
Duri Pernikahan
Bab 3
Bab 3.
Sore itu Setya benar benar mengajak Sasy untuk cekout dari hotel tanpa meluangkan waktu untuk sang istri layaknya sepasang pengantin baru. Mereka pun kembali ke rumah orang tua Sasy.
“Apa? Setya mau langsung mengajar?” ujar ibu Rani menghampiri Sasy didapur yang tengah menyiapkan makan malam, mempertanyakan tentang kepulangan mereka yang lebih cepat padahal sbelumnya Sasy mengatakan akan tinggal dihotel selama tiga hari.
“Iya bu, mas Setya bilang masih banyak perkerjaan dikampus,” jelas Sasy berusaha terlihat tenang walau ia pun merasa kecewa dengan keputusan suaminya itu.
“Tapi kan kalian itu baru menikah tidak ada salahnya kan jika mengambil cuti untuk beberapa hari,” protes ibu Rani yang juga merasa aneh dengan sikap menantunya.
“Sudahlah bu lagi pula kan sekarang aku dan mas Setya suadah tinggal bersama.” balas Sasy berusaha tersenyum.
***
Keesokan harinya Setya sudah bangun dan bergegas bersiap siap untuk pergi ke kampus.“Sudah selesai mas?” sapa Sasy saat Setya keluar dari kamar mandi. Setya meraih kemeja yang sudah disiapkan Sasy diatas ranjang.“Sarapan dulu mas,”
“Tidak usah, aku buru buru,” tolaknya.
“Oh,” Sasy hanya dapat mengehela nafas kecewa karena sudah bangun sepagi mungkin dan membuatkan sarapan untuk suaminya.
“Aku pergi dulu,” pamit Setya. Sasy pun menciu punggung tangan Setya, ia sedikit tertegun saat Setya berlalu pergi begitu saja tanpa mengecup hangat keningnya layanknya perlakuan suami pada umumnya.
Sepanjang hari itu Sasy sangat merasa bosan dirumah saat ini rutinitasnya hanya menunggu Setya pulang, belum lagi Setya tak sekalipun membalas pesannya padahal selama berpacaran Setya selalu rutin meneleponya. Sampai malam hari Sasy masih setia menunggu Setya pulang dengan makan malam yang sudah tersaji dimeja makan.
Sesekali Sasy melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 10 malam tapi Setya tak kunjung pulang.“Sasy, suamimu belum pulang?” tegur ibu Rani menghampiri Sasy dimeja makan.
“Belum mah mungkin masih banyak perkerjaan,”
”Perkerjaan apa dikampus sampai larut begini,” balas bu Rani mulai tak menyukai sikap menantunya itu.
“Sudahlah bu, sebentar lagi pasti mas Setya pulang, ibu tidur aja ya,” ibu Rani menggelangakan kepalanya dan berlalu masuk kedalam kamarnya sementara Sasy masih menyandarkan kepalanya dimeja makan, menunggu Setya pulang walau matanya sudah sangat mengantuk. Sampai tak berapa lama terdengar suara pintu utama yang terbuka, Sasy melebarkan mata sayunya melihat Setya yang baru memasuki rumah.
“Mas,” Sasy beranjak dari kursi makan, mengahampiri dan mencium punggung tangan Setya.“Pulangnya malam banget mas?”
“Aku tadi kumpul dengan teman temmanku dulu,” balas Setya singkat tanpa memperhatikan mata sayu Sasy yang sedari tadi menahan kantuk menunggu kepulanganya.
“Oh, aku sudah siapkan makan malam mas,” Sasy mengarahkan bola mata Setya pada makanan yang sudah tersaji dimeja makan.
“Aku kan sudah bilang kumpul dengan teman temanku, aku sudah makan dengan mereka,” tolak Setya yang sontak saja membuat Sasy kembali menelan kekecewaan.“Sudah ya aku mau istirahat.” sambungnya, menaiki anak tangga meninggalkan Sasy begitu saja. Sasy terdiam mematung, dengan sudut mata yang sudah berembun, ia tak mengerti mengapa sikap Setya sangat berubah, berulang kali Sasy berfikir kesalahan apa yang sudah dibuatnya hingga Setya tampak begitu berubah tapi Sasy tak menemukan jawabanya.
***
“Kak Renata!!” Sasy beseru bahagia kala membuka pintu melihat sosok wanita cantik yang telah lama dirindukanya.“Kak aku rindu banget, kenapa enggak mengabari mau pulang?” tanyanya, memandang berbinar sang kakak. Tak ada yang berubah dari Renata ia tetaplah kakak yang lembut, modis dan cantik bagi Sasy.
“Renata, kamu sudah pulang nak?” ibu Rani menghampir Renataa yang masih diambang pintu.
“Ibu,” Renata memeluk hangat ibunya.
“Kenapa kamu enggak mengabari mau pulang, ibu dan Sasy kan bisa menjempuutmu dibandara?”
“Aku enggak mau merepotkan bu, lagipula aku bisa pulang sendiri,”
“Mas Setya?” ujar Sasy melihat Setya yang baru menuruni anak tangga, pandanganya langsung tertuju pada Renata.“Kak, kenalkan ini suamiku,” Sasy melingkarkan tanganya dilengan Setya dengan bangga mengenalkan suaminya itu.
“Oh jadi ini suamimu, kenalkan aku Renata,” ucap ramah Renata seraya mengulurkan tanganya pada Setya mereka pun saling berbalas senyum tipis.
Malam pun tiba dengan antusias Sasy menyiapkan makan malam special untuk kakaknya itu dibantu dengan sang ibu, mereka pun menyantap makan malam seraya bercengkrama.“Mas, jadi kapan kita akan pindah?” tanya Sasy yang tiba tiba teringat dengan ucapan Setya yang akan memboyong Sasy kerumah yang sudah dipersiapkanya.
“Sepertinya tidak bisa sekarang,” balas Setya seraya mengunyah makananya dengan tenang.
“Lho kenapa?”
“Rumahnya belum selesai,”
“Belum selesai?” Sasy tertegun, masih jelas diingatanya jika Setya pernah mengatakan jika rumah tersebut sudah selesai bahkan Setya sempat meminta Sasy memilih furnitur sesuai dengan seleranya.“Tapi mas,”
“Sasy, kita bisa membicarakanya lain waktu,” tegas Setya sebelum Sasy sempat protes.
Sasy mendadak lesu, meletakan alat makanya, perkatan Setya membuatnya kehilangan selera makan.“Sudah, yang penting rumah itu sedang dikerjakan kan, dan kalian sebentar lagi akan pindah, setelah berumah tangga memang lebih baik tinggal berdua,” ujar ibu Rani mencairakan suasana, merasa iba melihat wajah sendu putrinya itu.
“Ya Sasy, lagipula kamu tega menginggalkan kakak yang baru pulang ini,” timpal Renata seraya tersenyum kearahnya.
“Aku kemar dulu,” ujar Sasy tetap merasa kecewa tak mengeti mengapa Setya tiba tiba mengatakan rumah tersebut belum selesai. Sasy beranjak dari kursi makanya dan masuk kedalam kamar. Ia duduk ditepi ranjang berusaha meredam rasa kecewanya. Sasy melirik kalender di nakas.
“Besok hari ulang tahunku?” ia hampir lupa besok adalah hari spesial untuknya.“Kira kira besok mas Setya mau kasih apa ya?” gumamnya tersenyum tipis, sebelumnya Setya selalu memberikan hadiah untuknya bahkan tak segan merogoh koceknya dalam dalam untuk memberikan hadiah yang mahal untuk Sasy.
Keesokan harinya seprti biasa pagi itu Sasy sudah berkutat didapur menyiapkan sarapan untuk Setya.“Mas,” panggilnya, menghampiri Setya yang masih tertidur.
Setya melebarkan matanya.“Ya ampun aku terlambat,” serunya melihat jam dinding dengan terburu buru ia beranjak dari ranjang untuk mandi dan mengenakan kemeja formalnya.“Sarapan dulu mas,”
“Enggak usah, aku buru buru,” Setya langsung begegas keluar kamar begitu saja, tanpa mengucapkan kata kata manis dihari ulang tahun Sasy. Sasy kembali kecewa namun ia masih berfikir mungkin Setya sengaja bersikap begitu untuk memberinya kejutan nantu malam.
Sasy yang masih berfikir positifpun tetap meunggu Setya pulang, meskipun Setya akhir akhir ini selalu pulang malam. “Sudah pulang mas?” sapa Sasy melihat Setya yang masuk kekamar, Sasy bergegas menghampiri dan mencium punggung tanganya, ekor matanya melirik tangan Setya yang hanya memegang tas kerjanya dan meletakanya diranjang. Seharusnya Setya membawakan sesuatu dan mengucapakan hal manis dihari ulang tahunya, begitu yang seharunya terjadi, tapi Setya tak melakukan itu. Ia hanya pulang untuk tidur disampingnya tanpa mengucapakan dan memebrikan apapun.
“Mas Setya lupa hari ulang tahunku?” lirihnya.
Anda Mungkin Juga Suka





