah dia sedang memegang kartu truf terakhir. Matanya memancarkan rasa superioritas, sebuah cerminan dari ego Dito.

"Aku dengar kau kabur, Sayang," suaranya melengking, penuh sindiran. "Berita cepat menyebar, ya? Tapi seharusnya kau tahu..." Senyumnya semakin lebar, dan aku bisa melihat kemarahan yang tersembunyi di balik tatapan matanya. "Dito bukan milik siapa-siapa. Dia milik aku. Dan kalau kau berani main api, aku pastikan kau terbakar lebih dulu."

Jeda. Luna masih tersenyum. Dan kemudian, dia menutup panggilan itu, meninggalkan aku terpaku di tempat, dengan wajahnya yang mengejek masih terbayang di benakku.

Arya Pratama, yang sedari tadi hanya diam mengamati, kini melangkah lebih dekat. Matanya menatap ponselku, lalu beralih padaku. Ada sesuatu yang tak bisa kubaca di sorot matanya yang dingin itu.

"Dia sudah tahu," gumamku, lebih kepada diriku sendiri.

"Tentu saja," balas Arya, suaranya tenang, seolah ini sudah diperkirakan. "Dia akan tahu. Ini baru permulaan."

Permulaan. Kata itu bergema di telingaku. Permulaan dari sebuah perang yang belum pernah kubayangkan akan kumasuki. Dan Arya Pratama, pria dingin yang tak memberiku simpati, adalah jenderal di balik layar. Aku tahu, hidupku tidak akan pernah sama lagi. Dan di antara kemarahan Luna dan perhitungan Arya, aku harus menemukan diriku sendiri, dan berjuang untuk harga diriku.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Mau Dimadu
9.7
"Aku menolak dipoligami!" tegas diriku. Tidak ada seorang istri pun di dunia ini yang rela berbagi cinta, termasuk aku. Situasi kian menyakitkan karena sosok madu tersebut adalah perempuan dari masa lalu yang pernah mengisi hati suamiku. Naya, camkan ini baik-baik: hingga embusan napas terakhirku, aku bersumpah tidak akan membiarkanmu merebut suamiku. Aku akan mempertahankan rumah tanggaku dan memastikan kau takkan pernah bisa memilikinya kembali.
Sampul Novel BadmiLove 2
9.4
Naila tak pernah menyangka akan menikah dengan Irwan, pria yang baru dikenalnya dalam sekejap mata. Meski konflik masa lalunya usai, ia terjebak janji pada seorang dokter yang juga sahabat sepupunya. Irwan sendiri mantap meminang Naila setelah dua kali pertemuan tak terduga. Berkat bantuan kerabat, pernikahan sederhana pun digelar saat mereka berlibur. Namun, benarkah Irwan menikahinya karena cinta? Masa lalu Naila kini membayangi awal rumah tangga mereka.
Sampul Novel Belenggu Cinta Tuan Muda
9.5
Nara, putri pembantu yang polos, terjerat skandal kelam dengan Axel, sang tuan muda. Axel melecehkan Nara demi membalas dendam karena ibu Nara menjadi simpanan ayahnya. Namun, niat mempermainkan itu berubah menjadi rasa cinta yang obsesif. Axel tumbuh menjadi pria posesif yang membelenggu Nara tanpa ampun. Meski Nara berusaha melarikan diri dari jeratan itu, ia selalu tertangkap kembali. Akankah hubungan penuh luka ini berakhir bahagia atau justru tragis?
Sampul Novel Cinta Setelah Perceraian: Kasih Sayangnya yang Terlambat
9.8
Selama tiga tahun, pengabdian Giselle hanya dibalas kebencian oleh Lucian. Setelah menyerah pada pernikahan yang menyesakkan itu, Giselle bangkit menjadi CEO saingan dengan berbagai identitas rahasia sebagai peretas hingga desainer ternama. Lucian yang awalnya meremehkan justru terobsesi untuk mengejarnya kembali saat rahasia Giselle terungkap. Meski Lucian memohon kesempatan kedua dengan segala cara, bagi Giselle, penyesalan suaminya sudah sangat terlambat.
Sampul Novel Jangan salahkan aku minta cerai
8.1
Elsa menyadari Thomas memiliki keluarga rahasia dengan mantan kekasihnya. Meski berjuang keras menjaga pernikahan dari pihak ketiga, Elsa akhirnya sadar bahwa cinta yang pudar tak bisa dipaksakan. Ia pun memilih mundur dan melepaskan suaminya demi ketenangan batin. Di tengah kesendirian, seorang pria baru hadir mengusik hatinya. Kini Elsa bimbang, haruskah ia memulai lembaran baru atau menerima kembali suaminya yang tiba-tiba menyesal dan ingin bertobat?
Sampul Novel KENIKMATAN SELINGKUH
8.7
Arsyla yang berusia 23 tahun menjalani biduk rumah tangga bersama Edi, pria yang tiga tahun lebih tua darinya. Meski dua tahun menikah tanpa anak, mereka tetap tenang demi fokus menata finansial. Edi bekerja sebagai OB dengan upah terbatas, apalagi ia harus membiayai sekolah adik-adik yatimnya. Arsyla dengan tulus menerima kondisi tersebut. Suatu sore, Edi kembali ke kontrakan sederhana mereka setelah lelah bekerja demi menyambung hidup keluarga.