
Duri Pernikahan
Bab 2
Bab 2.
Dua bulan kemudian.
Hari ini adalah hari yang ditunggu tunggu oleh Sasy hari prnikahanya dengan Setya yang sudah dipersiapkan dari dua bulan yang lalu. Sasy tersenyum sumringah memandangi tubuhnya dicermin, kebaya berwarna putih itu tampak anggun ditubuhya dengan tatanan rambut yang indah juga polesan make up diwajahnya benar benar membuat Sasy menjadi wanita tercantik hari itu.
“Kamu cantik nak,” puji iu Rani menghampiri sang putri dikamar hotel.
“Makasih ya bu,” jawabnya masih dengan senyum mengembang.“Bu, kak Renata benar benar tak bisa datang?”
“Iya nak, dia masih ada ujian selesai ujian dia akan langsung pulang katanyanya, enggak apa apa kan?”
“Enggak apa apa kok bu, yang penting kak Renata nanti pulang.” balas Sasy yang sebenarnya sangat merindukan kakaknya itu memang sudah lama tidak pulang, walau merasa sedih karena Renata tak dapat menyaksikan pernikahnya tapi Sasy tetaplah merasa bersyukur karena Renata mengijinkanya untuk menikah lebih dahulu, baginya Reanta tetaplah kakak terbaiknya.
“Yasudah ayo keluar, keluarga Setya sudah menunggu,” ibu Rani meraih tangan sang putri keluar kamar menuju tempat acara tersebut dilangsungkan.
Sasy menghela nafas dalam mengurangi rasa gugupnya saat langkahnya bersama sang ibu memasuki sebuah runagan yang sudah didekor dengan begitu cantik bak taman disebuah istana. Seluruh pandangan para tamu langsung tertuju pada Sasy yang tampak cantik dan memukau. Sasy mengulum senyum melihat Setya yang tampak gagah bebalut pakaian adat duduk dihadapan sang penghulu, Sasy pun duduk disisi calon suaminya itu.
“Sudah siap?” tanya pak penghulu dengan beberapa saksi yang duduk didekatnya.
“Siap!” Setya mengangguk yakin, penghulu tersebut menjabat tangan Setya dengan erat menuntun Setya mengucap ijab qabul. Dengan lantang dan dalam satu tarikan nafas Setya berhasil mengucapkan ikrar suci tersebut.
“Sah !!” ujar sang penghulu membuat semua yang menyaksikan menghela nafas lega. Senyum tersunging dari pengantin tersebut, Setya pun menyematkan cincin pernikahan dijari manis Sasy begitu pula Sasy yang menyematkan cincin pernikahan di jari Setya sebagai tanda mereka sudah terikat pernikahan yang suci, Sasy pun mencium patuh punggung tangan suaminya itu. Acara dilanjutkan dengan resepsi sampai malam hari. Walau merasa lelah senyum terus terpanca dari keduanya.
***
Sasy mengerjapkan matanya, ia tersenyum tipis melihat Setya masih terlelap disisinya. Sasy beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi. Ia kembali mengulum senyum melihat dirinya dipantulan cermin, masih tampak jelas kissmark yang ditinggalkan Setya disisi lehernya. Sasy mengusap bibirnya yang lembab, kecupan mesra Setya seakan masih terasa dibibir mungilnya, ia menutup wajahnya yang memerah dengan sebelah tangan, mengingat malam panjang dan panas yang dilewatinya dengan Setya setelah pesta pernikahan usai. Sasy sudah memberikan semuanya, kehormatanya juga cintanya untuk suaminya.
Selesai membersihkan diri Sasy pun menghampiri Setya yang masih tertutup selimut.“Mas, bangun.” ucapnya, menepuk pelan tubuh suaminya itu. Setya melebarkan matanya, melihat Sasy yang tersenyum kearahnya.“Bangun mas, kita sarapan yuk.”
“Oh ya, aku mandi dulu.” jawab Setya singkat. Turun dari ranjangya untuk mandi.
Setelahnya mereka pun keluar dari kamar menuju sebuah resto yang ada didalam hotel tersebut.“Silahkan menikmati,” ujar seorang pelaayan wanita seraya meletakan pesanan mereka dimeja.
“Mas, setelah ini kita mau liburan kemana?” tanya Sasy dengan polosnya mengingat Setya pernah berjanji akan mengajaknya honeymoon setelah menikah.
“Kita pulang saja, besok aku harus mengajar,”
Sontak saja ucapan Setya membuat potongan daging yang baru saja disantapnya seakan sulit tertelan, Sasy bergegas meraih air putih disisinya, menungguknya hingga tandas.“Mengajar? tapi kita kan baru menikah mas?” protes Sasy, harus ditinggal berkrja diusia pernikahan mereka yang baru sehari.
“Aku masih banyak perkerjaan dikampus,” jawab Setya dengan wajah dinginya seolah tak merasa sudah mengecewakan istrinya itu.
“Tapi mas masa kamu enggak bisa ambil cuti, lagi pula kamu kan janji kita akan honeymoon,”
“Stop Sasy!” sentak Setya, membuat Sasy terlonjak kaget juga para pengunjung disana yang langsung mengarahkan pandanganya pada mereka.“Behetilah bersikap seperti anak kecil, aku ini kepala rumah tangga turuti saja perkataan ku.” tegas Setya beranjak dari kursi makannya keluar dari resto tersebut meninggalkan Sasy yang masih mematung tak percaya., ia bahkan tak mengerti dimana letak kesalahanya sampai Setya tega menyentaknya untuk pertama kali, dimana Setya yang selalu bertutur kata lembut padanya.
Sasy mengerjapkan matanya yang mulai terasa panas, menahan sekuat tenaga tetetasan air mata yang siap untuk terjatuh, orang orang diresto masih memandanginya dengan iba terdengar samar sebagai mereka tengah bergunjing tentangnya ini benar benar awal yang buruk dihari pertamanya setelah menikah. Sasy pun keluar dari dalam resto, kembali ke kamar hotelnya, tampak Setya yang tengah duduk bersantai di balkon hotel seraya memainkan ponselnya. Setya melihat Sasy yang baru masuk ke dalam kamar , pandangan mereka saling betemu, Sasy menatapnya dengan bola mata yang sudah berkaca kaca Setya membalasnya dengan tatapan yang tenang tanpa rasa bersalah bahkan tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya, Sasy berfikir apa yang dilakukan Setya diresto hanyalah emosi sesaat namun kata maaf benar benar tak terucap dari bibirnya.
Sasy masuk kedalam kamar mandi, meluapkan kesedihanya disana, ia menangis terisak mengeluarkan perasaanya yang terasa amat sesak.“Kenapa? kenapa ia tiba tiba bersiakap seperti itu?” gumam Sasy berbicara pada patulan dirinya sendiri dicermin.
Sungguh ia tak mengerti kesalahan apa yang sudah dilakukanya pada Setya hingga hari ini Setya besikap sangat berbeda. Sasy masih mengingat bagaimana semalam Setya mencumbu dan memperlakukannya dengan lembut sebagai seorang istri tapi pagi ini semuanya benar benar berubah.
Sasy mengusap air matanya, ia keluar dari kamar mandi mencoba membuatkan kopi hangat untuk suaminya itu masih berfikir mungkin Setya hanya kelelahan.“Di minum mas,” Sasy menghampiri Setya yang masih duduk dibalkon, asik dengan ponselnya. Sasy duduk dihadapan Setya.“Mas udara disini sejuk ya,” ucapnya mencoba mencairkan suasana. Tapi Setya tak sedikitpun merespon masih tetap asik dengan ponselnya entah apa yang dilihatnya hingga senyum tersungging dibibirnya.
“Mas, gimana kalu kita jalan jalan disekitar sini juga banyak tempat bagus,” ajak Sasy tak ingin menyianyiakan waktu bersama suaminya itu.
“Kemasi barang barangmu, kita pulang kerumah ibumu sekarang,”
“Apa?” ucapan Setya lagi lagi sukses membuat Sasy tercengang tak percaya,“Tapi mas,”
“Sasy aku harap kamu mengerti, masih banyak perkerjaan yang harus aku lakukan,” sela Setya sebelum Sasy sempat protes.
Sasy melangkah menyeret kopernya di sudut kamar, memasukan kembali pakaian yang sempat di keluarkannya dari dalam koper, ia sudah membawa banyak pakaian, berharap bisa menikmati waktu berdua dengan Setya seperti pengantin baru pada umumnya, tapi siapa sangka Setya justru ingin cepat kembali ke rumah dengan alas perkerjaan.
Anda Mungkin Juga Suka





